Kamis, April 03, 2008

OPEC Menolak Permintaan Bush

18 / XIV 19 Mar 2008

Harga minyak mentah dunia makin menggila, nyaris menyentuh US$ 110 per barel. OPEC menolak permintaan Presiden George W. Bush agar menambah produksi minyak. Perekonomian Amerika Serikat makin mendekati lampu merah. Indonesia harus mengambil sikap apa?

Misi berat terpanggul di pundak Wakil Presiden Amerika Serikat, Dick Cheney. Di usianya yang uzur, 67 tahun, ia harus merayu Emir Arab Saudi, Raja Abdullah, untuk meningkatkan produksi minyak bumi. Tujuannya, supaya harga minyak mentah dunia turun.

Satu pekan terakhir ini, harga si emas hitam itu terus meroket. Malah mencetak rekor baru. Pada penutupan perdagangan Selasa petang di New York Merchantile Exchange, minyak mentah light sweet diperjualbelikan seharga US$ 109,72 per barel. Meningkat dari sehari sebelumnya, US$ 108,84 per barel.

Kenaikan harga minyak yang makin menggila ini tentu tak menguntungkan Amerika Serikat sebagai negara konsumen minyak terbesar dunia. Apalagi, perekonomian Amerika tengah didera inflasi yang mengarah ke resesi. Maka, keberhasilan misi Cheney yang akan dimulai Ahad nanti itu amat penting.

Masalahnya, Arab Saudi yang notabene sekutu paling dekat Amerika di Timur Tengah lebih memilih berpihak pada sekutu lainnya, OPEC. Saudi sebagai produsen minyak terbesar di dunia masih kukuh berpendapat bahwa pasokan minyak dunia cukup. Ini sejalan dengan keputusan pertemuan anggota-anggota OPEC di Wina, Austria, pekan lalu.

Indonesia sepaham dengan putusan itu, meski kenaikan harga minyak tak urung menyulitkan ekonomi dalam negeri. Terbukti, pemerintah mesti merevisi asumsi harga minyak dari US$ 83 per barel menjadi US$ 85. Seiring dengan itu, pemerintah pun diminta melakukan penghematan belanja negara dan menyiapkan energi alternatif.

Melihat kukuhnya pendirian OPEC, diperkirakan akan sangat tipis peluang sukses misi Cheney. Hal ini juga sejalan dengan kegagalan Presiden Amerika Serikat, George W. Bush, ''memaksa'' OPEC agar menambah produksi minyak. Pekan lalu, orang nomor satu di Amerika itu menilai, harga minyak mentah dunia akan melorot jika OPEC menggelontorkan lebih banyak minyak ke pasaran.

Bush menuding, OPEC sengaja membiarkan harga minyak mentah melambung tak terkendali. ''Adalah sebuah kesalahan besar membiarkan perekonomian kami sebagai pelanggan OPEC terbesar melambat karena tingginya harga minyak bumi,'' ujar Bush.

Tentu saja para anggota OPEC tak terima mendapat tudingan Bush. Menurut Presiden OPEC, Chakib Khelil, penyebab peningkatan harga minyak dunia tahun ini di luar kendali OPEC. ''Penyebabnya, antara lain, ulah spekulan di pasar komoditas dan mismanajemen pengelolaan perekonomian Amerika,'' kata Khelil.

Khelil, yang juga menjabat sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Aljazair, menegaskan bahwa OPEC tak akan menambah produksi minyak. Apalagi, sesuai dengan perhitungan OPEC, akan terjadi penurunan kebutuhan minyak mentah dunia pada semester kedua tahun ini, sebesar 1,4 juta barel per hari. Ini bersamaan dengan musim panas di negara-negara maju di belahan bumi utara.

Jika OPEC menambah produksi, ia melanjutkan, malah bisa menjadi bumerang. Sebab bisa terjadi kelebihan pasokan, sehingga harga minyak anjlok. Dan bisa mengganggu pertumbuhan ekonomi global.

Menurut Khelil, Amerika punya peluang menurunkan harga minyak dunia sekaligus perekonomian global. ''Kehadiran presiden baru Amerika yang membawa kebijakan ekonomi baru bisa mendorong penguatan mata uang dolar Amerika,'' katanya.

Pelemahan mata uang dolar terhadap euro selama setahun terakhir ini menjadi pemicu utama investasi spekulatif barang komoditas dan minyak bumi. Bagi investor, keduanya bisa menawarkan hegde untuk melawan pelemahan dolar Amerika. Ulah spekulan juga dipicu inflasi dan memburuknya perekonomian Amerika akibat krisis kredit perumahan (sub-prime mortgage).

Di sisi lain, harga minyak yang makin menggila membuat defisit perdagangan Amerika memburuk. Selasa lalu, Departemen Perdagangan melaporkan, defisit neraca impor-ekspor Amerika pada Januari 2008 meningkat menjadi US$ 58,2 milyar dari US$ 57,9 milyar sebulan sebelumnya.

Nilai impor barang dan jasa Amerika selama Januari tercatat paling tinggi, yaitu US$ 206,4 milyar. Sekitar US$ 27,1 milyar berasal dari impor minyak mentah, yang pada saat itu dijual dengan harga rata-rata US$ 84 per barel. Sedangkan ekspor mereka hanya senilai US$ 148,2 milyar.

Tingginya impor minyak memicu defisit perdagangan Amerika dengan negara-negara penghasil minyak, seperti Arab Saudi, Venezuela, dan Nigeria. Nilainya meningkat menjadi US$ 15,5 milyar dari US$ 12,6 milyar pada Desember. Ini masih diperparah dengan defisit Amerika pada Cina yang makin lebar, dari US$ 18,8 milyar menjadi US$ 20,3 milyar.

Laporan Departemen Perdagangan itu makin menguatkan kritik Partai Demokrat atas kebijakan perdagangan bebas pemerintahan Bush. Mereka menilai, kebijakan Bush malah memperburuk defisit perdagangan. Juga meningkatkan jumlah pengangguran, karena perusahaan Amerika memilih membangun pabrik di negara lain yang punya ongkos produksi lebih rendah.

Partai Demokrat pun menggunakan peningkatan harga minyak mentah untuk menghantam Bush yang berniat memveto Rancangan Undang-Undang Pajak Energi. Peraturan ini menghapuskan tax break bagi lima perusahan minyak kelas kakap (sering disebut dengan istilah big oil). Sebaliknya, memberikan tambahan tax break bagi proyek energi matahari dan angin. ''Berapa banyak rekor harga minyak yang masih harus dilampaui sebelum Presiden Bush mau berdiri di belakang keluarga pekerja keras Amerika dan berhenti memberikan hadiah tax break pada big oil?'' ujar Nancy Pelosi, juru bicara Kongres.

Astari Yanuarti

============================

Ramai-ramai Mengandangkan Mobil

Imunitas publik Amerika Serikat pada gejolak minyak dunia makin tergerus. Gaya hidup bermobil yang selama ini melekat di kalangan masyarakat ''negeri Paman Sam'' itu mulai ditinggalkan. Mereka beralih menggunakan transportasi massal, bus, dan kereta api bawah tanah (subway).

Tak pelak, pengguna dua moda kendaraan umum itu melonjak. Menurut data American Public Transit Association (APTA), jumlah pengguna angkutan umum di seluruh Amerika mencapai angka tertinggi dalam setengah abad terakhir. Penggunaan kendaraan umum penduduk Amerika mencapai 10 milyar perjalanan setahun. Jumlah ini naik 2% dari tahun 2006.

Moda LRT (light rail transit) dan bus mencatat pertumbuhan tertinggi, 6%. Disusul dengan kereta api komuter sebanyak 5,5% dan subway sebesar 3,1%. Selain itu, di kota-kota dengan penduduk kurang dari 100.000, pengguna transportasi umum meningkat hingga 6,4%.

Presiden APTA William Millar menyebutkan, tren peningkatan itu berawal sejak harga bahan bakar minyak (BBM) mulai melambung pada 2005. Ketika itu, harga bensin menembus angka US$ 3 per galon (setara dengan 3,78 liter). ''Ini membebani masyarakat pengguna mobil. Mereka lalu beralih memakai angkutan umum sebagai salah satu cara mengurangi beban hidup,'' kata Millar, seperti dikutip kantor berita Reuters.

Sejak empat tahun silam, harga bensin di Amerika memang bertahan di atas US$ 3. Senin lalu, ketika harga minyak mentah US$ 108 per barel, harga bensin tercatat US$ 3,22 per galon (sekitar Rp 7.800 per liter, kurs 1 US$=Rp 9.200). Bahkan harga minyak diesel, yang biasanya lebih murah dari bensin, melonjak jadi US$ 3,82 per galon.

Para pelaku industri di Amerika memperkirakan, harga bensin bisa menembus US$ 4 per galon (Rp 9.700 per liter) jika harga minyak mentah makin tak terkendali. Perkiraan ini bakal membuat lebih banyak keluarga Amerika kalang kabut. Sebab, berdasar hasil survei Pew Research Center for People and the Press pada awal Februari, 60% penduduk Amerika kesulitan membeli bensin karena harganya makin mahal.

Tak hanya itu. Pengusaha pompa bensin di seluruh Amerika juga mulai menjerit. Banyak pompa bensin kecil mengalami masalah keuangan. ''Kami sangat terpukul oleh kondisi ini. Parahnya, belum ada titik terang atas masalah harga minyak ini,'' kata Ralph Bombardiere, Direktur Utama New York State Association of Service Stations and Repair Shops, kepada koran Washington Post.

Di sisi lain, kenaikan harga BBM itu juga bisa menjadi pelajaran bagi penduduk Amerila agar lebih hemat. Selama ini, mereka memegang gelar negeri paling rakus memakai BBM. Tahun lalu, mereka melahap 20 juta barel minyak per hari atau sekitar seperempat konsumsi global.

Sumbangan konsumsi terbesar berasal dari pemakaian mobil yang didominasi oleh aneka model mobil superboros. Misalnya jenis sport utility vehicles yang butuh 1 galon bensin untuk melaju sejauh 6,44 kilometer. Tak mengherankan jika catatan efisiensi bahan bakar rata-rata mobil di Amerika amat rendah, hanya 39,3 kilometer per galon pada 2001.

Astari Yanuarti

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar