Rabu, April 02, 2008

LAPORAN KHUSUS: Akhirnya Revolusi Pulsa Datang Juga

15 / XIV 27 Peb 2008

Pemerintah menurunkan tarif interkoneksi telepon hingga 55%. Masyarakat bisa menikmati biaya percakapan telepon seluler jauh lebih hemat mulai April 2008. Operator siap meningkatkan efisiensi untuk menjaga pendapatan.

Waktu yang dimiliki para operator telepon di Indonesia tidak banyak. Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) hanya memberi tenggang waktu 15 hari. Pada 27 Februari nanti, mereka mesti menyerahkan daftar penawaran interkoneksi (DPI) telepon terbaru.

Diuber tenggat waktu, kalangan operator telepon pun memeras otak. ''Angka-angkanya sedang dihitung, belum bisa disampaikan sekarang,'' ujar Myra Junor, General Manager Corporate Communications PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL). Penolakan menyebut angka detail interkoneksi yang diajukan juga disampaikan Eddy Kurnia, Vice President Public and Marketing PT Telkom Tbk.

Operator seluler terbesar Telkomsel pun belum bersedia memberi rincian DPI. Direktur Utama Telkomsel, Kiskenda Suriahardja, hanya menyatakan bahwa mereka pasti taat pada kebijakan pemerintah. Ia menambahkan, penurunan tarif interkoneksi juga akan membuat tarif retail mereka turun.

Sinyal yang disampaikan Kiskenda itu tentu akan melegakan 50 juta pelanggan Telkomsel. Kabar baik serupa bakal diterima semua pelanggan seluler operator lain. Kepastian penurunan tarif operator ini tak lain karena pemerintah sudah merilis daftar tarif interkoneksi telepon terbaru, Senin dua pekan lalu. Direktur Jenderal Pos dan Telekomunikasi, Departemen Komunikasi dan Informatika, Basuki Yusuf Iskandar, menyebutkan bahwa tarif interkoneksi itu mulai berlaku 1 April 2008.

Formula biaya interkoneksi dipilah menjadi dua, panggilan untuk layanan telepon tetap kabel (PSTN) dan telepon tetap nirkabel (FWA), serta panggilan untuk layanan telepon seluler (ponsel). Biaya interkoneksi itu terdiri dari ongkos terminasi dan originasi, baik percakapan lokal, sambungan langsung jarak jauh (SLJJ), maupun internasional.

Semua jenis panggilan lokal, SLJJ, dan internasional untuk layanan ponsel mengalami penurunan mulai 10% hingga 55%. Penurunan terbesar terjadi pada harga interkoneksi lokal ponsel ke telepon satelit, dari Rp 1.148/menit menjadi Rp Rp 522/menit. Sedangkan penurunan paling kecil ada pada jenis panggilan lokal ponsel ke PSTN/FWA sebesar Rp 49/menit, dari Rp 513/menit menjadi Rp 464/menit (lihat: Tabel 1).

Sedangkan untuk jenis panggilan PSTN dan FWA, terdapat variasi perubahan tarif. Ada yang tetap, yaitu untuk panggilan lokal sesama PSTN dan FWA, Rp 146/menit. Ada yang turun, misalnya panggilan lokal dan SLJJ ke ponsel, masing-masing sebesar 9,5% dan 24%. Dan yang naik adalah panggilan SLJJ PSTN/FWA ke telepon satelit sebesar 8,6% (lihat: Tabel 2).

Sesuai dengan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 8/PER/M.KOMINFO/2/2006, biaya interkoneksi yang dibebankan itu karena adanya keterhubungan antar-jaringan telekomunikasi yang berbeda. Tarif interkoneksi ditambah biaya aktivitas bisnis dan margin menjadi komponen penentu tarif pungut layanan operator. Sehingga, jika tarif interkoneksi turun, ujung-ujungnya, harga layanan telepon operator juga ikut melorot. Pelanggan telepon pun bisa lebih menghemat anggaran berhalo-halo.

Menurut Basuki Yusuf Iskandar, semua tarif interkoneksi itu adalah tarif batas atas yang akan menjadi patokan operator dalam mengajukan usulan DPI. Nanti, DPI ini dibuka ke publik sehingga bisa diketahui apakah semua operator sudah menaati keputusan pemerintah itu. ''Jadi, masyarakat juga bisa ikut mengontrol harga,'' kata Basuki.

Basuki juga menegaskan, besaran penurunan tarif pungut operator minimal sama, bahkan lebih besar, dari angka penurunan tarif interkoneksi. Jika sang operator bisa melakukan efisiensi di aktivitas retail dan menekan margin, penurunan harga pulsa pasti lebih besar. ''Minimal sama dengan tarif interkoneksi, tapi mestinya bisa lebih,'' ujar Basuki.

Pemerintah menerapkan kebijakan pemangkasan tarif interkoneksi dengan dua pertimbangan utama. Pertama, perkembangan teknologi membuat investasi per pelanggan sejak tahun 2003 sampai kini terus menurun. Yakni dari US$ 100 menjadi hanya US$ 35.

Di sisi lain, ia melanjutkan, jumlah pelanggan, trafik pembicaraan, dan pemanfaatan kapasitas jaringan meningkat pesat. Jumlah pelanggan seluler Indonesia mencapai 80-an juta pada tahun lalu atau sekitar 34% dari total penduduk Indonesia yang 240 juta jiwa. Pemanfaatan kapasitas jaringan juga sudah lebih dari 50%.

Uniknya, dua hal itu pula yang sering menjadi alasan operator telepon seluler mematok tarif mahal. Saking mahalnya, lembaga JP Morgan menempatkan tarif seluler Indonesia sebagai tarif termahal kedua di Asia Pasifik pada 2006. Temuan ini diperkuat dengan penelitian Laboratorium Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran (LMFE Unpad), Bandung, berjudul ''Perkembangan Industri Telekomunikasi di Indonesia Tahun 2007''.

Menurut Ketua Tim Peneliti LMFE Unpad, Ina Primiana, sesuai dengan data dari Badan Telekomunikasi Internasional (ITU), harga pulsa seluler di Indonesia sejak tahun 1994 hingga 2006 relatif lebih mahal dibandingkan dengan di negara-negara lain. Meski, masih lebih murah dibandingkan dengan tarif di Malaysia dan Singapura (lihat: Tabel 3).

Toh, ia mengingatkan, tarif retail yang lebih tinggi di Indonesia tak bisa langsung dibandingkan dengan tarif retail di negara lain. Alasannya, terdapat perbedaan struktur biaya, besaran pasar, dan regulasi. ''Suatu tarif seluler dinilai terlalu mahal atau tidak bisa dilihat dari perbandingan profit, EBITDA, dan pendapatan,'' ujar Ina.

Margin EBITDA (earnings before interest, taxes, depreciation and amortization) operator seluler Indonesia sejak tahun 2002 memang kelewat tinggi. JP Morgan mencatat, pada 2006 margin EBITDA para operator itu paling tinggi se-Asia Pasifik, mencapai angka 73%.

Operator telepon menilainya sebagai hal wajar. Dengan dalih, mereka masih butuh banyak dana untuk pengembangan dan pemeliharaan jaringan. Sebaliknya, Ina menyebutkan, justru dengan margin EBITDA yang bertahan di angka 60%-75%, tersedia ruang lebar untuk pemangkasan tarif telepon.

Sejak tahun 2002 sampai sekarang, profit tiga operator seluler terbesar di Indonesia rata-rata setengah dari EBITDA. Ini berarti, investasinya tidak terlalu besar. Juga cost para operator itu. Tiga hal ini, ditambah efisiensi investasi teknologi dan jaringan, membuat tarif telepon masih bisa diturunkan.

Berdasar kajian Ditjen Postel, tren penurunan tarif tak terelakkan sampai beberapa tahun mendatang. Setidaknya sampai teledensitas pelanggan mencapai 70% dari total penduduk dan utilisasi trafik mencapai volume maksimum 80%.

Skema interkoneksi baru dari pemerintah itu memang berpotensi menurunkan pendapatan operator. Menurut hitungan PT Telkom, margin EBITDA mereka berpotensi turun hingga 3% pada tahun ini. Tapi mereka yakin bisa menaikkan pendapatan interkoneksi seiring dengan peningkatan jumlah pelanggan dan trafik percakapan. Tahun lalu, pendapatan Telkom dari interkoneksi mencapai 12% sampai 13% dari total pendapatan.

Anggota BRTI, Heru Sutadi, mengakui bahwa kebijakan itu berpotensi menurunkan pendapatan operator. Namun belum tentu mengurangi keuntungan. Sebab tarif murah malah bisa memicu trafik pembicaraan pelanggan makin tinggi. ''Selain itu, kami juga ingin mendorong operator lebih efisien dengan strategi usaha yang kreatif, yang pada akhirnya bisa mengurangi cost,'' kata Heru.

Tren biaya pekerjaan sipil (civil work) memang terus mengalami peningkatan. Karena itulah, Heru melanjutkan, pemerintah mendorong operator untuk menerapkan kebijakan menara bersama guna mengurangi biaya itu.

Operator seluler juga sadar atas peluang itu. Menurut Direktur Utama XL, Hasnul Suhaimi, mereka akan cerdik menyikapi penurunan tarif itu. ''Kami yakin bisa membuat pendapatan tetap meningkat secara progresif,'' katanya.

Keyakinan itu didasarkan pada pengalaman XL selama ini. Sudah lima tahun terakhir ini, kata Hasnul, XL terus menurunkan tarif, meski sebatas untuk percakapan on-net (pada jaringan yang sama). Penurunan terbanyak dilakukan pada tahun lalu, mencapai 39% dibandingkan dengan tarif tahun 2006.

XL memulai penurunan drastis tarif seluler pada pertengahan 2007, dengan menawarkan tarif Rp 25/detik. Lalu turun lagi menjadi Rp 10/detik. Terpangkas lagi menjadi Rp 1/detik hingga saat ini hanya Rp 0,1/detik. Ternyata promo-promo tarif ini malah memicu pelanggan makin lama menggunakan telepon.

Optimisme serupa menyeruak dari Telkomsel. Menurut Kiskenda, mereka punya peluang besar untuk mempertahankan pendapatan. Tahun lalu, pertumbuhan pendapatan mereka mencapai 24%. Kini modal jumlah pelanggan 50 juta menjadi tumpuan peningkatan trafik percakapan.

Selain itu, peluang bisnis telekomunikasi masih besar, mengingat teledensitas berada di bawah 40%. Tak mengherankan jika mereka tetap yakin bisa menggaet 9 juta pelanggan baru dari total 18 juta pertambahan pelanggan seluler sepanjang tahun ini.

Mereka, lanjut Kiskenda, sudah menyiapkan strategi berdasarkan layanan tambahan (value added service), elastisitas pasar, dan penambahan jangkauan layanan. Bekal tambahan ini diyakin bisa menjaga pendapatan. ''Kami bisa memainkan elastisitas pasar. Jadi, meski tarif turun, trafik percakapan akan naik,'' kata Kiskenda.

Upaya-upaya operator itu mendapat dukungan pemerintah, yang ingin berlaku fair pada konsumen dan operator. Penurunan tarif dan pertambahan jumlah pelanggan tentu akan meningkatkan surplus konsumen. Nah, Ditjen Postel sudah menyiapkan antisipasi akuisisi surplus konsumen bagi operator. Misalnya dengan mengefisienkan proses perizinan penyelenggaraan, frekuensi, sertifikasi perangkat, dan pelaksanaan uji laik operasi hingga menjadi mediator perselisihan interkoneksi di antara operator.

Astari Yanuarti

Harga SMS Juga Terpangkas

Tak hanya tarif telepon yang terpangkas, tarif pesan singkat (SMS) juga dipastikan turun. Menurut anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), Heru Sutadi, hasil hitungan terbaru mereka menunjukkan, ongkos produksi satu SMS hanya Rp 52. Biaya produksi ini terdiri dari ongkos terminasi dan originasi, yang masing-masing Rp 26.

Ongkos produksi SMS itu lebih rendah dari pengumuman BRTI pertengahan tahun lalu, yaitu sebesar Rp 76/SMS. ''Karena untuk yang sekarang, kami menggunakan data laporan keuangan operator yang lebih baru,'' kata Heru. Metode perhitungannya adalah long run incremental cost (LRIC), yang menghitung tarif SMS berdasarkan efficiency network design.

Karena itu, Heru menegaskan, tarif SMS juga harus turun per 1 April, bersamaan dengan penurunan tarif telepon. Pemangkasan tarif SMS ini pun tak akan mempengaruhi pola pembagian pendapatan SMS yang diterapkan operator, yaitu sender keeps all (SKA). Sebaliknya, pola SKA membuat operator tidak terbebani biaya tambahan perangkat baru billing interkoneksi. ''Jadi, perkiraan kami, setelah ditambah biaya aktivitas bisnis dan margin, tarif SMS antar-operator adalah Rp 100-Rp 150,'' tutur Heru.

Pada saat ini, harga SMS yang relatif murah baru terjadi sesama operator (on-net). Itu pun sifatnya promo. Misalnya, Indosat menawarkan SMS seharga Rp 40 untuk sesama pelanggan IM3. Hutchison Three malah membebaskan tarif SMS sesama pelanggannya. Tapi harga SMS masih tinggi jika lintas operator, rata-rata Rp 350/SMS (lihat: Tabel 5).

Para operator beralasan, tarif sebesar itu terjadi karena, selain biaya interkoneksi, mereka juga memasukkan komponen biaya lain, seperti biaya aktivitas retail (sekitar 40%), biaya promosi, margin (10%-15%), dan pajak. Dengan tarif itu pun, Indonesia masih masuk peringkat ke-37 sebagai negara dengan tarif termurah dari 187 negara.

Direktur Utama Indosat, Johnny Swandi Sjam, pernah menyampaikan perbandingan data tarif pungut SMS di Eropa. Untuk pelanggan korporat, operator di Eropa memberikan harga wholesale (bal-balan) Rp 180-Rp 250/SMS.

Namun harga SMS retail bisa mencapai Rp 2.600/SMS seperti di Jerman. Ini karena di Eropa, operator menerapkan skema SMS berbasis interkoneksi, sehingga penerima dan pengirim dikenai biaya.

Astari Yanuarti

- Tarif interkoneksi ditambah dengan biaya aktivitas bisnis dan margin menjadi komponen penentu tarif pungut layanan operator.

- Indonesia masih masuk peringkat ke-37 sebagai negara dengan tarif SMS termurah dari 187 negara.

- Operator yakin, pendapatan perusahaan tidak akan berkurang karena jangkauan pelanggan bakal makin banyak.

- Tarif pulsa akan terus turun hingga teledensitas pelanggan mencapai 70% dari total penduduk.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar