Tampilkan postingan dengan label germany. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label germany. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Februari 14, 2009

Menikmati Florence di Tepi Elbe



Kecantikan Dresden bersinar kembali di usia ke-800. Julukan "Florence dari Utara" yang sempat hilang akibat pengeboman Sekutu bisa tersemat lagi.

Sentakan lembut ketika bus berbelok arah membangunkan saya. Sembari meluruskan badan, mata pun melirik jam tangan: pukul 13.15. Pemandangan di luar sudah berubah dari ladang hijau pertanian menjadi deretan rumah, kantor, dan toko. Di beberapa plang nama tertulis: Dresden.

Berarti, tak lama lagi, bus akan tiba di Restoran Radeberger Spezialausschank, yang terletak di Bruelsche Terrasse, kawasan Old Town (Altstadt) Dresden, Negara Bagian Saxony, Jerman. Seperempat jam kemudian, bus berhenti tepat di depan sebuah rumah makan di tepian Sungai Elbe. Kehangatan bus segera berganti dengan terpaan hawa dingin di penghujung musim gugur, November silam.

Setelah lima menit berjalan kaki plus naik 20-an anak tangga, barulah terlihat tulisan Radeberger Spezialausschank tertempel di bangunan segi empat dua lantai warna cokelat muda. Atapnya berupa balkon terbuka yang dihiasi tudung-tudung tenda kuning mencolok. Dari tampilannya bisa ditebak, Radeberger termasuk restoran kuno.

Restoran yang ada di pintu masuk Bruelsche Terrasse itu berdiri sejak 1848. Sedangkan Bruehlsche Terrasse masyhur sebagai area beragam restoran bermenu lezat dengan pemandangan indah Sungai Elbe. Kawasan sepanjang setengah kilometer itu berdiri tepat di atas benteng kota Dresden, yang dibangun pada abad ke-16.


Inilah yang membuat Bruehlsche Terrasse dijuluki "Balkon Eropa". Dari sini, saya bisa melihat Augustusbruecke, jembatan lawas yang menghubungkan Altstadt dan Neustadt (New Town). Dua sisi kota dengan wajah berbeda. Sayang, karena mulai masuk musim dingin, pengunjung tak bisa makan di balkon terbuka.

Setelah menyantap menu makan siang bercita rasa Saxony, saya bersiap menjelajahi kota berpenduduk 5.000 jiwa itu. Tadinya, saya ingin bergabung dengan 20 rekan lain mengelilingi Altstadt dengan panduan guide yang sudah disediakan Departemen Luar Negeri (Deplu) Pemerintah Federal Jerman. Lawatan saya ke Dresden ini memang bagian dari Visitor Program 2008 on The Theme: Renewable Energy, kerja sama Deplu Jerman dengan German Energy Agency (DENA). Peserta program ini berasal dari 20 negara.

Namun, karena waktunya sempit, saya memilih berpisah dari rombongan. Berbekal Lonely Planet, buku pegangan kaum backpacker, saya mulai dengan menyeberangi Augustusbruecke. Di ujung jembatan, tampak kemilau emas patung kesatria berkuda. Monumen di pusat Neustadter Markt ini menjadi salah satu landmark Dresden yang disebut Goldener Reiter (Golden Rider).

Sang kesatria berkostum Romawi itu adalah Augustus The Strong, Raja Saxony paling berpengaruh yang mangkat tahun 1733. Wilayah kekuasaannya sampai ke Polandia. Maka, dia juga menyandang gelar Raja Polandia. Pada masa pemerintahannya, berdiri banyak bangunan megah beraksitektur barok, termasuk Zwinger Palace. Tentu saja dengan melibatkan seniman, musisi, aktor, dan pematung asal Italia. Makanya, pada saat itu Dresden dikenal dengan julukan "Florence di Tepi Sungai Elbe" atau "Florence dari Utara".


Uniknya, arsitek patung Augustus yang dibuat pada 1735 itu bukan dari Italia, melainkan dari Prancis, yakni Jean Joseph Vinanche. Patung itu selamat dari pengeboman pasukan Sekutu ketika Perang Dunia II. Padahal, serangan brutal yang berlangsung pada Februari 1945 nyaris meratakan seluruh bangunan di pusat kota Dresden. Hanya seperempat bangunan indah bersejarah bergaya barok maupun renaisans di Altstadt yang masih berdiri.

Serbuan ribuan pasukan Sekutu menewaskan lebih dari 30.000 warga Dresden. Tak mengherankan bila penduduk setempat menganggap tindakan Sekutu itu serupa dengan Holocaust. Ini pula yang membuat gerakan Neo-Nazi menguat di Dresden. Pada 2005, ada 8.000 pendukung Neo-Nazi yang berkumpul di kota ini. Mereka tak hanya anti-Yahudi, melainkan juga punya sentimen negatif kepada orang asing.

Syukurlah, selama menyusuri kawasan Neustadt yang kosmopolitan dengan pertokoan modern dan restoran bergaya baru, tak terlihat anak-anak muda skinhead. Sebaliknya, wajah-wajah ramah saya jumpai sepanjang jalan utama Hauptstrasse.

***

Setelah mampir ke supermarket untuk membeli pulsa telepon, saya berjalan kembali ke arah Altstadt. Di kawasan kota tua ini, serangkaian perbaikan masih terselip di sana-sini. Rangkaian panjang renovasi pasca-serangan Sekutu dilakukan sejak Jerman belum bersatu. Reunifikasi Jerman mempercepat rekonstruksi massal ini, meski sempat terhenti karena banjir milenium yang melanda Dresden pada 2002. Ketika itu, permukaan Sungai Elbe naik 9 meter dari ketinggian normal akibat curah hujan melebihi normal.

Pada saat saya datang, kerusakan bekas banjir itu tidak terlihat. Yang tampak hanya rekonstruksi tahap lanjutan di beberapa bagian Istana Taschenberg dan Gereja Kreuzkirche. Jadi, secara keseluruhan, bangunan-bangunan kuno di Altstadt sudah berdiri megah seperti kondisi asli di masa silam dan bisa dikunjungi wisatawan.

Misalnya terlihat pada dua gereja utama di Altstadt, yaitu Gereja Katolik Roma Hofkirche dan Gereja Protestan Fauenkirche. Dua gereja ini punya sejarah unik. Hofkirche, yang terletak di antara Schlossplatz dan Theaterplatz, dibangun Augustus the Strong. Sebab, agar sah sebagai Raja Polandia, Augustus harus pindah menjadi penganut Katolik. Padahal, ketika itu, mayoritas penduduk Dresden adalah penganut Protestan yang taat. Maklum, Marthin Luther menerjemahkan Injil ke bahasa Jerman pertama kali di Dresden.

Katedral yang dibangun dari tahun 1738 sampai 1755 itu didesain arsitek Italia, Gaetano Chiaveri. Makanya, nuansa barok sangat kental pada bangunan yang seluruh interiornya nyaris hancur dibom Sekutu itu. Restorasi dilakukan tak lama setelah Perang Dunia II selesai. Menara setinggi 85,5 meter kembali tegak. Juga 78 patung yang mengelilingi semua sisi atap bersusun gereja. Makam empat Raja dan Ratu Saxony tetap bertahan pula di dalam. Pun sebuah kendi berisi hati Augustus the Strong (tubuhnya dimakamkan di Krakow, Polandia).

Berbeda dari Hofkirche, pembangunan Frauenkirche sepenuhnya diprakarsai warga kota Dresden mulai tahun 1726. Bangunan dengan ciri utama kubah "stone bell" ini didesain George Bahr. Sama seperti Hofkirche, serangan carpet bombing menghancurkan gereja berjuluk Church of Our Lady yang berada di jantung kota Dresden itu. Selama hampir setengah abad, Frauenkirche hanya berupa reruntuhan.

Pasca-reunifikasi, upaya renovasi mulai bisa dijalankan. Malah Frauenkirche menjadi simbol rekonsiliasi internasional setelah Perang Dunia II. Donasi pembangunan kembali mengalir dari berbagai penjuru dunia. Akhirnya gereja dan patung Marthin Luther di depannya selesai direnovasi pada 2005, setahun sebelum ulang tahun ke-800 Dresden.

Dua objek lain yang sayang bila dilewatkan adalah Zwinger Palace dan Fuerstenzug. Keduanya dijamin akan mengundang gelengan kepala, diiringi decak kagum. Khusus untuk Zwinger, butuh waktu beberapa jam bila ingin menjelajahi semua bagiannya. Istana superluas ini punya enam museum di dalamnya.

Kemegahannya terlihat dari 32 lorong Long Gallery di sisi selatan serta empat pavilyun simetris di sisi timur dan barat. Koleksi porselen istana ini tercatat terbesar nomor dua di dunia. Ada juga Nymphenbad (pemandian para bidadari) dengan air mancur cantik dan patung-atung dewi pahatan Balthasar Permoser.

Sedangkan Fuerstenzug adalah lukisan mural di dinding luar Istana Residenzschloss. Dengan panjang 102 meter dan tinggi 7 meter, mural porselen ini menjadi yang terpanjang di dunia. Mural yang mulai dilukis pada 1876 ini mengisahkan kehidupan seluruh keluarga Kerajaan Saxony, yang memerintah sejak tahun 1123 hingga 1904. Hanya satu raja yang tak ada dalam mural itu, yakni raja terakhir, Friedrich August III.

***

Hari sudah gelap. Saatnya saya bergabung dengan rombongan untuk menuju Hotel Mercure. Kami harus menaruh koper-koper dulu sebelum kembali bersiap untuk makan malam dan menonton konser klasik di Semperoper (Semper Opera House). Acara terakhir ini saya nantikan sejak tiba di Jerman, lima hari sebelumnya. Niat awal saya, ingin menonton konser klasik di Berlin. Namun jadwal program yang begitu padat membuat kesempatan itu hanya bisa terlaksana di Dresden.

Popularitas Dresden sebagai kota musik klasik belumlah sebersinar Berlin atau Vienna. Tapi kota yang terletak 200 kilometer di selatan Berlin ini punya Semperoper, salah satu gedung opera terindah di dunia. Beberapa musisi klasik kenamaan pertama kali memainkan karyanya di sini, seperti Richard Strauss dan Richard Wagner.

Semperoper dibangun pada 1678 di lokasi yang sama dengan sekarang, yaitu Theaterplatz. Lalu, pada 1838 and 1841, Gottfried Semper membangun gedung tambahan bergaya renaisans (berbeda dari desain barok yang dominan di Altstadt). Tepat di atas pintu utama gedung oval itu terdapat empat patung panther yang ditunggangi Dionysos, dewa seni dalam mitologi Yunani dan Ariadne. Sedangkan di dua sisi pintu masuk, ada patung dua penulis terkenal Jerman, Goethe dan Schiller. Masih ada pantung Shakespeare, Sophocles, Moliere, dan Euripides di ceruk yang terdapat di sisi keliling gedung.

Setelah menjadi bangunan mati selama 40 tahun akibat serangan Sekutu, Semperoper bisa digunakan kembali mulai tahun 1985. Eksterior dan interior bangunan dibuat lagi seperti aslinya. Sehingga kemegahan interior Semperoper tetap mengagumkan. Ada balkon empat tingkat mengelilingi ruang utama yang beratap kubah. Dinding balkon dan atap berhias lukisan malaikat kecil dan para dewi. Lukisan serupa menjadi backdrop panggung utama.

Pada malam itu, jadwal pertunjukan bukan dari kelompok simfoni kenamaan, seperti The Dresden Philharmonic Orchestra dan Dresdner Sinfoniker. Melainkan ensembel Trio Ex Aequo, yang memainkan tiga babak komposisi dari Johannes Brahms. Kelompok ini baru menelurkan satu album. Tapi prestasi ketiga anggotanya, Matthias Wollong (biola), Matthias Moosdorf (selo), dan Gerald Fauth (piano), sebagai solois berderet panjang. Masing-masing telah terlibat dalam pembuatan puluhan rekaman yang meraih penghargaan di banyak negara.

Terbukti, penampilan mereka selama dua jam sangat memuaskan. Saya bersama ribuan penonton yang memadati Semperoper memberi aplaus panjang di akhir konser. Saking panjangnya, Trio Ex Aequo harus bolak-balik empat kali ke depan panggung.

Apresiasi heboh penonton itu membuat saya terkesima. Rasanya sulit menemukan kombinasi sempurna konser musik klasik seperti ini di Indonesia. Saya sungguh beruntung. Berbekal tiket seharga 9,1 euro, bisa menonton konser di gedung opera megah bertata cahaya dan tata suara sempurna, disuguhi penampilan cantik, dan larut dalam keriaan penonton. Pengalaman ini, ditambah dengan keindahan Altstadt dan sajian menu lezat khas Saxony, membuat persinggahan sehari di Dresden mengguratkan kenangan manis.

Astari Yanuarti (Dresden)
*Originally published in Gatra No 7/XV 31 Desember 2008

Kamis, Desember 18, 2008

OSTRITZ DARI SEGITIGA HITAM MENJADI KOTA HIJAU

Ostritz berhasil mengubah citra kota penuh polusi menjadi kota hijau hanya satu dekade. Kini, seluruh kebutuhan energi warga dipenuhi dari sumber energi terbarukan. Sektor perekonomian ikut terangkat.

Gunungan-gunungan setinggi empat meter memenuhi halaman Pembangkit Energi Biomassa Heizkraftwerkes, di kota Ostritz, Jerman. Gunungan serupa juga terlihat di gudang penyimpanan tak berpintu yang ada di sisi kiri pintu gerbang masuk. Sekilas, tumpukan ini tampak serupa, semuanya berwarna coklat. Setelah diamati, ternyata tiap tumpukan tersusun dari bahan berbeda.

Satu gunungan terdiri dari campuran sisa-sisa ranting pohon dan daun yang masih agak basah. Di sebelahnya ada tumpukan serutan-serutan kayu. Di seberang, menjulang gunungan bubuk kayu kering. Tak jauh dari situ, tampak tumpukan coklat kehitaman limbah bulir-bulir gandum.

Gudang dan halaman Heizkraftwerkes sanggup menampung limbah biomassa hingga 15 ribu meter kubik. Setiap hari sekitar 200 meter kubik diolah untuk bahan baku dua tangki pembakar berkapasitas masing-masing 2 megaWatts (mW). Hasilnya disalurkan untuk pemanas di 270 bangunan melalui jaringan pipa sepanjang 14 kilometer.

Pembangkit yang mulai beroperasi sejak 1998 ini sanggup memenuhi kebutuhan pemanas hingga 80% bangunan di kota yang terletak tepat di perbatasan Jerman, Polandia, dan Ceko itu. Selain itu pembangkit ini bisa menghasilkan energi listrik 650 kW dari bahan baku minyak tanaman. Meski tak digunakan untuk suplai listrik rumah tangga.

Karena, suplai listrik warga dipenuhi dari Pembangkit Listrik Tenaga Angin berkapasitas 14 MW. Sembilan turbin angin yang sudah dibangun sanggup mencukupi kebutuhan listrik di 2200 rumah ( dengan 4 orang per rumah). Jumlah ini tentu saja melebihi kebutuhan penduduk kota yang berjumlah 3000 orang. Sehingga sisanya disalurkan ke kota-kota tetangga dalam satu negara bagian Saxony, Jerman.

Keberhasilan Ostritz memenuhi kebutuhan listrik seluruhnya dari sumber energi terbarukan memang layak diacungi jempol. Apalagi selama tergabung di Jerman Timur, kota mungil ini ( luasnya hanya 23 kilometer persegi) punya citra buruk terkait pengelolaan lingkungan. Sungai Neisse, satu-satunya sungai yang melintas, berbau tak sedap dan keruh akibat limbah pabrik tekstil. Asap beracun mengandung sulfur dari cerobong pembangkit listrik batubara Hagenwender memenuhi angkasa. Hutan di perbukitan nyaris gundul.

Ketika tembok Berlin runtuh tahun 1989, dan Jerman kembali bersatu, perubahan datang. Sistem ekonomi terbuka membuat industri tekstil mereka kolaps. Selain karena krisis, alasan pencemaran memaksa pembangkit listrik batu bara Hagenwender tutup secara bertahap sejak 1992. Lebih dari 8000 ribu orang kehilangan pekerjaan.Sebagian dari mereka memilih meninggalkan Ostritz untuk mencari pekerjaan.

Tak ingin terus terpuruk, warga yang bertahan dan pemerintah kota Ostritz bersama-sama mencari solusi. Mereka sadar, yang harus dilakukan adalah membangun kembali kota dengan paradigma baru yaitu pembangunan berwawasan lingkungan.

Maka dibentuklah International Centre for Encounters (IBZ) St Marienthal. Yayasan ini didukung oleh pemerintah kota, biara St Marienthal ( yang sudah berusia 8 abad), pemerintah Federal Jerman, dan pemerintah negara bagian Saxony. Proyek pembangunan kembali ini mereka namakan Energy-Ecological Model City Ostritz-St Marienthal/EMOS.

Menurut Mathias Piwko, kepala Pontes Agency ( salah satu jaringan pendukung yang tergabung di IBZ), pembangunan EMOS dimulai sejak 1996, dengan pemakaian panel surya di gedung -gedung pemerintah seperti kantor polisi dan pemadam kebakaran. Awalnya hanya dengan enam kolektor dengan masing-masing seluas 13 meter persegi dan hanya digunakan untuk memanaskan air. Lalu dikembangkan untuk energi listrik dengan daya sampai 75 watts tiap modul PV ( photovoltaic).

Selain itu, untuk mengatasi limbah cair rumah tangga dibangun Sewage Treatment Plant. Pusat pengolahan limbah ini terletak di sebelah selatan kota, di antara lahan pertanian dan hutan. Lahan sepanjang 700 meter dan lebar 90 meter dibuat berjenjang sesuai dengan enam proses penetralan limbah cair. Selain tiga tabung penampung, ada dua kolam yang diatasnya ditanami alang-alang yang akarnya dipenuhi mikro bakteri untuk mengurangi tingkat polusi air.

Air yang sudah melalui proses penghilangan polutan lalu disalurkan ke hutan. Pusat pengolahan limbah ini menangani 70 rumah tangga dengan kemampuan pengolahan limbah cair sebanyak 100 liter/rumah/ hari.

Proyek selanjutnya adalah pembangunan pembangkit energi tenaga biomassa dan pembangkit energi tenaga angin mulai tahun 1997. Dua proyek ini selesai dalam waktu dua tahun. “Selain itu ada pembangunan kembali pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang selama ini dikelola Biara St Marienthal,” kata Mathias.

St Marienthal sudah memanfaatkan tenaga air berdaya 3,2 MW sejak tahun sejak 1914 untuk mengoperasikan pabrik pengolahan kayu dan memenuhi kebutuhan listrik di dalam kawasan biara. Saat jaringan listrik lokal masuk tahun 1967, PLTA ini berhenti beroperasi.

PLTA ini direnovasi dan kembali digunakan pada tahun 2000. Sebuah turbin Kaplan yang menghasilkan tenaga output 104 kW ( dengan kecepatan 145 rpm) dipasang. Kecepatan arus airnya 6,5 meter/detik dari ketinggian 2 meter. Kaplan melengkapi keberadaan turbin lama, Francis. Yang menghasilkan tenaga 14,7 kW dengan suplai air 1,2 meter/detik di ketinggian 2,17 meter.

Pengoperasian kembali PLTA St Marienthal ini menandai berakhirnya fase pertama EMOS. Menurut Mathias dana yang sudah dikeluarkan selama fase pembangunan teknik ini mencapai 30 juta Euro (Rp 450 miliar, dengan kurs saat ini 1 Euro=Rp 15.000). Pemerintah Federal Jerman menanggung nyaris setengah dari total dana, pemerintah Saxony menanggung sekitar seperempatnya. Sisa seperempat bagian ditanggung pemerintah kota Ostritz dan pihak-pihak lain.

Program EMOS ini, lanjut Mathias, membuat nama Ostritz terkenal di seluruh Jerman. Sebab, EMOS membuat Ostritz menerima banyak penghargaan. Salah satunya mendapat gelar kota pertama di dunia yang berhasil memenuhi seluruh kebutuhan energinya dari paduan sumber energi terbarukan.

Toh, peraihan gelar ini tak berarti EMOS berhenti. Sebaliknya, pada tahun 2004, muncul inisiatif dari warga Ostritz, untuk mengembangkan EMOS. Mereka ingin EMOS tak hanya fokus pada proyek teknis tapi juga bisa mengatasi masalah sosial, ekonomi, dan budaya.

Maklum, meski banyak proyek energi baru di Ostritz, namun tak banyak menyerap tenaga kerja. Misalnya pembangkit energi biomassa Heizkraftwerkes hanya dioperasikan oleh lima orang. Total pekerja yang bisa diserap hanya sekitar 150 orang. Alhasil tak banyak berpengaruh mengurangi tingkat pengangguran yang mencapai 20% di Ostritz.

Inisiatif ini akhirnya berujung pada pelaksanaan EMOS tahap kedua, dimulai tahun 2006. Kali ini tiga bidang diatas yang jadi fokus. Targetnya dalam waktu dua tahun, 9 program untuk mengatasi masalah bisa terlaksana.

Di fase kedua ini St Marienthal memegang peran krusial. Para biarawati St Marienthal mulai membuka diri dengan menjadikan St Marienthal sebagai lokasi eco-tourism. Ada sederet daya tarik yang mereka promosikan ke para wisatawan. Mulai dari kompleks biara yang dipenuhi bangunan bersejarah berusia 8 abad, peninjauan pembangkit listrik tenaga air warisan seabad silam, hingga wisata bersepeda menjelajahi kebun anggur dan daerah pertanian milik biara.

St Marienthal juga membuat aneka program untuk menarik wisatawan yang dikaitkan dengan penjagaan lingkungan. Seperti membuat restoran dengan menu khusus yang diolah dari hasil panen tanaman organik milik Biara, membuka tempat penginapan di lingkungan biara, hingga membuat bazar produk dan makanan lokal.

Hasilnya mulai tampak. Ostritz dan St Marienthal dikunjungi lebih dari 30 ribu orang tahun lalu. Meningkat nyaris dua kali lipat dari setahun sebelumnya. Peningkatan turis ini menambah lapangan kerja baru dan menggerakkan perekonomian Ostritz. “Kami berharap kondisi ini bisa membuat warga Ostritz yang dulu berimigrasi, kembali ke sini,” kata Mathias.

Astari Yanuarti (Ostritz)