Sabtu, April 05, 2008

Rahasia Percaya Diri Chandran

10 / XIV 23 Jan 2008

Kematian tragis milyarder Robert Chandran mengejutkan keluarga dan kolega bisnisnya. Sosok pria ramah ini dikenal ambisius dan pantang menyerah. Mulai meniti usaha dengan modal US$ 150.

Sebuah komputer Apple dan printer Epson menjadi modal awal Robert Chandran mendirikan Chemoil Energy di California, Amerika Serikat. Dua puluh enam tahun silam, ia memulai segalanya. ''Di sanalah aku mulai menuliskan rencana bisnisku,'' ujar Chandran kepada majalah Forbes, tahun lalu.

Langkah pemuda yang pada saat itu berusia 31 tahun ini tergolong nekat. Bayangkan saja, hanya ada dua karyawan ketika perusahaan pengisian bahan bakar untuk kapal dagang itu berdiri. Chandran yang percaya diri dan seorang sekretaris.

Pemegang gelar master bidang kimia itu jeli memanfaatkan peluang. Di tengah persaingan ketat dengan perusahaan besar lainnya, Chemoil sanggup mengambil sepotong kue bisnis SPBU kapal dagang. Berbeda dari para pesaingnya yang memilih bahan bakar minyak light, Chemoil memakai minyak mentah heavy. Chandran juga hanya mengambil sedikit margin.

Paduan dua pilihan itu ternyata menjadi ramuan ampuh. Chemoil terbukti bisa bersaing dengan perusahaan yang telah mapan. Chemoil berkembang dan dinobatkan menjadi salah satu perusahaan yang tumbuh paling cepat di Amerika Serikat. Status dari majalah Forbes ini disandang hanya dalam waktu satu dekade sejak Chemoil resmi berdiri.

Namun layar biduk Chemoil tak selamanya berkembang mulus dari terpaan badai. Kelesuan bisnis perkapalan dunia membuat Chemoil terjerat utang sangat besar. Demi kelangsungan usaha, Chemoil terpaksa mengambil langkah tidak populer. Yakni melakukan restrukturisasi besar-besaran.

Kantor-kantor cabang di berbagai belahan dunia terpaksa ditutup. Sepersepuluh jumlah pekerjanya harus menjadi pengangguran. Sedangkan karyawan yang tersisa mesti rela dipotong gaji.

Mimpi buruk ini tidak membuat Chandran patah arang. Ia putar otak dan mengambil langkah berani: memindahkan fokus bisnis ke Asia. Chemoil Energy menggandeng mitra baru perusahaan trading asal Jepang, Itochu. Sang mitra membeli 50% saham Chemoil pada 2005.

Keputusan mengejutkan juga dia lakukan dalam urusan personal. Chandran memboyong istri tercinta, Vivian, beserta dua putri mereka, Sharon dan Ashley, ke Singapura. Mereka melepas kewarnegaraan Amerika Serikat dan melamar menjadi warga negara ''negeri singa'' itu.

Chandran akhirnya berhasil mendapat status sebagai warga Singapura pada 2005. Entah kebetulan atau tidak, status ini diperoleh tak lama setelah Chandran menonton acara pidato dalam sebuah pawai National Day di televisi. ''Aku terkesan dengan negara ini yang menyatakan sebagai pemegang nilai-nilai Asia dengan kenyamanan Barat,'' ujarnya ketika diwawancara koran bisnis The Edge Singapore.

Kepindahan Chandran ke Singapura mendapat apresiasi tinggi dari pemerintah. Salah satu buktinya tercermin pada pernyataan Menteri Keuangan Tharman Shanmugaratnam. Dalam pidato anggaran tahunan, Tharman menyebut Chandran sebagai pemain global yang memilih menancapkan akar di Singapura.

Apresiasi itu memang layak diterima Chandran. Sebab ia juga memberi sumbangan tak sedikit pada perekonomian Singapura dengan memindahkan pusat bisnis Chemoil Energy ke Singapura. Chemoil menawarkan saham publik perdana (IPO) di Bursa Efek Singapura pada penghujung 2005.

IPO ini juga punya kisah tersendiri. Pada saat pertama didaftarkan di Bursa Efek Singapura, harga sahamnya jatuh. Sebab permintaan lebih sedikit dari yang diharapkan. Lagi-lagi Chandran pantang menyerah. Ia mulai merilis ulang IPO dengan harga saham lebih murah pada 2006. Cara ini manjur. Saham Chemoil mendapat gain 30% dalam debut perdananya.

Kini perusahaan yang semula hanya bernilai US$ 120.000 itu menjelma menjadi raksasa SPBU kapal dagang, dengan kapitalisasi pasar US$ 700 juta. Bahkan pendapatan Chemoil mencapai US$ 4,4 milyar pada 2006.

Keberhasilan Chandran memimpin Chemoil Energy membuat Forbes memasukkan namanya dalam daftar orang terkaya di Singapura. Ia berada di posisi ke-14 dalam peringkat orang terkaya di Singapura tahun 2007, dengan kekayaan pribadi mencapai US$ 490 juta.

Sepanjang karier sebagai CEO Chemoil, Chandran dikenal sebagai sosok yang ambisius, berpandangan ke depan, pantang menyerah, sekaligus ramah dan mudah bergaul dengan siapa pun. ''Dia selalu berpikir tak hanya tiga atau lima langkah ke depan, tapi 13 langkah ke depan,'' kata Ricardo Lim, dekan salah satu fakultas di Asian Institute of Management (AIM), Filipina.

Direktur Keuangan Chemoil, Jerome Lorenzo, menambahkan bahwa Chandran memiliki semua karakter orang yang sanggup meraih sukses dengan cepat. ''Karena ia tidak menerima 'tidak' sebagai sebuah jawaban,'' kata Lorenzo, seperti dikutip The Straits Times.

Pernyataan Lorenzo ini memang tepat menggambarkan pria kelahiran Mumbai, India, 31 Mei 1950, itu. Selesai sekolah menengah atas, Chandran ingin sekali diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Madras, India. Tapi, apa boleh buat, dia gagal karena persaingan yang begitu ketat.

Maka, Chandran muda berpindah haluan mengambil jurusan kimia di tempat yang sama. Di jurusan ini, ia sukses meraih gelar master. Ketika ibunya meninggal pada 1972, Chandran memutuskan mengambil beasiswa sekolah bisnis di AIM.

Sebagai pelajar beasiswa, tentu saja dia harus hidup hemat. ''Aku tetap harus kerja paruh waktu demi mencukupi kehidupanku di sini,'' katanya. Itu pun hanya bisa memberinya minuman kopi di saat rekan-rekannya sanggup membeli bir.

Menurut Chandran, suatu saat ia pernah mendapat cemoohan dari seluruh teman sekelasnya. Penyebabnya, Chandran mengumumkan akan menjadi jutawan sebelum berusia 30 tahun. Ucapan ini dianggap mustahil bisa dicapai seorang mahasiswa miskin seperti dia.

Tapi Chandran tak main-main dengan ambisi itu. Setelah menikahi Vivian, gadis Filipina, ia memilih mengadu nasib ke Amerika pada 1976. Bekal di kantongnya hanya US$ 120, plus istri yang tengah hamil tujuh bulan.

Di ''negeri Paman Sam'' itu, Chandran memulai karier sebagai karyawan sebuah perusahaan kimia di San Francisco, California. Namun gajinya tak cukup untuk membeli rumah. Maka, ia meminjam uang US$ 10.000 dari ibu mertuanya untuk membayar uang muka rumah.

Selama proses pembelian rumah itulah, Chandran mencium peluang investasi di sektor real estate. Pekerjaan ganda pun dilakoninya. Setiap akhir pekan, ia mencari rumah dan properti yang bisa dijualbelikan. Kerja keras Chandran membuahkan hasil. Tahun 1981, ia sukses mengelola lebih dari 740 apartemen.

Tahun itu juga menjadi tonggak bersejarah bagi Chandran, karena pria India ini resmi mendapat kewarganegaraan Amerika Serikat. Selain itu, ia pun memutuskan keluar dari pekerjaannya sebagai karyawan di perusahaan kimia, dan memutuskan membangun perusahaan sendiri bernama Chemoil Energy.

Namun kisah sukses Chandran harus terhenti di Kampung Lubuk Agung, Pelalawan, tak jauh dari kota Pekanbaru, Indonesia. Nyawanya melayang ketika helikopter sewaan militer Indonesia yang dinaikinya jatuh akibat cuaca buruk. ''Kepergiannya menjadi sebuah kehilangan besar bagi keluarga, Chemoil, dan Singapura,'' ujar Direktur Utama Bursa Efek Singapura, Hsieh Fu Hua.

Astari Yanuarti

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar