Gatra No 37 / XIV 30 Jul 2008
SMART PEOPLE
Pemain: Dennis Quaid, Sarah Jessica Parker, Thomas Haden Church, Ellen Page, dan Ashton Holmes
Sutradara: Noam Murro
Penulis Skenario: Mark Jude Poirier
MPAA Rating: R
Produksi: Miramax Films/Groundswell Productions, 2008
Meski terberkati dengan otak cemerlang, kehidupan keluarga Wetherhold jauh dari kata bahagia. Kecerdasan memang tak sama dengan kebijaksanaan.
Seperti judulnya, film komedi satire ini berkisah tentang jibaku keluarga intelektual menjalani kehidupan di tengah orang biasa. Dennis Quaid memerankan Profesor Lawrence Wetherhold yang berotak encer. Ia sedang mengikuti pemilihan Kepala Departemen Sastra Inggris di Carnegie Mellon University, Amerika Serikat.
Meski punya karier cemerlang di kampus, Lawrence bukan sosok ayah yang ideal. Duda yang ditinggal mati istri ini gagal memahami dua anaknya, James (Ashton Holmes) dan Vanessa (Ellen Page), yang sama-sama berotak cemerlang. James adalah mahasiswa jurusan sejarah di kampus yang sama dengan Lawrence. Sedangkan Vanessa baru saja diterima di Stanford University.
Kecerdasan otak mereka bukan jaminan kebahagiaan. Ketiganya bermasalah pada saat berkomunikasi. Lawrence sering melontarkan kalimat masam ketika mengajar, arogan, dan penampilannya serampangan, nyaris jorok. Vanessa cantik, tapi tak punya teman karena mulutnya pedas. Sedangkan James selalu memendam amarah karena merasa tak dimengerti oleh Lawrence.
Ketakharmonisan dan kesuraman keluarga Wetherhold makin parah dengan kehadiran Chuck (Thomas Haden Church), saudara angkat Lawrence. Chuck, yang juga sudah paruh baya, tinggal di rumah Lawrence, karena kehilangan pekerjaan untuk ke sekian kalinya. Sebagai orang biasa, Chuck terlihat berbeda dari keluarga Wetherhold lainnya dalam menyikapi masalah.
Keadaan makin rumit ketika Lawrence berpacaran dengan Janet Hartigan (Sarah Jessica Parker), dokter unit gawat darurat yang merawat cederanya akibat melompat pagar di kampus. Janet pernah naksir Lawrence pada saat menjadi mahasiswanya, meski Lawrence tak ingat sama sekali. Kehadiran Janet tentu saja tak disukai Vanessa, yang merasa makin tersisih.
Smart People punya naskah skenario brilyan yang menggabungkan dialog jenaka dengan kepedihan, hasil kejelian novelis Mark Jude Poirier (baru pertama kali menulis skenario). Poirier menunjukkan bahwa kecerdasan tak sama dengan kebijaksanaan. Seringkali pendidikan yang dilakoni belasan tahun tak memberikan pelajaran kehidupan apa pun.
Poirier menampilkan detail tiap karakter dan membuat penonton yakin bahwa di balik tokoh yang eksentrik dan menyebalkan sekalipun, tersembunyi sifat-sifat lain yang menyenangkan. Poirier membuat karakter anggota keluarga Wetherhold tumbuh dewasa. Bukan dengan cara mudah seperti formula Hollywood (Smart People adalah film independen yang tampil di Sundance Film Festival 2008). Mereka harus lebih dulu melewati kegetiran, sarkasme, dan yang terberat: belajar untuk menerima.
Lawrence akhirnya bisa menjual buku akademisnya ke penerbit Penguin setelah mengganti judulnya menjadi You Can't Read. Sebelumnya, puluhan penerbit menolak buku ini karena dianggap tak menarik. Juga ada Vanessa yang bisa mengatasi ego untuk menerima Janet, yang mengandung anak kembar dari Lawrence.
Film ini bukan hanya menjadi debut Poirier, juga menjadi yang pertama bagi sutradara Noam Murro. Karena itu, bukan hal mudah bagi Murro untuk menyinergikan akting para pemain yang sudah punya nama. Untunglah, Murro berhasil mengharmoniskan akting Quaid, Page, Church, dan Parker. Mereka tampil maksimal menjiwai karakter Smart People yang unik.
Yang patut dicatat adalah akting Page dan Church. Page --sebelumnya menuai sukses di film Juno-- memainkan karakter Vanessa dengan bagus. Page berhasil menampilkan dua wajah Vanessa yang android, sinis, dan cerdas di satu sisi. Dan di sisi sebaliknya, Vanessa juga remaja atraktif kesepian yang haus kasih sayang dari orang-orang terdekatnya.
Church memerankan Chuck sama bagusnya seperti ketika bermain di Sideways. Ekspresi komikal Church tampak melebur dengan karakter Chuck yang slengekan dan easy going. Cerita Smart People memang tak setajam Who's Afraid of Virginia Woolf ataupun Wonder Boys. Tapi film sepanjang 95 menit ini lebih natural pada saat menggambarkan realitas keseharian kalangan akademisi.
Astari Yanuarti
Blog ini berisi kumpulan artikel tentang Indonesia dari berbagai sisi seperti politik, ekonomi, budaya, sosial, teknologi dan militer. Selain itu, ada banyak cerita perjalanan ke banyak negara yang telah dikunjungi penulisnya. Setelah cukup lama 'mati suri', blog ini akan kembali aktif diisi mulai bulan November 2016.
Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan
Rabu, Agustus 06, 2008
Obat Stres di Sela Kemacetan
Gatra No 38 / XIV 6 Agu 2008
Kekuatan lirik Daughtry dan penampilannya yang komunikatif memuaskan ribuan penggemarnya. Band rock dengan album debut terjual 4,3 juta keping ini menyanyikan 13 lagu nonstop.
Ada yang tak biasa pada konser band rock Daughtry di panggung Traffic Jam Street Party, Parkir Timur Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Jumat malam lalu. Ketika pertunjukan berlangsung, tempat duduk di tribun VIP ditinggalkan penghuninya. Padahal, sebelum konser dimulai pukul 22.30 WIB, nyaris tak ada kursi kosong.
Ternyata penonton VIP itu berbaur dengan ribuan penonton di area festival. Artis Maudy Koesnaedi dan sang suami, Erik Meijer, pun berdiri di depan panggung. Pasangan Ira Wibowo dan Katon Bagaskara sibuk pindah posisi mencari tempat nyaman. ''Jangan di sini, suara vokalisnya nggak keluar. Coba ke sebelah sana,'' Katon mengajak istrinya pindah ke sisi kanan panggung.
Memang terdengar ada yang kurang pas pada mik Chris Daughtry di tiga lagu pertama. Suara peringkat keempat ''American Idol'' musim kelima itu nyaris tenggelam oleh dentuman drum yang dimainkan Joey Barnes. Meski, masih bisa meningkahi lengkingan gitar Brian Craddock dan Josh Steely serta bas milik Josh Paul.
Pada lagu keempat, Standing Still, mik Chris mulai beres. Penonton pun makin bersemangat bergoyang dan bernyanyi. Mulai lagu Over You dan It's Not Over yang memang punya refrain enak dihafal dan menyentak. Juga lagu What About Now yang bernuansa balada dengan lirik menyentuh, berkisah tentang hubungan dua insan yang tak harmonis.
Nah, puncak paduan suara terjadi pada lagu Home. Lagu yang bercerita tentang kerinduan mendalam untuk pulang ke rumah itu memang paling akrab di telinga penggemar Daughtry di Indonesia. Sedangkan di Amerika, lagu ini menempati posisi pertama chart ''Top Adult 40''. Popularitasnya makin melonjak ketika terpilih menjadi lagu pengiring babak eliminasi ''American Idol'' musim keenam (2007).
Usai melantunkan Home, Daughtry menutup konser dengan There and Back Again. ''Mereka bagus banget. Nggak sia-sia gue bela-belain beli ponsel agar bisa nonton Daughtry,'' ujar Susita, karyawati berusia 27 tahun. Soal ponsel bukan hanya Susita yang wajib membeli. Sebab tiket konser ini cuma bisa didapat dari pembelian ponsel Sony Ericsson di ajang Traffic Jam sejak 12 Juni hingga 25 Juli.
Acara itu berlangsung di tujuh kota besar di Indonesia, yakni Jabodetabek, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Medan, dan Makassar. Hanny Sanjaya, Product Manager Sony Ericsson, menyatakan bahwa acara Traffic Jam Street adalah bentuk apresiasi pada pemakai Sony Ericsson. Selama roadshow Traffic Jam di Jabodetabek dan Bandung, mereka berhasil melego lebih dari 2.000 unit ponsel. Setiap ponsel yang dibeli bisa ditukar dengan dua tiket konser Daughtry. Sedangkan di kota-kota lain, tiket konser diundi untuk satu pemenang.
Hanny menyebutkan mereka sengaja memilih Daughtry sebagai pengisi acara puncak dengan pertimbangan matang. “Ini hasil konsensus perwakilan Indonesia, Malaysia, dan Singapura,” ujarnya. Acara Traffic Jam Street Party memang berlangsung di tiga negara ini.
Selain karena prestasi dan kualitas, mereka juga terkesan dengan kerendahan hati dan sikap kooperatif kelima personal band asal North Carolina itu. Baru menelorkan album debut, mereka sanggup menjual hingga 4,3 juta keping ( hanya di Amerika saja dan belum mencakup penjualan 7 single dari album yang sama). Di Indonesia, penjualan keping CD-nya mencapai 11 ribu, di luar penjualan online yang belum tercatat datanya.
Meski baru berusia dua tahun, segudang penghargaan juga sudah direngkuh. Mereka meraih empat nominasi di Grammy Award 2008. Tahun sebelumnya, mereka memenangi tiga kategori American Music Award, pemenang Best Song Rock untuk Home di ajang People Choice Award, dan menggondol enam juara di Billboard Music Award 2007.
Keramahan Daughtry terlihat nyata selama dua hari di Jakarta. Ketika bertemu dengan pers maupun fans, mereka banyak menebar senyum. Saat konser, Chris selalu menyapa dan melontar beragam komentar , sebelum menyanyikan sebuah lagu.
Walau Chris belum bisa mengucap sepatah kata dalam bahasa Indonesia, komunikasi dengan penonton tetap berlangsung hangat. Kedekatan dengan penggemar memang menjadi salah satu kunci sukses Daughtry yang berencana merilis album kedua April 2009 nanti.
Astari Yanuarti
Kekuatan lirik Daughtry dan penampilannya yang komunikatif memuaskan ribuan penggemarnya. Band rock dengan album debut terjual 4,3 juta keping ini menyanyikan 13 lagu nonstop.
Ada yang tak biasa pada konser band rock Daughtry di panggung Traffic Jam Street Party, Parkir Timur Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Jumat malam lalu. Ketika pertunjukan berlangsung, tempat duduk di tribun VIP ditinggalkan penghuninya. Padahal, sebelum konser dimulai pukul 22.30 WIB, nyaris tak ada kursi kosong.
Ternyata penonton VIP itu berbaur dengan ribuan penonton di area festival. Artis Maudy Koesnaedi dan sang suami, Erik Meijer, pun berdiri di depan panggung. Pasangan Ira Wibowo dan Katon Bagaskara sibuk pindah posisi mencari tempat nyaman. ''Jangan di sini, suara vokalisnya nggak keluar. Coba ke sebelah sana,'' Katon mengajak istrinya pindah ke sisi kanan panggung.
Memang terdengar ada yang kurang pas pada mik Chris Daughtry di tiga lagu pertama. Suara peringkat keempat ''American Idol'' musim kelima itu nyaris tenggelam oleh dentuman drum yang dimainkan Joey Barnes. Meski, masih bisa meningkahi lengkingan gitar Brian Craddock dan Josh Steely serta bas milik Josh Paul.
Pada lagu keempat, Standing Still, mik Chris mulai beres. Penonton pun makin bersemangat bergoyang dan bernyanyi. Mulai lagu Over You dan It's Not Over yang memang punya refrain enak dihafal dan menyentak. Juga lagu What About Now yang bernuansa balada dengan lirik menyentuh, berkisah tentang hubungan dua insan yang tak harmonis.
Nah, puncak paduan suara terjadi pada lagu Home. Lagu yang bercerita tentang kerinduan mendalam untuk pulang ke rumah itu memang paling akrab di telinga penggemar Daughtry di Indonesia. Sedangkan di Amerika, lagu ini menempati posisi pertama chart ''Top Adult 40''. Popularitasnya makin melonjak ketika terpilih menjadi lagu pengiring babak eliminasi ''American Idol'' musim keenam (2007).
Usai melantunkan Home, Daughtry menutup konser dengan There and Back Again. ''Mereka bagus banget. Nggak sia-sia gue bela-belain beli ponsel agar bisa nonton Daughtry,'' ujar Susita, karyawati berusia 27 tahun. Soal ponsel bukan hanya Susita yang wajib membeli. Sebab tiket konser ini cuma bisa didapat dari pembelian ponsel Sony Ericsson di ajang Traffic Jam sejak 12 Juni hingga 25 Juli.
Acara itu berlangsung di tujuh kota besar di Indonesia, yakni Jabodetabek, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Medan, dan Makassar. Hanny Sanjaya, Product Manager Sony Ericsson, menyatakan bahwa acara Traffic Jam Street adalah bentuk apresiasi pada pemakai Sony Ericsson. Selama roadshow Traffic Jam di Jabodetabek dan Bandung, mereka berhasil melego lebih dari 2.000 unit ponsel. Setiap ponsel yang dibeli bisa ditukar dengan dua tiket konser Daughtry. Sedangkan di kota-kota lain, tiket konser diundi untuk satu pemenang.
Hanny menyebutkan mereka sengaja memilih Daughtry sebagai pengisi acara puncak dengan pertimbangan matang. “Ini hasil konsensus perwakilan Indonesia, Malaysia, dan Singapura,” ujarnya. Acara Traffic Jam Street Party memang berlangsung di tiga negara ini.
Selain karena prestasi dan kualitas, mereka juga terkesan dengan kerendahan hati dan sikap kooperatif kelima personal band asal North Carolina itu. Baru menelorkan album debut, mereka sanggup menjual hingga 4,3 juta keping ( hanya di Amerika saja dan belum mencakup penjualan 7 single dari album yang sama). Di Indonesia, penjualan keping CD-nya mencapai 11 ribu, di luar penjualan online yang belum tercatat datanya.
Meski baru berusia dua tahun, segudang penghargaan juga sudah direngkuh. Mereka meraih empat nominasi di Grammy Award 2008. Tahun sebelumnya, mereka memenangi tiga kategori American Music Award, pemenang Best Song Rock untuk Home di ajang People Choice Award, dan menggondol enam juara di Billboard Music Award 2007.
Keramahan Daughtry terlihat nyata selama dua hari di Jakarta. Ketika bertemu dengan pers maupun fans, mereka banyak menebar senyum. Saat konser, Chris selalu menyapa dan melontar beragam komentar , sebelum menyanyikan sebuah lagu.
Walau Chris belum bisa mengucap sepatah kata dalam bahasa Indonesia, komunikasi dengan penonton tetap berlangsung hangat. Kedekatan dengan penggemar memang menjadi salah satu kunci sukses Daughtry yang berencana merilis album kedua April 2009 nanti.
Astari Yanuarti
Dilema Moral Kesatria Kegelapan
Gatra No 38 / XIV 6 Agu 2008
THE DARK KNIGHT
Pemain: Christian Bale, Heath Ledger, Michael Caine, Aaron Eckhart, Gary Oldman, Morgan Freeman, dan Maggie Gyllenhaal
Sutradara: Christhoper Nolan
Penulis Skenario: Christhoper Nolan dan Jonathan Nolan
Rating: Dewasa
Produksi: Warner Bros, 2008
Seperti prekuelnya, Batman Begins, kesuraman masih mewarnai The Dark Knight. Alur ceritanya lebih rumit. Meski lebih manusiawi, kali ini penuh dengan aksi sadis dan brutal. Tidak layak ditonton anak-anak.
Segunung rasa penasaran memenuhi benak ketika akan menonton The Dark Knight. Film ini langsung mencetak rekor box-office. Hanya dalam lima hari, The Dark Knight mengeruk US$ 200 juta di Amerika, sehingga langsung balik modal yang ''hanya'' US$ 180 juta.
Prestasi film sepanjang dua setengah jam itu menumbangkan rekor tiga film sekaligus. Pirates of the Caribbean: Dead Man's Chest, Spider-Man 2, dan Star Wars Episode III: Revenge of the Sith baru bisa mendulang angka serupa setelah rilis hari kedelapan.
Media massa di Amerika memberi beberapa alasan yang membuat The Dark Knight laris manis. Kematian tragis aktor berbakat Heath Ledger akibat overdosis obat tidur, enam bulan sebelum perilisan film ini, memicu rasa penasaran publik. Mereka berduyun-duyun masuk ke bioskop untuk menyaksikan akting Ledger sebagai Joker, psikopat yang menjadi musuh besar Batman.
Alasan lain, alur cerita garapan dua bersaudara Christhoper Nolan dan Jonathan Nolan begitu impresif dalam membahas kompleksitas dilema moral para tokoh protagonis, yaitu Batman/Bruce Wayne (Christian Bale), Letnan James Gordon (Gary Oldman), dan Jaksa Wilayah Harvey Dent (Aaron Eckhart). Christhoper Nolan yang merangkap sebagai sutradara dianggap berhasil memanusiawikan sosok Kesatria Kegelapan sehingga jauh dari stereotipe superhero dalam buku komik lain.
Tanpa ragu, mayoritas kritikus film di Amerika menyebut The Dark Knight paling bagus dibandingkan dengan seluruh film Batman lainnya.
Aksi perampokan bank oleh segerombolan orang bertopeng Joker mengawali kisah The Dark Knight. Serbuan ini berakhir kematian semua perampok dan beberapa petugas bank, kecuali Joker sungguhan. Berkat akal bulus dan kebrutalannya, Joker bisa mengantongi uang perampokan jutaan dolar.
Bukan hanya Joker yang mengancam ketenteraman penduduk Kota Gotham. Bos gangster Salvatore Maroni (Eric Roberts) pun masih sering berulah, meski tengah menghadapi tuntutan hukum melawan Jaksa Dent. Ironisnya, penduduk Gotham malah masih mempertanyakan peran Batman. Apakah Batman layak menjadi pahlawan selamanya atau hanya menjadi penjaga keamanan untuk menangani kejahatan.
Joker yang kemudian menggandeng Maroni dengan culas memanfaatkan momentum ini. Joker lalu menebar teror dengan pengeboman dan rangkaian pembunuhan supersadis. Puluhan nyawa penduduk sipil, polisi, politisi, bahkan sesama penjahat pun melayang. Ia menyatakan akan menghentikan aksinya jika Batman mau membuka topeng.
Akting Ledger patut diacungi jempol. Ia begitu menyelami karakter Joker yang bengis, kekanak-kanakan, dan licik. Legder melengkapi sosok Joker dengan sorot mata kosong menusuk, kecapan konstan ketika berbicara, hingga seringai sadis. Selain Legder, Bale tetap memukau memainkan karakter Batman yang memegang teguh aturan serta Wayne yang flamboyan dan playboy.
Masih ada pula serangkaian adegan seru dan keindahan sinematografi. Plus alur cerita yang menabrak pakem adaptasi komik superhero. Semua hal tadi membuat film ini layak tonton untuk orang dewasa.
Walau punya segudang kelebihan, masih ada alur cerita yang mengganggu. Yakni ketika Batman tak tega menghabisi Joker dalam dua kesempatan emas. Atas nama menaati aturan dan mengalahkan sisi jahat dalam dirinya, Batman membiarkan Joker terus bernapas. Batman mendadak lupa pada semua kekejian dan kebrutalan Joker. Padahal, kematian korban-korban Joker sebelumnya membuat Batman merasa amat bersalah dan marah.
Lebih aneh lagi, Batman tak berpikir dua kali ketika membunuh Harvey si Two Face (kesatria putih kota Gotham yang baru saja berubah jahat usai kematian Rachel Dawes --diperankan oleh Maggie Gyllenhaal). Kejadian ini mementahkan semua perdebatan moral tentang kebaikan dan kejahatan di sepanjang film.
Nolan telah memilih: memaksakan alur cerita untuk memberi kesempatan karakter Joker muncul lagi di sekuel selanjutnya. Nolan lebih memilih Joker daripada keselamatan dan ketenteraman jutaan penduduk Gotham.
Andai Joker bukanlah psikopat dengan kegilaan yang mengiris-iris rasa kemanusiaan, pilihan Nolan masuk akal. Masalahnya, Joker dalam The Dark Knight adalah wujud sempurna seorang psikopat tanpa hati nurani dengan satu prinsip, ''I'm an agent of chaos.''
Astari Yanuarti
THE DARK KNIGHT
Pemain: Christian Bale, Heath Ledger, Michael Caine, Aaron Eckhart, Gary Oldman, Morgan Freeman, dan Maggie Gyllenhaal
Sutradara: Christhoper Nolan
Penulis Skenario: Christhoper Nolan dan Jonathan Nolan
Rating: Dewasa
Produksi: Warner Bros, 2008
Seperti prekuelnya, Batman Begins, kesuraman masih mewarnai The Dark Knight. Alur ceritanya lebih rumit. Meski lebih manusiawi, kali ini penuh dengan aksi sadis dan brutal. Tidak layak ditonton anak-anak.
Segunung rasa penasaran memenuhi benak ketika akan menonton The Dark Knight. Film ini langsung mencetak rekor box-office. Hanya dalam lima hari, The Dark Knight mengeruk US$ 200 juta di Amerika, sehingga langsung balik modal yang ''hanya'' US$ 180 juta.
Prestasi film sepanjang dua setengah jam itu menumbangkan rekor tiga film sekaligus. Pirates of the Caribbean: Dead Man's Chest, Spider-Man 2, dan Star Wars Episode III: Revenge of the Sith baru bisa mendulang angka serupa setelah rilis hari kedelapan.
Media massa di Amerika memberi beberapa alasan yang membuat The Dark Knight laris manis. Kematian tragis aktor berbakat Heath Ledger akibat overdosis obat tidur, enam bulan sebelum perilisan film ini, memicu rasa penasaran publik. Mereka berduyun-duyun masuk ke bioskop untuk menyaksikan akting Ledger sebagai Joker, psikopat yang menjadi musuh besar Batman.
Alasan lain, alur cerita garapan dua bersaudara Christhoper Nolan dan Jonathan Nolan begitu impresif dalam membahas kompleksitas dilema moral para tokoh protagonis, yaitu Batman/Bruce Wayne (Christian Bale), Letnan James Gordon (Gary Oldman), dan Jaksa Wilayah Harvey Dent (Aaron Eckhart). Christhoper Nolan yang merangkap sebagai sutradara dianggap berhasil memanusiawikan sosok Kesatria Kegelapan sehingga jauh dari stereotipe superhero dalam buku komik lain.
Tanpa ragu, mayoritas kritikus film di Amerika menyebut The Dark Knight paling bagus dibandingkan dengan seluruh film Batman lainnya.
Aksi perampokan bank oleh segerombolan orang bertopeng Joker mengawali kisah The Dark Knight. Serbuan ini berakhir kematian semua perampok dan beberapa petugas bank, kecuali Joker sungguhan. Berkat akal bulus dan kebrutalannya, Joker bisa mengantongi uang perampokan jutaan dolar.
Bukan hanya Joker yang mengancam ketenteraman penduduk Kota Gotham. Bos gangster Salvatore Maroni (Eric Roberts) pun masih sering berulah, meski tengah menghadapi tuntutan hukum melawan Jaksa Dent. Ironisnya, penduduk Gotham malah masih mempertanyakan peran Batman. Apakah Batman layak menjadi pahlawan selamanya atau hanya menjadi penjaga keamanan untuk menangani kejahatan.
Joker yang kemudian menggandeng Maroni dengan culas memanfaatkan momentum ini. Joker lalu menebar teror dengan pengeboman dan rangkaian pembunuhan supersadis. Puluhan nyawa penduduk sipil, polisi, politisi, bahkan sesama penjahat pun melayang. Ia menyatakan akan menghentikan aksinya jika Batman mau membuka topeng.
Akting Ledger patut diacungi jempol. Ia begitu menyelami karakter Joker yang bengis, kekanak-kanakan, dan licik. Legder melengkapi sosok Joker dengan sorot mata kosong menusuk, kecapan konstan ketika berbicara, hingga seringai sadis. Selain Legder, Bale tetap memukau memainkan karakter Batman yang memegang teguh aturan serta Wayne yang flamboyan dan playboy.
Masih ada pula serangkaian adegan seru dan keindahan sinematografi. Plus alur cerita yang menabrak pakem adaptasi komik superhero. Semua hal tadi membuat film ini layak tonton untuk orang dewasa.
Walau punya segudang kelebihan, masih ada alur cerita yang mengganggu. Yakni ketika Batman tak tega menghabisi Joker dalam dua kesempatan emas. Atas nama menaati aturan dan mengalahkan sisi jahat dalam dirinya, Batman membiarkan Joker terus bernapas. Batman mendadak lupa pada semua kekejian dan kebrutalan Joker. Padahal, kematian korban-korban Joker sebelumnya membuat Batman merasa amat bersalah dan marah.
Lebih aneh lagi, Batman tak berpikir dua kali ketika membunuh Harvey si Two Face (kesatria putih kota Gotham yang baru saja berubah jahat usai kematian Rachel Dawes --diperankan oleh Maggie Gyllenhaal). Kejadian ini mementahkan semua perdebatan moral tentang kebaikan dan kejahatan di sepanjang film.
Nolan telah memilih: memaksakan alur cerita untuk memberi kesempatan karakter Joker muncul lagi di sekuel selanjutnya. Nolan lebih memilih Joker daripada keselamatan dan ketenteraman jutaan penduduk Gotham.
Andai Joker bukanlah psikopat dengan kegilaan yang mengiris-iris rasa kemanusiaan, pilihan Nolan masuk akal. Masalahnya, Joker dalam The Dark Knight adalah wujud sempurna seorang psikopat tanpa hati nurani dengan satu prinsip, ''I'm an agent of chaos.''
Astari Yanuarti
Sabtu, April 05, 2008
N82: Andal untuk Foto Malam Hari
14 / XIV 20 Peb 2008
Nokia sepertinya tak mau ketinggalan berlomba di kategori ponsel kamera. Pasar di sisi ini memang terus bergerak cepat. Jika dua tahun lalu kamera yang paling umum digunakan ponsel masih di kisaran 1,5 MP, tahun ini tren kamera ponsel sudah 5 MP. Bahkan Samsung sudah merilis ponsel berkamera 7 MP, meski belum banyak beredar di pasar.
Setelah merilis N95 yang dibekali kamera 5 MP, awal bulan ini Nokia kembali menggebrak dengan N82. Semua fitur unggulan N95 juga tertanam dalam N82. Ada kamera berkekuatan 5 megapiksel dengan xenon flash, autofocus, dan lensa Carl Zeiss, dukungan 3G dengan HSDPA, WiFi, memori tambahan jenis MicroSD hingga sebesar 2GB dalam satu paket, A-GPS (Assisted GPS), kamera untuk video calling, radio FM radio, dan Bluetooth stereo.
Tak mengherankan jika N82 diberi julukan si adik. Layaknya adik, tentu punya kebaruan. Nah, yang pertama kali terlihat adalah desain yang beda. Bentuk candy-bar N82 lebih mengikuti selera pengguna telepon. Beda dengan N95 yang berdesain sliding.
Selain itu, N82 lebih diposisikan sebagai ponsel kamera andal untuk pemotretan malam hari, sekaligus pemandu jalan yang akurat. Ini terlihat dengan penggelaran kompetisi Wireless Adventure 2: Discover The Soul of The Night di Malaysia, Indonesia, Thailand, dan Filipina. Peserta ditantang untuk memotret kehidupan dan atraksi wisata malam di seputar ibu kota masing-masing negara.
Maka, ketika mencoba N82, Gatra juga lebih fokus pada penggunaan fitur kamera. Untuk pemotretan luar ruang, tak diragukan lagi, hasilnya tajam dan fokus. Tantangannya pada saat memotret dalam ruangan dengan pencahayaan kurang. Ternyata hasilnya tak mengecewakan. Bahkan, jika mengaktifkan xenon flash, tampilan gambar bisa lebih tajam.
Kegiatan mengambil gambar itu makin asyik karena ponsel seharga Rp 5,5 juta ini berbekal teknologi auto-screen rotation. Fitur ini menjadi tren seiring dengan booming iPhone yang mengenalkan rotasi layar otomatis. Jadi, ketika kita mengganti posisi ponsel dari vertikal ke horizontal, tampilan layar akan ikut.
Kepuasan memotret juga didukung dengan memori ponsel Micro-SD sebesar 2 GB. Memori eksternal ini sudah tersedia dalam paket penjualan, sebagai pelengkap memori internal yang hanya 132 MB.
Selain unggul untuk memotret, N82 juga bagus untuk merekam video karena sudah mampu merekam dengan 30 frame per detik. Ini setara dengan teknologi dalam keping DVD.
Tapi ada dua hal yang mengganggu. Pertama, tombol-tombol di keypad terlalu kecil sehingga menyulitkan bagi pengguna umum. Jika tetap mempertahankan model keypad seperti itu, akan lebih baik jika dilengkapi dengan fitur layar sentuh. Pengguna bisa lebih nyaman ketika mengetik dengan pena stylus.
Kedua, baterainya cepat drop, hanya sanggup bertahan 12 jam, meski cuma dipakai untuk memotret dan mentransfer data dengan Bluetooth sekitar satu setengah jam. Padahal, N82 diklaim punya waktu bicara hingga lima jam dan waktu siaga hingga sembilan hari.
Astari Yanuarti
Spesifikasi Nokia N82
Jaringan: HSDPA UMTS 2100 GSM 850/900/1800/1900
Fitur unggulan: Kamera 5 MP dengan xenon flash, Nokia Maps, perekam video 30 frame per detik, auto-screen rotation
Koneksi: Bluetooth, Wi-Fi, USB
Harga: sekitar Rp 5,5 juta
Nokia sepertinya tak mau ketinggalan berlomba di kategori ponsel kamera. Pasar di sisi ini memang terus bergerak cepat. Jika dua tahun lalu kamera yang paling umum digunakan ponsel masih di kisaran 1,5 MP, tahun ini tren kamera ponsel sudah 5 MP. Bahkan Samsung sudah merilis ponsel berkamera 7 MP, meski belum banyak beredar di pasar.
Setelah merilis N95 yang dibekali kamera 5 MP, awal bulan ini Nokia kembali menggebrak dengan N82. Semua fitur unggulan N95 juga tertanam dalam N82. Ada kamera berkekuatan 5 megapiksel dengan xenon flash, autofocus, dan lensa Carl Zeiss, dukungan 3G dengan HSDPA, WiFi, memori tambahan jenis MicroSD hingga sebesar 2GB dalam satu paket, A-GPS (Assisted GPS), kamera untuk video calling, radio FM radio, dan Bluetooth stereo.
Tak mengherankan jika N82 diberi julukan si adik. Layaknya adik, tentu punya kebaruan. Nah, yang pertama kali terlihat adalah desain yang beda. Bentuk candy-bar N82 lebih mengikuti selera pengguna telepon. Beda dengan N95 yang berdesain sliding.
Selain itu, N82 lebih diposisikan sebagai ponsel kamera andal untuk pemotretan malam hari, sekaligus pemandu jalan yang akurat. Ini terlihat dengan penggelaran kompetisi Wireless Adventure 2: Discover The Soul of The Night di Malaysia, Indonesia, Thailand, dan Filipina. Peserta ditantang untuk memotret kehidupan dan atraksi wisata malam di seputar ibu kota masing-masing negara.
Maka, ketika mencoba N82, Gatra juga lebih fokus pada penggunaan fitur kamera. Untuk pemotretan luar ruang, tak diragukan lagi, hasilnya tajam dan fokus. Tantangannya pada saat memotret dalam ruangan dengan pencahayaan kurang. Ternyata hasilnya tak mengecewakan. Bahkan, jika mengaktifkan xenon flash, tampilan gambar bisa lebih tajam.
Kegiatan mengambil gambar itu makin asyik karena ponsel seharga Rp 5,5 juta ini berbekal teknologi auto-screen rotation. Fitur ini menjadi tren seiring dengan booming iPhone yang mengenalkan rotasi layar otomatis. Jadi, ketika kita mengganti posisi ponsel dari vertikal ke horizontal, tampilan layar akan ikut.
Kepuasan memotret juga didukung dengan memori ponsel Micro-SD sebesar 2 GB. Memori eksternal ini sudah tersedia dalam paket penjualan, sebagai pelengkap memori internal yang hanya 132 MB.
Selain unggul untuk memotret, N82 juga bagus untuk merekam video karena sudah mampu merekam dengan 30 frame per detik. Ini setara dengan teknologi dalam keping DVD.
Tapi ada dua hal yang mengganggu. Pertama, tombol-tombol di keypad terlalu kecil sehingga menyulitkan bagi pengguna umum. Jika tetap mempertahankan model keypad seperti itu, akan lebih baik jika dilengkapi dengan fitur layar sentuh. Pengguna bisa lebih nyaman ketika mengetik dengan pena stylus.
Kedua, baterainya cepat drop, hanya sanggup bertahan 12 jam, meski cuma dipakai untuk memotret dan mentransfer data dengan Bluetooth sekitar satu setengah jam. Padahal, N82 diklaim punya waktu bicara hingga lima jam dan waktu siaga hingga sembilan hari.
Astari Yanuarti
Spesifikasi Nokia N82
Jaringan: HSDPA UMTS 2100 GSM 850/900/1800/1900
Fitur unggulan: Kamera 5 MP dengan xenon flash, Nokia Maps, perekam video 30 frame per detik, auto-screen rotation
Koneksi: Bluetooth, Wi-Fi, USB
Harga: sekitar Rp 5,5 juta
Hitech H382: Bentuk Modis, Nonton TV Gratis
14 / XIV 20 Peb 2008
Sukses menggebrak pasar dengan seri H38, Hitech makin pede dengan fitur unggulan TV tuner. Akhir tahun lalu, mereka meluncurkan varian baru, H382 dan H39. Keduanya masih mengandalkan TV tuner. Bedanya, ada koneksi Bluetooth sehingga memudahkan transfer data, plus desain yang makin ergonomis dan cantik.
Perubahan desain ini terlihat pada saat pertama menerima H382 untuk dicoba. Meski sama-sama mengusung nama depan H38, H382 punya tampilan lebih menarik. Warna silver metalik dipilih sebagai cover dan keypad. Sedangkan bodinya hitam legam.
Perbaikan juga tampak pada keypad, yang lebih nyaman digunakan dan dipandang dibandingkan dengan model H38. Apalagi, akses cepat TV tuner sudah dipasang di sisi kanan tombol serba guna utama. Selain itu, masih ada tombol khusus TV di samping kanan. Tinggal pencet, bisa langsung nonton siaran TV lokal. Gratis.
Ya, benar-benar tak perlu bayar. Sesuai dengan namanya, TV tuner, maka fitur ini memberi kebebasan pada penggunanya untuk menonton semua siaran TV terestrial, baik nasional maupun lokal. Jadi, persis sama dengan TV biasa yang ada di rumah.
Ketika pertama memakai fitur ini, lakukan pencarian otomotis terlebih dulu. Setelah itu, ponsel akan menyimpan semua channel TV yang tersedia. Selanjutnya, tinggal pilih stasiun TV mana yang akan ditonton. Untuk mengubah saluran tinggal, pencet tombol up-down tepat di atas tombol khusus TV. Kalau mau lebih nyaman, ubah tampilan layar menjadi landscape.
Tampilan siaran akan sangat jernih jika lokasi pengguna telepon bisa menangkap sinyal dengan baik. Pada saat pengetesan oleh Gatra, hampir semua stasiun TV bisa tampil jelas. Meski memang harus sesekali mengubah arah antena yang ada di sisi kanan atas.
Walaupun kualitas gambarnya bagus karena ditopang dengan layar lebar TFT 262.000 warna (320 x 240 piksel), untuk adegan yang bergerak cepat, gambar cenderung blur. Namun, secara umum, fitur TV tuner ini sudah memuaskan. Apalagi, didukung dengan suara stereo dari speaker 3D sound yang terletak di belakang ponsel.
Ketahanan baterainya juga lumayan. Jika dipakai menonton TV nonstop, mencapai dua jam. Kalau ingin lebih lama menonton, bisa sambil dicolokkan ke listrik. Sedangkan waktu siaga baterai mencapai empat hari.
Meski mengandalkan TV tuner, H382 masih punya beberapa fitur oke lainnya. Misalnya, bisa untuk mendengarkan radio FM, mendengarkan MP3, bisa merekam video, dan merekam suara. Bahkan bisa untuk foto karena sudah dilengkapi dengan kamera 1,3 megapiksel (MP).
Yang juga tak kalah asyik adalah layar sentuh. Biasanya teknologi ini hanya digunakan oleh ponsel pintar dan PDA yang harganya mahal. Uniknya lagi, pena stylus ponsel seharga Rp 1,8 juta ini bergabung dengan antena. Jadi, jika antena dicopot, di ujung satunya akan tampak pena stylus. Masih ada fitur handwriting jika kesulitan mengetik di keypad. Kemampuan menerjemahkan tulisan tangan kita tergolong bagus.
Satu lagi fitur yang layak ditulis adalah anti-maling dan pengaturan jarak jauh. Pengaktifan dua fitur ini (ada di menu ''pengaturan'') bisa membantu kita melakukan kontrol jarah jauh jika ponsel hilang. Pengaturan yang bisa dilakukan adalah pematian otomatis, penghapusan buku telepon, daftar panggilan telepon, daftar SMS, hingga memformat media penyimpan. Jadi, meski ponsel dicuri, si maling tetap tak bisa menggunakannya.
Astari Yanuarti
Spesifikasi Hitech H382
Jaringan: GSM 900/DCS 1800
Fitur unggulan: TV tuner, kamera 1,3 MP, touchscreen, radio FM, anti-theft trace, dan remote control
Memori: 850 kb plus MicroSD sampai 2 GB
Kapasitas buku telepon: 300
Kapasitas SMS: 300
Koneksi: Bluetooth A2DP dan USB
Baterai: Li-ion 1500 mAh, waktu siaga 96 jam, waktu bicara 3 jam
Harga: Rp 1,8 juta
Sukses menggebrak pasar dengan seri H38, Hitech makin pede dengan fitur unggulan TV tuner. Akhir tahun lalu, mereka meluncurkan varian baru, H382 dan H39. Keduanya masih mengandalkan TV tuner. Bedanya, ada koneksi Bluetooth sehingga memudahkan transfer data, plus desain yang makin ergonomis dan cantik.
Perubahan desain ini terlihat pada saat pertama menerima H382 untuk dicoba. Meski sama-sama mengusung nama depan H38, H382 punya tampilan lebih menarik. Warna silver metalik dipilih sebagai cover dan keypad. Sedangkan bodinya hitam legam.
Perbaikan juga tampak pada keypad, yang lebih nyaman digunakan dan dipandang dibandingkan dengan model H38. Apalagi, akses cepat TV tuner sudah dipasang di sisi kanan tombol serba guna utama. Selain itu, masih ada tombol khusus TV di samping kanan. Tinggal pencet, bisa langsung nonton siaran TV lokal. Gratis.
Ya, benar-benar tak perlu bayar. Sesuai dengan namanya, TV tuner, maka fitur ini memberi kebebasan pada penggunanya untuk menonton semua siaran TV terestrial, baik nasional maupun lokal. Jadi, persis sama dengan TV biasa yang ada di rumah.
Ketika pertama memakai fitur ini, lakukan pencarian otomotis terlebih dulu. Setelah itu, ponsel akan menyimpan semua channel TV yang tersedia. Selanjutnya, tinggal pilih stasiun TV mana yang akan ditonton. Untuk mengubah saluran tinggal, pencet tombol up-down tepat di atas tombol khusus TV. Kalau mau lebih nyaman, ubah tampilan layar menjadi landscape.
Tampilan siaran akan sangat jernih jika lokasi pengguna telepon bisa menangkap sinyal dengan baik. Pada saat pengetesan oleh Gatra, hampir semua stasiun TV bisa tampil jelas. Meski memang harus sesekali mengubah arah antena yang ada di sisi kanan atas.
Walaupun kualitas gambarnya bagus karena ditopang dengan layar lebar TFT 262.000 warna (320 x 240 piksel), untuk adegan yang bergerak cepat, gambar cenderung blur. Namun, secara umum, fitur TV tuner ini sudah memuaskan. Apalagi, didukung dengan suara stereo dari speaker 3D sound yang terletak di belakang ponsel.
Ketahanan baterainya juga lumayan. Jika dipakai menonton TV nonstop, mencapai dua jam. Kalau ingin lebih lama menonton, bisa sambil dicolokkan ke listrik. Sedangkan waktu siaga baterai mencapai empat hari.
Meski mengandalkan TV tuner, H382 masih punya beberapa fitur oke lainnya. Misalnya, bisa untuk mendengarkan radio FM, mendengarkan MP3, bisa merekam video, dan merekam suara. Bahkan bisa untuk foto karena sudah dilengkapi dengan kamera 1,3 megapiksel (MP).
Yang juga tak kalah asyik adalah layar sentuh. Biasanya teknologi ini hanya digunakan oleh ponsel pintar dan PDA yang harganya mahal. Uniknya lagi, pena stylus ponsel seharga Rp 1,8 juta ini bergabung dengan antena. Jadi, jika antena dicopot, di ujung satunya akan tampak pena stylus. Masih ada fitur handwriting jika kesulitan mengetik di keypad. Kemampuan menerjemahkan tulisan tangan kita tergolong bagus.
Satu lagi fitur yang layak ditulis adalah anti-maling dan pengaturan jarak jauh. Pengaktifan dua fitur ini (ada di menu ''pengaturan'') bisa membantu kita melakukan kontrol jarah jauh jika ponsel hilang. Pengaturan yang bisa dilakukan adalah pematian otomatis, penghapusan buku telepon, daftar panggilan telepon, daftar SMS, hingga memformat media penyimpan. Jadi, meski ponsel dicuri, si maling tetap tak bisa menggunakannya.
Astari Yanuarti
Spesifikasi Hitech H382
Jaringan: GSM 900/DCS 1800
Fitur unggulan: TV tuner, kamera 1,3 MP, touchscreen, radio FM, anti-theft trace, dan remote control
Memori: 850 kb plus MicroSD sampai 2 GB
Kapasitas buku telepon: 300
Kapasitas SMS: 300
Koneksi: Bluetooth A2DP dan USB
Baterai: Li-ion 1500 mAh, waktu siaga 96 jam, waktu bicara 3 jam
Harga: Rp 1,8 juta
Langganan:
Postingan (Atom)