Senin, Juni 06, 2011

Kesegaran di Jantung Manhattan (1)

Central Park bak oase di tengah belantara pencakar langit New York City. Keteduhan dan kecantikan lansekapnya memikat hati puluhan juta pengunjung.

Belvedere Castle Lake

Wajah pengantin perempuan bergaun putih panjang itu, secerah mentari yang bersinar terik pada Ahad siang di musim gugur lalu. Sambil menggenggam buket bunga mawar, mulutnya tak henti menyunggingkan senyum dan melontarkan tawa.

Keceriaan ikut menjalar ke kerumunan kerabat di sekeliling sang pengantin baru. Rombongan kecil ini kemudian bergerak perlahan menuju gerbang keluar yang mengarah ke W.100th Street, Central Park West. Mereka menunggu mobil jemputan untuk pulang.

Tak lama berselang, terdengar keriuhan dari gerbang yang sama. Ratusan orang berkostum dan berpita merah jambu berjalan keluar. Beberapa poster bertuliskan solidaritas untuk para penderita kanker teracung ke langit.

Saat barisan panjang ini mulai terurai, saya melangkah masuk ke gerbang Central Park. Beberapa meter di sebelah kanan gerbang, puluhan anak balita berlarian kian kemari di area taman bermain. Tawa mereka nyaring terdengar, meski tetap tak sanggup membangunkan beberapa bayi montok yang tertidur lelap di dalam kereta bayi.

Makin lama menyusuri jalanan ke dalam, kesunyian mulai terasa. Hembusan angin musim gugur membawa serta alunan lembut saksofon. Nun di kejauhan, di bawah pohon rindang,  tampak dua pemuda, satu menggesek contrabass dan satu meniup saksofon. Dari sanalah musik merdu itu mengalun.

Beragam aktivitas tadi, biasa terjadi di Central Park setiap akhir pekan. Taman kota seluas 841 hektare ( sekitar empat kali luas Taman Monas Jakarta) ini memang menjadi tempat favorit warga New York City. Warga Amerika dan turis asing juga menyukai taman berbentuk persegi panjang ini.

Menurut data Central Park Conservacy, perusahaan swasta nirlaba pengelola taman, setiap tahun, sekitar 35 juta orang datang berkunjung. Jumlah ini membuat Central Park tercatat sebagai taman paling populer di Amerika.

Mengapa begitu banyak orang jatuh cinta pada Central Park? Ada berderet alasan. Seperti yang tersirat dari nama, lokasinya tepat di tengah Manhattan, jantung kota New York. Taman rancangan duo Frederick Law Olmsted dan Calvert Vaux, meski sepenuhnya buatan manusia, tapi terlihat alami dan sangat indah.

Sebanyak 24 ribu pohon beraneka spesies tumbuh memenuhi area taman. Kerindangan pepohonan ini mengundang 275 spesies burung singgah di Central Park saat migrasi tahunan menuju Atlantik.

sign of autumn

Terdapat tujuh danau dan kolam, padang rumput, 21 taman bermain, kebun binatang, tempat es skating, lapangan tenis, basket, sepakbola, dan voli, kastil pengamatan burung migran, teater, dan kebun bunga. Tersedia juga tujuh area khusus untuk para pencari ketenangan, misalnya di Strawberry Field dan East Green. Tak boleh ada alat musik dan aktivitas olahraga apapun di wilayah ini.

Khusus untuk pehobi sepeda, jogging, sepatu roda dan rollerblading, tersedia trek sepanjang 10 kilometer di dalam Central Park. Sedangkan total jalan setapak yang disediakan untuk pejalan kaki mencapai nyaris 100 kilometer. Karena itu, sebelum menjelajahi Central Park, bawalah peta yang tersedia gratis di bagian informasi taman ataupun di hotel-hotel.

Keindahan taman yang resmi dibuka tahun 1859 ini juga memikat para sutradara beken. Ratusan film sudah dibuat dengan berlatar Central Park. Contohnya: Serendipity, When Harry Met Sally, Home Alone 2, dan Enchanted.

