Sabtu, April 05, 2008

Nasib Citi di Pundak Pandit

8 / XIV 9 Jan 2008

Citigroup mengalami kerugian terbesar dalam 17 tahun terakhir. Vikram Pandit terpilih sebagai CEO Citigroup yang baru. Ia orang India kedua yang menjadi pucuk pimpinan perusahaan keuangan Amerika Serikat. Diragukan berhasil, karena krisis kredit macet KPR di Amerika belum teratasi.

Masalah masih enggan meninggalkan Citigroup. Kerugian bank beraset terbesar di Amerika Serikat ini bakal membengkak pada kuartal keempat 2007. Kabar itu keluar dari trio analis Goldman Sachs & Co, yaitu William F. Tanona, Betsy Miller, dan Neil C. Sanyal, Jumat pekan lalu.

Mereka memprediksi, total penghapusan utang Citigroup mencapai US$ 18,7 milyar (Rp 175 trilyun) sepanjang tahun ini. Angka itu jauh lebih besar dari perkiraan resmi pihak Citigroup, yang menyebutkan US$ 11 milyar (Rp 103 trilyun). Versi Citigroup ini diumumkan pada awal November lalu.

Biang masalah yang melilit Citigroup adalah krisis kredit pemilikan rumah alias KPR (subprime mortgage). Dana Citigroup yang tertanam di sana US$ 55 milyar. Sekitar US$ 43 milyar di antaranya berpotensi macet. Sejalan dengan krisis subprime mortgage yang masih terus berjalan, kerugian Citigroup pun makin membengkak. ''Kami yakin, butuh beberapa kuartal lagi sebelum krisis KPR ini bisa ditangani pasar,'' tulis analis Goldman Sachs, seperti dikutip kantor berita AP.

Angka kerugian penurunan nilai aset, baik versi Citigroup maupun Goldman Sachs, tercatat sebagai kerugian terbesar selama 17 tahun terakhir. Sebelumnya, pada pengumuman kinerja kuartal ketiga, Citigroup mencatat kerugian sebesar US$ 6,4 milyar terkait subprime mortgage. Ini belum termasuk kerugian dari bisnis kartu kredit dan lainnya.

Pendapatan perusahaan beraset US$ 2,35 trilyun itu hanya US$ 22,4 milyar, dengan keuntungan bersih US$ 2,21 milyar. Pendapatan mereka turun 60% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2006. Akibatnya, saham Citigroup terus menurun. Saham perusahaan yang berdiri tahun 1812 ini hanya bernilai US$ 29,6 per lembar, turun 45% dibandingkan dengan awal 2007. Nilai kapitalisasi pasar juga anjlok lebih dari US$ 50 milyar.

Kerugian itulah yang memicu pengunduran diri Chairman dan CEO Citigroup, Charles O Prince, awal November lalu. Untuk sementara, posisi chairman diisi oleh Robert Rubin, mantan sekretaris US Treasury. Sedangkan pejabat sementara CEO adalah Win Bischoff, yang sebelumnya mengepalai Citigroup Eropa.

Lima pekan kemudian, barulah Dewan Komisaris Citigroup menunjuk Vikram Pandit sebagai CEO yang baru. Pandit tercatat sebagai CEO keturunan India kedua di institusi keuangan Amerika setelah Ramani Ayer, CEO Hartford Financial Services Group. Ia mengalahkan kandidat lain, CEO Deutsche Bank Josef Ackermann atau CEO Royal Bank of Scotland Frederick Goodwin.

Pilihan ini mengejutkan banyak kalangan. Maklum, Pandit baru bergabung enam bulan di Citigroup. Yakni sebagai direktur unit perbankan dan pemasaran. Selain itu, pria yang sebelumnya berkarier 20 tahun di Morgan Stanley ini dinilai tak cukup punya pengalaman untuk menyelesaikan masalah Citigroup yang rumit.

Toh, Pandit jalan terus. Ia langsung melakukan pendekatan ke banyak analis dan lembaga pemeringkat demi memperbaiki citra Citigroup. Ia juga menyiapkan langkah berani. Yakni melakukan pemangkasan karyawan serta penutupan dan penjualan unit bisnis Citigroup. ''Saya segera melakukan review menyeluruh supaya kami bisa mengambil posisi paling tepat di masa depan,'' ujarnya.

Pandit menyatakan akan merumahkan sekitar 20.000 karyawannya pada 2008. Langkah ini menyusul pemecatan 17.000 karyawannya, April lalu. Pada saat ini, jumlah karyawan Citigroup mencapai 320.000 yang tersebar di 100 negara. Klien mereka berjumlah 220 juta di seluruh dunia.

Selain itu, menurut laporan Wall Street Journal, efisiensi Citigroup di beberapa unit bisnis berukuran menengah diperkirakan bernilai US$ 12 milyar. Unit-unit bisnis yang menjadi sasaran adalah Student Loan Corp, yang 80% sahamnya dimiliki Citigroup. Lalu unit peminjaman di wilayah Amerika Utara. Juga perusahaan kartu kredit Brasil, Redecard SA, yang 24% sahamnya dimiliki Citigroup, dan unit Citigroup di bisnis finansial konsumen di Jepang.

Tugas lain yang harus pula diselesaikan oleh Pandit adalah antisipasi penurunan dividen. Menurut Goldman Sachs, tahun ini dividen akan terpangkas sebanyak 40%. Angka ini masih bisa ditekan jika Pandit bisa menaikkan modal perusahaan US$ 30 milyar dan menjual aset senilai US$ 100 milyar.

Meski tengah dirundung kerugian, Citigroup nyatanya masih bisa mendapat dana segar. Beberapa hari sebelum Pandit menjabat, Abu Dhabi Investment Authority, lembaga pendanaan milik Uni Emirat Arab, membeli 4,9% saham Citigroup senilai US$ 7,5 milyar. Namun dana segar ini belum cukup untuk menutupi kerugian. Citigroup masih harus mencari dana tunai tambahan hingga US$ 10 milyar.

Kinerja Pandit yang baru belasan hari masih terlalu dini untuk dinilai. Apalagi, seperti disampaikan para analis Goldman Sachs, krisis kredit macet ini masih akan berlangsung hingga melewati pertengahan 2008.

Astari Yanuarti



Pria Santun dari Maharastha


''Baba (bahasa India, ayah --Red.), Vikram terpilih menjadi CEO Citigroup.'' Kalimat pendek inilah yang membangunkan Shankar B. Pandit, 85 tahun, dari tidur nyenyak di salah satu kamar sederhana Apartemen Navi, Mumbai, India, Rabu pertengahan Desember lalu. Sang pemberi kabar tak ada di sampingnya, melainkan ribuan kilometer dari Mumbai. Vikram Pandit, sang anak yang memberi kabar, berada di kantor pusat Citigroup yang terletak di kawasan super-elite Park Avenue, New York, Amerika Serikat.

Kabar itu disampaikan lewat telepon, karena kebetulan Shankar sedang menghabiskan waktu di Mumbai. Biasanya, selama sembilan bulan dalam setahun, Shankar tinggal bersama putra kesayangannya itu di apartemen mewah dengan 10 kamar di kompleks Apartemen Beresford, New York. Untuk tiga bulan sisanya, Shankar memilih tinggal di negeri kelahirannya, India.

Meski Shankar sudah mengira sebelumnya, tetap saja kabar itu membahagiakannya. ''Ketika namanya masuk dalam shorlisted, aku yakin, dia yang terpilih,'' kata Shankar kepada rediff.com. Sayang, Shankar yang juga seorang pengusaha ini tak bisa berbagi kebahagiaan dengan Shailaja, ibunda Vikram, yang meninggal setahun lalu.

Menurut Shankar, walau sukses meraih posisi puncak di Citigroup, karakter Vikram tak berubah. Dia tetap rendah hati, santun dalam bertutur, dan terus menjaga hubungan dengan keluarga besar Pandit yang tinggal di India.

Shailaja melahirkan Vikram 50 tahun lalu di Nagpur, Negara Bagian Maharashtra, India. Vikram tinggal dan bersekolah di kota terbesar di kawasan India bagian tengah itu. Pada saat masuk sekolah menengah atas, Vikram pindah ke Mumbai. Ia bersekolah di Dadar Parsee Youths Assembly High School.

Seperti umumnya anak pengusaha sukses lainnya, Vikram melanjutkan kuliah ke negeri impian banyak orang India, Amerika Serikat. Dengan bekal otak cerdas, ia diterima di Columbia University, salah satu universitas ternama di Amerika. Vikram mengambil jurusan teknik elektro. Ia meraih gelar sarjana dan master pada 1977. Ketika belajar di tingkat doktoral, Vikram memilih bidang finansial dan sukses menyandang gelar PhD pada 1986 dari universitas yang sama.

Setelah sempat menjadi dosen di Indiana University Bloomington, Vikram akhirnya terjun ke dunia bisnis. Morgan Stanley, bank investasi bergengsi di Amerika, menjadi pelabuhan pertamanya. Hanya berselang empat tahun, ia sudah memegang jabatan penting, Direktur US Equity Syndicate, salah satu divisi di Morgan Stanley.

Vikram dipercaya menjadi Direktur Worlwide Institutional Equities Division sejak 1994 hingga tahun 2000. Terobosan penting yang ia lakukan adalah menguatkan sistem perdagangan elektronik dan membangun layanan prime brokerage. Kini Morgan Stanley dikenal sebagai prime brokerage paling inovatif.

Kariernya terus menanjak. Mulai tahun 2000 hingga 2005, suami Swati ini dipercaya mengepalai seluruh bisnis sekuritas dan investasi Morgan Stanley. Ia menjadi president merangkap chief operating officer, jabatan yang hanya satu tingkat di bawah chairman.

Tapi jalan tak selalu mulus. Pada Maret 2005, Vikram meninggalkan Morgan Stanley karena terlibat konflik dengan Phillip Purcell, yang kemudian menjadi CEO. Setahun kemudian, Vikram bersama mantan Direktur Morgan Stanley, John Havens, mendirikan perusahaan hedge fund, Old Lane Partners.

Bermodal US$ 2 milyar dan 120 karyawan di New York, London, Mumbai, dan Chennai, Vikram sukses melambungkan Old Lane Partners. Hanya dalam waktu setahun, asetnya mencapai US$ 4,5 milyar, sebelum akhirnya dibeli Citigroup dengan nilai US$ 800 juta.

Astari Yanuarti

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar