Kamis, April 03, 2008

Berkah Ponsel Murah Meriah

14 / XIV 20 Mar 2008

Ponsel seharga Rp 200.000-an mulai menjamur di pasar. Terpicu sukses penjualan 500.000 unit bundling Esia-Huawei. Nokia dan Samsung mulai masuk segmen ponsel murah.

Pertarungan sengit antar-operator bisa menjadi berkah bagi pelanggan telepon seluler (ponsel). Persaingan tak hanya di seputaran tarif telepon dan SMS, tapi sudah merambah ke penawaran ponsel super murah yang dibundel dengan penjualan nomor perdana. Berkat paket operator, pelanggan bisa membeli ponsel seharga Rp 200.000-an.

Harga superhemat ini belum termasuk beberapa bonus tambahan. Ada operator yang memberi gratis SMS selama enam bulan. Bahkan ada yang menggratiskan pembicaraan sesama pelanggan. Demam ponsel murah dengan kartu perdana operator bermula dari kesuksesan program Dobel Untung dari Bakrie Telecom (Btel).

Operator layanan telepon nirkabel (FWA) berbasis teknologi CDMA ini menawarkan paket nomor perdana Esia dan ponsel Huawei C2601 seharga Rp 219.000 ( Rp 199.000 plus PPN), September silam. Ternyata ponsel berlayar hitam putih ini laris manis. Gerai-gerai Esia penuh sesak dengan calon pembeli.

Dan, antrean panjang pun terjadi tiap hari demi mendapat ponsel berfitur perekam suara itu. Pembelian dibatasi hanya satu unit per orang. Pun harus menunjukkan kartu identitas. Celah ini tentu saja dimanfaatkan para pedagang. Ponsel ini awalnya hanya di jual di gerai. Faktanya, ponsel Esia-Huawei banyak di pajang di toko. Tapi dengan harga berlipat hingga Rp 330.000 dengan pulsa kosong.

''Ini sebagai biaya pengganti tak antre dan bisa beli lebih dari satu,'' begitu kilah para pedagang di Mal Ambassador, Kuningan, Jakarta Selatan. Toh, antusiasme tetap tinggi. Dan terciptalah sejarah. Dalam dua setengah bulan, 500.000 paket Dobel Untung ludes terjual. Menurut Erik Meijer, Wakil Presiden Direktur Btel, ponsel Huawei C2601 juga tercatat sebagai ponsel terlaris periode September.

Berdasar data lembaga riset GFK, penjualannya mencapai 180.000 unit. Fantastis. Demi memenuhi keinginan pasar, Btel kembali memesan 500.000 unit C2601 ke pabrik Huawei di Cina. Dan, penjualannya masih di atas 100 ribu unit per bulan. Alhasil ponsel ini tercatat sebagai ponsel terlaris di kategori CDMA maupun GSM sampai akhir tahun silam. Si hitam mungil ini mengalahkan 428 model ponsel dari 30-an pabrikan.

Hasil fenomenal ini tentu mengejutkan para vendor ponsel papan atas seperti Nokia, Samsung, Sony Ericsson, dan Motorola. Mereka harus mengaku kalah pada sebuah ponsel kemarin sore, yang baru berusia empat bulan. Apalagi ponsel ini tak menawarkan keunggulan teknologi apa pun selain fungsi dasar telepon untuk bicara dan SMS.

Isu subsidi oleh Btel yang sempat menyeruak di awal peluncuran paket pun kembali mengemuka. Beberapa sumber dari kalangan produsen dan distributor ponsel menyebutkan, harga asli ponsel C2601 pasti di atas Rp 200.000. Mereka menyebutkan biaya produksi paling murah untuk ponsel seperti itu Rp 200.000. ''Jadi pasti ada subsidi. Karena baik impor maupun merakit di sini tak bisa dengan harga seperti itu,'' ujar seorang sumber dari sebuah perusahaan ponsel.

Tudingan ini tentu saja dibantah Erik Meijer. Ia menyebutkan program ini murni kerja sama antara Esia dan Huawei. Harga bisa murah meriah karena mereka sudah berkomitmen memperluas akses warga mendapatkan layanan telekomunikasi hemat. ''Kami ingin menyediakan ponsel dengan harga terjangkau berkualitas prima,'' katanya. Jadi, lanjutnya, sukses ini paduan dari harga murah, kualitas oke, dan tarif layanan Esia yang diklaim paling ekonomis.

Bila isu subsidi ini mengusik para vendor, lain halnya dengan pelanggan. Mereka tak peduli apakah benar ada subsidi atau tidak. Bisa membeli ponsel murah berkualitas jauh lebih penting. Ini sesuai dengan karakter penduduk Indonesia yang sensitif terhadap harga.

Kesadaran inilah yang membuat operator lain mengekor aksi Esia. Operator seluler Smart Telecom menawarkan paket ponsel ZTE X175 seharga Rp 239.000 plus PPN dengan bonus pulsa Rp 120.000. Disusul dengan paket ZTE X176 seharga Rp 188.000. Sayang, paket ini tak sesukses Esia Dobel Untung.

Maklum, Smart pemain baru yang belum punya banyak pelanggan dan jaringan memadai. Apalagi teknologi yang dipakai Smart adalah CDMA 1900 Mhz, sehingga ponsel Smart tak bisa dipakai untuk operator CDMA lain yang semuanya memakai frekuensi 800 Mhz.

Nah, yang berpeluang mendulang sukses adalah XL. Awal bulan ini, operator seluler GSM ini menggandeng merek lokal Startech. Mereka menawarkan paket ponsel ST 21 seharga Rp 219.000. Dengan paduan paket promo telepon murah Rp 0,1 per detik, paket ini juga diserbu pembeli.

Belum ada data akurat berapa hasil penjualannya. Namun dari penjualan sepekan di Mayofield Mall Cilegon, Banten, terjual 2500 unit. Sebetulnya bisa lebih banyak lagi, tapi terkendala stok yang tak memadai.

XL tergolong cerdik. Meski punya kendala tak bisa memberikan tarif semurah layanan FWA, mereka memilih ponsel merek lokal berkualitas oke. Tampilan ST 21 memang tak beda jauh dengan Huawei C2601. Sama-sama hitam, tipis, dan ringan. Strategi XL seperti ini diprediksi bisa memberikan kontribusi pada pertumbuhan pelanggan operator terbesar ketiga ini.

Antusiasme pelanggan pada ponsel murah meriah akhirnya menggelitik si pemimpin pasar, Nokia. Awal bulan ini mereka mengumumkan akan merilis seri baru untuk kelas bawah. Memang sih, definisi ponsel kelas bawah versi Nokia sedikit beda. Kisaran harganya ada di sekitar Rp 500 ribu. ''Karena kami tak mungkin masuk ke pasar yang low entry level,'' ujar Hasan Aula, country manager Nokia Indonesia.

Alasan Nokia bisa dimaklumi, mengingat brand mereka sudah begitu mendunia. Sehingga harga dan image brand itu sudah termasuk cost tersendiri. Seri terbaru Nokia 1209 dibandrol sedikit di bawah Rp 500 ribu, akan mulai ada di pasar pertengahan kuartal kedua tahun ini. Seri ini melengkapi dua seri kelas bawah sebelumnya yaitu Nokia 1100i dan Nokia 1112.

Menurut Hasan, tahun ini mereka masih akan merilis dua seri lagi ponsel murah yaitu Nokia 1200 dan Nokia 1208. ''Berdasar hasil survei, faktor harga sangat penting di negara berkembang. Dan segmen entry level itu adalah alat untuk mengembangkan pasar,'' katanya.

Langkah Nokia menyasar pasar ponsel murah juga akan diikuti Samsung. Sesuai dengan kebijakan kantor pusat Samsung di Korea, mereka pun ingin menambah kue pasar dengan menggarap kelas bawah. Program ini sesuai dengan data penjualan pasar ponsel di Indonesia tahun 2007 yang mencapai 16 juta unit.

Peningkatan penjualan terbanyak diperoleh dari pasar ponsel di bawah Rp 1 juta. Jumlahnya mencapai 54% dari total penjualan ponsel tahun lalu.

Astari Yanuarti

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar