Rabu, April 02, 2008

LAPORAN KHUSUS: Promo Murah (Tapi) Masih Mahal

15 / XIV 27 Peb 2008

Perang promo operator makin menggila tahun ini. Saling klaim memberi harga termurah dan terkadang saling menjatuhkan. Bisa menjadi bumerang jika tak diikuti transparansi dan kualitas layanan.

Satu bulan terakhir ini, Muldian makin rajin menelepon. Setiap hari, selama tiga sampai empat jam, ia menghubungi sang pujaan hati yang tinggal di Banda Aceh. Ini belum termasuk menelepon teman, keluarga, dan mitra kerja pegawai pemerintah yang berkantor di kawasan Senayan, Jakarta, itu.

Menurut Muldian, biaya telepon yang dia keluarkan tak membengkak. Sebab ia dan sang kekasih menjadi pelanggan prabayar operator yang sama. Kebetulan operator ini gencar melakukan promo tarif murah percakapan sesama operator. ''Gue cuma habis Rp 3.465 sejam. Murah banget, meski kadang-kadang mati sendiri setelah sejam,'' katanya.

Meski merasa diuntungkan dengan harga murah sang operator, Muldian masih mengeluh. Tarif murah itu tak berlaku jika ia menelepon ke operator lain. Muldian tetap harus merogoh kocek sekitar Rp 45.000 untuk menelepon satu jam. ''Bedanya jauh banget dengan harga telepon sesama XL Bebas,'' tutur pria berusia 33 tahun itu.

Kesenangan plus keluhan Muldian itu bisa jadi mewakili suara puluhan juta pelanggan telepon seluler Indonesia. Mereka memang tengah menjadi sasaran empuk promo jorjoran para operator.

Tak hanya promo operator baru, seperti Hutchison dengan merek Three dan Smart Telecom. Kini sang penguasa pasar seluler, Telkomsel, ikut turun gelanggang. Telkomsel, yang selama ini relatif imun dari jorjoran promo tarif, mulai terusik oleh aksi para kompetitornya, seperti Excelcomindo (XL) dan Indosat.

Akhir tahun lalu, anak usaha PT Telkom Tbk itu menggebrak pasar dengan jargon Simpati Pede. Promo yang berlaku untuk kartu prabayar Simpati ini menawarkan hitungan pulsa per detik. Tarifnya juga diklaim hemat, hanya Rp 0,5/detik. Promo mereka jelas-jelas mematahkan jargon termurah yang diusung XL, dengan promo Bebas Rp 1/detik.

Aksi Telkomsel itu tak pelak memicu reaksi operator lain. Selang sebulan kemudian, XL mengganti promo Bebas dari Rp 1/detik menjadi Rp 0,1/detik. Kali ini, operator terbesar ketiga itu pun berani mengklaim bahwa tarif mereka adalah yang termurah, bahkan untuk percakapan lintas operator.

Indosat, sang runner up, juga tak mau tinggal diam. Selang sehari dari XL, mereka merilis Gratis 1 Menit. Promo ini menjadi pelengkap kampanye Mentari Rp 0, gratis bicara Rp 5.000 yang digelar akhir tahun silam.

Perang promo tiga operator seluler terbesar itu makin meramaikan arena persaingan, yang sebelumnya lebih banyak dipadati operator seluler pendatang baru dan operator telepon tetap nirkabel (FWA). Ada Three yang menawarkan program pulsa setengah harga, Esia dengan Rp 1.000/jam, TelkomFlexi dengan Rp 49/menit, hingga Smart dengan gratis bicara sesama Smart selama enam bulan.

Jika dilihat sekilas, semua promo operator telepon tadi memang mengesankan tarif murah. Apalagi kalau kita melihatnya dari iklan di media massa dan baliho. Tapi tunggu dulu. Semua promo itu punya tanda asteriks. Ini berarti, ada sejumlah syarat dan ketentuan untuk menikmati promo tersebut.

Nah, si syarat dan ketentuan itu tak tercantum dalam iklan operator. Biasanya pelanggan diminta membukanya di situs atau pusat pelayanan resmi tiap-tiap operator. Lebih parah lagi, di balik tanda asteriks yang sangat simpel itu malah berisi deretan persyaratan panjang dan memusingkan.

Promo XL bebas Rp 0,1/detik bisa menjadi contoh. Pelanggan bebas pasti pusing jika membaca, apalagi memahami, syarat yang berlaku. Tarif percakapan lokal sesama Bebas selama 2,5 menit pertama Rp tetap 10/detik. Tarif Rp 0,1/detik baru berlaku setelah 2,5 menit pertama sampai menit ke-30. Setelah menit itu, berlaku tarif Rp 1/detik.

Syarat itu hanya berlaku di wilayah tertentu, yaitu Jabodetabek, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah bagian selatan, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, dan Lombok. Wilayah lain punya aturan berbeda, dengan menerapkan jam sibuk dan tidak sibuk. Ini belum termasuk ketentuan perhitungan tarif telepon Bebas ke operator lain yang juga rumit.

Kerumitan memahami syarat dan kondisi promo juga terjadi pada promo Mentari Gratis 1 Menit. Ada enam item persyaratan plus penjelasan mengenai urutan pemakaian bonus Mentari.

Sedangkan promo Simpati Pede relatif tak banyak syarat dan ketentuannya. Hanya berisi penjelasan bahwa tarif Rp 0,5/detik berlaku sejak menit kedua dengan harga pulsa Rp 25/detik pada menit pertama. Sayang, simplitas persyaratan Simpati Pede tak berarti menawarkan promo termurah. Harga layanan mereka masih lebih mahal dibandingkan dengan XL (lihat tabel).

Adu promo murah yang saling menjatuhkan dan penuh syarat yang cenderung membingungkan itu mengundang perhatian regulator. Menurut anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), Heru Sutadi, mereka menerima keluhan pelanggan ponsel terkait tarif promo itu.

Ada yang mengeluhkan informasi promo yang tak lengkap hingga kualitas layanan yang tidak stabil. ''Kami menilai, keterbatasan ruang iklan tak bisa menjadi alasan tidak memberikan informasi lengkap kepada konsumen,'' kata Heru.

Heru menilai, nyaris semua promo operator memberikan informasi tidak lengkap, atau kalaupun lengkap, tetap saja membingungkan. Ia minta operator membuat persyaratan lebih sederhana dan transparan. ''Apalagi, tarif promo ini sering dikesankan sebagai tarif normal sehingga menimbulkan kesan penurunan tarif, padahal tidak,'' ujar Heru.

BRTI juga minta promo operator tak saling menjatuhkan dan menjaga etika periklanan. Meski, sampai saat ini, belum ada iklan operator yang masuk kategori menyesatkan atau menipu.

Gayung bersambut. Imbauan BRTI itu diamini Presiden Direktur XL, Hasnul Suhaimi. Pihaknya memang pernah bersikap reaktif terhadap iklan yang dilakukan operator lain. Tapi XL tak pernah punya maksud membuat iklan yang menjatuhkan operator seluler lain. ''Kami terus melakukan pembenahan," kata Hasnul.

Sedangkan Direktur Utama Telkomsel, Kiskenda Suriahardja, menegaskan bahwa mereka tak ingin terjebak dalam perang tarif. Meski pelanggan Indonesia termasuk sensitif pada
harga, kualitas layanan juga mendapat perhatian. "Kami lebih fokus melayani pelanggan dengan baik dan meningkatkan kualitas layanan," ujarnya.

Komitmen Telkomsel dibuktikan dengan penggunaan 45% alokasi dana belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini untuk meningkatkan kualitas layanan. Lalu 40% lagi untuk menambah jangkauan layanan dan 15% untuk mengembangkan bisnis baru. Total capex mereka mencapai US$ 1,5 milyar-US$ 1,7 milyar.

Meski Telkomsel menyatakan tak ingin terjebak dalam perang tarif, adu murah harga pulsa operator masih akan terus berlanjut. Salah satu indikasinya, belanja iklan sektor telekomunikasi makin meninggi tiap tahun. Malah, tahun lalu, belanja iklan telekomunikasi tercatat paling tinggi dibandingkan dengan sektor lain.

Data Nielsen Media Research Indonesia menyebutkan, angkanya mencapai Rp 2,7 trilyun. Naik 40% dari tahun 2006. Total belanja iklan tahun lalu mencapai Rp 35,1 trilyun. Lembaga itu juga memprediksi, belanja iklan telekomunikasi masih menduduki posisi tertinggi tahun ini, dengan kisaran pertumbuhan tak jauh dari tahun lalu.

Astari Yanuarti

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar