Tampilkan postingan dengan label earth. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label earth. Tampilkan semua postingan

Kamis, Desember 18, 2008

Belajar Menjaga Bumi dari Robot

Rating:★★★★★
Category:Movies
Genre: Animation
"WALL-E, yang minim dialog, tampil menjadi film animasi memikat yang membawa pesan penyelamatan lingkungan. Mengemas kisah kehancuran bumi dengan bingkai aksi kocak robot pembersih sampah yang kesepian. Layak masuk daftar film animasi terbaik sepanjang masa."

WALL-E
Pengisi suara: Ben Burtt, Elissa Knight, Jeff Garlin, Fred Willard, John Ratzenberger, dan Kathy Najimy

Sutradara: Andrew Stanton
Penulis skenario: Andrew Stanton dan Jim Reardon
Rating: Anak-anak
Produksi: Walt Disney Picture dan Pixar Studio, 2008

Bumi, 700 tahun mendatang. Gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi. Sekilas, mereka terlihat megah, walau tak gemerlap. Ketika dilihat dari dekat, ternyata pencakar-pencakar langit itu tersusun dari balok-balok sampah padat.

Di antara gedung-gedung itu, bertebaran tumpukan sampah aneka barang. Di sana, tampak sesosok benda kotak bergerak kian kemari. Dia adalah WALL-E, robot pembersih sampah bertenaga matahari.

Tugas WALL-E memilah-memilah sampah, memasukkannya ke perut untuk dipadatkan menjadi balok sampah. Lalu WALL-E menumpuk balok-balok ini hingga menjadi gedung pencakar langit. Dia bekerja sendirian selama ratusan tahun, karena hanya WALL-E dan seekor kecoak yang masih bertahan di bumi. Semua penduduk bumi lainnya memilih hengkang ke luar angkasa ketika planet biru ini penuh tertutup sampah.

Suatu hari, rutinitas WALL-E terganggu oleh kedatangan pesawat luar angkasa raksasa. Sesosok robot putih mengilap berbentuk telur keluar dari badan pesawat. Robot bernama EVE ini bertugas memeriksa apakah sudah ada makhluk hidup lagi di bumi.

Kehadiran EVE menjungkirbalikkan dunia WALL-E yang selama ini hanya punya teman sang kecoak. Saking penasaran pada makhluk baru itu, WALL-E melupakan pekerjaan utamanya dan diam-diam mengikuti ke mana pun EVE terbang.

Aksi ini membawa WALL-E terbang ke luar angkasa menuju Axiom, pesawat pesiar super-raksasa yang dihuni penduduk bumi. Di sini, semua manusia memakai seragam sama, hanya beda warna berdasarkan jenis kelamin. Wajah mereka nyaris serupa, karena semuanya bertubuh sangat tambun.

Setelah 30 menit nyaris tanpa dialog sekecap pun, adegan di Axiom menandai berlangsungnya percakapan dalam film sepanjang 103 menit ini. Keramaian yang berlangsung di Axiom terasa begitu kontras dengan kesunyian bumi.

Seperti film-film animasi PIXAR lainnya, gambar indah dan fantastis juga tampak di sepanjang film yang digagas sejak 1994 oleh sutradara dan penulis skenario Andrew Stanton ini. Lihat saja keindahan aneka planet, bintang, dan galaksi yang mengundang decak kagum. Lihat juga arsitektur Axiom yang terbilang sempurna menyajikan imajinasi kehidupan masa depan.

Pujian patut diberikan kepada para animator PIXAR. Mereka sukses memberikan kepribadian kepada para robot di WALL-E. Alhasil, sosok WALL-E --dan robot-robot lain-- tampil sangat ekspresif, meski tanpa dialog. Kebahagiaan, kesedihan, kesepian, bahkan kejailan WALL-E bisa terlihat dari bahasa tubuh dan kedua mata yang terbuat dari lensa video.

Tak mengherankan bila adegan 30 menit tanpa dialog ala film bisu zaman dulu malah menjadi salah satu keunggulan WALL-E. Walau tanpa kata-kata, anak-anak yang terbiasa dengan suara dan adegan seru film aksi tetap bisa menikmati. Selain karena kekayaan emosi yang ditampilkan, kekuatan karakter pada WALL-E juga didukung sound effect yang mengagumkan.

Dari sisi cerita, lagi-lagi WALL-E menjadi bukti pembeda PIXAR dengan studio animasi lainnya, seperti Dreamworks (pembuat film serial Shrek). Film-film PIXAR lebih memilih mengusung materi kebenaran universal daripada guyonan bernuansa kultural atau etnis.

Statemen WALL-E menentang konsumerisme begitu kuat dan efektif. Mereka mencoba membangkitkan kesadaran para penonton, terutama generasi muda, tentang kerusakan lingkungan yang bakal terjadi di bumi bila budaya konsumtif yang kini menjangkit tak segera dihentikan.

Pesan seperti ini tercatat sebagai terobosan baru dalam sejarah film animasi. Sebab, sejak beberapa tahun terakhir, ada kesamaan skenario dalam film animasi buatan Hollywood, yaitu: “kamu bisa menjadi siapa pun yang kamu inginkan�. Bahkan film animasi terbaru dari Dreamworks, Kung Fu Panda, masih dibalut skenario seperti ini.

Dengan segala kelebihan itu, WALL-E, yang mencatat rating 97% fresh dari situs kritik film terkemuka RottenTomatoes, diyakini akan masuk nominasi film terbaik pada ajang Oscar 2009.

Astari Yanuarti

Selasa, April 29, 2008

Petualangan Nekat Pemuda Pengelana

INTO THE WILD
Pemain: Emile Hirsch, Jena Malone, Hal Holbrook, William Hurt, dan Marcia Gay Hayden
Sutradara: Sean Penn
Produksi: Paramount Vantage, 2007

Kisah tragis petualang muda Christopher McCandless. Mengokohkan kematangan Sean Penn sebagai sutradara. Sarat gambar pemandangan alam spektakuler. Menyampaikan pesan kehidupan tanpa kesan menggurui.

Mengadaptasi film dari sebuah kisah nyata adalah tantangan sulit nan rumit. Tebaran begitu banyak realitas saling menjalin membentuk kisah panjang dan komplek. Maka jika tak hati-hati pemampatan bisa berakhir pada film yang membingungkan.

Sean Penn sukses melewati tantangan ini. Sebagai sutradara sekaligus penulis skenario, Penn membuat Into The Wild menjadi film petualangan yang sulit dilupakan. Bahkan tampil lebih memikat daripada buku berjudul sama karangan John Krakauer, yang menjadi dasar adaptasi film Into The Wild.

Biografi pemuda bernama Christopher McCandless ini meraih bestseller sejak peluncuran tahun 1996. Butuh 10 tahun bagi Penn untuk mengangkatnya ke layar lebar, karena menunggu izin keluarga McCandless.

Film dimulai saat Chris (Emile Hirsch) sudah berada di keliaran alam bersalju Alaska, tujuan utama petualangannya. Langkah kaki Chris berakhir di depan sebuah bus rongsok yang terdampar di area terbuka di sela-sela kerimbunan hutan cemara. Setelah memeriksa dengan cermat, Chris pun memutuskan tinggal di bus yang dia namai Magic Bus itu.

Lalu adegan berputar balik ke masa dua tahun sebelumnya,1990, saat wisuda kelulusan Chris dari Emory University di Atlanta. Kedua orangtua Chris (diperankan sangat baik oleh William Hurt dan Marcia Gay Harden) sudah punya rencana masa depan bagi anak pertama mereka. Salah satunya dengan memberi Chris mobil baru dan tawaran pekerjaan.

Chris menolak semua rencana materialistik sang orangtua. Ia muak dengan segala tatanan sosial kelas menengah yang menyelubungi kehidupannya sejak kecil. Chris memilih minggat. Tanpa sepatah kata pamit, pun secarik surat. Ia ingin lepas dari ikatan kehidupan masyarakat dengan berpetualang menjelajahi alam bebas di seantero Amerika Serikat.

Sebelum memulai pengembaraan, Chris menyumbangkan seluruh tabungannya, US$ 24.000, ke lembaga sosial Oxfam. Ia juga menggunting semua kartu kredit dan membakar kartu identitas serta jaminan sosial. Nama Alexander Supertramp menjadi identitas baru selama berpetualang menuju ke wilayah barat Amerika.

Sepanjang jalan, Chris bertemu dan tinggal bersama beberapa orang yang kelak mengubah hidupnya. Ada pasangan hippie Jen (Catherine Keener) dan Rainey (Brian Dieker), petani gandum dan jagung Wayne (Vince Vaughn), hingga duda tua pengrajin kulit Ron Franz (Hal Holbrook). Pertemuan dengan mereka menunjukkan Chris pada sebuah kesadaran, dalam sebuah petualangan yang terpenting adalah perjalanan, bukan tempat yang dituju.

Pengambilan gambar film ini dilakukan langsung di lokasi asli yang pernah disinggahi Chris. Mulai Arizona, California, South Dacota, hingga Meksiko. Malah untuk Alaska, kru film sampai bolak-balik empat kali demi mendapat gambar sesuai dengan musim.

Tak mengherankan jika sajian pemandangan alam dalam Into The Wild tergolong spektakuler. Penn memilih pola pengambilan gambar laiknya film dokumenter dalam Discovery Channel atau National Geographic. Meski tanpa kemasan romantis, pemandangan seperti pegunungan batu, sungai, padang rumput, hamparan ladang gandum dan jagung, serta hutan belantara tampak begitu indah.

Lalu mengalirlah sederet pujian dari para kritikus ke film berdurasi 2 jam 25 menit ini. Berbagai penghargaan untuk beragam kategori dari Sao Paulo International Film Festival, Satellite Awards, hingga National Board of Review Amerika pun disabet. Lagu Guaranteed yang dinyanyikan oleh Eddie Vedder dan music score Into The Wild masuk nominasi Golden Globe 2008 untuk kategori original song dan original score.

Sebagian pujian mengarah pada kematangan Penn saat menyajikan sosok Chris. Meski secara personal kagum pada petualangan Chris, Penn tak terjebak menokohkan Chris sebagai sosok pahlawan tanpa cela.

Chris tampil sebagai pemuda cerdas sekaligus naif. Pemuda yang marah pada tatanan sosial lalu nekat berpetualang tanpa perhitungan matang. Hanya demi mendapatkan kebebasan dan kebahagiaan dalam kesendirian di alam bebas.

Pada akhirnya, penonton tak diarahkan untuk menyukai atau membenci Chris. Tak ada upaya menghakimi perilakunya. Saya pun tak yakin apakah menyukai sosok Chris. Namun yang pasti saya menaruh simpati padanya dan bisa mengerti mengapa Chris memilih nekat berpetualang.

Apalagi, di penghujung hayatnya yang singkat, akhirnya Chris menemukan makna hidup. Kalimat terakhir dalam jurnalnya adalah: happiness only real when shared. Kebahagiaan tiada berarti tanpa kehadiran orang lain untuk berbagi.

Astari Yanuarti

Senin, April 28, 2008

EARTH MOVIE

EARTH
Genre: Dokumenter
Sutradara: Alastair Fothergill dan Mark Linfield
Narator: Patrick Stewart
Produksi: BBC Worldwide, 2007

Menjelajah Keliaran di Planet Ketiga

Rangkaian gambar spektakuler kehidupan alam liar di Earth memanjakan mata. Film dokumenter termahal ini dibuat selama lima tahun dengan lokasi 26 negara. Bertumpu pada tiga karakter utama: beruang kutub, gajah Afrika, dan paus bongkok.
------

Earth alias Bumi. Judul singkat ini terdengar ambisius. Begitulah Earth, film dokumenter kehidupan alam paling ambisius yang pernah dibuat. Ini terlihat dari catatan statistik Earth. Butuh waktu lima tahun untuk memproduksi film garapan BBC Worldwide ini. Sebanyak 40 juru kamera andal kelas dunia mengambil gambar di 200 lokasi yang tersebar di 26 negara.

Biaya produksinya mencapai US$ 45 juta (gabungan biaya produksi Earth dan serial televisi BBC ''Planet Earth'' yang dibuat beriringan). Kamera yang digunakan juga paling canggih, high definition (HD) dan cineflex. Kamera ini berkecepatan tinggi, mampu merekam 2.000 frame tiap detik. Ia mampu menghasilkan gambar gerak lambat hingga 40 kali tanpa penurunan kualitas gambar.

Duet sutradara Alastair Fothergill dan Mark Linfield menyatakan, film ini dibuat demi suguhan sempurna tentang keindahan planet bumi. Earth ingin memperlihatkan potret wajah planet ketiga dalam tata surya ini selama empat musim. Mulai keragaman fauna dari Kutub Utara hingga Kutub Selatan.

Petualangan setahun itu dituturkan dengan narasi siklus migrasi alami tiga binatang yang menjadi karakter utama, yaitu beruang kutub, gajah Afrika, dan paus bongkok. Kisah ketiganya bertahan hidup di tengah keganasan alam akibat pergantian musim terlihat begitu menyentuh dan menggetarkan hati.

Sang induk paus bongkok bersama anaknya menjelajahi separuh planet bumi. Dari perairan tropis ke Antartika untuk mencari plankton udang kutub, makanan utama mereka. Juga perjalanan ribuan kilometer seekor ibu gajah dan anaknya menuju Delta Okavango di Afrika untuk mendapat sumber air. Badai gurun pasir yang membutakan membuat ibu dan anak gajah itu tersesat.

Toh, mereka pantang menyerah. Ketika si anak kelelahan dan kehausan, sang ibu terlihat memberi semangat dengan sapuan lembut belalai ke tubuh si anak. Masih ditambah dengan sequence perburuan dramatis si beruang Kutub Utara yang kelaparan demi mendapat seekor walrus.

Kisah tiga hewan itu berselang-seling dengan rangkaian aneka rupa kehidupan beberapa hewan lain di seluruh benua. Ada aksi centil sekelompok spesies burung surga di Papua. Atau ekpresi sebal yang jelas terlihat di wajah kera-kera Afrika ketika harus melewati banjir musiman yang melanda padang rumput. Tapi ada pula perburuan singa mengejar rusa yang terjalin dramatis lewat gerak lambat.

Skena-skena tadi terangkai lewat benang merah: air dan matahari yang menjadi sumber semua kehidupan di bumi. Urgensi air dan matahari juga diungkap dengan gambar fantastis HD habitat para hewan itu. Dari kebekuan Pengunungan Himalaya dengan Gunung Everest-nya, hamparan padang pasir Afrika, padang es Artik, hingga kecantikan pancaran cahaya Aurora Australis di Kutub Selatan.

Semua gambar mengundang decak kagum itu bisa tersaji berkat teknik pengambilan gambar dari udara (aerial shots). Teknik ini, plus teknologi HD, membuat Earth tampil tanpa secuil pun penggunaan efek visual CGI. Juga tak ada rekayasa pada semua adegan perburuan, migrasi, pergantian musim, hingga tingkah lucu dan ekspresif para hewan liar itu.

Memang film ini lebih menonjolkan kekuatan gambar untuk menyampaikan pesan: betapa indahnya kehidupan di bumi, tapi semakin rapuh akibat pemanasan global. Sehingga Earth bisa dikatakan sebagai paduan An Inconvenient Truth yang mengusung pesan tegas dampak pemanasan global dengan March of The Penguins yang penuh keliaran dan kekocakan.

Menurut Alastair, gaya penyampaian minim narasi dan banyak gambar membuat Earth lebih mudah dipahami anak-anak, remaja, dan kaum muda. Merekalah sasaran utama Earth, yang diputar di Blitz Megaplex Indonesia mulai 22 April, bertepatan dengan Hari Bumi Internasional.

Maka, meski film yang pertama kali dirilis di Inggris pada November 2007 ini bercerita soal kehidupan hewan liar yang penuh dengan insting kebinatangan, aroma kekerasan nyaris tak tampak. Semua adegan perburuan berhenti sebelum satu tetes darah terlihat. ''Meski banyak gambar indah, kisah tiga karakter utama kami membawa penyadaran pada kaum muda tentang dampak buruk pemanasan global bagi kehidupan makhluk di bumi,'' ujar Alastair.

Beruang kutub, misalnya, akan lenyap pada 2030, karena habitat mereka menyusut akibat pencairan es di Artik dan Antartika. Jadi, lanjutnya, tak ada kata terlambat bagi kaum muda untuk menyelamatkan bumi.

Astari Yanuarti


-------------BOKS-------------

Bermula dari Planet Earth

Waktu acapkali jadi kendala ketika berbicara soal detail. Tak terkecuali pada Earth yang ''hanya'' berdurasi 99 menit. Waktu sependek ini, bagi pencinta dan pejuang lingkungan, tak bisa memberikan detail memadai. Nah, keinginan segmen pemirsa serius yang umumnya berusia matang itu terpenuhi lewat serial televisi ''Planet Earth''.

Serial 11 episode yang pertama kali tayang di jaringan TV kabel BBC pada 5 Maret 2006 itu adalah saudara tua film Earth. Dengan durasi 58 menit tiap episode, serial TV dokumenter pertama yang menggunakan teknologi HD itu jauh lebih informatif menggambarkan keseharian makhluk bumi yang paling terancam eksistensinya. Detail ini diperoleh berkat penjelajahan tim produksi yang dikepalai Alastair Fothergill hingga ke 204 lokasi di 62 negara selama lima tahun.

Meski mengangkat tema bumi yang kerap diusung, serial itu punya keunikan dan teroboson. ''Planet Earth'' memilih lebih banyak menyajikan berkah yang melingkupi bumi daripada bencana yang mengancam. Mereka mengajak penonton menjelajahi keindahan kehidupan liar yang masih bertahan di bumi kita.

Maka, Alastair menyajikan tiap episode berdasarkan kombinasi habitat dan wilayah geografi. Dimulai dengan ''From Pole to Pole'', dilanjutkan dengan ''Mountains'', ''Fresh Water'', ''Caves'', ''Deserts'', ''Ice Worlds'', ''Great Plains'', ''Jungles'', ''Shallow Seas'', ''Seasonal Forests'', dan berujung di ''Ocean Deep''. Penataan apik ini menjadi paket komplet penjelajahan keragaman flora dan fauna di bumi.

Tak hanya itu. Serial pemenang Emmy Award dan Peabody Award ini menyajikan banyak gambar spektakuler yang belum tampil dalam seri dokumenter sebelumnya. Ada perburuan serigala mengejar karibu (sejenis kerbau) dengan angle dari atas heli dan macan tutul salju memburu markhor (kambing gunung) di Himalaya.

Masih ditambah dengan adegan perburuan massal ratusan ikan gergaji. Plus keberhasilan serombongan burung bangau cantik spesies Demoiselle melintasi puncak tertinggi di bumi, Gunung Everest. Adegan yang diambil dari ketinggian 28.000 kaki ini menandai pengambilan gambar Gunung Everest pertama kali dari udara dalam sejarah.

Walau jauh dari muatan politis, ''Planet Earth'' terus menekankan betapa pentingnya pelestarian spesies dan peran manusia memperlambat pemanasan global. Segala keindahan dan berkah di bumi akan musnah jika manusia tetap tamak mengeksploitasi alam. Pesan ini sangat nyata dalam tiga episode pada seri pendamping ''Planet Earth: The Future'', yaitu ''Saving Species'', ''Into the Wilderness'', dan ''Living Together''.

Pendekatan yang lebih mengedepankan keragaman hayati nan fantastis di seluruh planet demi menumbuhkan kecintaan pada bumi itu ternyata banyak disukai. Terbukti, ''Planet Earth'' kini dipirsa penonton TV di 130 negara dengan rating tinggi.

Rilis paket DVD ''Planet Earth'' juga disambut antusias dan menduduki peringkat pertama penjualan DVD terlaris di Amazon.com selama berbulan-bulan. Versi blu-ray dan HD DVD-nya juga diminati para penggemar film dokumenter di negara-negara maju. Sukses ini terus berlanjut lewat perilisan film layar lebar Earth, versi ringkas ''Planet Earth''.

Astari Yanuarti