Sabtu, April 05, 2008

Ambisi Lima Besar Ponsel Merek Lokal

14 / XIV 20 Peb 2008

Ponsel-ponsel merek lokal mulai pasang kuda-kuda memasuki Tahun Tikus Tanah. Menyasar posisi lima besar pasar ponsel Indonesia. Iklim industri belum mendukung fabrikasi ponsel dalam negeri.

Matahari sudah tergelincir dari ubun-ubun, pertengahan bulan silam. Setelah rehat makan siang, ratusan karyawan kembali memenuhi delapan unit produksi pabrik PT J-Tech Indonesia. Mereka segera tenggelam dengan tugas masing-masing. Roda pabrik seluas 1,8 hektare yang berada di Kawasan Industri Surya Cipta, Karawang, Jawa Barat, itu kembali berdenyut.

Namun suasana berbeda tampak di unit perakitan telepon seluler (ponsel) di lantai II. Ruangan itu terlihat senyap. Sebagian lampu juga mati. Dua mesin perakitan tak berjalan. Hanya terlihat belasan pekerja berseragam biru yang tengah merakit dan mengepak pesawat telepon tetap nirkabel (FWA). ''Kebetulan hari ini bukan jadwal produksi ponsel Nexian. Jadi, mesin perakitan tak berjalan,'' ujar Daryono Budiharto, Direktur J-Tech Indonesia.

Nexian adalah merek ponsel CDMA lokal yang diproduksi Konsorsium Nexian Technology. Konsorsium ini terdiri dari J-Tech Manufacturing of Indonesia, PT Inti Pisma International (dimiliki PT INTI dan J-Tech Indonesia), PT Airwave Technology (perusahan asal Korea), dan PT Metrotech Jaya Komunika (distributror ponsel). Pada saat ini, produksi ponsel Nexian mencapai 8.000 hingga 10.000 unit per bulan dengan 11 model ponsel.

Pada masa awal produksi di semester pertama 2006, Nexian Technology hanya membuat tiga ponsel CDMA. Tapi jumlah unit produksi pabrik ponsel pertama dan satu-satunya di Indonesia ini tergolong tinggi, sampai 15.000 unit per bulan. Bahkan sempat menyentuh angka 20.000 per bulan di awal 2007, meski masih di bawah kapasitas produksi pabrik yang sanggup membuat 40.000 ponsel per bulan.

Pabrik Nexian memang menyatu dengan perusahaan induk J-Tech. Lini produksi ponsel hanyalah satu dari aneka lini lain, seperti cetakan plastik, perakitan plastik, pembuatan kumparan, perakitan komponen PCB, pembuatan keypad, laser marking, dan unit kontrol kualitas. Pabrik J-Tech menghasilkan sekitar 200 komponen elektronik, yang sebagian untuk pasar ekspor.

Menurut Isnur Rochmad, Direktur Operasional Nexian Technology, meski Nexian dirakit di Indonesia, belum semua komponennya buatan lokal. Sebagian besar alias 75% masih impor. Komponen buatan sendiri baru meliputi casing dan keypad. Sedangkan komponen mainboard, PCB, dan LCD masih diimpor dari Taiwan dan Korea. ''Karena memang belum ada di Indonesia,'' kata Isnur.

Ketiadaan komponen suku cadang pembuatan ponsel itu, lanjutnya, membuat ongkos produksi meningkat. Sebab sebagian besar komponen impor itu kena bea masuk (BM) 5% hingga 10%. Sebaliknya, impor produk jadi telematika, termasuk ponsel, terbebas dari BM. ''Itulah mengapa tak ada yang tertarik membuat pabrik ponsel di Indonesia. Lebih mudah dan murah mengimpor barang jadi,'' tutur Isnur.

Meski kebijakan pemerintah itu tak berpihak pada pengembangan ponsel lokal, Nexian Technology bertekad bisa eksis di pasar ponsel Indonesia. Malah mereka tetap yakin bisa menyerap sebagian kue bisnis ponsel Indonesia, yang mencapai puluhan trilyun rupiah per tahun.

Maklum, mereka pernah menikmati sukses ketika menjual bundling seri NX 350 dengan Esia, dua tahun lalu. Ponsel seharga Rp 299.000 itu laku sampai 100.000 unit dalam waktu setengah tahun.

Setelah sempat meredup sekitar setahun, Nexian bangkit lagi dengan mengusung seri ponsel berfitur dual mode, CDMA dan GSM on, dengan harga terjangkau, seperti seri NX 200D. Ponsel bundling dengan TelkomFlexi ini dibanderol Rp 2,5 juta. Dengan Fren, Nexian juga punya program bundling seri NX 970 seharga Rp 588.000. Pola bundling ini terbukti masih ampuh mendongkrak penjualan.

Tapi tetap belum cukup untuk mengatrol posisi Nexian sebagai pemain ponsel besar. Selama lebih dari satu dekade, pasar ponsel Indonesia dikuasai vendor-vendor internasional dengan brand kuat dan jaringan global. Lima besar penguasa pasar itu secara berurutan adalah Nokia, Sony Ericsson, Motorola, Samsung, dan LG.

Sampai tahun lalu, pangsa pasar Nokia sangat dominan, mencapai 55%. Disusul oleh Sony Ericsson dengan 20%, Motorola 8%, Samsung 4%, dan LG 2%. Sedangkan sisanya, 11%, terbagi ke puluhan merek kecil lain yang mayoritas berasal dari Cina.

Namun, berdasarkan data selama 10 tahun terakhir, hanya Nokia yang kokoh bertahan sebagai nomor wahid. Maklum, pasar mereka di negeri ini jauh lebih kuat dari pangsa pasar global yang berada di angka 40%. Dan di sini, performa brand asal Finlandia itu selalu kinclong dengan penguasaan pasar stabil di kisaran 55%.

Pertarungan keras terjadi untuk memperebutkan posisi kedua, ketiga, dan seterusnya. Motorola dan Samsung sama-sama sempat menduduki kursi runner up, sebelum sekarang digusur Sony Ericsson.

Malah, pada 2001 sampai 2003, posisi nomor dua masih dipegang Siemens. Kini ponsel Siemens sudah almarhum sejak dijual ke pabrikan ponsel asal Taiwan, Ben-q. Nasib serupa dialami Alcatel yang dulu sempat masuk jajaran lima besar dan kini berhenti berproduksi.

Peta persaingan seperti itulah yang kemudian memicu munculnya pabrikan ponsel yang mencoba peruntungan di pasar ponsel Indonesia. Sebagian besar pabrikan ini berasal dari Cina. Ada sekitar empat lusin merek dari ''negeri tirai bambu'' itu yang membanjiri pusat penjualan ponsel Indonesia.

Cobalah Anda jalan-jalan di Roxy Mas, Jakarta, pasti akan menemukan aneka merek ponsel yang ''ajaib'' dan terdengar janggal bagi orang awam. Sebut saja CECT, Daxian, Eastcom, Hisense, Imate, Konka, Maxon, hingga Qtek. Bahkan beberapa merek nekat memakai nama yang mirip vendor lima besar, seperti Nokla dan Suny Elicsson.

Meski nama mereka aneh dan beda, hampir semuanya mengusung kesamaan. Harga murah, kualitas produk dipertanyakan, tanpa garansi, dan distributornya tak jelas. Kondisi ini membuat citra ponsel Cina terpuruk.

Padahal, tak semua ponsel buatan Cina berkualitas buruk, apalagi abal-abal. Sebaliknya, mayoritas ponsel buatan Cina punya kualitas nomor satu. Terbukti dari keberadaan pabrik empat vendor besar: Nokia, Sony Ericsson, Samsung, dan Motorola, di Cina. Mayoritas hasil produksi pabrik di Shanghai dan Shenzhen itu untuk memasok pasar Asia. Tak terkecuali Indonesia.

Malah, seperti pernah disebutkan manajemen Nokia Indonesia, sekitar 85% ponsel Nokia yang beredar di sini buatan Cina. Dan perlu dicatat, ponsel yang dibuat di Cina bukan sekadar kelas low end. Melainkan juga mencakup kelas premium, bahkan N Series. Jika Anda punya Nokia 8800 atau N70, coba saja buka ponsel Anda. Tulisan ''made in China'' pasti muncul di baterai, meski hampir tak ada tulisan buatan negara mana di bodi ponsel.

Kemajuan industri ponsel Cina ini mendorong sebagian distributor independen ponsel Indonesia memberanikan diri membuat merek sendiri. Mereka bermitra dengan pabrikan ponsel dari Cina. Tapi ponselnya dinamai sesuai dengan permintaan sang distributor.

Sanex termasuk merek lokal pertama yang muncul sekitar tahun 2004. Setelah sempat berjaya berkat bundling dengan TelkomFlexi, merek ini lalu tenggelam. Tahun lalu, aneka merek lokal bermunculan. Ada Hitech, Mito, Sanex, Kozi, Taxco, D-One, Mito, dan Startech.

Ternyata merek lokal itu mampu unjuk gigi. Sebut saja Hitech, yang sanggup menggerogoti pasar ponsel GSM. Malah, hanya dalam empat bulan, merek keluaran PT Tirta Citra Nusantara (TCN) itu bisa menguntit di posisi keenam. Berdasarkan data dari lembaga riset pasar GFK, Hitech mampu memakan kue ponsel GSM sebanyak 1,02%. Hanya selisih 0,4% dari posisi kelima yang diduduki LG.

Padahal, Hitech baru punya dua produk, yaitu H38 dan H31. Sedangkan LG mengandalkan penjualan 20-an model. Tak mengherankan jika optimisme menyeruak dari jajaran manajemen TCN. ''Kami yakin bisa masuk lima besar pada kuartal pertama tahun ini,'' kata Andreas Limawan, General Manager TCN.

