Sabtu, April 05, 2008

Pasokan Mampet Produksi Seret

13 / XIV 13 Peb 2008

Permintaan bubur kertas di pasar global meningkat. Produksi bubur kertas Indonesia anjlok karena terkendala pasokan bahan baku. Perlu ketegasan pemerintah menangani illegal logging.

Mendung masih menyelimuti industri pulp (bubur kertas) Indonesia. Hingga Januari ini, pasokan bahan baku masih seret. Dua pabrik bubur kertas terbesar di Indonesia, Indah Kiat Pulp and Paper (IKPP) dan Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), terpaksa memangkas produksinya hingga 50% dari kapasitas terpasang. Angka ini lebih rendah dari tahun lalu, yang rata-rata produksinya masih 70% dari kapasitas terpasang.

Kelangkaan bahan baku terjadi sejak setahun silam, ketika pemerintah melarang kedua perusahaan itu melakukan penebangan. Mereka terkena tuduhan pembalakan liar (illegal logging). Sampai kini, proses hukum itu belum selesai. ''Riau Pulp berharap, proses hukum segera selesai sehingga operasional Riau Pulp dapat kembali normal,'' ujar Troy Pantouw, Manajer Public Relations PT RAPP.

Pada saat ini, kapasitas produksi RAPP mencapai 2 juta ton per tahun. Menurut Troy, jika penurunan produksi tak segera diatasi, akan berpengaruh pada nasib 250.000 orang yang selama ini bergantung pada perputaran roda industri RAPP. Mereka terdiri dari karyawan pabrik RAPP hingga mitra-mitra kontraktor.

Pengurangan jumlah tenaga kerja pun tak terhindarkan. Troy menjelaskan, para kontraktor mitra RAPP sudah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) sampai setengahnya. Sebab RAPP memangkas pembangunan hutan tanaman industri dan pengangkutan kayu.

Karena itu, manajemen RAPP berupaya keras agar PHK tak terus berlanjut. Terutama pada karyawan yang bekerja langsung di RAPP. ''Makanya, kami terus mencari upaya agar produksi tidak berhenti,'' kata Troy.

Keadaan di IKPP tak jauh beda. Anak usaha Grup Asia Pulp and Paper ini punya 300.000 karyawan langsung. Jika ditambah dengan karyawan tak langsung, jumlahnya membengkak menjadi 500.000. Perusahaan yang memproduksi 2,2 juta ton bubur kertas per tahun itu juga sulit menghindar dari kebijakan PHK. Tahun lalu, IKPP menyatakan, mereka bisa kehilangan pendapatan US$ 300 milyar akibat kelangkaan bahan baku.

Untuk mengatasi masalah pasokan kayu, RAPP dan IKPP terpaksa mengimpor bahan baku. Kemungkinan besar dari Australia. Menurut Ketua Umum Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia, Muhammad Mansur, pilihan ini memang tak terelakkan karena belum ada tanda-tanda pencabutan larangan penebangan hutan. Meski, lanjutnya, langkah impor itu tergolong tak ekonomis. Harga kayu impor pasti lebih mahal sehingga akan menaikkan ongkos produksi bubur kertas.

Mansur berharap, kebijakan impor itu bisa mengerem produksi bubur kertas nasional, yang terus anjlok selama setahun terakhir. Sebelumnya, produksi rata-rata tahunan bubur kertas mencapai 6,5 juta ton. ''Tahun ini, produksinya bisa anjlok hanya menjadi 4 juta ton,'' kata Mansur. Perkiraan kerugiannya mencapai US$ 3 milyar.

Penyumbang terbesar penurunan produksi bubur kertas tak lain RAPP dan IKPP, yang menguasai 73,3% kapasitas produksi bubur kertas Indonesia. Mansur khawatir, hal ini akan mengurangi kemampuan industri bubur kertas Indonesia meraih pasar ekspor. Padahal, saat ini permintaan pasar bubur kertas dunia meningkat, dengan konsumen terbesar dari Cina dan India. Kedua pasar utama itu menjadi incaran utama para produsen bubur kertas Amerika Selatan, seperti Brasil, Cile, dan Uruguay.

Menurut Mansur, seharusnya industri bubur kertas nasional bisa mengambil peluang itu. Selain karena jarak Indonesia lebih dekat, juga karena biaya produksi lebih rendah. ''Biaya produksi tunai bubur kertas di Indonesia hanya sekitar US$ 184 per ton, sedangkan di Amerika Selatan mencapai sekitar US$ 300 per ton,'' ujarnya.

Sejatinya, industri bubur kertas nasional sudah lama siap untuk bersaing di pasar global. Para pemain di industri ini bahkan memasang target Indonesia bisa menjadi eksportir bubur kertas dan kertas terbesar di Asia pada 2015. Kini Indonesia masih berada di posisi kesembilan produsen bubur kertas dan kertas terbesar di dunia.

Mansur menuturkan, jika tak ada masalah dengan pasokan bahan baku, seharusnya tahun ini kapasitas produksi bubur kertas nasional bisa digenjot menjadi 7,9 juta ton. ''Ada dua pabrik di Riau dan satu di Jambi yang akan menyelesaikan proyek debottlenecking untuk menambah kapasitas 1,4 juta ton bubur kertas per tahun,'' katanya.

Pasar bubur kertas dan kertas global memang makin menggiurkan bagi negara eksportir bubur kertas dan kertas. Sejak tiga tahun terakhir, harga bubur kertas dan kertas dunia terus meroket. Sampai akhir tahun lalu, harga bubur kertas serat panjang mencapai US 730 per ton.

Sementara itu, harga bubur kertas serat pendek (yang diproduksi Indonesia) mencapai US$ 620 per ton. Dan harga kertas koran hampir menyentuh US 800 per ton. Tiga tahun lalu, harga bubur kertas serat panjang hanya mencapai US$ 300 per ton, sedangkan kertas hanya berkisar US$ 600.

Ada dua penyebab utama tren kenaikan harga, yaitu penutupan pabrik bubur kertas di Amerika Utara dan Eropa serta kelangkaan bahan baku yang dialami Indonesia. Harga tinggi di pasar internasional ini bisa menguntungkan Indonesia. Sebab setiap tahun hampir setengah dari total produksi bubur kertas nasional dikirim ke pasar global. Belum ditambah ekspor kertas yang mencapai 30% dari total produksi kertas nasional 10,3 juta ton per tahun.

Berdasarkan data Departemen Perindustrian, pada saat ini terdapat 14 pabrik bubur kertas dan 79 pabrik kertas. Sepanjang tahun 2006 saja, ekspor bubur kertas dan kertas menyumbang devisa sebanyak US$ 3,94 milyar. Nilai ini setara dengan 4,9% dari total ekspor nasional.

Menurut Mansur, hambatan pasokan bahan baku yang menimpa IKPP dan RAPP juga bisa berpengaruh pada minat investor asing di bisnis bubur kertas dan kertas. Indonesia sudah menjadi sasaran investasi asing, seiring dengan penutupan pabrik bubur kertas dan kertas di Amerika dan Eropa.

Penutupan itu terjadi akibat kesulitan bahan baku dan tingginya biaya tenaga kerja. Nah, di Indonesia, pasokan bahan baku melimpah. Tenaga kerja pun lebih murah. ''Tapi investor asing yang sebagian berasal dari Korea dan Cina bertanya pada kami, mengapa perusahaan yang sudah punya izin tetap kena tuduhan pembalakan liar,'' ujarnya.

Karena itu, Mansur mendesak pemerintah segera menyelesaikan masalah hukum pembalakan hutan yang menimpa RAPP dan IKPP. Ia menegaskan, penegakan aturan pembalakan liar harus dilakukan secara cepat dan terpadu sehingga tidak mengancam kelangsungan hidup industri bubur kertas dan kertas nasional. ''Apalagi, kelangkaan bahan baku kayu ini menjadi momentum bagi pasar internasional untuk menaikkan harga, yang nanti berimbas pada harga kertas di dalam negeri,'' kata Mansur.

Astari Yanuarti

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar