Sabtu, April 05, 2008

Gerakan Memboikot Ponsel Nokia

12 / XIV 6 Peb 2008

Serikat Buruh Jerman menolak penutupan pabrik ponsel Nokia di Bochum, Jerman. Para politisi menyerukan gerakan boikot ponsel Nokia. Gaji pekerja Jerman terlalu mahal sehingga membuat pabrik ponsel tak kompetitif.

Lima belas ribu demonstran memenuhi pusat kota Bochum, Negara Bagian North Rhine-Westphalia, Jerman, Selasa pekan lalu. Demo selama dua jam itu berlangsung tertib. Meski, para pendemo menyampaikan pesan keras: menolak penutupan pabrik telepon seluler (ponsel) Nokia. Keputusan menutup pabrik itu sendiri disampaikan manajemen pada pertengahan bulan ini.

Putusan mengejutkan itu sontak menjadi isu nasional, bahkan merembet hingga kawasan Uni Eropa. Gerakan yang muncul dengan motor Serikat Buruh Metal dan Baja Jerman pun tercatat sebagai demo terbesar selama 20 tahun terakhir di negara bagian yang terletak di sisi barat Jerman itu. Penutupan pabrik ponsel asal Finlandia itu membuat 2.300 pekerja dan 1.700 distributor menganggur. Ini belum termasuk kerugian ekonomi bagi iklim industri Jerman.

Nokia secara resmi menutup pabrik di Bochum sekitar Juni mendatang. Manajemen memindahkan pabriknya ke Cluj, Rumania. Mereka menyatakan, biaya operasional pabrik di Bochum terlalu tinggi sehingga tidak lagi efisien. Gaji pekerja menjadi komponen utama penyumbang biaya tinggi. ''Pabrik Bochum menyumbang produksi ponsel sebanyak 6%, dengan biaya gaji mencapai 23% dari total biaya operasi pabrik,'' ujar Presiden dan CEO Nokia, Olli-Pekka Kallasvuo, seperti dikutip AFP.

Alasan itu tak bisa diterima aktivis Serikat Buruh Metal dan Baja Jerman, Harald Strehlau. Ia menyatakan, Nokia tak dapat seenaknya angkat kaki hanya berdasarkan alasan peningkatan efisiensi. Apalagi, Nokia sudah menerima banyak keuntungan dari subsidi yang diberikan Pemerintah Jerman sejak beroperasi sekitar 13 tahun lalu. Total subsidinya mencapai 88 juta euro (Rp 1,2 trilyun). ''Lagi pula, Nokia sudah mendapat banyak selama beroperasi di Bochum,'' katanya.

Mereka berencana menuntut Nokia atas hal itu. Toh, Strehlau dan rekan-rekannya dalam pernyataan pada koran Helsingin Sanomat mengakui bahwa gerakan mereka mungkin tak akan bisa mengubah keputusan Nokia.

Untunglah, mereka tak berjuang sendirian. Dukungan dari kalangan politisi Jerman mengalir deras. Menteri Pertanian Horst Seehofer mengajak warga Jerman mengganti ponsel Nokia. Ia menyatakan tak sreg dengan putusan Nokia. ''Saya mulai dengan tak lagi memakai Nokia. Saya juga berencana menerapkan di Departemen Pertanian,'' kata Seehofer.

Senada dengan Seehofer, Ketua Partai Sosial Demokrat Peter Struck juga mengganti ponsel Nokia-nya. Gerakan boikot mereka mendapat dukungan dari beragam kalangan, terutama serikat-serikat pekerja yang tersebar di seluruh Jerman.

Toh, putusan Nokia sudah bulat. Bahkan lobi Kanselir Angela Merkel yang berbicara langsung melalui telepon dengan Kallasvuo tak membawa perubahan apa pun. Menurut Kallasvuo, pembicaraan mereka memang konstruktif. Merkel berupaya mencari solusi terbaik bagi ekonomi Jerman. Sedangkan dirinya mencari yang terbaik baik bisnis Nokia dalam jangka panjang.

Jadi, meski selang tiga hari kemudian Kallasvuo secara resmi minta maaf atas keputusan penutupan pabrik itu, Nokia bergeming. ''Tetap tak ada alasan yang bisa mengubah keputusan kami,'' kata Kallasvuo, mantap.

Ia menambahkan, Nokia memang menganut budaya tanggung jawab sosial dan kepedulian. Tapi, dalam kompetisi ekonomi terbuka, tak ada satu pun perusahaan yang bisa menggaransi pemberian lapangan kerja sepanjang masa. Kallasvuo hanya berjanji, Nokia akan memberikan solusi terbaik bagi para mantan pegawainya di Bochum, tanpa bersedia menyebutkan detailnya.

Memang belum ada pernyataan resmi soal kerugian ekonomi yang dialami Jerman. Yang pasti, penutupan pabrik Nokia itu menambah panjang daftar perusahaan ponsel yang tutup buku di Jerman. Sejak tahun 2006, Motorola dan Benq-Siemens menghentikan produksinya di Jerman. Lebih dari 6.000 pekerjanya menganggur.

Gaji pekerja yang membebani biaya produksi selalu menjadi salah satu alasan utama penutupan pabrik. Gaji pekerja di Jerman mencapai 32 euro per jam, termasuk paling mahal di Eropa. Bandingkan dengan gaji pekerja di Rumania yang hanya 2,45 euro per jam. Sekitar 10 kali lebih murah dari Jerman.

Pabrik baru Nokia di Cluj, sekitar 400 kilometer sebelah barat daya Bukares, mulai berproduksi pada 11 Februari. Pengumuman pembangunan pabrik ke-10 Nokia di seluruh dunia itu dilakukan sejak akhir Maret setahun silam. Pabrik di negeri asal legenda Drakula itu mempekerjakan 3.500 orang plus 100 pekerja kontrak per pekan. Produksi ponselnya akan disebar untuk pasar Asia dan Afrika.

Menurut majalah Rumania, Ziarul Financiar, pemerintah mereka sukses menerapkan kebijakan menarik investasi dengan perbaikan jalan dan infrastruktur lain. Misalnya memperluas bandar udara terdekat dari Cluj demi keperluan kargo ekspor-impor.

Astari Yanuarti



Tetap Paling Perkasa

Ketangguhan Nokia di pasar ponsel dunia masih belum tergoyahkan, malah makin menguat. Sampai akhir tahun lalu, pangsa pasar Nokia mencapai 40%, naik dari sekitar 36% di awal tahun. Total penjualan ponsel dunia tahun 2007 mencapai 1,15 milyar unit.

Dominasi Nokia ini tak lepas dari kinerja kinclong-nya selama kuartal keempat tahun 2007. Penjualan ponsel selama periode ini sebanyak 133,5 juta unit. Keuntungan bersih yang diraih selama kuartal terakhir mencapai 1,8 milyar euro (Rp 24,6 trilyun), dengan pendapatan bersih 15,7 milyar euro (Rp 215 trilyun). Sedangkan pendapatan bersih sepanjang tahun lalu mencapai 51,1 milyar euro (Rp 699 trilyun).

Menurut Presiden dan CEO Nokia, Olli-Pekka Kallasvuo, pada saat pengumuman kinerja keuangan kuartal keempat 2007, Kamis lalu, mereka yakin bisa mempertahankan dominasi tahun ini di tengah tren penurunan harga ponsel. Ia memprediksi, pasar ponsel tahun ini naik 10% dari tahun lalu alias sebesar 1,265 milyar unit.

Demi mencapai target itu, Nokia mengambil ancang-ancang untuk kembali merajai pasar Amerika Serikat. Selama beberapa tahun ini, Motorola lebih dominan di ''negeri Paman Sam'' itu. Sehingga kontribusi pasar Amerika hanya sekitar 5% dari total pendapatan Nokia. Untuk memenangkan pasar, Nokia akan lebih banyak meluncurkan ponsel yang sesuai dengan pasar Amerika.

Selain itu, manajemen Nokia juga menargetkan Jepang sebagai sasaran untuk menguatkan penetrasi pasar. Tidak ketinggalan, mempertahankan posisi dominan di India dan Cina, yang tercatat sebagai penyumbang penyerapan ponsel Nokia terbesar beberapa tahun ini.

Ketangguhan Nokia itu membuat kompetitor lain, seperti Samsung dan Sony Ericsson, masih harus bekerja ekstra keras untuk mengejar ketertinggalan. Samsung, penguasa pasar nomor dua dengan 14%, memang menunjukkan kinerja bagus sepanjang tahun lalu.

Pabrikan asal ''negeri ginseng'' itu berhasil menjual 161 juta unit ponsel, dengan nilai penjualan sebesar 13,2 milyar euro. Mereka menetapkan target bisa menjual 200 juta unit ponsel pada tahun ini. Karena itu, Samsung akan mulai masuk ke pasar ponsel murah berharga di bawah Rp 400.000.

Sementara itu, Sony Ericsson, yang menguasai 9% pasar ponsel dunia dan berada di posisi keempat, mencatat kinerja kurang menggembirakan. Keuntungan Sony Ericsson turun 17% sepanjang kuartal keempat karena tingginya beban biaya dan pajak.

Nasib buruk dialami Motorola, penguasa pasar ponsel nomor tiga. Keuntungan bersih mereka anjlok hingga 84% selama kuartal keempat, dan penjualan ponselnya turun 38%. Penguasaan pasar Motorola pun tergerus menjadi hanya 12%.

Astari Yanuarti

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar