Tampilkan postingan dengan label information tech. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label information tech. Tampilkan semua postingan

Rabu, Oktober 15, 2008

Ponsel Pintar Adu Desain dan Kecepatan

Gatra No 44 / XIV 17 Sep 2008


Kehadiran iPhone 3G memicu tren ponsel pintar dengan dua fungsi, hiburan dan profesional. Vendor ponsel papan atas berlomba membuat produk yang memadukan kecepatan akses data, layar multisentuh, aplikasi bisnis, serta desain menarik.

Heboh Apple iPhone 3G di Amerika Serikat dan belasan negara lain berembus pula hingga ke Indonesia. Paling tidak, dua produk ponsel pintar yang mengklaim diri sebagai pesaing iPhone 3G sudah lebih dulu menyapa pasar Tanah Air per akhir Agustus lalu. Yakni Samsung Omnia dan Blackberry Bold.

Omnia merupakan andalan Samsung di jajaran ponsel pintar multimedia. Desain fisik Omnia tak beda jauh dengan iPhone 3G yang dikenal dengan layar lebar multisentuh. Selain itu, Omnia dibekali pula beberapa fitur unggulan yang tak dimiliki iPhone. Antara lain, kecepatan transfer data HSDPA hingga 7,2 mbps serta kamera 5 megapixel (MP).

Sementara Blackberry Bold adalah peranti buatan Research in Motion (RIM). Ponsel pintar ini tampil lebih modis. Selain itu, fitur multimedia yang disodorkan juga lebih bagus dibandingkan dengan seri Blackberry sebelumnya yang lebih dikenal dengan aplikasi push e-mail itu.

Selama ini, RIM berhasil menjerat hati sekitar 14 juta pekerja profesional di seluruh dunia untuk membeli Blackberry. Ponsel ini banyak disukai karena menyediakan layanan dan konektivitas yang memperlancar urusan kantor.

Bagi kalangan ini, tampilan Blackberry yang kurang modis bukan persoalan besar. Namun, sejak kehadiran iPhone generasi pertama, akhir Juni tahun silam, perilaku konsumen mulai berubah. Desain modis iPhone dan keunggulan fitur hiburan, terutama musik dan video, membuat ponsel ini langsung diserbu pengguna telepon.

Jutaan unit langsung ludes. Padahal, ponsel ini hanya dijual di beberapa negara dengan sistem bundling. Sukses serupa dialami penerusnya, iPhone 3G, yang mengusung teknologi akses data lebih cepat.

Kondisi ini memicu vendor-vendor ponsel dunia merilis aneka produk pesaing iPhone 3G. Ada HTC yang melempar seri Touch, Samsung dengan seri i, Nokia dengan seri E, serta Sony Ericsson dengan Xperia X1 yang baru akan dirilis pertengahan September. Mereka beradu kreativitas menciptakan ponsel paling canggih sekaligus nyaman dilihat dan dipakai.

Bagaimana hasilnya? Berikut ini adalah preview ringkas jajaran ponsel yang bersaing merebut hati pengguna ponsel.

Astari Yanuarti

Samsung Omnia i900
Satu Peranti Serba Semua

Pertumbuhan jumlah ponsel pintar berbasis Windows Mobile (Wimo) ternyata berdampak positif bagi vendor ponsel. Mereka harus beradu kreativitas demi membuat tampilan antarmuka yang lebih khas dan aplikasi menarik dengan platform serupa. Salah satu keberhasilan personalisasi terlihat pada Samsung Omnia.

Ponsel berlayar multisentuh ini punya belasan aplikasi peranti lunak tambahan demi memenuhi keinganan para pengguna Wimo. Sebagian dari aplikasi itu tergolong orisinal dan menjadi ciri khas Samsung seri i. Misalnya aplikasi Task Switcher dan Task Manager yang biasa ada di komputer personal.

Task Switcher menampilkan semua aplikasi yang tengah kita jalankan. Jadi, kita bisa dengan mudah memantau sekaligus mematikan aplikasi-aplikasi tersebut cukup dengan satu sentuhan.

Samsung juga menanamkan Video Editor di Omnia, yang memungkinkan kita membuat dan mengedit video dengan format MPEG4. Aplikasi tambahan lain yang tak kalah keren adalah instalasi paket Google, yang meliputi akses Google Search, Gmail, dan Google Maps versi 2.0.1.

Tampilan khas antarmuka Wimo yang kurang atraktif dapat ditutupi dengan penggunaan TouchWiz yang mengakomodasi penggunaan layar multisentuh. Ikon-ikon aplikasi dibuat cukup besar dengan desain lumayan menarik sehingga mudah dibuka lewat sentuhan jari, bukan stylus.

Ada tiga jenis pilihan tampilan layar ketika kita menggunakan aneka aplikasi. Mulai tampilan standar dengan belasan ikon aplikasi, yang terbagi menjadi tiga baris. Lalu tampilan inovatif dengan aneka Widget di sisi kiri layar. Serta tampilan paling nyaman dengan 12 ikon besar di layar. Sayang, kita tetap harus menggunakan tampilan antarmuka asli milik Wimo pada saat akan menutup program. Padahal, antarmuka Wimo penuh dengan ikon dan tulisan kecil yang sulit disentuh dengan jari tangan.

Sesuai dengan makna kata Omnia, yaitu semua hal, kali ini Samsung berhasil merancang peranti all-in-one. Kombinasi seimbang antara fitur bisnis dan fitur hiburan ini terjalin antara kamera 5 MP, media player, browser internet Opera Mobile 9.5, kecepatan HSDPA, hingga navigasi GPS. Ini membuat Omnia menjadi peranti pintar berbasis Wimo dengan performa terbagus. Dari sisi desain dan tampilan antarmuka pun, sudah mendekati kecantikan iPhone 3G.

Fitur Utama:
Jaringan : GSM 850/900/1800/1900 MHz dan HSDPA
Prosesor : 624 MHz Marvell PXA312
Sistem Operasi : Windows Mobile® 6.1 Professional, UI TouchWiz
Memori : 256 MB ROM, 128 MB RAM, dan 16 GB memori internal, slot TransFlash
Dimensi/berat: 112x56,9x12,5mm/122 gram
Layar : 3,2 inchi, TFT 256.000 warna, accelerometer otorotasi, handwriting recognition
Koneksi : Bluetooth, Wi-Fi, mini-USB

Waktu bicara/siaga: sampai 5,5 jam/sampai 21 hari
Harga : Rp 7,5 juta

Kelebihan:
- Kamera 5 MP
- TV out
- HSDPA dengan 7.2 mbps

Kekurangan:
- Layar display kurang terang bila terkena langsung sinar matahari
- Slot stylus tidak ada sehingga mengganggu tampilan fisik

Blackberry Bold
Layar Tajam Koneksi Cepat

Tren layar tajam beresolusi tinggi dan desain modis yang dibawa iPhone membuat vendor ponsel pintar lain berusaha membuat produknya tak terlihat ketinggalan zaman. Bahkan tampilan Blackberry, yang biasanya konvensional dan kurang modis, kini mulai berubah.

Lihat saja Bold yang tampil gaya dengan cover belakang berwarna hitam berlapis krom serta dipadu dengan bahan kulit. Kalau belum puas, tampilan cover belakang bisa diganti dengan aneka warna lain. Terobosan desain ini baru pertama kali dilakukan Blackberry.

Ukuran layar Bold memang tak jauh beda dari pendahulunya, seperti Curve. Tapi kali ini jauh lebih tajam dengan kedalaman warna 480 x 320 dan resolusi 217 ppi. Bold juga dibekali kamera 2 MP yang sekaligus bisa merekam video (fitur yang tak dimiliki iPhone). Selain itu, untuk menjalankan fungsi bisnis, otak Bold sudah di-upgrade dengan memakai 624 MHz Intel PXA270 (seri sebelumnya masih memakai prosesor 312 MHz). Alhasil, pekerjaan multi-tasking tetap bisa berjalan lancar.

Koneksi internet Bold juga ikut tren ponsel pintar, karena sanggup membawa data berkecepatan tinggi, yaitu HSpeed Downlink Package Access (HSDPA). Kita jadi bisa lebih cepat mengunduh attachment e-mail berukuran besar.

Aplikasi bisnis pun dikembangkan lebih canggih dengan penyempurnaan skema Blackberry Solutions, yaitu paket layanan internet, hosting, server enterprise, dan software professional. Ditambah dengan fitur GPS dengan Blackberry Maps untuk menyaingi fitur serupa milik para pesaing.

Di sisi multimedia, terasa ada perbaikan. Misalnya terkait dengan kualitas suara yang lebih mantap. Sehingga ketika disambungkan dengan dual speaker stereo, suara tak pecah. Malah ada tambahan filter equalizer, yang meliputi 11 pilihan musik seperti lounge, jazz, dan hip hop.

Fitur Utama:
Jaringan : GSM 1900/1800/900/850 dan HSDPA

Prosesor : 624MHz Intel PXA270

Sistem Operasi: Blackberry OS
Memori :1 GB on-board + 128 MB Flash dan slot micro SD
Dimensi/berat: 114mm x 66mm x 15mm/ 136g
Layar : 480 x 320 TFT LCD dengan 65,000 warna
Koneksi : Bluetooth, Wi-Fi, mini-USB

Waktu bicara/siaga: sampai 5 jam/sampai13 hari
Harga : Rp 8 juta sampai Rp 9 juta

Kelebihan:
- Ada konektor 3.5 mm headset
- Prosesor lebih cepat dan lebih halus suaranya

Kekurangan:
Kameranya hanya 2 MP

Sony Ericsson Xperia X1
Slider Busur Sembilan Layar

Tak sia-sia Sony Ericsson melakukan hibernasi produksi ponsel pintar pasca-seri P1i. Aksi tiarap nyaris setahun itu ternyata menghasilkan Xperia X1. Ada segudang revolusi yang mereka lakukan pada ponsel pintar paling gres ini.

Seri ponsel tak lagi diawali dengan huruf, tapi dengan nama, yaitu Xperia X1 yang diambil dari kata experience (pengalaman). Terobosan selanjutnya terletak pada desain. Selama ini, ponsel seri P kalah cantik dari para pesaingnya, seperti Nokia Communicator, HTC Touch, dan O2. Apalagi bila dibandingkan dengan ponsel entertainment Apple iPhone dan Samsung seri i.

Kali ini, Xperia tampil beda dengan desain slider busur. Ini paduan ponsel bisnis dengan ponsel entertainment: layar superlebar dengan tetap memakai papan ketik QWERTY. Yang unik, model gesernya ke samping dan melengkung seperti busur. Sehingga, ketika terbuka penuh, layar tetap menghadap ke arah pengguna.

Agar lebih nyaman untuk mengetik, terdapat pemisah horizontal di antara tombol-tombol huruf. Tujuannya, mengurangi kesalahan menekan tombol yang sering dialami pengguna yang mengetik dengan dua tangan.

Nah, agar tambah manis, mereka membuat widget desain antarmuka sendiri. Tampilannya atraktif dan menarik, seperti tampak di panel akuarium mini. Ikan-ikan dalam akuarium menjadi ikon beberapa layanan ponsel seperti SMS, e-mail, dan profil Lucunya, para ikan akan berubah warna jika ada e-mail atau SMS masuk.

Pemakai Xpreria juga bisa memodifikasi panel-panel widget sesuai dengan gaya yang diinginkan. Sembilan pilihan tampilan layar dasar (home screen) membuat ponsel ini bisa tampil lebih personal.

Bukan hanya tampilan fisik yang revolusioner, jeroan Xperia juga beda. Inilah ponsel pintar Sony Ericsson pertama yang memakai sistem operasi milik Microsoft, Wimo versi 6.1. Lengkap dengan paket mobile office, mobile outlook, dan broswer IE. Plus fitur push e-mail dan mobile blogging.

Fitur Utama:
Jaringan : GSM 850/900/1800/1900 dan HSDPA (7,2 mbps)
Prosesor : Qualcomm MSM7200 528 MHz processor
Sistem Operasi: Windows Mobile® 6.1 Professional
Memori : 256 MB RAM, 512 MB ROM, 400 MB memori internal dan slot MicroSD
Dimensi/berat: 110 x 53 x 16,7 mm/ 145 gram
Layar : 3 inchi, 800 X 480 TFT 65.000 warna, layar sentuh dan accelerometer otorotasi
Koneksi : WiFi, Bluetooth, mini-USB
Waktu bicara/siaga: sampai 10 jam/ sampai 18 hari
Harga : Belum diumumkan (diprediksi Rp 7 juta-Rp 10 juta)

Kelebihan:
- Push email
- Layar jernih dan tajam

Kekurangan:
- Memori internal kecil
- Tebal dan berat

Apple iPhone 3G
Ikon Baru Ponsel Multimedia

Secara fisik, nyaris tak ada yang berbeda antara iPhone dan iPhone 3G. Tampilan mukanya serupa, dengan layar 3,5 inci. Namun ada tambahan plastik di cover belakang sehingga bodinya lebih tebal dari iPhone.

Sistem operasi yang dipakai masih sama dengan iPhone 2.0, tapi dengan beberapa tambahan fitur. Yang paling penting adalah aplikasi toko iPhone yang tersambung dengan Microsoft Exchange server. Aplikasi ini membuat pengguna bisa mengunduh dan meng-install langsung dari iPhone 3G, aplikasi pihak ketiga yang jumlahnya lebih dari 500 aplikasi.

Dukungan Exchange ini membuat layanan push e-mail bisa berjalan di iPhone. Begitu pula dengan sinkronisasi kontak dan perjanjian. Tambahan aplikasi ini membuat iPhone 3G beririsan dengan pasar ponsel pintar bisnis yang selama ini dikuasai Nokia dan Blackberry.

Meski mulai menyasar kalangan bisnis, kemampuan multimedia yang selama ini menjadi ikon iPhone terus diperkuat. Sistem desain antarmukanya tetap indah dipandang dan nyaman ketika digunakan. Terutama untuk memutar musik, video, dan game.

Tampilan widget MacInTouch yang meliputi ragam aplikasi Text, Calendar, Photos, Camera, YouTube, Stocks, Maps, Weather, Clock, Calculator, Notes, hingga setting terlihat apik. Masih ditambah dengan aplikasi dengan Google Map yang seolah sudah menjadi fitur wajib semua ponsel pintar.

Fitur Utama:
Jaringan : GSM 850 / 900 / 1800 / 1900 dan WCDMA
Prosesor : 620 Mhz ARM 1176
Sistem Operasi: Apple iPhone 2.0
Memori : 128 MB RAM, dengan memori internal 8 GB dan 16 GB
Dimensi/berat: 115.5 x 62.1 x 12.3 mm/133 g
Layar : 3,5 inci, 16 juta warna, layar multisentuh, accelerometer

Koneksi : WiFi, Bluetooth, mini-USB
Waktu bicara/siaga: sampai 10 jam/12,5 hari
Harga : Dijual bundling oleh operator, seharga US$ 199 (8 GB) dan US$ 299 (16 GB) dengan kontrak dua tahun

Kelebihan:
- UI iPhone 2.0 multifitur dengan tampilan cantik
- Sensor cahaya di layar sangat bagus
- TV output
- iPod audio dan tampilan video sangat smooth

Kekurangan:
- Kamera hanya 2 MP
- Mahal
- Belum ada fitur perekam video

HTC Touch Diamond
Sentuhan Animasi Tiga Dimensi

Ponsel yang satu ini punya tampilan ramping candy bar seperti seri Touch sebelumnya. Nama tambahan Diamond diambil dari fasad cover belakang yang menyerupai bentuk diamond. Pemakaian bahan stainless steel membuat bodi Diamond terlihat kokoh.

Seperti pendahulunya, Diamond juga masuk kategori penantang iPhone 3G. Berbekal sistem operasi Windows Mobile (Wimo) 6.1, Diamond meneruskan tradisi user interface (UI) TouchFLO yang didesain untuk menyaingi UI iPhone. TouchFlo kali ini sudah 3D dan lebih praktis sehingga mempermudah pengoperasian aneka layanan dengan sentuhan jari. Animasi tiga dimensi untuk kontak, pesan, e-mail foto, musik, cuaca, dan sebagainya memang tampil oke.

Tapi masih belum bisa mengalahkan desain UI iPhone yang sedari awal dibuat berorientasi ke multimedia. Beda dengan sistem operasi Wimo yang lebih mengarah ke bisnis. Maka, Diamond tetap dilengkapi dengan stylus mungil. Untunglah, penempatan stylus ini sama sekali tak mengganggu tampilan Diamond, karena menempel di sisi kiri berkat magnet internal.

Namun Diamond selangkah lebih maju karena sudah memakai jaringan pita lebar nirkabel HSDPA berkecepatan 7.2 mbps. Selain menyediakan browser Opera Mobile, Diamond juga membuat browser baru yang telah dikostumisasi. Ini membuat pengguna bisa memperbesar dan memperkecil situs hanya dengan satu tangan dan secara otomatis mengoptimalkan pemunculan isi yang telah diciptakan sesuai dengan besarnya layar. Kenyamanan berselancar di dunia maya makin asyik berkat aplikasi YouTube, yang telah dikustomisasi sehingga bisa melihat berbagai macam video.

Fitur-fitur ini memang bisa menarik hati para pemakai ponsel pintar pemula. Tapi pemakai lawas sedang menantikan kehadiran seri penerus Diamond, yaitu HTC Touch Pro yang akan keluar beberapa bulan lagi.

Bocoran yang sudah beredar, versi terbaru ini berbentuk sliding dengan papan ketik QWERTY, port TC out, baterai yang lebih tahan lama, dan slot micro SD. Sehingga Touch Pro diprediksi akan bersaing sengit dengan Sony Ericsson Xpresia X1.

Fitur Utama:
Jaringan : GSM 900/1800/1900 MHz (versi Asia dan Eropa)
Prosesor : Qualcomm® MSM7201A™ 528 MHz
Sistem Operasi: Windows Mobile® 6.1 Professional, UI TouchFLO 3D
Memori :256MB ROM, 192MB RAM, dan 4 GB memori internal
Dimensi/berat : 102 mm (L) X 51 mm (W) X 11.35 mm (T)/110 gram
Layar : 2,8 inci TFT-LCD, layar sentuh
Koneksi : Bluetooth, Wi-Fi, mini-USB

Waktu bicara/siaga: 4,5 jam-5,5 jam/ sampai 16 hari
Harga : Rp 8 jutaan

Kelebihan:
- UI Touch Flo 3D (efek balok tiga dimensi yang berputar saat berganti-ganti halaman)
- Ringan dan langsing
- Memakai browser Opera 9.5

Kekurangan:
- Tidak ada slot kartu memori eksternal
- Tidak quad band

Nokia E71
Ponsel Bisnis Tertipis

Dibandingkan dengan semua seri E lain, termasuk seri Communicator, bisa dibilang Nokia E71 adalah yang paling lengkap dan penuh fitur. Walau tipis, ponsel ini tergolong cepat menjalankan tugas-tugas yang dibebankan berkat prosesor ARM 11 berkecepatan 369 MHz.
Sebundel fitur untuk komunikasi bisnis juga sudah tertanam, sehingga peranti ini mirip dengan komputer multimedia. Misalnya fasilitas Microsoft Exchange untuk e-mail korporat, paket lengkap mobile office, kalender, daftar tugas, dan kemampuan mengunduh lampiran seperti Word, Excel, Powerpoint, atau PDF.

Juga tersedia fitur untuk kelas enterprise, seperti kemampuan enkripsi memori di peranti maupun kartu dan mobile VPN. Sehingga para profesional bisa mengakses intranet perusahaan, mengunci peranti, dan menghapus semua informasi perusahaan. Selain e-mail korporat, e-mail dari ribuan penyelenggara jasa internet (PJI) di seluruh dunia, termasuk Gmail, Yahoo! Mail, dan Hotmail, juga bisa diakses dengan solusi Nokia Intellisync Wireless Email. Kemampuan push e-mail­-nya bisa mencapai lima e-mail account.

Kelengkapan fitur-fitur bisnis Nokia E71 membuatnya berhadapan langsung dengan Blackberry Bold. E71 punya keunggulan di sisi sistem operasi Symbian S60 yang lebih banyak di pasar daripada sistem operasi Blackberry, sehingga memudahkan penambahan aplikasi. Koneksi E71 juga lebih lengkap dengan tambahan inframerah. Baterainya juga bertahan lebih lama. Apalagi, jika hanya digunakan untuk mendengarkan musik, bisa sampai 16 jam nonstop.

Fitur Utama:
Jaringan : GSM 850/900/1800/1900 dan HSDPA (3,6 mbps)
Prosesor : 369 MHz ARM 11
Sistem Operasi: Symbian 9.2, UI Series 60 v3.1
Memori :128 RAM, 110 MB memori internal, slot TransFlash

Dimensi/berat: 114x57x10 mm/127 gram
Layar : 2,36 inci
Koneksi : WiFi, Bluetooth, mini-USB, infrared
Waktu bicara/siaga: sampai 10,5 jam/ 17 hari
Harga : Rp 4,5 jutaan

Kelebihan:
- Tombol ketik QWERTY nyaman dipakai
- Paling tipis untuk ponsel bisnis
- Baterainya tahan lama

Kekurangan:
- Kualitas kamera 3,15 MP tak begitu bagus dan tidak ada tombol khusus kamera
- Layarnya lebih kecil dibandingkan dengan seri E pendahulunya

Era Baru Perang Browser

Gatra No 46 / XIV 1 Okt 2008

Kehadiran Google Chrome yang membawa beberapa terobosan teknologi yang sanggup mengusik pasar browser internet. Mozilla Firefox dan Microsoft Internet Explorer meresponsnya dengan merilis versi teranyar.

Apa jadinya kalau komputer yang kita miliki tak dilengkapi dengan aplikasi browser internet? ''Alamak, tak ada guna tuh komputer,'' begitu yang barangkali jadi jawaban mayoritas pengguna komputer. Browser internet, bagi mereka, adalah program terpenting, mengalahkan program pengetikan dan aplikasi perkantoran lainnya. Apalagi, pada saat ini, teknologi internet sudah masuk generasi kedua (web 2.0), yang bisa secara simultan menampilkan e-mail, video, musik, hingga aplikasi pengetikan.

Meski dianggap penting, selama hampir satu dasawarsa, pengguna komputer hanya punya pilihan tunggal Microsoft Internet Explorer (IE). Aplikasi itu masuk dalam paket sistem operasi Windows. Memang ada browser Safari yang lebih bagus dari IE. Tapi, seperti halnya IE, Safari termasuk program berlisensi (proprietary) dan hanya bisa dipakai pemilik komputer bersistem operasi Apple Macintosh.

Namun puasa panjang itu berakhir empat tahun lalu. Yakni lewat kehadiran Firefox. Browser buatan Mozilla ini gratis diunduh siapa pun karena menganut konsep open source. Firefox langsung merebut hati para pengguna komputer. Hingga kuartal pertama 2008, pengguna Firefox mencapai 125 juta di seluruh dunia. Meski masih kalah jauh dari pengguna IE (lihat tabel: Pangsa Pasar Lima Besar Browser Internet), pertumbuhan Firefox (kini sudah versi 3) paling cepat, terutama di Eropa dan Asia.

Pilihan browser internet pun bertambah, 3 September lalu. Kali ini, yang masuk daftar pengusik IE adalah Google Chrome. Browser buatan raja mesin pencari dan iklan online ini mengulang sukses rilis perdana Firefox. Berdasarkan data StatCounter, sehari setelah rilis, jumlah pemakai Chrome mencapai 1,1% dari 450 juta peselancar internet pada hari itu.

Chrome yang dikembangkan sejak dua tahun lalu memang punya beberapa terobosan teknologi dibandingkan dengan Firefox 3.0 dan IE 7. Chrome versi beta ini menggabungkan address bar dengan search bar. Hanya ada satu bar bernama Omnibar yang bisa berperan ganda sebagai tempat penulisan alamat situs sekaligus mesin pencari.

Omnibar browser open source ini juga cerdas sehingga bisa membedakan kata yang diketikkan pengguna mengacu ke alamat situs atau hanya sebagai kata kunci pencarian. Lalu ada fitur Incognito, yang memberi keleluasaan untuk berselancar tanpa terekam jejaknya. Ketika kita menutup browser Chrome, alamat IP (internet protocol) dan cookies dari situs-situs yang kita kunjungi tak akan direkam memori komputer.

Tapi, harap diingat, dengan fitur ini, bukan berarti identitas peselancar tak dikenali situs-situs yang dikunjungi. Alamat IP dan cookies peselancar yang muncul pada saat membuka suatu situs bisa saja tetap terekam di data situs bersangkutan. Sebelumnya, fitur serupa Incognito tersedia di Safari 3, dengan nama Private Browsing.

Terobosan lain adalah dari sisi kesederhanaan tampilan dan kecepatan. Seperti induknya, tampilan antar-muka (user interface) Chrome sederhana sehingga menimbulkan kesan lapang. Tak ada deretan bar yang biasa tampil di browser lain. Malah bar yang berisi menu pun absen.

Sebagai gantinya, Chrome memaksimalkan fungsi tab (yang terletak di sisi paling atas, bukan di bawah address bar seperti browser lain). Halaman tab baru berisi aneka informasi, seperti situs yang paling sering dikunjungi, tab yang baru ditutup, alamat situs yang baru di-bookmark, search engine yang sering dipakai, hingga daftar bookmark. Ketika pengunduhan suatu file, Chrome tak menampilkan jendela baru. Status pengunduhan terlihat di jendela yang sama bagian bawah.

Kecepatan Chrome menjelajah internet juga paling bagus. Pada saat membuka belasan tab dalam satu jendela, semua tab bisa terbuka dengan lancar dan stabil. Bahkan untuk situs yang ''berat'' karena memasang file video atau streaming radio.

Tak sekadar cepat, fitur tab Chrome berjalan dengan sistem blok kode (sandbox) terpisah. Jadi, bila satu tab yang kita buka ternyata hang atau freeze, tab-tab lain tetap akan berjalan normal. Pemisahan ini belum dipakai di IE 7, Firefox 3, dan Safari 3, sehingga bila satu tab hang, seluruh jendela browser ikut hang.

Bagi pemain lama di pasar browser, kehadiran Chrome dengan segala fitur uniknya akan memperketat kompetisi. Namun, menurut CEO Mozilla Corp, John Lilly, Chrome bukan ancaman bagi Firefox. Sebab Google masih terlibat dalam pendanaan Mozilla sampai November 2011. Di sisi lain, Firefox versi terbaru juga makin bagus. Misalnya, Firefox 3.1 yang akan keluar pada tahun ini juga sudah dilengkapi dengan mode privasi seperti di Incognito. ''Jadi, kehadiran Chrome adalah sinyal kompetisi untuk Microsoft IE,'' katanya.

Sang penguasa pasar Microsoft memang tak tinggal diam. Kini mereka menyediakan IE 8 versi beta yang punya beberapa fitur Chrome, seperti pemisahan sandbox dan mode privacy. Walau relatif lebih baik dari IE 7 yang dirilis pada 2006, IE 8 masih lebih lelet dan makan memori lebih banyak dari Firefox. Apalagi bila dibandingkan dengan Chrome.

Untunglah, skema bisnis bundling dengan sistem operasi Windows membuat IE sulit tergeser dari posisi puncak. Hal ini membuat para kompetitor yang sudah unggul dari sisi kualitas produk harus mempergencar kampanye dan edukasinya ke publik untuk mengejar IE.
Astari Yanuarti




Pangsa Pasar Lima Besar Browser Internet
Internet Explorer 72,2%
Firefox 19,7%
Safari 6,4%
Opera 0,74%
Netscape 0,72%

Sumber: Net Applications Inc




Topeng Penjaga Rahasia Peselancar

Isu privasi kembali mengemuka seiring dengan peluncuran Chrome. Para pemerhati keamanan internet di Eropa mempertanyakan kemungkinan penyalahgunaan data untuk kepentingan bisnis Google. ''Kekhawatiran kami adalah kemampuan Google Chrome menyimpan setiap alamat web yang dikunjungi peselancar internet,'' kata Peter Schaar, anggota Komisi Perlindungan Data Jerman.

Schaar curiga, Google akan menggunakan data itu untuk mendukung bisnis iklan online-nya. Jejak yang ditinggalkan para peselancar dunia maya memang bisa menggambarkan kepribadian, aktivitas, hingga orientasi seksual mereka. ''Karena internet adalah kehidupan kedua yang mencerminkan profil seseorang,'' ujar Schaar.

Berbeda dengan di Amerika Serikat, Uni Eropa menerapkan aturan yang menyatakan bahwa alamat IP (internet protocol) adalah hal personal. Sehingga data ini harus dihapus dari server para ISP dalam kurun waktu tertentu dan tak boleh disalahgunakan untuk kepentingan apa pun.

Google Chrome dari awal diset untuk mengumpulkan 2% dari seluruh kata kunci yang diketikkan di Omnibox. Data ini dikumpulkan dari setiap pengguna komputer yang terpilih secara acak setiap hari. Secara teknologi, Google bisa menyimpan data ini selamanya demi kemudahan pengguna internet ketika melakukan pencarian informasi.

Menurut penasihat senior Google bidang privasi, Jane Horvard, pihaknya memahami kecurigaan kalangan pelindung keamanan data internet di Eropa itu. Karena itu, Google akan memasang ''topeng'' pada setiap pengguna Chrome setelah sembilan bulan. ''Alamat IP dan cookies --kode berupa serangkaian nomor yang bisa digunakan untuk melacak jejak pengguna internet-- akan kami anonimkan, sehingga menutup jalan pelacakan jejak tiap individu,'' kata Horvard, seperti dikutip Washington Post.

Namun penegasan Google itu tak berhasil menyakinkan para pengkritiknya. Alissa Cooper, kepala ilmuwan komputer di Center for Democracy and Technology, meragukan keseriusan Google melindungi data para pengguna Chrome. Apalagi, Google belum bisa menyebutkan pola anonim seperti apa yang akan dipakai. ''Bagaimana bila yang mereka lakukan hanya menghapus sebagian alamat IP, sehingga tetap ada celah untuk melihat rekam jejak individu,'' kata Cooper dengan nada skeptis.

Astari Yanuarti

Senin, Agustus 11, 2008

Kredit Ponsel Pemberdaya Perempuan

GATRA NO 39 / XIV 13 Agu 2008

Grameen Foundation, Bakrie Telecom, dan Wireless Reach Qualcomm berkolaborasi membuat Program Telepon Pedesaan yang menyasar wirausaha perempuan. Perpaduan skema kredit mikro dan harga pulsa murah menjadi terobosan untuk mengentaskan kemiskinan.

Kios kelontong milik Halimah bertambah ramai sejak dua bulan terakhir. Para pengunjung toko mungil ini masih tetangga sekitar rumah yang terletak di Kampung Neglasari, Bogor, Jawa Barat. Mereka datang bukan sekadar berbelanja, melainkan juga menelepon atau meminjam telepon Halimah.

Walau hanya punya satu unit telepon seluler (ponsel) CDMA, usaha warung telepon Halimah diminati para tetangga. Sebab, selain tarifnya murah, pelanggan juga bisa membawa ponsel ke rumah jika ingin berbincang lebih pribadi.

Menurut Halimah, setiap bulan ia mendapat keuntungan 20% dari usaha rental ponsel Uber Esia-nya. Pendapatan tambahan itu dipakai untuk biaya sekolah anak semata wayangnya. ''Saya ingin melihat anak saya lulus sekolah,'' kata Halimah sembari tersenyum.

Halimah tak sendirian mengecap keuntungan dari bisnis ponsel Uber Esia. Ada 200 perempuan pengusaha mikro lainnya di Bogor dan Tangerang yang menjadikan Uber Esia sebagai bisnis penunjang. Bisnis utama mereka beragam, dari pembuat sandal hingga penjual bebek.

Meski tinggal berbeda kampung, mereka punya satu kesamaan, yaitu peserta proyek percontohan Program Telepon Pedesaan (PTP). Program kolaborasi antara Grameen Foundation, Bakrie Telecom, dan Wireless Reach Qualcomm ini diresmikan di sela-sela acara Asia-Pacific Regional Microcredit Summit 2008, yang berlangsung di Nusa Dua, Bali, Selasa pekan lalu.

Kerja sama tiga perusahaan besar itu menarik perhatian, sekaligus mengundang pertanyaan. Konsep seperti apa yang dipakai dalam PTP? Mengingat program serupa pernah diusung operator-operator telepon lain lewat program telepon pedesaan USO (universal service obligation).

Jika dilihat dari nama-nama besar institusi pendukung, semestinya PTP menawarkan skema berbeda dari USO, yang hanya dikerjakan tunggal oleh operator telepon. Terlebih, PTP melibatkan Grameen Foundation, yayasan yang berpusat di Amerika Serikat yang bergerak di pembiayaan usaha mikro. Serta menggandeng Qualcomm, penyedia jaringan nirkabel berbasis CDMA terbesar di dunia, yang punya program tanggung jawab sosial global Wireless Reach.

Menurut Presiden Qualcomm Southeast Asia-Pasific, John Stefanac, konsep inti PTP mereka sederhana tapi efektif. Pengusaha di kampung-kampung yang belum terjamah telepon akan mendapat pinjaman dari lembaga keuangan mikro (Micro Finance Institution --MFI).

Pinjaman itu digunakan untuk membeli perangkat ponsel Uber Esia, yang terdiri dari satu ponsel 3G CDMA dan charger, materi pemasaran, poster harga, kartu nama, dan materi pelatihan. ''Ponsel ini bisa dipakai untuk bisnis kreatif yang menunjang bisnis utama serta bisa disewakan ke teman dan tetangga,'' kata Stefanac.

Dengan kata lain, pengusaha PTP bisa menjadi operator mini yang punya pelanggan lima orang hingga 50 orang. Para operator mini itu bisa punya penghasilan memadai untuk membayar cicilan kredit ke MFI dan menabung untuk pendidikan dan kesehatan keluarga.

Operator untung karena ada pertambahan pelanggan baru. MFI bisa terus tumbuh karena kliennya lancar mengembalikan pinjaman. ''Yang terpenting, makin banyak masyarakat pedesaan tertinggal yang bisa menikmati layanan telekomunikasi berteknologi tinggi dengan harga terjangkau,'' ujar Stefanac.

Seberapa terjangkau harga layanan PTP itu? Paket Uber Esia lengkap dibanderol Rp 300.000, termasuk pulsa Rp 50.000. Selain itu, biaya teleponnya lebih murah dari telepon tetap kabel dan bisa mengisi ulang dengan eceran Rp 1.000. Pengusaha PTP juga mendapat margin dari pengenaan tarif lebih rendah dari harga layanan umum.

Terkait dengan skema kredit MFI, program Uber Esia ini mematok cicilan Rp 7.200 tiap pekan selama setahun. Untuk tahap awal, Grameen Foundation melibatkan MFI, yaitu Mitra Bisnis Keluarga --ventura yang sudah melayani lebih dari 80.000 peminjam di Jawa Barat dan Banten.

Berdasarkan data di lapangan, kaum perempuan lebih terpercaya sebagai peminjam karena mampu mengembalikan kredit tepat waktu. Berkat kredibilitas ini, tak mengherankan jika ibu rumah tangga menjadi sasaran utama PTP. ''Ini juga sesuai dengan filosofi pendiri Grameen Bank, Muhammad Yunus, yang ingin memberdayagunakan perempuan di pedesaan,'' ungkap Presiden Direktur Bakrie Telecom, Anindya Bakrie.

Menurut Muhammad Yunus, pemilihan perempuan sebagai sasaran utama PTP bukan hanya dapat mengurangi kesenjangan ekonomi dan kesenjangan digital, melainkan juga mengurangi kesenjangan sosial di Indonesia. Sebab pemberdayaan perempuan melalui PTP akan meningkatkan kepercayaan diri dan tanggung jawab kelompok sosial ini.

Mereka yang tadinya tersisih dari dunia luar kini bisa terhubung karena punya ponsel. Kondisi ini tentu menciptakan peluang-peluang bisnis baru. Ujungnya, kaum perempuan bisa melepas jerat kemiskinan yang melingkupi keluarganya. ''Jadi, yang harus diberikan kepada mereka adalah kesempatan,'' ujar Yunus, yang memenangkan Nobel Perdamaian tahun 2006 berkat prestasi Grameen Bank memberdayakan kaum miskin lewat kredit mikro.

Astari Yanuarti

Telepon untuk Semua

Program Telepon Pedesaan ala Uber Esia dari Bakrie Telecom, Grameen Foundation, dan Qualcomm memang yang pertama di Indonesia. Namun, bila ditinjau dari skema yang dipakai, program serupa telah dilakukan di beberapa negara di bawah payung Village Phone Program milik Grameen Foundation.

Secara berturut-turut sejak tahun 2003 hingga 2007, Uganda, Rwanda, Filipina, Haiti, dan Kamboja menerapkan Village Phone Program. Kini jumlah operator Village Phone Program di semua negara itu mencapai 12.000. Penduduk desa yang bisa terlayani telepon mencapai 1 juta jiwa.

Sebelumnya, Village Phone Program lebih dulu menuai sukses di Bangladesh, negeri asal Grameen Bank. Program ini diusung Grameen Telecom --anak usaha Grameen Bank-- dengan menggandeng operator telepon seluler terbesar di Bangladesh, Grameenphone.

Setiap peserta Village Phone Program mendapat pinjaman mikro senilai US$ 200 dari Grameen Bank. Uang ini dipakai untuk mendapatkan layanan telepon GSM prabayar dari Grameenphone. Mereka lalu diberi pelatihan bagaimana menggunakan ponsel tersebut. Juga tata cara menjadikan ponsel sebagai warung telepon umum untuk mendapat profit.

Program yang bertujuan mengikis kemiskinan di pedesaan itu sangat diminati publik Bangladesh. Sebab terbukti mampu meningkatkan penghasilan mereka. Pada saat ini, ada sekitar 300.000 operator Village Phone Program yang tersebar di 55.000 desa. Pendapatan para operator mini ini lebih besar dari rata-rata pendapatan nasional penduduk Bangladesh.

Di Indonesia, program Uber Esia ditargetkan bisa merengkuh 1.000 operator telepon desa sampai akhir tahun ini. Dengan asumsi, setiap operator bisa melayani 100 keluarga, yang terdiri dari lima anggota. Maka, jumlah penduduk desa terpencil yang bisa menikmati layanan telekomunikasi mencapai 500.000 jiwa.

Hanya saja, Bakrie Telecom belum berani memasang angka pertambahan pendapatan yang bisa diraih tiap keluarga dengan Uber Esia. Namun tak ada salahnya bersikap optimistis. Sebab, di Uganda, pendapatan operator Village Phone Program terdongkrak hingga tiga kali lipat dari pendapatan rata-rata nasional.

Astari Yanuarti

Jumat, April 18, 2008

Menembus Stockholm Berbekal Ketulusan

GATRA 22 / XIV 16 Apr 2008

Perempuan Asia pertama di posisi manajemen kantor pusat Ericsson, Swedia. Ketulusan, kreativitas, dan semangat memberikan yang terbaik menjadi kunci sukses karier Dewi Widiyanti.

Hanya sepekan. Sesingkat itulah waktu yang dimiliki Dewi Widiyanti untuk berkemas pindah dari Jakarta ke Stockholm, Swedia. Di ibu kota salah satu negara Skandinavia itu, akhir pekan ini, Dewi harus menetap selama tiga tahun. Selain repot memilah dan mengirim barang, ia pun sibuk mencari penyewa apartemennya di kawasan Brawijaya, Jakarta Selatan.

Lima tahun belakangan ini, Dewi tinggal di apartemen seluas 100 meter persegi itu. Memang banyak penawaran yang masuk berkat iklan yang disebarkan melalui e-mail dan Facebook. ''Tapi belum ketemu yang cocok,'' kata Dewi, yang ingin apartemen kesayangannya itu dihuni orang dia kenal.

Di sela urusan berkemas, pehobi fotografi ini juga menjalani tugas sebagai Vice President Communications Business Unit Multimedia Ericsson Global, yang diemban awal Maret lalu. Jabatan gres itu mengharuskan anak kelima dari enam bersaudara ini pindah ke Stockholm, kantor pusat Ericsson.

Berkat kemajuan teknologi, Dewi bisa memantau kerja sembilan anak buahnya dari Stockholm, yang berjarak 10.500 kilometer dari Jakarta. ''Beberapa hari lalu, saya mengadakan conference call selama enam jam. Mereka sedang ada workshop, dan saya harus melakukan presentasi,'' tutur Dewi.

Ia bersyukur tak menghadapi masalah selama sebulan memimpin tim kerja yang anggotanya dari berbagai bangsa. Fakta bahwa Dewi adalah satu-satunya perempuan Indonesia, bahkan Asia, yang pertama berada di jajaran manajemen Ericsson pusat tak menjadi kendala. ''Alhamdulillah, mereka tak melihat kulitku, bahasa, ataupun gender,'' kata perempuan Jawa yang numpang lahir di Bandung, 35 tahun silam, ini.

Sebulan terakhir ini menjadi masa transisi Dewi. Dua pekan pertama bulan Maret ia habiskan di Stockholm. Setelah diperkenalkan pada anggota tim komunikasi dan seluruh unit bisnis multimedia, ia melakukan berbagai rapat. Karena belum resmi pindah, Dewi mendapat waktu dua pekan untuk kembali ke Tanah Air, menuntaskan perkerjaan yang tersisa.

Perbedaan kultur yang dihadapi Dewi pada saat ini memang lebih besar dibandingkan dengan selama berkarier di Ericsson Indonesia. Jumlah karyawan Ericsson di Indonesia hanya ratusan orang dan hampir semuanya orang lokal. Sedangkan karyawan Ericsson di kantor pusat mencapai 6.000 orang. Total karyawan Ericsson di 140 negara ada 74.000 orang.

Tantangan lain muncul dari besarnya tanggung jawab. Kini Dewi mengepalai tim komunikasi unit bisnis terbaru perusahaan telekomunikasi berusia 132 tahun itu. Unit bisnis multimedia ini yang terbentuk pada awal tahun lalu. Unit ini melengkapi dua unit bisnis lain yang jauh lebih tua: jaringan dan layanan global. Tiga unit bisnis itu menjadi pilar utama Ericsson untuk mempertahankan posisinya sebagai raja penyedia jaringan telekomunikasi dunia.

CEO Ericsson Carl-Henric Svanberg mengungkapkan, pasar multimedia yang memadukan TV, musik, gaming, video, dan radio lewat jaringan telepon tetap maupun seluler terus mekar. Nilai bisnisnya bakal melesat dari 20 milyar euro pada 2005 menjadi 100 milyar euro tahun 2011. Karena itulah, Ericsson perlu membentuk unit bisnis tersendiri yang khusus menangani multimedia. Unit ini mengurusi beragam hal, mulai manajemen konten dan aplikasi, keahlian teknis, hingga membina hubungan kuat dengan penyedia konten (content provider --CP) dan operator.

Sebagai VP komunikasi di unit bisnis strategis, tugas Dewi tergolong berat. Ia harus mengoordinasikan dan memantau perkembangan multimedia di setiap negara. Kecepatan mengambil keputusan juga menjadi keharusan. Pun masih harus menjalin komunikasi dengan CP, operator, hingga media massa. ''Saya yakin bisa menjalaninya, karena saya punya tim kerja profesional,'' tutur Dewi.

Keyakinannya itu bukan tanpa dasar. Pengalaman berkarier selama sembilan tahun di perusahaan multinasional yang beroperasi di Indonesia sejak 101 tahun silam itu adalah modal kuat. Prestasi Dewi, yang memulai langkah di Ericsson Indonesia sebagai manajer komunikasi, terus melesat. Malah, kursi direktur bisa didudukinya hanya dalam waktu delapan tahun.

Persona Dewi yang ramah, hangat, supel, tulus, sekaligus cerdas memegang peran penting. Semua karakter itu adalah modal utama bagi seorang praktisi komunikasi dan pemasaran. Bekal ini pula yang membuat Dewi disukai mitra kerjanya. Baik itu rekan sekantornya, mitra dari kalangan operator telepon, pemerintah, hingga para jurnalis.

Pengakuan mereka atas persona Dewi sering disampaikan dalam berbagai acara dan pertemuan. Sebagian lagi tertumpah lewat halaman Friendster dan Facebook Dewi. Mantan penyiar radio KIS FM, Jakarta, ini selalu menyapa mitra kerjanya dengan kehangatan seorang teman. Tak mengherankan, Dewi tergolong populer. Ratusan temannya tersebar tak hanya di Indonesia, melainkan juga di belasan negara lain.

Dewi punya prinsip: tak boleh memandang rendah orang lain, serta bersikap tulus tanpa pamrih ketika berhubungan dengan orang lain. ''Pengalamanku, selama kita bersikap tulus, maka yang mau berbuat jahat pun tak akan tega,'' kata lajang yang punya nama udara Janet Jade itu.

Meski kariernya terus menanjak, Dewi mengaku tak pernah menetapkan target mencapai posisi tertentu dalam berkarier. Juga tak pernah bernegosiasi soal gaji. Prinsip kerjanya adalah totalitas. Di posisi mana pun, ia akan berusaha menyelesaikan tugas sebaik mungkin. Malah, kalau bisa, melebihi target yang dicanangkan perusahaan.

''Kalau kita mengerjakan apa yang ada di depan mata, dan menambahkan dengan sebaik-baiknya, maka opportunity itu hadir begitu saja,'' papar perempuan yang mengikuti belasan training kehumasan dan pemasaran di pelbagai negara itu. Resep ini terdengar sederhana, tapi ternyata manjur. Peluang selalu datang pada saat Dewi berhasil menyelesaikan tugas dengan baik.

Yang paling gres, peluang mendapat promosi ke kantor pusat muncul setelah Dewi bersama timnya sukses menyelenggarakan acara 100 tahun kehadiran Ericsson di Indonesia, Mei tahun lalu. Ketika itu, Ericsson menggelar pameran dan seminar ''E-Volve to the Next Level''. Acara yang digawangi divisi pemasaran dan komunikasi pimpinan Dewi itu bertujuan menumbuhkan industri konten dan multimedia dalam negeri. Juga berupaya menjembatani bisnis 16 perusahaan penyedia konten kenamaan di Indonesia dan Swedia.

Acara yang dikemas dengan kreatif itu tak hanya memperkuat citra Ericsson, juga mendukung bisnis Ericsson sebagai penguasa pasar vendor jaringan telekomunikasi di Indonesia. Jaringan Ericsson, baik GSM, 3G, maupun CDMA 2000-1X, digunakan oleh hampir semua operator telepon Indonesia, mulai PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom), Indosat, XL, Telkomsel, hingga Hutchison.

Selain itu, Dewi bersama seluruh rekan di Ericsson Indonesia berhasil menguatkan posisi perusahaan. Indonesia masuk posisi kedua di Asia Pasifik sebagai negara terbesar penyumbang pendapatan pada Ericsson. Tahun lalu, sumbangan Ericsson Indonesia sekitar US$ 1 milyar atau 3% dari total pendapatan Ericsson sebesar US$ 30 milyar. Dengan prestasi ini, Svanberg pun menyempatkan berkunjung ke Jakarta, November silam.

Semua itu, kata Dewi, adalah prestasi bersama. Namun tak bisa dimungkiri, Dewi punya andil besar. Faktanya, dia mendapat promosi ke kantor pusat setelah melewati seleksi ketat selama beberapa bulan. ''Tapi jumlah wawancaranya lebih sedikit dibandingkan saat masuk ke Ericsson dulu yang sampai sembilan kali. Itu rekor,'' ujar Dewi sembari terkekeh.

Astari Yanuarti



Pendidikan:
- Sarjana ilmu komunikasi dari Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jakarta
- Diploma public relations dari London School of Public Relations

Karier:
- 1992-2002, penyiar radio KIS FM
- 1995-1996, marketing executive Indo Multimedia
- 1996-1997, Assistant Public Relations Manager Hotel Hilton Jakarta
- 1997-1999, Public Relations Manager Hotel Hilton Jakarta
- 1999-2001, Communications Manager Ericsson Indonesia
- 2001-2003, Senior Communications Manager Ericsson Indonesia
- 2003-2005, General Manager Communications Department Ericsson Indonesia
- 2005-2006, Vice President Communications Divisions Ericsson Indonesia
- 2006-2008, Vice President Marketing & Communications Divisions Ericsson Indonesia
- 2007-2008, Director Ericsson Indonesia
- 2008-sekarang, VP Communications Business Unit Multimedia Ericsson Headquarter, Swedia

Sabtu, April 05, 2008

Terseok di Negeri Sendiri

8 / XIV 9 Jan 2008

Nyaris 99% belanja modal telekomunikasi Indonesia lari ke luar negeri. Sederet upaya dan aturan pendukung dari pemerintah belum bergigi. Terhadang masalah internal industri manufaktur telekomunikasi lokal.

Jerih payah 35 insinyur dari berbagai perguruan tinggi top di Indonesia selama beberapa bulan ini tak sia-sia. Peranti WIMAX (worldwide interoperability for microwave access) ciptaan mereka kini siap meluncur. ''Dalam waktu dekat, kami akan merilis peranti technology research globe (TRG) versi beta siap pakai,'' kata Sakti Wahyu Trenggono, Presiden Direktur PT Solusindo Kreasi Pratama.

Menurut Sakti, mereka sudah menyiapkan 100 site TRG versi beta yang akan diuji coba langsung oleh para operator telekomunikasi alias telko dari Indonesia. Ia yakin, produk buatan anak negeri itu sanggup bersaing dengan produk WIMAX buatan asing. Tak hanya dari sisi kualitas, melainkan juga harga dan layanan purnajual.

PT Solusindo Kreasi Pratama mengembangkan TRG melalui unit riset dan pengembangan dengan pendanaan internal sebesar Rp 5 milyar. Mereka merekrut insinyur lulusan terbaik dari Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, dan Institut Teknologi 10 November. Para insinyur inilah yang membuat semua desain dan software TRG.

Namun Sakti mengakui, belum semua komponen pendukung bisa dibuat di Indonesia. Desain chipset mereka harus dibuat di Kanada. Desain printed circuit board (PCB) juga masih harus dibuat di Taiwan. Sebab di Indonesia belum ada perusahaan yang bisa membuat PCB enam lapis sesuai dengan desain TRG. Komponen lain sudah bisa diproduksi di Batam. ''Tapi kunci utama dalam pengembangan peranti WIMAX ada di desain dan software, dan itu sudah karya kita sendiri,'' Sakti menjelaskan.

Sebelumnya, TRG versi alfa juga didemokan di Vietnam dan Malaysia. Dan mendapat sambutan baik dari beberapa operator setempat. Respons positif ini dan hasil uji coba versi beta akan menjadi modal mereka ikut tender WIMAX yang bakal digelar pemerintah.

Tender ini rencananya dibuka pada akhir tahun 2006. Lalu mundur menjadi Maret silam. Namun, pada saat itu, perusahaan lokal yang siap baru satu, yaitu Harif, perusahaan teknologi informasi dari Bandung. Karena itu, pemerintah memilih menunda sampai paling cepat awal tahun 2008. ''Karena tak mungkin mengadakan tender dengan satu atau dua peserta,'' kata Gatot S. Dewa Broto, Kepala Bagian Umum dan Humas Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi (Postel), Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo).

Pentingnya pemenuhan komponen lokal dalam tender WIMAX sudah lama digaungkan oleh Dirjen Postel, Basuki Yusuf Iskandar. Menurut Basuki, pihaknya ingin mengurangi ketergantungan pada produk telko asing. Sekaligus bisa menghidupkan kembali industri manufaktur telko lokal yang masih sekarat. ''Karena itu, kami menerapkan kebijakan kandungan lokal pada pembangunan infrastruktur telko,'' kata Basuki.

Ditjen Postel sudah memulainya pada saat tender 3G, Oktober 2006. Semua pemenang wajib menggunakan 30% belanja modal dan 50% belanja operasi dari komponen lokal. Target ini harus dipenuhi secara bertahap selama lima tahun. Namun, harus diingat, pengadaan tanah, pembangunan gedung, penyewaan gedung, pemeliharaan gedung/bangunan, dan gaji pegawai tak bisa dihitung sebagai komponen lokal.

Selain itu, pihaknya juga memberikan pembiayaan R&D pada berbagai lembaga penelitian untuk mengembangkan produk telko lokal. Pada dasarnya, beberapa jenis peranti telko, seperti pesawat telepon, perangkat telepon umum, perangkat wartel radio, receivier, dan antena parabola, sudah bisa dibuat oleh industri lokal.

Kebijakan kewajiban penggunaan komponen lokal hingga 30% pun akan diterapkan pada tender WIMAX yang menggunakan peranti berfrekuensi 2.3 GHz. Juga tender telepon pedesaan (universal service obligation), yang mensyaratkan 35% komponen lokal.

Meski sudah banyak upaya dari pemerintah, wajah industri manufaktur telko Indonesia masih mengenaskan. Berdasarkan catatan Ditjen Postel, industri manufaktur telko dalam negeri hanya menyerap 3% dari belanja modal tahunan operator Indonesia.

Belanja modal operator telko tahun ini mencapai Rp 44 trilyun. Ini berarti hanya sekitar Rp 1,32 trilyun yang mengalir ke dalam negeri. Sisanya menguap ke luar negeri. Jika dipilah lebih detail lagi, hanya sekitar 1,5% (Rp 660 milyar) yang benar-benar merupakan produk lokal. Setengah lagi sisanya, meski dibelanjakan di dalam negeri, ternyata bukan asli buatan lokal. Malah produk CPE (customer premise equipment) nyaris seluruhnya dikuasai produk impor.

Ada sedikit data berbeda dari Direktur Industri Telematika, Departemen Perindustrian, Ramon Bangun. Ia menyebutkan, hanya 1% capex (belanja modal) operator yang mengalir ke industri lokal. Padahal, menurut catatannya, belanja modal operator mencapai Rp 100 trilyun per tahun. ''Sedangkan kemampuan penyerapan industri telekomunikasi lokal sudah mencapai 20% dari capex para operator,'' kata Ramon.

Masalahnya, pemerintah memang hanya bisa membuat kewajiban penggunaan komponen lokal untuk proyek yang menggunakan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Sedangkan mayoritas operator kita sudah dikuasai asing, sehingga sumber belanja modal mereka bukan dari APBN.

Penguasaan asing ini membuat proyek pembangunan jaringan telko cenderung berbentuk paket. Vendor jaringan yang juga semuanya asing akan membawa semua komponen radio mereka ke Indonesia. Sehingga nyaris tak ada penyerapan komponen lokal di Indonesia.

Masalah ini masih diperberat dengan beberapa halangan internal dalam industri telko lokal. Menurut Wakil Ketua Komite Tetap Telekomunikasi Kadin Indonesia, Teguh Anantawikrama, kerja sama antar-perusahaan komponen telko lokal masih sangat kurang. Padahal, jika mereka mau bersatu, bisa membentuk satu rangkaian produksi yang dapat memenuhi target Ditjen Postel. ''Jadi, kalau mereka mau bergabung, tak hanya Harif yang muncul sebagai satu-satunya perusahaan yang siap untuk WIMAX,'' ujarnya.

Selain itu, perkembangan perusahaan-perusahaan ini juga sulit dipantau. Kadin dan Departemen Perindustrian sering tak bisa mendapat data berapa volume perdagangan dan rencana bisnis tiap perusahaan, karena mereka memang tak bersedia memberikannya. Alhasil, hingga kini, data akurat berapa volume perdagangan bisnis ini belum bisa dibuat.

Toh, Teguh menegaskan, masih ada peluang bagi industri telko lokal. Salah satu yang harus dilakukan adalah mencari sisi mana yang bisa dikembangkan menjadi produk jagoan. Pemilihan ini perlu, karena tak mungkin industri telko Indonesia bisa bersaing di semua sisi dengan industri asing yang sudah terlalu kuat.

Ia mengusulkan penekanan pada desain dan software. Sebab fokus pada dua hal inilah yang masih punya peluang bersaing dengan asing. ''Kalau peranti keras yang butuh R&D lebih matang, kita akan selalu tertinggal dari negara-negara yang punya R&D kuat,'' ujar Teguh.

Sedangkan Sakti menyebutkan perlunya proteksi di sektor telko untuk melindungi industri lokal. Kalau perlu, beberapa sektor, seperti industri pembuatan menara pemancar, masuk daftar negatif investasi. Sebab kesiapan industri lokal sudah kuat, tapi bisa ambruk jika diserbu modal asing. ''Dalam beberapa aspek lain, pemerintah bisa mewajibkan vendor jaringan asing menggandeng pabrikan lokal, sehingga tetap ada nilai tambah,'' ia menyarankan.

Astari Yanuarti

Duet Microsoft-Yahoo! Menghadang Google

13 / XIV 13 Peb 2008

Raksasa peranti lunak Microsoft mengajukan penawaran akuisisi Yahoo! senilai US$ 44,6 milyar. Kolaborasi mereka diharapkan sanggup mengikis kue pasar Google, sang raja iklan online dan mesin pencari. Masih harus menunggu lampu hijau Komisi Anti-Monopoli Amerika.

Sepucuk surat terbuka mengguncang jagat bisnis teknologi informasi di Silicon Valley, California, Amerika Serikat, Jumat pagi pekan lalu. Bukan hanya karena pengirim dan penerima surat sama-sama beken, melainkan juga isi suratnya mengagetkan.

Pembukaan surat yang dikirim Chief of Executive Officer (CEO) Microsoft, Steve A. Ballmer, itu mungkin terlihat sangat biasa. ''Salam untuk seluruh anggota dewan direksi,'' tulis Ballmer. Tapi simaklah dua kalimat berikutnya. ''Saya mewakili Dewan Direksi Microsoft mengajukan proposal bisnis kolaborasi Microsoft dan Yahoo!. Microsoft ingin mengakuisisi semua saham Yahoo! seharga US$ 31 (Rp 285.000) per lembar atau setara dengan 0,95 harga saham Microsoft pada saat penutupan pasar 31 Januari 2007.''

Isi surat ke Dewan Direksi Yahoo! itu jelas tidak main-main. Microsoft menawarkan harga premium, 62% di atas harga saham Yahoo! Ketika penutupan pada hari yang sama, yaitu US$ 19,18 (Rp 176.000) per lembar. Total nilai akuisisi itu mencapai US$ 44,6 milyar (Rp 410 trilyun).

Sebuah angka fantastis di tengah bayang-bayang resesi perekonomian Amerika Serikat. Tak mengherankan, para analis pasar di Amerika menjuluki surat Microsoft itu sebagai bear-hug letter (bear-hug berarti pelukan sangat erat sehingga bisa menyakitkan). Harian New York Times menulis, surat jenis ini termasuk seni menawar dengan menunjukkan betapa tak amannya posisi perusahaan yang menjadi target.

Surat Microsoft itu memang berisi kalimat santun yang tersebar hampir di seluruh paragraf sebagai gambaran kehangatan pelukan (hug). Tapi kalimat peringatan agar hati-hati atas kehadiran beruang (bear) tak lupa mereka cantumkan pada alinea penutup. ''Tergantung respons Anda, Microsoft tetap berhak melakukan semua langkah yang diperlukan agar semua pemegang saham Yahoo! menyadari betapa berharganya proposal kami,'' tulis Ballmer.

Ancaman halus itu terkait dengan kebijakan hak pemegang saham Yahoo! yang dikenal dengan istilah pil beracun. Kebijakan ini menyatakan, setiap pembelian saham di atas 15% harus mendapat persetujuan Dewan Direksi Yahoo!. Jika mereka tak menyetujui proposal itu, Microsoft bisa saja menempuh langkah yang tak jamak dalam bisnis teknologi informasi, yaitu hostile bid (pencaplokan).

Maklum, ambisi raksasa peranti lunak itu mengakuisisi Yahoo! tergolong sudah lama, sejak akhir tahun 2006. Menurut Ballmer, pada saat itu mereka mengajukan aneka alternatif kepada Yahoo!, dari kemitraan komersial hingga merger. Sayang, pada Februari 2007, Chairman dan CEO Yahoo!, Terry Semel, menolak permintaan itu. Semel beralasan, manajemen Yahoo! masih melihat peluang untuk kembali berjaya di pasar portal web dan mesin pencari.

Menurut Semel, seluruh manajemen Yahoo! tengah berupaya keras melakukan restrukturisasi dan terobosan teknologi, seperti Proyek Panama, demi mengembalikan performa keuangan Yahoo!. ''Tapi, setahun sudah berlalu, dan tak terjadi perbaikan,'' Ballmer menyanggah.

Tampaknya resep manajemen Yahoo! tak manjur mengangkat pamor perusahaan yang berdiri pada 1994 itu. Padahal, mereka sampai melengserkan Semel sebagai CEO pada Juni 2007. Semel yang menjadi CEO sejak tahun 2001 dinilai gagal mengambil langkah menguasai pasar iklan online. Jerry Yang, salah satu pendiri Yahoo!, terpilih menggantikannya.

Namun performa Yahoo! masih jeblok. Awal tahun ini, kapitalisasi pasar raksasa portal web itu terjun bebas menjadi hanya US$ 25,6 milyar (Rp 235 trilyun) dari sekitar US$ 48 milyar (Rp 441 trilyun) pada penghujung tahun 2004.

Yahoo! kalah bersaing dari Google, yang sekarang merajai pasar mesin pencari sekaligus pelahap terbesar pasar iklan online. Kapitalisasi pasar Google pada saat ini mencapai US$ 175 milyar (Rp 1.600 trilyun).

Berdasarkan laporan keuangan kuartal keempat 2007 yang baru dirilis akhir Januari, pendapatan total Yahoo! selama tahun lalu adalah US$ 6,7 milyar. Angka ini 8% lebih baik dari capaian tahun 2006. Namun pendapatan bersih mereka merosot dari US$ 751 juta pada 2006 menjadi US$ 660 juta tahun lalu.

Bandingkan dengan Google yang sanggup mengeruk pendapatan total sampai US$ 16,6 milyar sepanjang tahun lalu. Naik 56% dari angka tahun sebelumnya, US$ 10,6 milyar. Pendapatan bersih perusahaan yang berdiri pada 1998 ini juga meningkat 37% menjadi US$ 4,2 milyar dari US$ 3,08 milyar tahun 2006.

Perusahaan yang berbasis di Mountain View, California, itu juga melibas Yahoo! dari sisi penguasaan pasar mesin pencari. Berdasarkan data Nielsen, selama Desember lalu, jumlah pengunjung Google sebanyak 274 juta, disusul oleh MSN (situs milik Microsoft) 262 juta, dan Yahoo! dengan 190 juta pengunjung.

Dominasi Google makin terlihat pada data statistik sepanjang tahun lalu. Mereka menguasai 77% pasar mesin pencari. Yahoo hanya sanggup mengikis 16%. Sedangkan Microsoft masih tertinggal jauh, hanya 3,7%.

Rapor buruk Yahoo itu mendorong Jerry Yang mengumumkan pemangkasan 1.000 karyawannya dari total 14.600 orang, pekan terakhir bulan lalu. Selang beberapa hari, Semel resmi mundur sebagai chairman. Roy Bostock terpilih sebagai chairman baru.

Atas tawaran Microsoft itu, belum ada pernyataan resmi dari Yahoo!. Namun Clayton Moran, analis dari Stanford Group, menilai bahwa dalam kondisi terpuruk seperti sekarang, Yahoo! tak punya banyak pilihan selain menerima pinangan Microsoft. Sebab nyaris tak ada perusahaan lain yang sanggup memberi tawaran lebih tinggi dari raksasa peranti lunak yang didirikan Bill Gate itu. ''Di sisi lain, Microsoft butuh Yahoo! untuk menguatkan posisi di pasar internet,'' kata Moran, seperti dikutip Dow Jones.

Microsoft yang punya kapitalisasi pasar US$ 300 milyar memang tergiur oleh pasar iklan online. Menurut analisis mereka, pasar iklan online akan tumbuh pesat dalam tiga tahun mendatang. Nilainya naik mencapai US$ 80 milyar dari hanya US$ 40 milyar pada tahun lalu.

Ballmer berharap bisa menggabungkan kekuatan Yahoo! sebagai penyedia layanan online, pemilik insinyur-insinyur kreatif, dan platform iklan yang mapan, untuk menggoyang dominasi Google. Mereka juga akan fokus pada peluang pasar baru dalam iklan online, yaitu layanan mobile, blog, situs jejaring sosial, dan video. ''Kami harus bergerak cepat karena Google juga terus meluaskan jaringan dengan rajin berekspansi,'' kata Ballmer, sebagaimana dikutip The Washington Post.

Waktu memang menjadi salah satu kunci untuk memenangkan persaingan. Dan inilah yang menjadi pekerjaan rumah besar bagi duet Microsoft-Yahoo!. Bagaimana mereka harus menggabungkan platform iklan yang berbeda, mereorganisasi struktur perusahaan, hingga mengembangkan fitur teknologi yang paling tepat. Untuk mengatasi masalah serumit itu, mereka harus bisa menemukan pemimpin sekaliber dan sekarismatik Bill Gate atau Steve Jobs, CEO Apple Inc.

Kendala lain yang bisa menghambat adalah keharusan menunggu lampu hijau dari Komisi Anti-Monopoli Amerika Serikat. Sebab penggabungan Yahoo! dan Microsoft bisa mengancam kepentingan pelanggan maupun tingkat kompetisi karena pemainnya tinggal dua. Dampak yang paling mungkin terlihat adalah kenaikan harga layanan dan menciutnya pilihan pelanggan.

''Kami peduli pada masalah itu,'' kata Thomas Barnett, wakil jaksa agung di Komisi Anti-Monopoli Departemen Kehakiman Amerika. Pihak-pihak yang terkait juga akan melakukan dengar pendapat jika Yahoo! menerima tawaran akuisisi Microsoft.

Astari Yanuarti

Kamis, April 03, 2008

Musim Berburu Notebook Murah

18 / XIV 19 Mar 2008

Antusiasme masyarakat mengiringi rilis tiga merek notebook Rp 3 jutaan. Para pabrikan yang didukung penuh Intel itu mengusung misi sosial pendidikan. Donasi hingga harga subsidi untuk sekolah negeri.

Magnet baru muncul di Mega Bazar Computer 2008 yang berlangsung serentak di belasan kota di Indonesia, 12 Maret hingga 16 Maret. Calon idola gres itu adalah notebook mungil (subnotebook) murah meriah. Tiga pabrikan komputer personal (PC) bakal memajang produk andalan mereka dengan banderol Rp 2,5 juta hingga Rp 4 juta-an.

Harga murah subnotebook buatan Asus, Zyrex, dan Axioo ini diprediksi bakal menarik minat pengunjung di berbagai kota, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, hingga Makassar. Bukan tak mungkin, akan terjadi antrean untuk mendapatkannya. Dugaan ini berdasar pada pengalaman penjualan perdana Asus EEE PC, akhir Januari lalu di Jakarta. Hanya dalam hitungan jam, 300 unit yang tersedia ludes diserbu pembeli.

Pada waktu itu, seri yang tersedia baru EEE PC 4G seharga Rp 3,6 juta dengan sistem operasi Xandros Linux dan Rp 3,9 juta jika memakai Windows XP Home Edition. Hal serupa terjadi sebulan kemudian, saat penjualan perdana Zyrex Netbook Anoa yang dibanderol Rp 2,99 juta.

Antusiasme masyarakat ini membuat para produsen menaikkan target penjualan. Direktur Pemasaran Asus Asia Tenggara, Darwin Wu, menyebutkan mereka menambah target penjualan dari 40.000 unit menjadi 60.000 unit tahun ini. Angka lebih optimistis diungkap Presiden Direktur Zyrex Indonesia, Timothy Siddik. Ia berani mematok angka minimal 100.000 unit penjualan untuk Netbook Anoa dan Netbook Ubud.

Sementara itu, Axioo, yang menggeber Classmate PC seharga Rp 3 juta-an, tak memberikan angka target penjualan. Stephen Lim, Managing Director Axioo International, hanya menyebutkan mereka bakal lebih banyak menyalurkan Classmate PC ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. ''Karena tujuan kami lebih untuk membantu pengembangan dunia pendidikan,'' ujar Lim.

Penjelasan Lim ini sesungguhnya adalah cerminan niat awal pembuatan Classmate PC. Notebook mungil ini adalah program milik Intel, perusahaan chip memori komputer terbesar di dunia. Sejak dua tahun silam, mereka menggelar Intel World Ahead yang bertujuan membantu memajukan dunia pendidikan di negara-negara berkembang.

Karena itu, Intel mendesain Classmate PC sesuai dengan kebutuhan dasar siswa seperti mengetik dan mengakses internet. Spesifikasi awal meliputi prosesor Intel Celeron M 900 megahertz, memori 256 megabit, dan media penyimpan berbasis flash memory 1 gigabyte (GB).

Ukuran layar 7 inci dengan resolusi 800 x 480 piksel dan berat sekitar sekilogram. Plus fasilitas WiFi, port USB, digital pen, serta batere enam sel yang sanggup bertahan empat jam. Pilihan sistem operasi bisa Linux ataupun Windows. Dengan spec seperti ini, harga Classmate PC bisa ditekan hanya US$ 200.

Namun saat mulai dipasarkan tahun ini, banderol harganya naik menjadi US$ 300 hingga US$ 400. Selain akibat kenaikan biaya bahan baku produksi, juga penambahan spec, yaitu pada memori menjadi 512 MB dan 1 GB, dan media penyimpan menjadi 2 GB dan 4 GB.

Intel Classmate PC ini sejalan dengan program One Laptop Per Child (OLPC) milik Nicholas Negroponte yang meluncur setahun sebelumnya. OLPC menargetkan penjualan notebook seharga US$ 100 ke 150 juta anak sekolah di seluruh penjuru dunia. Kesamaan misi ini membuat Intel lalu bergabung ke konsorsium OLPC yang juga didukung oleh Google, AMD, dan RedHat.

Awal tahun ini, Intel keluar dari konsorsium OLPC, lantaran konsorsium itu meminta penghentian program Classmate PC. Beda dengan OLPC yang murni sosial dan bersifat nirlaba, program Classmate PC Intel tetap bernuansa bisnis. Maklum, Intel perlu menggandeng beragam perusahaan PC untuk merakit Classmate PC. Konsep yang dipakai Intel adalah ODM (original design manufacture) dan OEM (original equipment manufacture).

Sehingga, Intel hanya menyediakan desain dan prosesor, dan perusahaan PC yang merakit dan juga berhak memberi nama/brand tersendiri untuk dijual ke konsumen. Sampai kini Intel sudah menggandeng tiga pabrikan yaitu Asus, Axioo, dan Zyrex. Pabrikan itu yang menyediakan Classmate PC untuk dunia pendidikan baik bersifat donasi maupun dengan harga subsidi. Mereka juga bisa menjual langsung produknya ke konsumen umum atau sekolah yang sudah maju. Mengingat, permintaan pasar terhadap produk ini ternyata sangat besar.

Untuk donasi, sesuai dengan target Intel World Ahead, jumlahnya mencapai 100.000 unit ke sekolah di seluruh dunia. Sekolah yang berhak mendapat donasi umumnya sekolah negeri yang tak punya cukup dana. Sedangkan bagi sekolah kaya, bisa memesan Classmate PC dengan harga normal. Pesanan terbesar hingga kini berasal dari Allama Iqbal Open University di Pakistan sebanyak 700.000 unit.

Di Indonesia, selain penjualan komersial oleh Asus, Zyrex, dan Axioo, sebanyak 100 unit notebook mungil didonasikan ke dua sekolah dasar di Jakarta. ''Ini memang baru pilot project yang berlangsung Januari lalu. Nanti kami teruskan ke wilayah pinggiran lain di Pulau Jawa,'' kata Country Manager Intel Indonesia Budi Wahyu Jati.

Menurut Budi, kebutuhan PC di sekolah Indonesia masih amat tinggi. Saat ini rasio PC dengan siswa adalah 1:1.900. Selain itu, angka kepemilikan PC di segmen rumah tangga juga masih rendah. Dalam hitungan Intel, potensi pasar di dua segmen ini mencapai 7 juta unit. ''Karena itu, ke depan, kami akan lebih banyak menggandeng pabrikan komputer lokal untuk membuat Classmate PC,'' ujar Budi.

Prospek bisnis subnotebook murah memang menjanjikan. Tengok saja hasil penjualan Asus EEE PC di pasar dunia. Hanya dua bulan sejak rilis pertama di Taiwan, Oktober silam, 300.000 unit ludes terjual. Tak mengherankan jika lembaga analis riset JP Morgan memprediksi, subnotebook dalam beberapa tahun mendatang akan menguasai 20% pengapalan notebook dunia.

Astari Yanuarti

Negroponte Mencari CEO

Beberapa pekan terakhir, Nicholas Negroponte makin sibuk. Pria yang membidani proyek OLPC ini tengah mencari CEO (chief of executive officer). Ternyata pencarian ini sulit. Meski di Amerika Serikat ada banyak orang yang mumpuni di bidang teknologi informasi. ''Saya butuh sosok seperti Kofi Annan, mantan Sekretaris Jenderal PBB, yang memandang dunia sebagai ladang amal dan bukan sebagai pasar,'' ujar pria keturunan Yunani itu.

Saking sulitnya menemukan sosok yang pas, Negroponte meminta bantuan ke perusahaan head hunter Spencer Stuart. Target penemuan pun diperpanjang hingga Mei nanti. Sebenarnya banyak kalangan menilai ia layak menduduki posisi itu. Tapi karena merasa tak pas, profesor di Massachusetts Institute of Technology (MIT) ini menolak.

''Manajemen, administrasi, dan detail adalah kelemahan saya. Saya lebih tepat sebagai pembuat visi,'' Negroponte, yang bertindak sebagai Chairman OLPC, berkilah. Maklum, selama lebih dari dua dasawarsa terakhir, reputasi Negroponte adalah sebagai mesin penghasil ide-ide besar nan segar. OLPC adalah satu buktinya. Proyek idealis ini punya cita-cita mulia menyediakan 150 juta laptop murah untuk anak-anak sekolah miskin.

Hanya saja, setelah berjalan selama tiga tahun, proyek mulia ini menghadapi banyak kendala. Meski sudah didukung AMD, Google, dan RedHat, tak mudah merealisasikan laptop seharga US$ 100. Setelah ditekan sana-sini, biaya pembuatan OLPC tak bisa turun dari US$ 188. Masalahnya makin rumit setelah Intel yang sempat bergabung di OLPC memilih keluar awal tahun ini demi menggencarkan program Classmate PC.

Kehadiran beberapa seri laptop murah lain di pasar juga membuat taji OLPC berkurang. Beberapa negara seperti Libya, Nigeria, dan Thailand mempertimbangkan kembali kesepakatan dengan OLPC. Untunglah, 12 negara percontohan lain tetap ada di belakang OLPC. Sejak produksi massal November lalu, sekitar 350.000 laptop OLPC sudah disebar.

Sayang, angka ini masih jauh sekali dari target awal. ''Saya baru sadar sekarang, proyek ini butuh seorang CEO yang bisa mengatur dengan baik demi mencapai suatu yang hampir mustahil,'' ujar pria 64 tahun itu kepada BusinessWeek. Walau CEO belum ada, ia mulai menerapkan reorganisasi.

Dalam beberapa pekan mendatang, proyek ini dipilah menjadi empat divisi: teknologi, penempatan, pengembangan pasar dan pencarian dana, serta administrasi. Langkah perubahan ini diharapkan bisa membuat program ''Bunda Theresa'' itu tak tenggelam di tengah serbuan laptop murah dari beragam pabrikan.

Di sisi lain, jika pamor OLPC tersaingi, kepeloporan Negroponte tak bakal ikut pupus. Menurut peraih Hadiah Nobel Perdamaian, Muhammad Yunus, program OLPC Negroponte telah memicu inisiatif mengatasi problem rendahnya pendidikan di negara-negara miskin. ''Jadi sudah sepatutnya dunia berterima kasih pada Nicholas,'' ujar Yunus.

Astari Yanuarti

Selasa, Juli 31, 2007

Telepon Bebas Tanpa Ongkos

Telepon Bebas Tanpa Ongkos

Ponsel berfitur VoIP membuat urusan halo-halo bebas biaya. Menarik minat banyak pengguna. Masih terkendala keterbatasan jaringan dan jumlah ponsel.

Onno W Purbo kebanjiran email. Hampir dua ribu email dari berbagai penjuru nusantara menyesaki mailbox pakar teknologi informasi ini sejak Senin lalu. Ia sampai mengeluh kewalahan menerima email berkapasitas total 10,5 Mega Byte (MB) itu.

Mail server Onno juga terancam mati karena kelebihan beban. Apalagi ia sudah mengirim ratusan email balasan sebesar 3 GB. Untunglah, sebuah situs mau menjadi rumah (hosting) file naskah balasan itu. “Jadi sudah tak perlu email ke OWP ( inisial namanya-red), bisa tewas internet gue,” ujarnya.

Menurut Onno, banjir email ini terjadi usai tampil di acara Republik Mimpi yang tayang di Metro TV Ahad malam lalu. Ia menginformasikan sekilas tentang teknologi ponsel tanpa simcard dan membuat antena pemancar wajanbolic. Penggunaan ponsel tanpa simcard ini membuat pengguna bisa menelepon gratis.

Tentu saja info ini menarik minat banyak orang. Maklum, selama ini muskil menggunakan ponsel tanpa menyertakan simcard. Apalagi digunakan untuk menelepon gratis. Jika ini bisa dilakukan, tentu saja akan menghemat biaya telepon. Maka mereka pun mengirim email pertanyaan bagaimana memanfaatkan teknologi ini.

Pertanyaan mereka bisa jadi mewakili puluhan juta pengguna ponsel di Indonesia. Apakah mungkin menelepon gratis dari ponsel tanpa simcard? Ternyata memang bukan hal muskil. Menurut Onno saat ini di Indonesia sudah beredar ponsel dan PDA (Personal Digital Assistants) yang mendukung teknologi VoIP (Voice over Internet Protocol) dan dibekali WiFi.

Ia menjelaskan paduan dua fitur inilah yang memungkinkan pengguna ponsel bisa menelepon gratis bahkan tanpa mengaktifkan simcard seluler. Syaratnya, pengguna harus berada di daerah hotspot ( kawasan yang terkoneksi jaringan internet nirkabel Wi-Fi). Kini, sudah ada ribuan titik hotspot di Indonesia. “Saat ada di lokasi ini aktifkan WiFi-nya, lalu gunakan VoIP untuk menelepon.Gratis,” jelasnya.

Sepertinya mudah dan sederhana, terutama bagi yang biasa mengakses internet dari ponsel. Tapi bagi yang terbiasa hanya menelepon dan SMS saja, masih banyak pertanyaan di benak. Apalagi untuk mengaktifkan VoIP perlu dilakukan pengesetan seperti membuat profil dari access point, membuat account dari Session Initiated Protocols (SIP) dan profil dari fitur VoIP. (Lihat Panduan Ringkas Mengeset VoIP Ponsel )

Ketidaktahuan ini juga terkait dengan keterbatasan jumlah vendor ponsel dan PDA yang punya fitur VoIP dan WiFi. Di Indonesia tercatat baru ponsel Nokia seri E yang mengusung fitur2 itu. Sedangkan di kelas PDA sudah ada beberapa vendor seperti HP dengan iPaq-nya. “Tapi harus di-install piranti lunak SJPhone untuk Pocket PC yang bisa dicari di Google,” jelas Onno.

Product Manager Enterprise Solutions Nokia Indonesia Trisnawan Tjipto membenarkan bahwa semua ponsel Nokia Seri E bisa digunakan untuk VoIP dan WiFi. Namun baru dua seri E yang beredar di Indonesia yaitu E61 dan E65. Selain itu fitur ini juga melekat pada Nokia N80i. “Seri E61i dan E90i akan menyusul masuk Indonesia kuartal kedua ini,” kata Trisnawan.

Ia mengakui masih banyak pengguna ponsel yang belum tahu kelebihan paduan fitur VoIP dan WiFi. Tak heran saat mendemokan Nokia seri E di Surabaya dan Padang, banyak peserta yang keheranan dan kagum. “Mereka bilang ternyata bisa ya nelepon tanpa memakai simcard,” ujar Trisnawan.

Apalagi, lanjutnya, semua Nokia seri E bisa saling mengenali dan menelepon ke sesama Nokia seri E. Asal, ada di dalam hotspot dan memanfaatkan teknologi SIP VoIP. Saat demo di Surabaya, ia memperlihatkan cara melakukan panggilan VoIP ke sejumlah nomor seluler GSM dan sambungan langsung internasional (SLI). Semua berhasil dilakukan tanpa memotong satu rupiah pun pulsa di ponsel. Tak heran, ponsel seri ini kian diminati masyarakat. Bahkan seri E61 laris manis di pasaran. Sayang, selain jumlah handset yang masih terbatas, harganya masih mahal untuk kantong mayoritas pengguna ponsel di Indonesia. Semua ponsel Nokia seri E masih dipatok minimal Rp 4 juta.

Kendala lain, keterbatasan jangkauan jaringan. Radius WiFi hanya berkisar 30 meter hingga 100 meter. Dan belum ada BTS (pemancar) yang memungkinkan roaming antar hot spot. Namun menurut Onno kendala jaringan ini bisa terpecahkan jika implementasi teknologi WiMAX. Karena jangkauan BTS WiMAX bisa mencapai 50 kilometer. Kecepatan transfer data juga lebih cepat, mencapai 72 Mbps ( mega bit per second). Alhasil kualitas suara VoIP bisa makin oke.

Masalahnya, pemerintah terus menunda tender operator WiMAX. Awalnya tender satu blok frekuensi WiMAX dijadwalkan Februari lalu. Namun akhirnya ditunda hingga pertengahan tahun depan. Alasannya menunggu kesiapan industri komponen local dan penyempurnaan standarisasi WiMAX di dunia.

Meski masih terhadang beberapa kendala, baik Onno maupun Trisnawan optimis, ponsel tanpa simcard punya masa depan cerah. Mereka akan terus melakukan demo dan workshop di berbagai kota di Indonesia, baik bersama-sama mau pun terpisah. Bulan lalu di Surabaya mereka demo bersama. Namun saat di Padang, Kamis ini, Trisnawan sendirian. Sedangkan Onno akan mendemokan ponsel tanpa simcard awal Mei ini di Kampus Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Jakarta.

Astari Yanuarti

Boks
Panduan Ringkas Mengeset VoIP Ponsel

Mengeset layanan VoIP di ponsel, gampang-gampang susah. Nah, berikut ini panduan ringkas yang diberikan Onno W Purbo dan Trisnawan Tjipto berdasarkan demo penggunaan VoIP Nokia E61. Namun pengesetan ini juga bisa diterapkan di semua seri E lain.

1. Buka menu Tools, lalu pilih menu Settings. Diantara beberapa ikon menu yang tampak di Settings pilih ikon Connection. Di sini hanya ada beberapa submenu lagi. Tapi yang dibutuhkan hanya tiga submenu yaitu Access Points, SIP Settings, dan Internet Telephony Settings.

2. Pada menu Access Points, klik option di kiri bawah, lalu pilih jenis sambungan Wireless LAN (WLAN). Lalu gunakan pilihan pencarian otomatis untuk mendapatkan nama sambungan WLAN yang tersedia. Klik keluar.

3. Di menu SIP Settings, ada beberapa parameter yang harus dikonfigurasi dengan benar. Nama profil terserah Anda, namun pada opsi Service Profile pilih IETF dan pada Default Access Point isi sesuai dengan profil Access Point di point 2. Yang terpenting gunakan format nomor@serversip pada opsi Public User Name. Misalnya 23123@voiprakyat.or.id atau sip:2002@192.168.0.2.

4. Selanjutnya pada menu Proxy Server Address ada beberapa hal yang harus dimasukkan seperti alamat IP di Proxy Server Address dan nomor telepon atau username SIP di menu Username. Selain itu Anda bisa menuliskan username Anda di menu Realm. Sedangkan di menu Password isi password yang ada di SIP Server. Anda juga harus memilih Yes pada menu Allow Loose Routing, ketikkan UDP pada menu Transport Type, dan angka 5060 pada Port.

5. Isian serupa dengan poin 4 juga dilakukan pada bagian Registrar Server yang berisi Registrar Server Address, Realm, dan Password.

6. Pada bagian Internet Telephony Setting, masukkan nama profil dan SIP Profile pada Profile Internet Telephony Settings

7. Setelah itu Anda harus membuka menu Connectivity untuk tersambung ke VoIP. Lalu klik ikon Internet Telephony. Ketik nama profil Internet Telephony yang kita gunakan di parameter Preferred Profile. Lalu di parameter Registration Status pilih "When Needed". Lalu saat statu Not Registared tampak, ubah ke Registered. Jawab ya saat muncul pertanya “Create WLAN connection in offline mode”, agar bisa tersambung ke jaringan WiFi. Tunggu hingga pesan “Registration with the Internet telephone service complete”.

8. Ponsel Anda siap digunakan untuk VoIP. Cukup menuliskan nomor telepon yang dituju lalu pilih opsi internet call.

Astari Yanuarti

Jumat, Februari 09, 2007

Nomor Pribadi Bisa Abadi

Pemerintah tengah mengkaji ENUM sebagai solusi penomoran baru agar sejalan dengan next generation network. Pelanggan telepon bisa punya nomor pribadi permanen.

Kehadiran next generation network (NGN) memicu Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi (Postel), Departemen Komunikasi dan Informatika, mengkaji pola penomoran telepon. ''Kami sedang mengkaji ENUM (electronic number mapping), yaitu teknologi yang menggabungkan penomoran lama dengan nomor yang berbasis IP,'' kata Dirjen Postel, Basuki Yusuf Iskandar.

NGN adalah konsep teknologi jaringan masa depan yang menggabungkan beragam tipe jaringan menjadi satu platform saja. Misalnya, bagaimana teknologi 3G berpadu dengan Wimax ataupun telepon tetap kabel (public switch telephone network --PSTN) berpadu dengan VoIP (voice over internet protocol). NGN memungkinkan akses ke penyedia layanan berbeda, tanpa terikat pada teknologi akses dan transpor.

Nah, perpaduan ini tentu berpengaruh pada penomoran telepon di Indonesia. Selama ini, nomor telepon tetap dan nirkabel dibuat berdasarkan kode area wilayah dan blok nomor operator telepon. Telkomsel memakai blok nomor berawalan 0811, 0812, dan 0813. Beda dengan XL, yang memakai 0817, 0818, dan 0819. Sedangkan telepon VoIP biasanya memakai prefiks lima angka.

Basuki menuturkan, penggunaan ENUM ini terkait dengan penjajakan penerapan mobile number portability (MNP). Konsep MNP memungkinkan kepemilikan nomor telepon permanen, meski berganti operator telepon. Jadi, dalam MNP, blok nomor operator tak lagi bisa dijadikan patokan. Karena bisa jadi pelanggan bernomor 0815xxxxxx bukan lagi pelanggan Indosat, melainkan pelanggan XL.

Pakar teknologi informasi Onno W. Purbo menyebutkan, penerapan ENUM tak rumit. Pada dasarnya, ENUM hanya melakukan pemetaan nomor telepon yang berbasis E.164 ke alamat IP melalui domain name system (DNS). Teknologi yang digunakan mirip dengan pemetaan nama mesin ke alamat IP. Seperti memetakan www.yahoo.com ke alamat IP agar dikenali komputer. Bedanya, di Enum, yang dipetakan adalah nomor telepon.

Saat ini, ada dua ENUM server besar di dunia yang menjadi acuan, yaitu operator VoIP, NGN, dan 4G (generasi keempat), yaitu e164.org dan e164.arpa. Beberapa negara sudah menerapkan ENUM, seperti Jepang, Korea, Austria, Cina, dan Belanda. Bahkan Taiwan sudah membuat server ENUM sendiri dengan menggunakan e164.tw. ''Ditjen Postel, APJII, para operator, dan VoIP Rakyat sedang dalam proses uji coba ENUM server Indonesia berdomain e164.id,'' kata salah satu pejuang VoIP Rakyat itu.

Onno menyatakan, ENUM akan sangat menguntungkan pelanggan telepon. Seorang pelanggan yang punya nomor misalnya +627771781945 tetap akan memiliki nomor itu, meski berganti operator dari GSM ke CDMA ataupun dari PSTN ke VoIP. Pun tak tergantung lokasi. ''Karena alokasi nomor ENUM tak tergantung geografi, melainkan entitas,'' katanya.

Sesuai standar Internet Engineering Task Force (IETF), ENUM bisa membuat pemilik nomor telepon mendapatkan akses record tentang universal resource identifier (URI) yang dimiliki oleh nomor itu. Ini membuat aneka layanan telekomunikasi seperti e-mail, faksimili, VoIP, dan telepon seluler bisa diakses cukup dengan satu nomor. Jadi, ENUM memetakan satu nomor E.164 kepada banyak layanan (alamat) dengan satu nama ENUM yang tersimpan dalam database DNS.Agar pemilik nomor ENUM bisa selalu dikontak dengan nomor sama, diperlukan sebuah database terpusat yang mampu mengelola detail kontak tersebut. Nomor ENUM yang sudah terdapat dalam database harus bersifat unik dan universal.

Menurut Onno, nomor ENUM perorangan sebaiknya ditangani oleh registrar yang ditunjuk top level ENUM, sama seperti proses registrasi domain. Registrar harus memverifikasi data personal yang bersangkutan, misalnya dengan menelepon orang tersebut.

Sedangkan pengaturan nomor ENUM bagi operator existing bisa berubah atau tetap sama. Operator masih bisa mendapat blok nomor yang selama ini sudah dimiliki. Atau bisa juga pemerintah merombak ulang penomoran dengan memberikan prefiks tambahan seperti +62555ooooxxxxx (555 adalah kode area ENUM, empat digit ''o'' adalah kode operator).

Onno menuturkan, ENUM juga memungkinkan perusahaan besar dengan banyak cabang bisa punya blok nomor tersendiri. Mereka dapat mengintegrasikan PBX-nya menjadi satu kesatuan dan dikenali di jaringan telepon dalam sebuah kode area saja. Sebuah perusahaan bisa minta blok nomor +62555oooonnnn, dengan kemungkinan memberikan nomor ke 10.000 pesawat telepon.

Namun Indra Lestiadi, Division Head Bundling and Corporate Solutions Indosat, menyatakan bahwa Indonesia masih belum siap menjalankan MNP. Perlu kajian lebih lama dan mendalam agar bisa berjalan dengan baik. ''Tak mudah karena menyangkut regulasi, teknis, kemauan operator sendiri, dan keuntungan atau kerugiannya,'' katanya.Basuki pun menegaskan, pemerintah memang belum memutuskan kapan waktu penerapan ENUM dan MNP. ''Semua tergantung kebutuhan publik," ujar Basuki.

Astari Yanuarti

Satu Voucher untuk Semua

Sebuah bingkisan istimewa menanti belasan juta pelanggan telepon prabayar, baik Mentari, IM3, maupun StarOne. Mulai paruh kedua tahun ini, pelanggan telepon yang memakai dua teknologi berbeda, yakni GSM dan CDMA, tidak perlu kerepotan saat mengisi ulang pulsa. Cukup dengan satu voucher bisa digunakan untuk mengisi pulsa ketiga layanan milik PT Indosat Tbk itu. Menurut Indra Lestiadi, Division Head Bundling and Corporate Solutions Indosat, pihaknya tengah menyiapkan mekanisme teknis pembuatan single voucher. ''Butuh waktu tiga hingga enam bulan,'' ujarnya.

Untuk menerapkan sistem voucher tunggal, Indosat harus memasang alat baru, yaitu interface VMS (voucher management system) yang bisa menggabungkan sistem intelligent network (IN) GSM dan IN-CDMA. VMS adalah peranti yang digunakan untuk men-generate HRN (hidden random number) yang tertera di voucher.

Saat pelanggan me-reload pulsa, VMS akan memverifikasi nomor HRN yang diketik pelanggan.Selama ini, pengisian voucher pelanggan seluler Mentari dan IM3 dilayani dengan IN-GSM terpisah dari pengisian voucher pelanggan FWA (fixed wireless access) StarOne yang melalui IN-CDMA. ''Nah, dengan interface VMS, pembuatan HRN hanya satu yang berlaku untuk CDMA dan GSM,'' Indra menambahkan.

Menurut Indra pula, penerapan voucher tunggal tak hanya menguntungkan pelanggan, melainkan juga dealer dan meningkatkan efisiensi kinerja Indosat. Mereka tak lagi dibedakan berdasarkan jenis layanannya. Sedangkan di sisi perusahaan, bisa menghemat biaya pembuatan voucher non-elektronik.

Meski tak secara detail menyebutkan berapa penghematan yang bisa didapat, Indra menuturkan, jumlah voucher yang harus disediakan Indosat mencapai 384 juta per tahun, dengan jumlah pelanggan prabayar 16 juta. Jika target tambahan 5 juta pelanggan bisa tercapai akhir tahun ini, maka dibutuhkan 500 juta voucher isi ulang. Biaya cetak voucher non-elektronik berkisar US$ 0,051 (Rp 463,00). ''Jadi, total biaya cetak voucher tahun ini mencapai US$ 22,674 juta, dengan asumsi semua voucher dicetak dalam bentuk fisik,'' katanya. Biaya cetak ini akan berkurang jika penggunaan voucher elektronik meningkat.

Astari Yanuarti

Senin, Maret 20, 2006

Pesona Afrika Menyapa Asia

MULTIMEDIA

Pesona Afrika Menyapa Asia

Muda, kaya raya, pernah tamasya ke luar angkasa, tapi tetap bersahaja. Kini ia menebar software gratis ke seluruh dunia.

MARK Shuttleworth baru saja mengakhiri perjalanan Ubuntu Asia Tour Roadshow, Januari-Februari lalu. Pendiri perusahaan Canonical Ltd ini mengunjungi 12 negara dan 18 kota untuk menebar pengembangan peranti lunak berbasis open source-nya, Ubuntu.

Di Jakarta, Mark hanya singgah sehari. Selain bertemu komunitas Open Source Indonesia, ia juga menyambangi Menkominfo, Sofyan Djalil. "Kami coba yakinkan bahwa open source adalah strategi terbaik bagi negara berkembang," katanya.

Perjuangan menebar software gratis, menurut pria yang lahir di ''kota emas'' Welkom, Afrika Selatan, 18 September 1973, itu bukan hal mudah. Apalagi di negara berkembang yang mendapat tekanan ekonomi. Di negara maju, banyak individu yang bekerja sukarela, bahkan menjadi donatur, untuk mengembangkan software gratis.

Ubuntu berasal dari bahasa Afrika kuno yang berarti kemanusiaan untuk semua. Berbeda dari distro Linux lain yang menyediakan versi gratis dan komersial, Ubuntu hanya punya versi gratis. Ia mengirimkan CD program ke setiap orang yang meminta. Bahkan biaya pengiriman ditanggung Canonical Ltd.

"Saat ini, sudah 6 juta keping CD Ubuntu yang kami kirim ke berbagai penjuru dunia," ujarnya. Ubuntu kini tersebar di 212 negara dalam 38 bahasa. Ubuntu juga mengeluarkan rilis baru setiap enam bulan, lengkap dengan sistem keamanan yang selalu diperbarui tiap 18 bulan.

Meski Ubuntu terdiri lebih dari 16.000 aplikasi, instalasi utama untuk desktop cukup dari satu CD. Ubuntu punya setiap aplikasi standar desktop seperti pengolah kata, spreadsheet, sampai aplikasi internet, web server, e-mail, bahasa pemrograman, dan tentu saja games. Ubuntu sukses merajai distro Linux di dunia, padahal baru didirikan pada 2004.

Ubuntu lahir dari tangan dingin Mark, yang kini kaya raya. Ia pertama kali membuat program berbasis open saat berusia 11 tahun. Namun ia baru mengenal internet saat kuliah di Jurusan Keuangan dan Sistem Informasi, Universitas Cape Town. Saat itulah Mark sadar betapa besar perubahan bisa dilakukan internet.

Ia menguji kepiawaiannya berniaga dengan mendirikan perusahaan konsultan bisnis Thawte Consulting di tahun terakhir kuliahnya, 1995. Fokus bisnis Thawte adalah keamanan internet sebagai alat perdagangan elektronik. Hebatnya, Thawte mampu menjadi perusahaan pertama di luar Amerika Serikat yang membuat paket keamanan penuh web server e-commerce. Thawte pun terpilih sebagai perusahaan pertama yang dipercaya Netscape dan Microsoft dalam sertifikasi website.

Bak Raja Midas yang mampu membuat semua yang disentuhnya menjadi emas, Mark sukses menyulap Thawte jadi perusahaan kelas dunia dalam tiga tahun. Saat menjual Thawte pada Desember 1999 ke VeriSign, Mark berhasil mengantongi duit US$ 570 juta. Fantastis, punya uang sebanyak itu di usia 26.

Setelah menjadi milyarder, Mark tak terlena. Ia mendirikan beberapa yayasan nirlaba demi pengembangan pendidikan dan teknologi informasi. Mulai inkubator bisnis Here Be Dragons yang mendanai perusahaan inovatif di Afrika Selatan agar bisa jadi pemain global, Shuttleworth Foundation untuk meningkatkan kemampuan para guru, hingga donatur di Bridges yang bertujuan mengurangi kesenjangan digital. Untuk membiayai semua yayasan itu, tiap tahun Mark mengeluarkan US$ 6 juta.

Pada 25 April 2002, Mark mewujudkan mimpi sepanjang masanya, terbang ke luar angkasa. Orang Afrika pertama yang menembus atmosfer bumi ini masuk dalam penerbangan Soyuz TM-34 dan mendarat di International Space Station (ISS), dua hari kemudian. Mark menikmati tamasya bebas gravitasinya selama delapan hari di ISS.

Toh, Mark memaknai wisata angkasa senilai US$ 20 juta itu tak sekadar piknik. Pengalaman mengelana angkasa ini makin membuka matanya pada keajaiban ilmu alam, matematika, dan teknologi. Mark lalu memprakrasai gerakan Hip2Bsquare untuk menjadikan pelajaran matematika dan ilmu alam menarik bagi pelajar SMA. Perjalanan luar angkasa pula yang menginspirasi Mark membuat dan menebar Ubuntu ke seluruh bumi.

Astari Yanuarti

Siap Bikin Film Ponsel?

Ponsel video mendorong tumbuhnya sutradara-sutradara amatir di semua penjuru mata angin. Magnetnya mulai terasa di Indonesia.

TAMPANG serius terpasang di muka puluhan orang di Gerbera Room Hotel Mulia, Jakarta, Sabtu siang pekan lalu. Mereka terlihat tekun mendengar penjelasan produser film dokumenter asal Inggris, Ian Oliver, tentang proses pembuatan film. Pemaparan Ian dimulai dari pencarian ide cerita, pembuatan storyboard, pengambilan gambar, sampai pengeditan film. Hmm, lumayan bikin kening berkerut para pemula dunia film.

Maklum, itu bukan kelas akhir pekan mahasiswa baru IKJ. Tak tampak satu pun kamera video di ruangan itu. Para peserta hanya berbekal telepon seluler (ponsel) Nokia. Sebagian besar membawa N90, sisanya memegang N70 dan 6680. Mereka adalah komunitas pemakai ponsel video Nokia. "Peserta First Time Mobile FilmMakers ini dipilih dari pemilik Nokia yang ikut Digital Studio Workshop di lima kota," kata Multimedia Retail Manager Nokia Indonesia, Eka Anwar.

Saat N90 digeber di pasar Indonesia, pertengahan tahun lalu, setiap pembeli mendapat voucher pelatihan gratis membuat film dan foto. Lokasinya tersebar di tujuh tempat di Indonesia. Di sana, mereka kursus empat jam membedah fitur perekam video di N90. "Peminatnya banyak. Rata-rata mereka ingin belajar merekam dan mengedit film,'' ujar Eka.

Mungkin Nokia termasuk jeli membaca pasar. Dua tahun terakhir ini, tren membuat film dengan ponsel memang meningkat. Antusiasme sutradara ponsel film amatir ini membuat festival film ponsel menjamur di penjuru bumi. Zoei Cellular Cinema Festival yang diadakan pada Desember 2004 di Amerika Serikat tercatat sebagai festival film ponsel pertama.

Setelah itu, puluhan festival yang diadakan operator, pabrikan ponsel, dan lembaga perfilman digelar di lima benua. Teranyar, The Cinema Next Mini-Movie Competition di Inggris, awal bulan lalu, oleh UK Film Council's New Cinema Fund. Tiap kompetisi rata-rata diikuti ratusan film pendek berdurasi satu sampai tiga menit.

Tentu tren sutradara film ponsel amatir tak lepas dari pengaruh kian canggihnya teknologi kamera ponsel. Dua tahun lalu, ponsel video masih berbekal kamera VGA, lalu meningkat menjadi kamera sejutaan piksel. Tahun ini, Samsung sudah menanamkan kamera 7,7 MP di ponsel SGH-B500. Sayang, itu baru beredar di Korea. Di Indonesia, baru tersedia SGH-P850 dengan kamera 3,2 MP. Untunglah, seri yang baru keluar akhir bulan ini punya kemampuan merekam gambar lumayan dan bisa disambungkan ke televisi.

Teknologi lensa kamera yang makin maju juga membuat ponsel video kian digemari. Terobosan Nokia N90 sebagai satu-satunya ponsel berlensa Carl Zeiss membuat kualitas rekaman video lebih tajam dan stabil. Maklumlah, Carl Zeiss yang identik dengan camcoder Sony ini sudah teruji mutunya.

Pabrikan lain seperti Sony Ericsson dan Ben Q-Siemens juga menyasar pasar ponsel video. Sony Ericsson mengandalkan SE W900i, yang punya kapasitas memori eksternal sampai 2 GB dan sanggup merekam dengan kecepatan 30 gambar per detik. BenQ-Siemens memadu kamera 2 MP, format MPEG4, dan display lebar dalam ponsel candybar S88 dan ponsel clampshell EF 81.

Nah! Tunggu apa lagi. Bermodal ponsel, Anda bisa menjadi sutradara film amatir.

Astari Yanuarti

Tips Jadi Sutradara

MEMBUAT film ponsel itu gampang-gampang susah. Mengambil dan mengedit gambar relatif cepat dipelajari. Tapi banyak yang mulai garuk-garuk kepala saat mencari ide cerita dan menuangkannya ke storyboard plus menentukan angle. Toh, semua bisa diatasi kalau persiapan kita matang. Panduan singkat ini mungkin bisa membantu.

Ide Cerita dari Sekitar Kita

Jangan buru-buru mengambil gambar, kita harus menentukan dulu ide cerita. Banyak hal kecil di sekitar kita yang bisa jadi bahan film. Kisah tukang sapu di kantor, ekspresi rekan kerja saat deadline, atau tingkah orang sepanjang perjalanan pulang. Jangan lupa menuangkan detail cerita dalam storyboard yang akan jadi panduan ketika mengambil gambar.

Setting Mode Video

Sebelum mengambil gambar pertama, cek dulu setting video recorder di ponsel. Pilihlah resolusi video yang paling besar supaya hasilnya maksimal. Misalnya 352x288 piksel dengan kecepatan 30 frame per detik. Untuk ponsel video yang kecepatannya kecil, diperlukan kestabilan ekstra saat memegang ponsel. Sebab pergeseran dan gerakan kecil saja bisa membuat gambar blur. Pilihlah mode auto untuk pengaturan white balance dan mode normal untuk pengaturan cahaya.

Ketika mengambil gambar, hindari cahaya terlalu terang di belakang objek, kecuali Anda mau mengambil gambar siluet. Selain itu, sebisa mungkin jangan menggunakan digital zoom karena akan menurunkan kualitas gambar. Lebih baik melangkah mendekati objek jika ingin mendapatkan gambar lebih besar.

Mengedit Rekaman

Usai merekam semua cuplikan, saatnya mengedit. Ada dua pilihan mengedit: langsung di ponsel atau ditransfer dulu ke komputer. Saat ini, banyak ponsel video yang sudah dibekali fitur mengedit film seperti Nokia Video Editor. Jadi, tinggal buka Nokia Video Editor, lalu ambil klip-klip yang akan diedit. Klip-klip ini bisa dipotong, diberi filter, ditambah musik atau suara, diselipi transisi fade to black, sampai akhirnya menggabungkan lagi hasil edit klip. Gunakan efek transisi seperlunya karena akan membengkakkan file video ponsel. Lebih baik membuat alur yang mengalir sejak pengambilan gambar.

Jika ponsel tak punya fasilitas pengedit film, maka harus ditransfer ke komputer, baik lewat Bluetooth, inframerah, maupun kabel data. Sebelum memindahkan, pastikan di komputer sudah ada aplikasi konverter yang sesuai dengan ponsel. Aplikasi PC Suite biasanya disediakan saat membeli ponsel atau bisa diunduh dari situs ponsel bersangkutan. Setelah dipindahkan, file video dapat dibuka dan diedit lewat modul yang tersedia dalam aplikasi PC Suite.

Beberapa Ponsel Video

Nokia N90

Berat: 173 g
Harga: Rp 6 juta
Kamera: 2 MP + flash
Display: 2,2 inci LCD TFT 256K
Resolusi: 352x288 piksel
Memori: Memori built-in 31 MB + slot MMC
Koneksi: USB, Bluetooth, inframerah
Fitur unggulan: Lensa Carl Zeiss, 20x digital zoom, 3G, MP3/AAC/MPEG4 player, movie director, merekam 1 jam nonstop
Kekurangan: berat, baterai boros

Samsung SGH-P850
Berat: -
Harga: Rp 4 jutaan
Kamera: 3,2 MP + flash
Display: TFT 262 K
Resolusi: 320 x 240 piksel
Koneksi: Bluetooth, USB
Memori: 75 MB memori internal + microSD
Fitur unggulan: MP3/AAC/MPEG4 player, koneksi ke TV, desain tipis dan ringan
Kekurangan: Belum 3G, gambar video kurang stabil, tak ada fitur video editing

Sony Ericsson W900i
Berat: 148 g
Harga: Rp 6,1 juta
Kamera: 2 MP + flash
Display: TFT 256K

Resolusi video: 320 x 240 piksel
Koneksi: Bluetooth, USB, inframerah
Memori: Memori built-in 470 MB + stik duo sampai 2GB
Fitur unggulan: 3G, play 3GP dan MPEG4 format, walkman, video DJ
Kekurangan: Kurang ergonomis, kualitas hasil rekaman biasa