Kamis, April 03, 2008

Moral Bisnis Esek-esek Ala Amerika

18 / XIV 19 Mar 2008

Cercaan hingga tuntutan hukum mendera Eliot Spitzer, mantan Gubernur New York. Sebaliknya, Ashley Alexandra Dupre, pelacur yang disewa Spitzer, mendadak kebanjiran tawaran bernilai jutaan dolar. Masyarakat Amerika lagi-lagi terjebak menerapkan standar ganda moralitas.

Sorot lampu ketenaran ala bintang Hollywood tengah mengarah pada paras cantik berambut cokelat Ashley Alexandra Dupre. Pemilik tubuh seksi setinggi 1,68 meter dan berat 54 kilogram itu bak magnet di dunia maya dan dunia bisnis esek-esek. Popularitas Ashley melonjak ketika identitasnya sebagai pelacur kelas atas yang melayani Eliot Spitzer (pada saat itu masih Gubernur New York) terungkap.

Sebagai saksi kasus jaringan prostitusi Emperor Club VIP di depan pengadilan federal di New York, ia mengaku memakai nama samaran Kristen ketika melayani klien nomor 9 di Hotel MayFlower Washington. Klien nomor 9 itu tak lain adalah Spitzer.

Perempuan asal kota kecil Beachwood, New Jersey, itu hanya sekali melayani Spitzer, yaitu pada 13 Februari 2008. Tapi bayarannya lumayan, US$ 1.200 per jam. Memang masih di bawah tarif pelacur senior lainnya di Emperor yang bisa US$ 4.000 per jam. Maklum, Ashley baru bergabung dengan Emperor dua tahun silam.

Meski ia tak mendapat banyak uang dari klien nomor 9, Spitzer ternyata membawa ''berkah'' berlimpah. Kini ia jadi bintang baru yang menyedot perhatian puluhan juta orang Amerika. Blog pribadinya di situs jaringan pertemanan sosial MySpace mendapat kunjungan hingga 5 juta klik selama beberapa hari saja. Pencarian dan pengunduhan foto-foto tak senonoh Ashley pun jutaan kali dilakukan.

Nama Ashley juga meroket di Facebook, situs pertemanan sosial lainnya yang sama-sama berada di puncak popularitas. Grup-grup pendukung Ashley Dupre bermunculan di Facebook. Meski profesi pelacur jelas amoral di mata publik, tetap saja dukungan kepadanya mengalir. Ia dipandang sebagai korban dan seorang gadis baik yang berubah menjadi nakal karena berasal dari keluarga berantakan.

Ashley sadar betul bisa memanfaatkan situasi ini. Segera saja ia membuat halaman fans di Facebook. Di sini ia mempromosikan dua lagu single berjudul Move Ya Body dan What We Want. Ia menyebutkan sudah lama memendam hasrat dan bakat bermusik. Selang sejam, sudah 600 orang yang mendaftar sebagai fans-nya.

Dua lagu itu juga terpampang di situs penjual musik populer lainnya, yaitu AmieStreet.com. Sambutan publik amat antusias. Situs AmieStreet.com diserbu tiga juta pengunjung, yang hanya bertujuan mengunduh lagu What We Want. Single Move Ya Body juga laris manis. Namun belum ada angka pasti penjualannya.

Maklum, model penjualan lagu di AmieStreet tergolong unik. Gratis untuk lagu-lagu yang belum populer. Semakin populer suatu lagu, harganya makin mahal. Hingga batas termahal, yaitu US$ 0,98 per lagu sekali unduh. Data yang tersedia hanya untuk lagu Move Ya Body. Pada saat dijual seharga US$ 0,98, jumlah pengunduhnya pernah mencapai titik maksimum situs selama lima jam berturutan.

Keuntungan Ashley dari bisnis musik dadakan pun belum bisa dihitung. Ada yang menghitung, dengan tren seperti itu, ia bakal mengeruk uang hingga US$ 1,4 juta dari penjualan lagu-lagu tersebut. Sebagian lagi mengira, pendapatannya pada saat ini baru US$ 14.000 dari musik.

Yang pasti, kantong Ashley tetap bakal menebal. Sederet tawaran bernilai total jutaan dolar mendatanginya. Mulai tawaran membintangi iklan Vodka senilai US$ 100.000 hingga tawaran berpose bugil di majalah Hussler senilai US$ 1 juta. Tawaran persis sama mengemuka dari Joe Francis, pemilik situs porno Girls Gone Wild, sebelum dia tahu bahwa Ashley sudah ada dalam database-nya (lihat: Selera Tinggi Gadis Nakal).

Banjir tawaran dan ketenaran Ashley sangat kontras dengan Spitzer. Klien nomor 9 ini tak hanya mendapat cercaan di seantero negeri, melainkan juga harus mundur dari jabatan gubernur yang baru didudukinya pada 1 Januari 2007. Istri dan ketiga anak perempuannya harus pula menanggung malu.

Jeratan hukum pun tengah mengancam Spitzer. Biro Investigasi Federal (FBI) sudah lama mengintai gerak-gerik Spitzer sebagai pelanggan pelacur jetset. Selama enam bulan terakhir, FBI menengarai, Spitzer berhubungan dengan delapan orang agen klub pelacur dan merogoh kantong US$ 15.000. Bahkan uang yang dikeluarkannya untuk ''jajan'' bisa mencapai US$ 80.000 jika dihitung sejak dia menjabat sebagai Jaksa Penuntut Umum Negara Bagian New York.

Belum diketahui dari mana sumber uang itu. Dugaan sementara FBI, uang itu terkait dengan kasus penyuapan jaringan prostitusi di New York.

Kemunafikan publik atas kasus Spitzer dan Ashley mengundang keprihatinan banyak kolomnis media massa Amerika. Salah satunya dari Mitch Albom, penulis buku laris Five People You Meet in Heaven, yang juga kolomnis di Detroit Free Press. Albom menyebutkan, jika prostitusi dinyatakan ilegal, maka itu menyangkut dua pihak, pelanggan dan pelacurnya. Jadi, kalau ada proses hukum, kedua pihak harus kena jeratan setara.

Ia pun menyayangkan dukungan publik Amerika pada Ashley. ''Spitzer bertindak bodoh dengan membayar Ashley untuk seks. Tapi, jika kita membayar untuk membuat Ashley terkenal, betapa menyedihkannya itu,'' kata Albom.

Astari Yanuarti


--------------------------------------------------------------------------------

Selera Tinggi Gadis Nakal

Selera mahal pada barang-barang bermerek sudah melekat pada Ashley Alexandra Dupre. Perempuan yang menginjak usia 23 tahun pada 30 April nanti itu adalah penggemar Cartier dan Louis Vuitton. Ia pun suka berlibur ke tempat-tempat pelesir jetset, seperti Saint-Tropez di Prancis. Sebelum identitasnya sebagai pelacur kelas atas terungkap, semua percaya pada pengakuan Ashley bahwa uang berlimpah itu dari orangtuanya yang kaya raya.

Padahal, Ashley yang punya nama asli Ashley R. Youmans juga mengaku berasal dari keluarga broken home. Dalam blog personal di MySpace, ia menulis, pada usia 17 tahun minggat dari rumah sang ayah, William Youmans, di Kill Devil Hills, North Carolina, karena merasa diabaikan. Pada saat itu, kedua orangtua Ashley sudah bercerai. Si ibu, Carolyn Capalbo, tinggal di New Jersey bersama suami barunya, Mike DiPietro, yang berprofesi sebagai dokter bedah mulut.

Dalam pelarian, Ashley memutuskan mencari uang dengan cara paling mudah, menjual kemolekan tubuh. Ashley remaja menerima tawaran pembuatan video telanjang dari Girls Gone Wild, sebuah situs porno tenar di Amerika Serikat. Dua tahun kemudian, ia menetap di New York demi mengejar karier bermusik.

Untuk mengumpulkan modal, Ashley merangkap beragam pekerjaan, mulai pelayan hotel, pelayan di klub tari Viscaya, kelab malam Pink Elephant, hingga Retox. Tak cukup dengan itu. Ashley pun tergiur oleh tawaran menjadi pelacur melalui jasa layanan perempuan pendamping (escort) kelas atas yang banyak bertebaran di New York.

Dengan nama alias Victoria, ia bergabung dengan klub NY Confidential yang dikelola Jason Itzler. Namun tak bertahan lama. Tahun 2005, klub ini ditutup, dan Itzler dijebloskan ke penjara oleh Eliot Spitzer, yang ketika itu menjabat sebagai Jaksa Penuntut Umum Negara Bagian New York.

Toh, ini tak mematahkan ''karier'' Ashley sebagai pelacur. Ia lalu masuk klub serupa, Velvet Traces di Brooklyn. Setahun kemudian, ia pindah ke klub Emperors Club VIP, dengan nama sandi Kristen. Pada tahun itu pula, ia resmi mengubah namanya menjadi Ashley Rae Maika DiPietro di Monmouth County Superior Court. ''Karena DiPietro adalah satu-satunya ayah yang kukenal,'' tulisnya dalam blog. Tapi di blog itu pula Ashley malah memakai nama lain, yaitu Ashley Alexandra Dupre. Nama inilah yang kemudian lebih banyak dipakai untuk menyebut sosoknya.

Kisah hidup Ashley yang diungkap media sebagian besar bersumber dari blog pribadinya. Dan sebagian besar media mengemas cerita Ashley sebagai gadis korban kehancuran keluarga yang terjebak dalam jaringan prostitusi.

Padahal, faktanya tak demikian. Beberapa media lain bisa mewawancarai orang-orang dekat Ashley, seperti bibinya, Barbara Youmans. Menurut Barbara, masa kecil dan remaja Ashley penuh kebahagiaan dan tercukupi dari sisi materi. ''Dia selalu mendapatkan apa yang dia mau, mulai sepeda, baju-baju bagus, hingga papan surf bermerek,'' ungkap Barbara. Bahkan si ibu kandung, Carolyn, mengakui bahwa semasa remaja, Ashley tergolong gadis pemberontak.

Astari Yanuarti

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar