Rabu, Agustus 06, 2008

Komedi Suram Keluarga Cerdas

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Drama
"Meski terberkati dengan otak cemerlang, kehidupan keluarga Wetherhold jauh dari kata bahagia. Kecerdasan memang tak sama dengan kebijaksanaan"

SMART PEOPLE
Pemain: Dennis Quaid, Sarah Jessica Parker, Thomas Haden Church, Ellen Page, dan Ashton Holmes
Sutradara: Noam Murro
Penulis Skenario: Mark Jude Poirier
MPAA Rating: R
Produksi: Miramax Films/Groundswell Productions, 2008

Seperti judulnya, film komedi satire ini berkisah tentang jibaku keluarga intelektual menjalani kehidupan di tengah orang biasa. Dennis Quaid memerankan Profesor Lawrence Wetherhold yang berotak encer. Ia sedang mengikuti pemilihan Kepala Departemen Sastra Inggris di Carnegie Mellon University, Amerika Serikat.

Meski punya karier cemerlang di kampus, Lawrence bukan sosok ayah yang ideal. Duda yang ditinggal mati istri ini gagal memahami dua anaknya, James (Ashton Holmes) dan Vanessa (Ellen Page), yang sama-sama berotak cemerlang. James adalah mahasiswa jurusan sejarah di kampus yang sama dengan Lawrence. Sedangkan Vanessa baru saja diterima di Stanford University.

Kecerdasan otak mereka bukan jaminan kebahagiaan. Ketiganya bermasalah pada saat berkomunikasi. Lawrence sering melontarkan kalimat masam ketika mengajar, arogan, dan penampilannya serampangan, nyaris jorok. Vanessa cantik, tapi tak punya teman karena mulutnya pedas. Sedangkan James selalu memendam amarah karena merasa tak dimengerti oleh Lawrence.

Ketakharmonisan dan kesuraman keluarga Wetherhold makin parah dengan kehadiran Chuck (Thomas Haden Church), saudara angkat Lawrence. Chuck, yang juga sudah paruh baya, tinggal di rumah Lawrence, karena kehilangan pekerjaan untuk ke sekian kalinya. Sebagai orang biasa, Chuck terlihat berbeda dari keluarga Wetherhold lainnya dalam menyikapi masalah.

Keadaan makin rumit ketika Lawrence berpacaran dengan Janet Hartigan (Sarah Jessica Parker), dokter unit gawat darurat yang merawat cederanya akibat melompat pagar di kampus. Janet pernah naksir Lawrence pada saat menjadi mahasiswanya, meski Lawrence tak ingat sama sekali. Kehadiran Janet tentu saja tak disukai Vanessa, yang merasa makin tersisih.

Smart People punya naskah skenario brilyan yang menggabungkan dialog jenaka dengan kepedihan, hasil kejelian novelis Mark Jude Poirier (baru pertama kali menulis skenario). Poirier menunjukkan bahwa kecerdasan tak sama dengan kebijaksanaan. Seringkali pendidikan yang dilakoni belasan tahun tak memberikan pelajaran kehidupan apa pun.

Poirier menampilkan detail tiap karakter dan membuat penonton yakin bahwa di balik tokoh yang eksentrik dan menyebalkan sekalipun, tersembunyi sifat-sifat lain yang menyenangkan. Poirier membuat karakter anggota keluarga Wetherhold tumbuh dewasa. Bukan dengan cara mudah seperti formula Hollywood (Smart People adalah film independen yang tampil di Sundance Film Festival 2008). Mereka harus lebih dulu melewati kegetiran, sarkasme, dan yang terberat: belajar untuk menerima.

Lawrence akhirnya bisa menjual buku akademisnya ke penerbit Penguin setelah mengganti judulnya menjadi You Can't Read. Sebelumnya, puluhan penerbit menolak buku ini karena dianggap tak menarik. Juga ada Vanessa yang bisa mengatasi ego untuk menerima Janet, yang mengandung anak kembar dari Lawrence.

Film ini bukan hanya menjadi debut Poirier, juga menjadi yang pertama bagi sutradara Noam Murro. Karena itu, bukan hal mudah bagi Murro untuk menyinergikan akting para pemain yang sudah punya nama. Untunglah, Murro berhasil mengharmoniskan akting Quaid, Page, Church, dan Parker. Mereka tampil maksimal menjiwai karakter Smart People yang unik.

Yang patut dicatat adalah akting Page dan Church. Page --sebelumnya menuai sukses di film Juno-- memainkan karakter Vanessa dengan bagus. Page berhasil menampilkan dua wajah Vanessa yang android, sinis, dan cerdas di satu sisi. Dan di sisi sebaliknya, Vanessa juga remaja atraktif kesepian yang haus kasih sayang dari orang-orang terdekatnya.

Church memerankan Chuck sama bagusnya seperti ketika bermain di Sideways. Ekspresi komikal Church tampak melebur dengan karakter Chuck yang slengekan dan easy going. Cerita Smart People memang tak setajam Who's Afraid of Virginia Woolf ataupun Wonder Boys. Tapi film sepanjang 95 menit ini lebih natural pada saat menggambarkan realitas keseharian kalangan akademisi.

Astari Yanuarti

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar