Senin, Agustus 11, 2008

Kredit Ponsel Pemberdaya Perempuan

GATRA NO 39 / XIV 13 Agu 2008

Grameen Foundation, Bakrie Telecom, dan Wireless Reach Qualcomm berkolaborasi membuat Program Telepon Pedesaan yang menyasar wirausaha perempuan. Perpaduan skema kredit mikro dan harga pulsa murah menjadi terobosan untuk mengentaskan kemiskinan.

Kios kelontong milik Halimah bertambah ramai sejak dua bulan terakhir. Para pengunjung toko mungil ini masih tetangga sekitar rumah yang terletak di Kampung Neglasari, Bogor, Jawa Barat. Mereka datang bukan sekadar berbelanja, melainkan juga menelepon atau meminjam telepon Halimah.

Walau hanya punya satu unit telepon seluler (ponsel) CDMA, usaha warung telepon Halimah diminati para tetangga. Sebab, selain tarifnya murah, pelanggan juga bisa membawa ponsel ke rumah jika ingin berbincang lebih pribadi.

Menurut Halimah, setiap bulan ia mendapat keuntungan 20% dari usaha rental ponsel Uber Esia-nya. Pendapatan tambahan itu dipakai untuk biaya sekolah anak semata wayangnya. ''Saya ingin melihat anak saya lulus sekolah,'' kata Halimah sembari tersenyum.

Halimah tak sendirian mengecap keuntungan dari bisnis ponsel Uber Esia. Ada 200 perempuan pengusaha mikro lainnya di Bogor dan Tangerang yang menjadikan Uber Esia sebagai bisnis penunjang. Bisnis utama mereka beragam, dari pembuat sandal hingga penjual bebek.

Meski tinggal berbeda kampung, mereka punya satu kesamaan, yaitu peserta proyek percontohan Program Telepon Pedesaan (PTP). Program kolaborasi antara Grameen Foundation, Bakrie Telecom, dan Wireless Reach Qualcomm ini diresmikan di sela-sela acara Asia-Pacific Regional Microcredit Summit 2008, yang berlangsung di Nusa Dua, Bali, Selasa pekan lalu.

Kerja sama tiga perusahaan besar itu menarik perhatian, sekaligus mengundang pertanyaan. Konsep seperti apa yang dipakai dalam PTP? Mengingat program serupa pernah diusung operator-operator telepon lain lewat program telepon pedesaan USO (universal service obligation).

Jika dilihat dari nama-nama besar institusi pendukung, semestinya PTP menawarkan skema berbeda dari USO, yang hanya dikerjakan tunggal oleh operator telepon. Terlebih, PTP melibatkan Grameen Foundation, yayasan yang berpusat di Amerika Serikat yang bergerak di pembiayaan usaha mikro. Serta menggandeng Qualcomm, penyedia jaringan nirkabel berbasis CDMA terbesar di dunia, yang punya program tanggung jawab sosial global Wireless Reach.

Menurut Presiden Qualcomm Southeast Asia-Pasific, John Stefanac, konsep inti PTP mereka sederhana tapi efektif. Pengusaha di kampung-kampung yang belum terjamah telepon akan mendapat pinjaman dari lembaga keuangan mikro (Micro Finance Institution --MFI).

Pinjaman itu digunakan untuk membeli perangkat ponsel Uber Esia, yang terdiri dari satu ponsel 3G CDMA dan charger, materi pemasaran, poster harga, kartu nama, dan materi pelatihan. ''Ponsel ini bisa dipakai untuk bisnis kreatif yang menunjang bisnis utama serta bisa disewakan ke teman dan tetangga,'' kata Stefanac.

Dengan kata lain, pengusaha PTP bisa menjadi operator mini yang punya pelanggan lima orang hingga 50 orang. Para operator mini itu bisa punya penghasilan memadai untuk membayar cicilan kredit ke MFI dan menabung untuk pendidikan dan kesehatan keluarga.

Operator untung karena ada pertambahan pelanggan baru. MFI bisa terus tumbuh karena kliennya lancar mengembalikan pinjaman. ''Yang terpenting, makin banyak masyarakat pedesaan tertinggal yang bisa menikmati layanan telekomunikasi berteknologi tinggi dengan harga terjangkau,'' ujar Stefanac.

Seberapa terjangkau harga layanan PTP itu? Paket Uber Esia lengkap dibanderol Rp 300.000, termasuk pulsa Rp 50.000. Selain itu, biaya teleponnya lebih murah dari telepon tetap kabel dan bisa mengisi ulang dengan eceran Rp 1.000. Pengusaha PTP juga mendapat margin dari pengenaan tarif lebih rendah dari harga layanan umum.

Terkait dengan skema kredit MFI, program Uber Esia ini mematok cicilan Rp 7.200 tiap pekan selama setahun. Untuk tahap awal, Grameen Foundation melibatkan MFI, yaitu Mitra Bisnis Keluarga --ventura yang sudah melayani lebih dari 80.000 peminjam di Jawa Barat dan Banten.

Berdasarkan data di lapangan, kaum perempuan lebih terpercaya sebagai peminjam karena mampu mengembalikan kredit tepat waktu. Berkat kredibilitas ini, tak mengherankan jika ibu rumah tangga menjadi sasaran utama PTP. ''Ini juga sesuai dengan filosofi pendiri Grameen Bank, Muhammad Yunus, yang ingin memberdayagunakan perempuan di pedesaan,'' ungkap Presiden Direktur Bakrie Telecom, Anindya Bakrie.

Menurut Muhammad Yunus, pemilihan perempuan sebagai sasaran utama PTP bukan hanya dapat mengurangi kesenjangan ekonomi dan kesenjangan digital, melainkan juga mengurangi kesenjangan sosial di Indonesia. Sebab pemberdayaan perempuan melalui PTP akan meningkatkan kepercayaan diri dan tanggung jawab kelompok sosial ini.

Mereka yang tadinya tersisih dari dunia luar kini bisa terhubung karena punya ponsel. Kondisi ini tentu menciptakan peluang-peluang bisnis baru. Ujungnya, kaum perempuan bisa melepas jerat kemiskinan yang melingkupi keluarganya. ''Jadi, yang harus diberikan kepada mereka adalah kesempatan,'' ujar Yunus, yang memenangkan Nobel Perdamaian tahun 2006 berkat prestasi Grameen Bank memberdayakan kaum miskin lewat kredit mikro.

Astari Yanuarti

Telepon untuk Semua

Program Telepon Pedesaan ala Uber Esia dari Bakrie Telecom, Grameen Foundation, dan Qualcomm memang yang pertama di Indonesia. Namun, bila ditinjau dari skema yang dipakai, program serupa telah dilakukan di beberapa negara di bawah payung Village Phone Program milik Grameen Foundation.

Secara berturut-turut sejak tahun 2003 hingga 2007, Uganda, Rwanda, Filipina, Haiti, dan Kamboja menerapkan Village Phone Program. Kini jumlah operator Village Phone Program di semua negara itu mencapai 12.000. Penduduk desa yang bisa terlayani telepon mencapai 1 juta jiwa.

Sebelumnya, Village Phone Program lebih dulu menuai sukses di Bangladesh, negeri asal Grameen Bank. Program ini diusung Grameen Telecom --anak usaha Grameen Bank-- dengan menggandeng operator telepon seluler terbesar di Bangladesh, Grameenphone.

Setiap peserta Village Phone Program mendapat pinjaman mikro senilai US$ 200 dari Grameen Bank. Uang ini dipakai untuk mendapatkan layanan telepon GSM prabayar dari Grameenphone. Mereka lalu diberi pelatihan bagaimana menggunakan ponsel tersebut. Juga tata cara menjadikan ponsel sebagai warung telepon umum untuk mendapat profit.

Program yang bertujuan mengikis kemiskinan di pedesaan itu sangat diminati publik Bangladesh. Sebab terbukti mampu meningkatkan penghasilan mereka. Pada saat ini, ada sekitar 300.000 operator Village Phone Program yang tersebar di 55.000 desa. Pendapatan para operator mini ini lebih besar dari rata-rata pendapatan nasional penduduk Bangladesh.

Di Indonesia, program Uber Esia ditargetkan bisa merengkuh 1.000 operator telepon desa sampai akhir tahun ini. Dengan asumsi, setiap operator bisa melayani 100 keluarga, yang terdiri dari lima anggota. Maka, jumlah penduduk desa terpencil yang bisa menikmati layanan telekomunikasi mencapai 500.000 jiwa.

Hanya saja, Bakrie Telecom belum berani memasang angka pertambahan pendapatan yang bisa diraih tiap keluarga dengan Uber Esia. Namun tak ada salahnya bersikap optimistis. Sebab, di Uganda, pendapatan operator Village Phone Program terdongkrak hingga tiga kali lipat dari pendapatan rata-rata nasional.

Astari Yanuarti

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar