Gunung Anak Krakatau makin seksi ketika berstatus waspada. Pola letusannya bak kembang api raksasa. Indah dan menakjubkan.
Semilir angin malam beraroma belerang bercampur abu vulkanik menerpa wajah. Sembari memicingkan mata dan menutup hidung, pandangan mata tetap lekat pada sosok hitam menjulang di samping perahu nelayan yang saya naiki. Selarik cahaya pucat bulan purnama di balik awal tebal tak sanggup menerangi kegelapan di perairan sekitar Pulau Anak Krakatau, Kalianda, Lampung.
Sesaat kemudian, pijaran lava merah menyala menyembur, diiringi suara gemuruh. Batuan cair panas berhamburan menyusuri lereng. Di pertengahan lereng, pijaran itu melemah, lalu padam. Dari pusat semburan, asap tebal bergulung-gulung mengangkasa, menutupi cahaya purnama.
Letusan menakjubkan itu membuat saya terpana. Sehingga momen itu terlewat dari jepretan kamera digital saku yang sedari tadi tergenggam. Selang 15 menit kemudian, dentuman seperti meriam terdengar mengalahkan deru mesin perahu kayu. Percikan-percikan api berlompatan. Tiba-tiba cincin api besar menyeruak. Hanya sekejap, sebelum cincin itu meledak membentuk kembang api.
Decak kagum dan pujian pada kebesaran karya Tuhan langsung terlontar. Kebahagiaan juga membuncah di dada karena bisa menyaksikan kembang api alami terindah dalam jarak begitu dekat. Ketika itu, perahu berada sekitar setengah kilometer di sisi barat daya bibir pantai Anak Krakatau
Namun intensitas letusan yang makin kerap di malam hari membuat perahu kami tak diizinkan berlabuh di pesisir gunung setinggi 305 meter itu. "Kalian hanya boleh mengelilingi Anak Krakatau. Kalau mau bersandar dan kemping, bisa di Pulau Rakata, Pulau Panjang, atau Pulau Sertung," ujar Ahyar, petugas Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Cagar Alam Kepulauan Krakatau, yang ikut serta dalam pelayaran.
Jadi, setelah mengelilingi separuh Anak Krakatau, perahu berbelok ke selatan menuju Rakata. Menjelang pukul 21.00 WIB, perahu mungil ini sampai di pantai Rakata. Karena tak ada dermaga, kami harus meloncat dari atas perahu. Ahyar mengingatkan untuk hati-hati agar tak terpeleset. Sebab perahu terus bergoyang disapu pasang naik, sehingga mengganggu keseimbangan pada saat akan meloncat.
Perahu nelayan tanpa atap itu saya sewa bersama tiga backpacker lain dari Pulau Sebesi, Lampung. Pulau ini berada 36 kilometer di sisi timur laut Anak Krakatau. Inilah pulau berpenghuni terdekat dari Kepulauan Krakatau.
Di Pantai Rakata, terlihat dua tenda dan sekelompok wisatawan asing. Alunan lagu-lagu pop Barat terdengar dari arah tenda yang diterangi lampu petromaks. Para turis tampak asyik mengabadikan letusan Anak Krakatau yang berlangsung dengan interval 10-15 menit.
Letusan Anak Krakatau terlihat jelas dari Rakata, karena posisi kepundan terletak di sisi selatan, beberapa puluh meter dari puncak gunung. Jarak empat kilometer antara Rakata dan Anak Krakatau membuat pengamatan tergolong aman.
Dua teman saya, Maruli dan Jhon, segera mencari posisi nyaman untuk memotret. Maklum, sejak berangkat, mereka bertekad untuk menangkap momen-momen indah letusan Anak Krakatau dengan kamera SLR. Niat ini belum bisa terlaksana ketika berperahu karena terkendala guncangan.
Saya dan Erwien memilih lesehan di pantai, menikmati letusan. Kegelapan malam membuat kamera digital saku kami tak berdaya untuk memotret keindahan kembang api Anak Krakatau. Tak lama kemudian, Maruli ikut bergabung. Kamera berlensa tele miliknya ternyata rusak karena terendam air ketika melompat turun tadi.
Semakin malam, letusan makin sering. Pola pijar letusan beraneka rupa. Dari pola mercon air mancur, bola api raksasa, hingga letupan kecil ritmik. Ketinggian letusan ada yang mencapai 300 meter. Setiap letusan diiringi suara menggelegar yang menimbulkan gema di Rakata.
Data di Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau menunjukkan peningkatan aktivitas sejak awal Maret lalu. Selama dua pertiga bulan Maret, gempa vulkanik tercatat dua kali hingga enam kali sehari. Lalu meningkat menjadi 68 kali gempa vulkanik per hari. Ditambah 175 kali letusan per hari selama lima hari di penghujung Maret.
Catatan serupa masih bertahan ketika saya berkunjung pada long weekend, dua pekan lalu. Sehingga Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi masih menetapkan status "waspada" untuk Anak Krakatau sepanjang April ini. Status ini berarti larangan mendekat hingga radius satu kilometer dari kawah Anak Krakatau.
Gunung yang muncul dari kaldera Krakatau yang meletus dahsyat pada 27 Agustus 1883 itu memang sudah lama menjadi perhatian vulkanolog dunia. Sejak muncul ke permukaan laut pada 1927, Anak Krakatau bertambah tinggi 5 meter per tahun.
Pada saat ini, panjang gunung itu mencapai 2 kilometer dan tinggi 305 meter. Sedangkan ketinggian sang ibu sebelum meletus adalah 813 meter. Pertumbuhan cepat sang anak ini, ditambah dengan peningkatan aktivitas, membuat beberapa vulkanolog memprediksi, Anak Krakatau bakal meletus hebat antara tahun 2015 dan 2083.
Bagi banyak turis asing dan lokal, status waspada itu membuat Anak Krakatau makin seksi, terutama sebagai objek foto. Selain wisata malam, banyak kegiatan yang bisa dilakukan di Kepulauan Krakatau. Mulai trekking, kemping, snorkeling, diving, memancing, hingga melihat lumba-lumba. Semua wisatawan yang datang ke Krakatau harus mendapat izin dari BKSDA.
Namun mencapai Cagar Alam Krakatau tidaklah semudah mencapai daerah wisata lain di daratan. Rute paling populer adalah lewat pesisir barat Banten, dari Anyer hingga Labuan. Hampir semua resor di kawasan ini punya paket wisata ke Krakatau. Harga paket per orang bervariasi, Rp 750.000 hingga Rp 2,5 juta, tergantung jenis kapal, durasi, dan jumlah peserta.
Rute lain, lewat Lampung. Meski lebih panjang (bila dihitung dari Jakarta), rute ini lebih ramah di kantong sehingga menjadi rute favorit kaum backpacker. Jika pergi berombongan 10 orang, total biaya bisa ditekan menjadi Rp 350.000 per orang untuk dua hari.
Caranya? Dari Pelabuhan Bakauheni naik angkot ke Pasar Kalianda seharga Rp 12.000. Lalu berganti dengan angkot ke Pelabuhan Canti bertarif Rp 5.000. Dari sini menyeberang ke Pulau Sebesi, naik kapal penumpang bertarif Rp 15.000 dengan waktu tempuh satu setengah jam.
Di Sebesi, Anda bisa mencari kapal nelayan untuk disewa seharian ke Krakatau. Harganya Rp 600.000-Rp 1,5 juta, tergantung kapasitas dan jenis kapal. Ada kapal jukung berkapasitas empat orang, kapal klotok (seperti yang kami sewa) berkapasitas enam orang, atau kapal kayu berkapasitas 40 orang. Hanya, tak tersedia pilihan kapal boat seperti di Banten.
Waktu tempuh kapal klotok ke Anak Krakatau sekitar dua jam bila cuaca bagus. Tapi, jika ombak tinggi, angin kencang, dan hujan, waktu tempuhnya bisa molor menjadi tiga setengah jam. Cuaca tak bersahabat inilah yang terjadi ketika kami pulang dari Krakatau. Untunglah, perahu mungil itu akhirnya berlabuh dengan selamat di dermaga Pulau Sebesi pada pukul 02.25 WIB.
Astari Yanuarti
*Dimuat di Gatra, No. 24/XV, 23-29 April 2009
Friday, April 24, 2009
Monday, February 23, 2009
PESONA MAGNET GRANIT RAKSASA
Tebaran batu-batu granit super besar hingga ke tengah laut menjadi daya pikat utama Pulau Belitung. Ditambah dengan bonus pasir putih, air laut sebening kristal, dan budaya nelayan tradisional.Kelegaan terlihat jelas di wajah puluhan penumpang Kapal Express Bahari ketika berlabuh dengan selamat di Pelabuhan Tanjung Pandan, ibukota Belitung. Dengan tertib, satu per satu penumpang antri keluar kapal melalui pintu di geladak teratas. Kami harus melalui pintu berukuran mini ini karena air di dermaga sedang surut.
Sore itu, kapal cepat yang kami naiki dari Pangkal Pinang, Bangka, menjadi satu-satunya kapal yang bersandar. Tak heran jika suasana pelabuhan mungil yang ada di sisi barat Pulau Belitung nyaris sepi. Hanya ada segelintir porter. Mereka pun terlihat tenang, tidak ribut menawarkan jasa seperti lazimnya di pelabuhan lain.
Sedikit keriuhan baru terasa saat berjalan menyusuri selasar keluar gedung pelabuhan. Beberapa tukang ojek datang menghampiri dan menanyakan tempat tujuan. Sembari tersenyum simpul, saya melambaikan tangan menolak tawaran mereka. Karena Hotel Martani yang saya tuju hanya berjarak 200 meter dari pintu gerbang pelabuhan.
Hotel dengan jumlah kamar terbanyak di Belitung ini saya pilih berdasar rekomendasi dari beberapa teman sesama backpacker. Lokasinya tak jauh dari pusat kota Tanjung Pandan. Harga sewa kamar per malam juga ramah di kantong. Hanya Rp 108 ribu untuk kamar standar single dan Rp 285 ribu untuk kamar VIP.
Dalam perjalanan menuju hotel, saya melewati sebuah klenteng cantik berhias puluhan lampion merah. Belasan orang tampak hilir mudik di halaman klenteng. Rupanya mereka tengah menyiapkan upacara perayaan Cap Go Meh ( hari kelima belas dalam bulan pertama kalender China). Seperti di Bangka, sekitar sepertiga warga Belitung adalah warga keturunan Tionghoa.
Niat ingin menonton perayaan nanti malam sudah terbersit saat melintasi klenteng. Sayang, terkalahkan oleh rasa kantuk dan lelah. Maklum, perlayaran empat jam dari Pangkal Pinang ke Tanjung Pandan tak berlangsung mulus. Tiupan angin kencang, hempasan ombak tinggi membuat kapal sering berguncang keras selama berada di laut lepas.
Alhasil sebagian besar penumpang mabuk laut berkali-kali. Untunglah saya tidak kena sindrom ini. "Anda juga beruntung karena kapal jadi berangkat dan berlabuh dengan selamat. Sebulan ini kapal lebih sering batal berangkat karena gelombang tinggi, " ujar resepsionis Hotel Martani saat menyerahkan kunci kamar.
Cuaca buruk memang lebih sering mewarnai hari-hari pada musim angin barat seperti di bulan Februari saat saya berkunjung ke Belitung. Jadi, hanya segelintir turis 'nekat' yang singgah untuk menikmati keindahan deretan batu-batu granit super besar di sepanjang pantai pulau penghasil timah ini.
Meski perjalanan diawali dengan kondisi laut yang tak bersahabat, namun keyakinan (tentu saja disertai doa ) bahwa cuaca akan cerah ceria selama berwisata di Belitung, tetap tertanam kuat. Ternyata, Tuhan mendengar doa ini. Pancaran terik sinar matahari dan langit biru menghiasi dua hari perjalanan di Belitung. Inilah dua syarat utama untuk menyerap keindahan kemilau air laut dan hamparan pasir putih di sela-sela serakan bebatuan granit raksasa berwarna terang.
Keesokan paginya, dengan semangat terpompa penuh, penjelajahan dimulai menggunakan paket sewa sepeda motor plus guide. Untuk pejalan tunggal pilihan ini lebih ekonomis daripada sewa mobil kijang plus sopir yang tarifnya Rp 420 ribu per hari. Sewa motor dengan pengemudi merangkap guide per hari hanya Rp 130 ribu.
Bisnis rental mobil/motor menjadi bagian tak terpisahkan dari wisata Belitung. Karena di pulau seluas 4.800 kilometer persegi ( tiga perempat luas pulau Bali) ini, belum ada angkutan umum yang memadai. Mobil/motor sewaan jadi andalan para turis untuk mengunjungi belasan pantai dan obyek wisata yang tersebar di pulau berpenduduk 300 ribu-an jiwa ini. Syukurlah, kondisi jalanan di Belitung, mulus. Sehingga semua tempat wisata tadi bisa dicapai paling lama dua jam dari Tanjung Pandan.
Perkampungan Nelayan Tanjung Binga menjadi tujuan pertama. Lokasi kampung yang dihuni 300 kepala keluarga ( rata-rata warga keturunan suku Bugis) ini terletak 20 kilometer di utara Tanjung Pandan. Semilir segar angin laut menerpa wajah saat berjalan menyusuri dermaga kayu sepanjang nyaris 100 meter.
Dermaga yang menjorok ke laut ini terlihat sepi. Hanya tampak satu perahu tertambat di sisi kanan dermaga. Belasan perahu tradisional ( beberapa diantara bercadik) tampak tertambat di depan rumah terapung para nelayan. Deretan rumah, perahu, dan para-para ( tempat penjemuran ikan) terlihat menghiasi pesisir pantai di sisi kanan-kiri dermaga.
Nun di ujung dermaga, tampak sekelompok bapak-bapak, ibu-ibu dan anak kecil, tengah asyik memancing. Setengah ember-ember hitam mereka sudah terisi ikan-ikan sebesar dua jari. Namanya ikan rinyok. Mereka biasa berenang bergerombol di permukaan laut. Gerombolan ikan rinyok ini terlihat jelas dari dermaga, menggugah minat untuk mencoba memancingnya.
Tapi, ikan-ikan ini sombong juga. Mereka tak sudi menyentuh umpan di ujung kail saya. Padahal, umpan kail anak kecil di samping saya sudah berkali-kali menggaet ikan mungil-mungil itu. Akhirnya saya menyerah. Setelah mengucapkan terimakasih karena dipinjami kail, saya bilang, �gBukankah lebih cepat diserok saja daripada dipancing. Lama dan cuma dapat sedikit.�h
Celetukan ini dijawab dengan ringan oleh seorang bapak pemancing. �gBuat kami mancing ini hobi untuk mengisi waktu luang di pagi hari.�h Ternyata meski hanya iseng, hasil pancingan mereka lumayan, sampai enam kilogram per orang. Dan dijual seharga Rp 6000/kilo. Hmm, cukuplah untuk membuat asap dapur mengebul.
**********
Perjalanan berlanjut ke Tanjung Kelayang, sekitar 15 menit dari Tanjung Binga. Wah, hamparan pasir putih langsung terhampar di depan mata. Berpadu dengan laut biru jernih tempat puluhan perahu nelayan tertambat tak jauh dari bibir pantai. Karena memang tak ada dermaga di sini.
Selain untuk melaut, nelayan di Tanjung Kelayang biasa menyewakan perahu untuk mengitari Pulau Lengkuas, Pulau Burung, dan Pulau Babi yang berada tak jauh dari pantai Tanjung Kelayang. Patokan harga sewa kapal dengan kapasitas enam penumpang itu, Rp 300 ribu.
Agar beban lebih ringan, harus dicari beberapa turis lain. Sayang, tak satu pun turis terlihat. Okelah, sepertinya memang harus menyewa perahu sendirian. Namun, setali tiga uang dengan pencarian pertama. Tak ada satu pun nelayan di pondok-pondok istirahat yang berjejer di pesisir pantai.
Duh, gagal sudah keinginan menaiki mercusuar buatan Belanda tahun 1882 di Pulau Lengkuas. Saya harus puas hanya memandangi mercusuar setinggi 50 meter yang ada di ujung pulau itu dari dermaga Tanjung Binga, tadi. �gKalau sepi begini, biasanya karena nelayan sudah tahu ombak di tengah laut sedang tinggi, meski dari sini terlihat tenang,�h ujar Agus Pahlevi, guide yang menemani saya.
Kekecewaan ini agak terobati saat berjalan-jalan menyusuri pantai berpasir putih yang terasa begitu lembut di kaki, menceburkan diri ke laut disela-sela bebatuan granit berwarna terang, serta memanjat deretan batu-batu granit yang berserak di tanjung (ujung daratan yang menjorok ke laut).
Kekecewaan ini agak terobati saat berjalan-jalan menyusuri pantai berpasir putih yang terasa begitu lembut di kaki, menceburkan diri ke laut disela-sela bebatuan granit berwarna terang, serta memanjat deretan batu-batu granit yang berserak di tanjung (ujung daratan yang menjorok ke laut).Dari atas batu-batu ini, pemandangannya luar biasa. Laut biru sebening kristal terhampar indah. Di kejauhan tampak gugusan batu berbentuk kepala burung Garuda, dikenal dengan Batu Garuda. Di sebelahnya terlihat Pulau Babi yang menghijau dipenuhi ribuan pohon nyiur. Dari sini, Pulau Lengkuas tak tampak karena terhalang Pulau Babi.
Kebeningan laut di bawah begitu menggoda untuk diterjuni. Namun, menurut Agus, lebih baik berenang dan bermain air di Pantai Tanjung Tinggi yang hanya berjarak 4 kilometer dari Tanjung Kelayang. Airnya lebih tenang dan dangkal. Ukuran batu-batu granitnya lebih spektakuler.
Ucapan Agus tidak berlebihan. Batu-batu granit super gede bertebaran di sepanjang pantai Tanjung Tinggi. Ada susunan batu yang tingginya menyamai pohon kelapa, sekitar 15 meter. Besarnya sama seperti rumah mewah berlantai tiga. Sebagian batu-batu itu berderet di pesisir. Sebagian lagi saling bertautan hingga jauh ke tengah laut.
Di beberapa sisi pantai batu-batu granit itu membentuk saling melingkar sehingga terbentuk semacam teluk yang teduh dan tenang. Di musim angin timur, ketika ombak di laut tak ganas, pantai Tanjung Tinggi berubah menjadi seperti danau raksasa. Sehingga pengunjung bisa sepuasnya berenang, menyelam, berendam, dan memancing, hingga puluhan meter ke dari pantai. Karena ketinggian air sampai di sejuah itu itu hanya setinggi dada orang dewasa.
Saat saya datang, ketenangan danau itu masih terlihat. Saya bisa berenang, berendam dan berjalan lumayan jauh ke tengah. Meski sesekali saya tersapu riak-riak ombak yang pecah.
Ombak di musim angin barat juga membawa aneka sampah dari tengah laut. Sehingga beberapa bagian pantai dipenuhi ceceran rumput laut kering, serpihan kayu mati, dan dedaunan. Padahal biasanya, ujar Agus, pantai berpasir putih ini bersih sekali.
Nah, yang tak boleh dilewatkan di pantai yang menjadi lokasi syuting film fenomenal Laskar Pelangi ini adalah, berjalan-jalan diantara celah sempit deretan batu-batu granit yang menjulang tinggi. Juga mendaki beberapa batu granit raksasa untuk mendapatkan pemandangan menakjubkan.
Tentu saja harus tetap berhati-hati karena bagian bawah batuan banyak ditumbuhi lumut. Selain itu beberapa batu punya kemiringan nyaris 90 derajat, jadi cukup sulit dipanjat. Celah-celah diantara bebatuan juga harus diwaspadai.
Batu-batu granit raksasa yang bersusun unik dan indah adalah ciri khas yang hanya dimiliki Belitung. Memang di Bangka terdapat beberapa pantai yang dihiasi bebatuan granit. Tapi ukurannya tak sebesar di Belitung, juga tak ada yang sampai bersusun di tengah laut.
Usia batu granit di Belitung sudah puluhan bahkan jutaan tahun silam. Batu granit termasuk jenis batuan beku dalam, sebab terbentuk dari magma yang mendingin di dalam perut bumi. Prosesnya pembentukannya lama, sehingga ukurannya bisa sangat spektakuler. Sedangkan warna cerah yang banyak dimiliki batu granit di Belitung karena mengandung silika. �gDiduga, dibawah pulau ini dulunya adalah gunung berapi kuno. Jadi pulau ini seperti kaldera,�h ujar Agus.
Kepuasan bermain di Tanjung Tinggi, sanggup menghapus kecewa karena tak bisa melaut ke Pulau Lengkuas. Kecewa kian hilang karena dalam perjalanan pulang, kami sempat mengujungi Kampung Bali di Sijuk, melihat-lihat lokasi penambangan timah, serta membelah perkebunan kelapa sawit.
Malah, kegagalan menaiki mercusuar di Pulau Lengkuas menjadi alasan untuk kembali. Apalagi untuk sampai ke pulau penghasil lada ini hanya butuh 50 menit terbang dari Jakarta.
Astari Yanuarti ( Belitung)
Labels:
backpacker,
beach,
belitung,
flashpacker,
islands,
stone,
traveling
Subscribe to:
Posts (Atom)