Harleem Meer Lake

Para pemusik tenar pun menjadikan taman ini sebagai lokasi konser akbar. Yang paling fenomenal dan tercatat sebagai konser terbesar sepanjang sejarah adalah saat penyanyi country legendaris Garth Brooks manggung Agustus 1997. Penontonnya 980 ribu orang!

Walau menyediakan puluhan tempat beraktifitas, masuk Central Park bebas biaya alias gratis. Taman ini buka setiap hari sepanjang tahun mulai subuh hingga pukul 01 dinihari. Tak perlu khawatir soal keamanan, karena ada banyak petugas keamanan dan aturan larangan minum alkohol di dalam Central Park.

Kamis, Juni 02, 2011

Sensasi Eksotis Pulau Umang

Pulau mungil di ujung barat Pulau Jawa ini tak hanya punya pasir putih dan laut jernih. Desain vila-vilanya menyatu dengan alam. Makan malam bertabur bintang jadi pilihan.
 
Buih putih memercik mengiringi laju perahu kayu yang membawa kami. Deru mesin tempel berbaur desau angin menimpali percakapan segelintir penumpang. Sebagian lagi terlihat asyik menikmati keindahan laut biru yang terhampar, walau dengan mata terpicing karena menahan cahaya matahari.

Terik mentari itu membuat laut berkilau bak permata. Beberapa saat kemudian, tampak hamparan pasir putih. Perlahan-lahan, sosok pulau mungil itu makin jelas. Tiga bangunan beratap tinggi terlihat menyeruak di tengah selimut kehijauan aneka pohon.

Di sebelahnya ada beberapa gazebo beratap rumbia yang menjorok ke laut. Perahu berpenumpang 20-an orang ini berbelok ke kanan. Sebuah dermaga kecil telah menanti kami. Warna cokelat tua tiang-tiang kayu dermaga itu berpadu indah dengan gradasi putih, hijau, dan biru air laut di sekelilingnya.

Di bawah dermaga, sekelompok ikan dan kepiting berenang kian kemari. Ketika kami menjejak dermaga, kelegaan menghampiri. Akhir Mei lalu, kami menikmati sensasi eksotis Pulau Umang, setelah menempuh empat jam perjalanan darat dari Jakarta plus 10 menit naik kapal.

****

Ketika menebarkan pandangkan ke pulau seluas lima hektare itu, rasa penasaran muncul. Seasyik apa sih pulau yang terletak di sekitar Taman Nasional Ujungkulon, Kabupaten Pandeglang, Banten, ini?

Sejak 2004, PT Griya Sukses Mandiri (GSM) menyulap pulau ini menjadi resor berkonsep alam.
Kini sudah berdiri 60 bangunan vila tahan gempa dan air pasang. Ini terlihat dari bentuk rumah panggung seperti di Kalimantan.

Interiornya pun unik dan alami. Kayu, kaca, tanah liat, dengan bebatuan menjadi bahan utama yang menghias vila. Konsep open living room benar-benar membuat vila dengan dua kamar itu terlihat lapang dan nyaman. Dominasi dinding kaca di lantai atas juga membuat cahaya bisa masuk dengan bebas.

Presiden Direktur PT GSM Christian P.B. Halim menyebutkan, semua vila menghadap ke laut. Bangunan itu menempati dua kawasan: sunset dan sunrise. Jadi, setiap penghuni vila bisa menikmati matahari tenggelam dan matahari terbit.

Selain itu, ada banyak bangunan lain. Misalnya ada The Beach Club, Sunrise Cafe, Private Beach, Jacuzzy, Kids Pool, dan gazebo di pinggir pantai. Semua bangunan beratap tinggi dan berbahan utama kayu. ''Kami ingin membuat pengunjung sejenak lepas dari kepenatan kota,'' kata Christian, yang membeli Pulau Umang itu sejak1980.


****

Ribuan tanaman juga menghijaukan areal di sekeliling pulau. Menurut Christian, mereka punya program penghijauan untuk menjaga vegetasi alamiah Pulau Umang. Untuk itu, kerj asama dengan Ujungkulon Conservation Society pun terjalin. Bahkan tiap wisatawan diajak ikut menanam satu pohon tiap berkunjung.

Pengelola Pulau Umang bertekad memenuhi sendiri kebutuhan air bersih untuk seluruh wilayahnya. Itu bukan hal mudah, karena luas Pulau Umang tak seberapa dan sangat rentan abrasi. ''Lalu saya mulai membangun sumur-sumur serapan air supaya cadangan air tawar makin tinggi,'' tutur Christian.

Usahanya tak sia-sia. Kini air bersih bisa mengalir lancar di setiap vila. Malah, berkat penghijauan dan sumur serapan itu, luas pulau bertambah secara alami. Dulu, ketika dibeli, luas pulau itu kurang dari 4 hektare. Tingginya kandungan air tawar di pulau itu sedikit demi sedikit menarik pasir-pasir karang di sisi luar pantai. Semakin lama, pasir yang terikat kian banyak, sehingga menambah luas wilayah pulau.

****

Kini di Pulau Umang tersedia banyak fasilitas wisata air. Berenang sampai puas, baik di laut maupun di kolam, sudah pasti. Masih ada pula banana boat, memancing, dan jetski. Yang tak kalah asyik adalah snorkeling. Tapi ini bukan di Pulau Umang. Kita harus pergi dulu ke Pulau Oar, yang juga milik Christian Halim. Biasanya kunjungan dilakukan setelah jam makan siang.

Di pulau yang berjarak tempuh 15 menit dengan perahu motor itu, suasananya masih sangat alami. Vegetasi liar, seperti ilalang, ketapang, menyelimuti pulau seluas 4 hektare ini. Keindahan kehidupan bawah laut di sekitar Pulau Oar lumayan memukau. Selain karang, masih ada beberapa hewan laut dan tumbuhan yang hidup bebas di sana.

Sepulang dari Pulau Oar, santap malam di atas pasir putih sudah menanti. Sederet bangku dan meja sudah tertata rapi di sepanjang pantai dekat dermaga. Kelap-kelip puluhan lampu minyak membuat suasana temaram itu bernuansa romantis. Apalagi, langit malam pada saat itu cerah bertabur bintang.

Debur ombak sesekali menjilati bibir pantai tak jauh dari meja-meja kami. Aroma hidangan laut bakar membuat perut makin keroncongan. Setelah cukup lama menunggu, sederet menu lezat tersaji di meja. Ada udang bakar, tumisan cumi bakar, aneka ikan goreng, tumis kangkung, lalap, dan sambal dabu-dabu. Hmmm.... nikmat sekali rasanya.


******

Selain menikmati wisata laut, pengunjung Pulau Umang juga bisa mencoba beragam aksi seru dengan outbond dan kemping. Lokasinya memang bukan di Pulau Umang, melainkan di Tangkilsari. Kawasan ini ada di dekat lapangan parkir pengunjung pulau yang terletak di Sumur (Pulau Jawa). Terdapat aneka permainan khas outbond, seperti flying fox, wall climbing, dan high roop's.

Lalu ada juga elvi's (berjalan di atas seutas tali yang terbentang sekitar lima meter di atas permukaan tanah) dan bambu gila. Semuanya makin seru karena dilakukan di atas bukit yang langsung menghadap ke laut. Pulau Umang dan Oar pun bisa terlihat dari bukit setinggi 50 meter itu. ''Area kami memang khas karena meliputi sungai, bukit, dan laut,'' kata Christian.

Sayang, hingga kini masih banyak wisatawan yang alergi datang ke kawasan pantai. Mereka masih takut pada tsunami dan gelombang pasang. Menurut Christian, meski berada di laut, pulaunya tergolong aman dari ancaman tsunami dan gelombang pasang. Letak Pulau Umang terlindung karena berada di teluk. Ada Tanjung Lesung di sebelah utara dan Ujungkulon di sisi barat.

Akses menuju pulau yang terletak 183 kilometer di sebelah barat daya Jakarta itu pun tergolong mudah. Banyak angkutan umum yang sampai ke Sumur, meski harus beberapa kali berganti kendaraan. Kalau mau ringkas, bisa memakai angkutan travel atau kendaraan pribadi.

Astari Yanuarti