Menurut Andreas, penambahan dua model baru, yaitu H39 dan H382, akhir tahun lalu, akan mendongkrak penjualan ponsel mereka. Sebab dua model ini punya keunikan sama dengan H38, punya TV tuner. Fitur ini memungkinkan pelanggan ponsel menonton TV gratis seperti di rumah.

Sambutan pasar pada H38, lanjut Andreas, memang menggembirakan. Ponsel yang diluncurkan pada Agustus tahun lalu itu ditargetkan terjual 2.000 unit per bulan. Ternyata, sampai kini, penjualan ponsel seharga Rp 1,98 juta ini mencapai 5.000 unit per bulan. H38 tercatat sebagai ponsel terlaris ke-37 dari 428 model ponsel yang dijual di Indonesia sepanjang November silam.

Andreas berharap, sukses serupa diperoleh dari H382 dan H39. Apalagi, dua ponsel ini tampil lebih modis dengan pilihan warna lebih banyak, plus dilengkapi dengan koneksi Bluetooth.

Sukses Hitech menyusup ke posisi lima besar tak bisa dilepaskan dari pengalaman panjang TCN sebagai distributor ponsel selama satu dekade. Mereka belajar membaca tren pasar selama menjadi distributor Siemens di masa kejayaannya dan kemudian Ben-Q.

Strategi bisnis TCN juga berlandaskan pada analisis berbagai riset dan data penjualan. Hasilnya, mereka mengandalkan diferensiasi pasar, road map, kualitas produk, harga, pemasaran, dan layanan purnajual. TCN sengaja menyasar segmen pasar menengah. Namun dengan produk yang tak dilirik vendor besar alias niche market, seperti TV tuner dan fitur dual mode. Fitur TV tuner yang hanya cocok di Indonesia ini memang tak menarik bagi vendor ponsel global. Mereka memilih mengembangkan ponsel TV digital.

TCN juga memberi nilai tambah dengan fitur sekelas PDA, seperti layar sentuh. Andreas menjelaskan, meski mengusung kualitas bagus, mereka berupaya memasang harga lebih rendah dari kompetitor lima besar. ''Kami buat harga dengan perbandingan mereka. Meski kualitas dan fitur sama, kami tahu diri,'' ujarnya.

Lebih lanjut ia menyatakan, TCN belajar dari kegagalan vendor-vendor lokal sebelumnya karena tak punya road map produk yang matang. Padahal, road map penting untuk menjaga pasar dengan menghadirkan produk yang sesuai dengan tren pada waktunya.

Andreas juga menekankan pentingnya layanan purnajual dan servis. Tapi ia tak sependapat bahwa kualitas purnajual ditentukan semata dari kuantitas kantor pusat servis. ''Yang jauh lebih penting adalah kelengkapan suku cadang dan waktu servis sesingkat mungkin. Paling bagus tiga hari harus beres,'' paparnya. TCN menggandeng Dian Graha Elektrika (DGE) sebagai mitra layanan purnajual. DGE punya sekitar 20 titik servis di seluruh Indonesia.

Terkait kapan TCN mulai melokalkan Hitech dengan membangun pabrik di Indonesia, Andreas menyebutkan bahwa tak tertutup kemungkinan untuk melakukan itu. Sebab mitra mereka dari Cina pun sudah menunjukkan dukungan dan minat. Syaratnya, volume penjualan stabil dan regulasi investasi di sektor telematika membaik. ''Misalnya, aturan bea masuk impor komponen dipertimbangkan lagi sehingga mempermudah pembangunan pabrik,'' kata Andreas.

Tantangan lain yang harus diatasi adalah meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan pembangunan industri komponen suku cadang. Sebagai perbandingan, di Cina tak ada kendala ketersediaan komponen suku cadang elektronik. Saking lengkapnya, di pusat penjualan ponsel sudah tersedia suku cadang lengkap. Tinggal keliling belanja, hasilnya bisa dirakit menjadi ponsel sendiri.

Meski belum mampu membuat pabrik di Indonesia, TCN berupaya membuat desain ponsel sendiri. Ini jelas bukan soal mudah karena masalah riset dan pengembangan (R&D) di Indonesia setali tiga uang dengan suku cadang. Nyaris tidak ada.

Toh, mulai seri ponsel ketiga, TCN sudah bisa membuat molding sendiri. Meski, harganya lumayan mahal, Rp 500 juta per molding. Molding inilah yang membedakan produk mereka dari produk massal pabrik-pabrik Cina.

Memang desain TCN masih tak beda jauh dengan tren yang diusung pemimpin pasar atau yang ditawarkan mitra di Cina. Namun, ke depan, mereka berupaya menciptakan desain sendiri. ''Kami mulai dengan membuat lomba desain ponsel dalam waktu dekat. Hasilnya kami cetak jadi molding produk Hitech selanjutnya,'' ujar Andreas.

Astari Yanuarti

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar