Tampilkan postingan dengan label holyland. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label holyland. Tampilkan semua postingan

Rabu, Agustus 06, 2008

AMBISI SAUDI MENCAKAR LANGIT

Arab Saudi berpacu mengejar ketertinggalan pembangunan dari negara-negara Teluk lainnya. Belasan gedung pencakar langit siap menghiasi langit Saudi. Mile-High Tower bakal menjadi gedung tertinggi sedunia.

Gedung-gedung pencakar langit tak lama lagi akan mewarnai langit Arab Saudi. Setidaknya ada 14 bangunan pencakar langit yang sedang dalam proses pembangunan di Riyadh, Jeddah, dan Mekkah. Sebagian bakal menjulang di angkasa Saudi pada tahun depan. Sebagian lagi baru kelar dalam jangka lima tahun mendatang.

Pembangunan menara-menara itu adalah salah satu cara Arab Saudi mengejar ketertinggalan pembangunan infrastruktur dari negara-negara Arab pesisir Teluk Persia. Meski sama-sama negeri superkaya berkat emas hitam, Saudi kalah bersolek dibandingkan dengan Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, dan Qatar.

Negeri-negeri itu punya ratusan gedung pencakar langit di ibu kota masing-masing. Desainnya pun unik dan cantik. Bandingkan dengan Saudi yang hanya punya tiga pencakar langit: Kingdom Tower (300 meter) dan Al Faisaliah (267 meter) di Ibu Kota Riyadh serta Zam-Zam Tower (260 meter) di depan Masjidil Haram, kota Mekkah.

Menurut Joseph Daher, direktur proyek perusahaan kontraktor Al-Mabani, tren yang berlangsung sekarang ini adalah pembangunan besar-besaran ke arah barat dari Dubai, Uni Emirat Arab. ''Pemerintah Saudi membuat kebijakan yang mendukung pembangunan gedung pencakar langit dengan merevisi aturan penghambat,'' kata Joseph, seperti dikutip MEED.com.

Salah satu terobosan peraturan diberlakukan di kota Jeddah. Keberadaan Bandara Internasional King Abdul Aziz melahirkan pembatasan jumlah lantai bangunan. Rata-rata tinggi bangunan di kota ini di bawah 100 meter. Kini pembatasan itu kian longgar. Gedung-gedung baru boleh berlantai hingga 60 tingkat, setara dengan ketinggian di atas 200 meter.

Tak mengherankan bila ada enam gedung baru yang sedang dan akan dibangun di Jeddah. Mile-High Tower tercatat sebagai gedung paling fenomenal. Sesuai dengan namanya, gedung ini dirancang setinggi satu mil (1.600 meter) dan bakal menjadi gedung tertinggi di dunia. Tender proyek Mile-High Tower akan dibuka pada akhir bulan ini. Memang, menurut berita terbaru MEED.com, ada beberapa penyesuaian terkait dengan ketinggian gedung. Kemungkinan dipangkas menjadi ''hanya'' 1.100 meter. Alasannya terkait dengan penghitungan tingkat keuntungan dan masalah teknis pengangkutan material ke ketinggian di atas 1.000 meter.

Desain menara yang terletak di utara Jeddah itu ditangani kantor arsitek lokal, Omrania & Associates, yang berkolaborasi dengan Pickard Chilton dari Amerika Serikat. Sedangkan urusan konstruksi bangunan dipegang oleh Bechtel, juga dari Amerika. Kontraktor global Samsung Corporation (yang sedang membangun Burj Dubai setinggai 630 meter) juga tertarik ikut tender pembangunan menara yang dibangun di lokasi seluas 5,3 kilometer persegi itu.

Keterlibatan banyak konstruktor asing dalam proyek-proyek infrastruktur di Saudi tak terhindarkan. Sebab sampai kini Saudi baru punya tiga perusahaaan kelas kakap yang sanggup menangani megaproyek, yaitu Saudi bin Laden, Saudi Oger, dan Al-Mabani. Ratusan lainnya baru sanggup menangani proyek skala menengah.

Dari tiga kontraktor dan pengembang itu, Saudi bin Laden tercatat paling sukses. Perusahaan milik ayah Osama bin Laden ini banyak memenangkan tender megaproyek di Arab Saudi. Mereka sedang membangun kompleks Abraj al-Bait di Mekkah. Kompleks ini terdiri dari tujuh menara pencakar langit.

Hotel Tower (577 meter) adalah yang tertinggi, disusul oleh Hajar Tower dan Zam-Zam Tower (masing-masing 260 meter). Serta empat menara lain berketinggian 240 meter, yaitu Maqam, Sarah, Marwah, dan Shafa. Sampai Juli, baru Zam-Zam Tower yang selesai dibangun. Enam menara sisanya selesai secara bertahap sampai akhir 2009.

Abraj al-Bait, yang terletak di selatan Masjidil Haram, memang spektakuler dan menjadi landmark baru di Mekkah. Kawasan ini memiliki hotel bintang lima, dua heliport, satu ruangan konferensi, restoran, dan pusat belanja.

Jika digabungkan, tujuh menara itu punya luas lantai 1.450.000 meter persegi. Paling luas sedunia, mengalahkan Aalsmeer Flower Auction di Belanda yang luasnya 1,1 juta meter persegi. Selain itu, empat jam dinding akan dipasang di empat sisi Hotel Tower. Jam-jam yang dipasang di ketinggian 380 meter ini bakal tercatat sebagai jam dinding tertinggi di dunia.

Tak jauh dari lokasi Abraj al-Bait, Saudi bin Laden melalui anak usahanya, Jiwar Real Estate, tengah membangun kompleks Rawabi Abraj al-Bait. Proyek ini terdiri dari 21 menara apartemen seluas 2,8 juta meter persegi untuk para jamaah haji dan umrah. Desainer dua megaproyek ini adalah arsitek-arsitek lokal yang tergabung dalam Dar-al-Handasah Architect.

Proyek Saudi bin Laden ketiga adalah Jabal Omar, masih di sekitar Masjidil Haram. Mereka berduet dengan Saudi Oger membangun tujuh menara 35 lantai dan lima hotel bintang lima di atas lahan seluas 1 juta meter persegi. Bangunan-bangunan ini bisa menampung hingga 40.000 orang.

Laju pembangunan gedung-gedung pencakar langit itu menandai babak baru kontruksi di Saudi. Kelak, bangunan setinggi 30 lantai lebih banyak terlihat di sana. Menggantikan bangunan dua lantai, yang pada saat ini mendominasi landskap perkotaan di Saudi.

Yang patut disyukuri, Saudi tak hanya berlomba membangun gedung-gedung pencakar langit. Melainkan juga membangun infrastruktur pendukung, seperti jalan raya, jalan kereta api, hingga lahan parkir. Rupanya, Saudi belajar dari kesalahan kota Dubai, yang mengabaikan pembangunan infrastuktur pendukung di tengah pertambahan populasi penduduk yang pesat.

Astari Yanuarti

PENCAKAR LANGIT ARAB SAUDI*
Nama
Tinggi ( meter)
Pengembang
Status
Nilai  Proyek (US $)
Mile-High Tower, Jeddah
1,150 sampai 1,600
Kingdom Holding
Tender dibuka Juli 2008
13,6 miliar
Abraj al-Bait (terdiri dari tujuh menara), Mekah
577 ( Hotel Tower)
Saudi Binladin
Sedang dibangun, selesai 2009
2,7 miliar
Jabal Omar, Mekah
150
Jabal Omar Development Company
Kontrak EPC** dimenangkan Saudi Binladin dan Saudi Oger
2,7 miliar
Rawabi Abraj al-Bait, Mekah
300
Jiwar Real Estate
Sedang dibangun
2,5 miliar
Lamar Towers, Jeddah
310
Cayan Investment and Development Company
Pengumpulan dokumen penawaran EPC
500 juta
Al-Rahji Tower, Riyadh
352
Saleh bin Abdulaziz al-Rajhi Business Council
Penentuan pemenang tender EPC awal 2009
500 juta
Dubai Towers, Jeddah
448
Sama Dubai
Pembuatan desain gedung
500 juta
Corniche Tower, Jeddah
270
Emaar
Pengumpulan penawaran EPC
240 juta
Headquarters Business Park, Jeddah
250
Aldar al-Khasa for Urban Development
Penentuan pemenang tender EPC
214 juta
Diamond Tower, Jeddah
388
Al-Masarat Company
Tahap akhir pendesainan gedung
133 juta
*Sumber: MEED, 2008
**EPC=engineering, procurement and construction

Renovasi Besar Masjid Tersakral

Renovasi dan perluasan tahap keempat Masjidil Haram bisa menghilangkan lanskap Mekkah kuno. Wilayah sekeliling masjid terbesar dan tersuci sedunia ini menjadi kawasan real estate termahal sejagat. Harga tanah mencapai Rp 625 juta per meter persegi.

Suara klakson truk-truk pengangkut material bangunan membelah ratusan jamaah yang bergegas menuju Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi, suatu siang di penghujung Juni lalu. Di tengah sengatan matahari gurun sepanas 44 derajat celsius, para jamaah menepi sembari menutup hidung. Mereka terkepung kepulan debu pekat dari roda truk yang menjejak tanah tak rata akibat reruntuhan gedung.

Mobil pemadam kebakaran terlihat beberapa kali menyemprotkan air untuk mengurangi debu. Tapi upaya itu malah membuat sebagian jamaah yang berasal dari Indonesia ekstra hati-hati. ''Awas kubangan, lompat sedikit, ya, Bu,'' seru seorang jamaah perempuan sambil memegang erat lengan sang bunda yang sudah berusia lanjut. Selamat dari kubangan, mereka masih berusaha agar tak tersandung pada bongkahan besar-kecil rongsokan bangunan.

Belasan ribu bangunan hotel, rumah, toko, dan kantor, yang dulu memenuhi sisi barat daya hingga utara Masjidil Haram, kini nyaris rata dengan tanah. Suasana di lokasi seluas 230.000 meter persegi itu awut-awutan. Persis seperti zona perang. Bukit-bukit reruntuhan bangunan menyembul sepanjang tebaran mata. Beberapa gedung masih tegak berdiri, tapi nyaris tanpa dinding.

Ratusan truk, buldozer, dan crane milik kontraktor Saudi bin Laden terlihat hilir mudik. Sedangkan mesin-mesin pengungkit raksasa menjulang di angkasa, di sekeliling bangunan dan menara Masjidil Haram yang terbungkus kerangka besi. Semua ini membuat tampilan anggun masjid terluas di dunia itu seperti dalam kartu pos sama sekali tak terlihat.

Renovasi besar-besaran itu mulai berderap Mei lalu atas perintah Abdullah, selaku Penjaga Dua Kota Suci (Khadimul Haramain). Raja Abdullah ingin menambah 35% kapasitas Masjidil Haram. Pada saat ini, masjid seluas 356.000 meter persegi itu mampu menampung hingga 2 juta jamaah di dalam dan di halaman.

Proyek pengembangan keempat itu bisa dibilang yang terbesar. Menurut data dari Kementerian Urusan Kota dan Desa, yang dipublikasikan kantor berita KPA, Pemerintah Arab Saudi akan memperluas halaman masjid, membangun tempat parkir, dan memperluas lokasi sa'i antara Bukit Shafa dan Marwah menjadi tiga tingkat.

Pembangunan intensif juga terjadi di Mina, Musdalifah, dan Arafah, yang menjadi rangkaian tempat pelaksanaan ibadah haji. Tempat pelemparan jumrah ditata ulang demi keamanan jamaah. Jaringan transportasi subway juga akan dibangun mulai seputar Masjidil Haram hingga Arafah.

Proyek yang diperkirakan baru tuntas tahun 2020 itu bakal menyerap dana hingga US$ 100 milyar (Rp 920 trilyun). Gelontoran dana superbanyak ini mencakup pembangunan gedung pencakar langit, pusat perbelanjaan, apartemen, dan hotel-hotel baru di Mekkah.

Sumber pendanaannya beragam, dari asing hingga dana internal Saudi yang tengah menikmati berkah melambungnya harga minyak dunia, yang nyaris menyentuh US$ 150 per barel. Meski proyek itu tergolong amat besar, para investor sama sekali tak ragu menanamkan modalnya. ''Bagi mereka, tempat ini adalah safe haven yang menjanjikan keuntungan besar. Musim haji dan umrah rutin berjalan tiap tahun, dengan jumlah muslim dunia yang terus bertambah,'' kata Imad Awad, Head of Equity Capital Markets NBD Investment Bank.

Setiap tahun, jumlah jamaah haji mencapai 4 juta orang, plus belasan juta jamaah umrah. Selama lima tahun mendatang, jumlahnya meningkat hingga 10% setiap tahun. Data Kadin Mekkah menyebutkan, tahun lalu, belanja para jamaah haji dan umrah mencapai 10 milyar riyal (Rp 25 trilyun) di Mekkah saja.

Kehadiran 15-an juta jamaah itu tentu saja membutuhkan akomodasi tempat tinggal serta kesempatan beribadah yang nyaman dan memadai. Inilah salah satu landasan utama Raja Abdullah menggelar renovasi dan perluasan Masjidil Haram dan seluruh lokasi ibadah haji lainnya. Menurut Fahas bin Al-Jarboa, Wakil Sekretaris Jenderal Supreme Commission for Tourism in Saudi Arabia, megaproyek itu bakal mengubah seluruh kawasan seputar Masjidil Haram. ''Kami berharap, ini juga akan mengubah Mekkah secara dramatis,'' kata Fahas.

Dramatis, karena pembersihan kawasan sekitar Masjidil Haram tak segan meruntuhkan bangunan megah hotel bintang lima dan empat sekalipun. Mulai Hotel Sheraton, Hotel Sofitel, Hotel Qurtuba, Hotel Zahret, Hotel Darkum, Hotel Talal, Hotel Firdaus Umrah, hingga Hotel Firdaus Mekkah, semuanya akan diratakan dengan tanah. Hotel-hotel ini, bersama bangunan perumahan lainnya, masuk areal seluas 587.250 meter persegi di seluruh Mekkah yang harus ditata ulang.

Jika ditotal, renovasi Masjidil Haram dan kota Mekkah dijalankan lewat 973 proyek baru. Terbagi menjadi beberapa wilayah, seperti 85 proyek di wilayah Syamiyah yang terletak di sisi barat laut hingga utara Masjidil Haram. Kawasan ini akan dipenuhi hotel bintang lima, pertokoan, pusat perbelanjaan, dan restoran.

Di sisi barat Masjidil Haram yang meliputi kawasan Jabal Umar dan Jabal Ka'bah dibangun hal serupa. Plus stasiun kereta api induk, areal parkir yang mampu memuat 12.000 mobil, pasar, dan fasilitas umum lainnya. Sebuah terowongan sepanjang 1.000 meter akan dibangun menembus Jabal Umar dan menyambung ke Jalan Ummul Qura.

Di sisi tenggara dan selatan, yang mencakup kawasan Jabal Khandama, dibangun hunian untuk menampung 240.000 orang. Salah satu proyek terbesar di kawasan ini adalah Abraj al-Bait. Proyek pembangunan tujuh menara pencakar langit ini selesai tahun depan dan sanggup menampung 65.000 orang. Di kawasan ini juga dibuat jalur pejalan kaki menuju Masjidil Haram, yang terhubung dengan dua jalan utama.

Meski perombakan besar-besaran kali ini diiringi dengan pembangunan fasilitas angkutan massal dan pelayanan publik lainnya, bagi sebagian ahli sejarah dan tata kota, perubahannya terlalu besar. Salah satu pihak yang keberatan adalah Sami Angawi, arsitek dan pendiri Centre for the Custodian of the two Holy Mosques Institute for Hajj Research. Sami menilai, mereka tengah menyaksikan detik-detik terakhir Mekkah tampak seperti pada saat diciptakan Tuhan dengan lanskap dan gunung-gunungnya.

Pemerintah Saudi ingin meratakan gunung-gunung di Mekkah supaya lebih banyak lahan datar. ''Mestinya lanskap kota Mekkah tradisional tetap dipertahankan. Jangan hanya memikirkan bagaimana menampung sebanyak mungkin orang dan seberapa banyak uang yang bisa diperoleh,'' ujar Sami.

Beberapa pihak lain menyayangkan pembangunan gedung pencakar langit di sekitar Masjidil Haram itu. Sebab gedung pencakar langit itu akan menutupi pandangan dari Ka'bah dan landmark di sekelilingnya. Kondisi ini akan menghilangkan keseimbangan letak Masjidil Haram, yang secara filosofis dipandang sebagai contoh pusat keseimbangan dunia. ''Alasan mereka bisa dipahami. Tapi, di sisi lain, kita butuh tempat untuk menampung jamaah,'' kata Lahem al-Nasser, seorang ahli perbankan Islam yang mendukung megaproyek perluasan Masjidil Haram itu.

Megaproyek ini juga memicu kenaikan harga properti di Mekkah. Kini harga tanah mencapai 250.000 riyal (Rp 625 juta) per meter persegi di kawasan sekitar Masjidil Haram. Nyaris dua kali lipat dari harga tanah di Monako, negara yang selama ini memiliki kawasan real estate paling mahal menurut data Global Property Guide. "Malah para pengembang mengira, harga tanah akan naik empat kali lipat hingga 1 juta riyal (Rp 2,5 milyar) per meter,'' ujar Imad Awad. Harga tanah yang paling mahal ini terletak di area yang bisa melihat langsung pemandangan Ka'bah.

Astari Yanuarti