Tampilkan postingan dengan label soccer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label soccer. Tampilkan semua postingan

Kamis, Desember 04, 2008

Milano, ITALIA




This trip was awesome!!!!. Finally I fullfiled my childhood dream, watching AC Milan's match ( long live Rossoneri) LIVE from Giuseppe Meazza Stadion, Milano, Italia.

I arrived in Milano on Nov 14 from Geneva, Swiss. I took Swiss Air and had to transit in Zurich. Stayed in Milano fro 3 days then depart to Salzburg, Austria

Rabu, Oktober 29, 2008

Euro Trip

Start:     Nov 1, '08 8:00p
End:     Nov 23, '08
Location:     Germany, Switzerland, Italy, Austria, Poland, Denmark
Segunung asa dan doa terucap untuk mengawali sebuah perjalanan pada penghujung musim gugur dan pembuka musim dingin. Keruntuhan nilai mata uang rupiah terhadap US$ dan euro, tak sanggup meredakan bara semangat yang sudah tertanam di dada. Merogoh kocek lebih dalam menjadi keharusan meski rancangan perjalanan ala backpacker sudah di tangan.

Kamis, Juni 19, 2008

FORZA AZZURRI

"Sudah menyiapkan sapu tangan?" Aku sempat tertegun dengan sapaan ringan dari HLU, Selasa pagi itu. Namun saat kulihat ekspresi muka si redaktur pelaksana yang dihiasi senyum jail, segera kusadari makna sapaan itu.

Sapaan tengil ini mengawali serangkaian psy war a la  rekan-rekan kantor menjelang pertandingan penentuan hidup mati di Grup C, Rabu dinihari. Bahkan siangnya saat rapat redaksi, topik sapu tangan ikut menyeruak. "Ga cukup itu, Astari perlu borong handuk," seru rekan lain.

Maklum, nyaris semua gibol di kantor tak ada yang suka pada Azzurri. Suasana makin seru, karena sejak awal mereka tahu kalau hanya aku dan sang wakil pemred yang maniak timnas Italia ( kami berdua juga fans berat AC Milan).

Nah, ledekan yang menghina dina Azzuri sudah mulai bergaung saat masa penulisan Edisi Khusus Euro 2008. Aku kebagian jatah menulis profil tim-tim Grup Neraka itu. Aku  bilang akan mengawali profil Italia dengan kiprah pemain Milanisti. "Wah bakal nggak berimbang tuh karena ada yang punya kepentingan personal dengan Italia," seru IAA, salah satu gibol.

Gibol pendukung berat Juventus tapi anti Italia ini akhirnya menggantikanku menulis karena aku harus menulis laporan khusus anti rokok ( 8 halaman) di edisi yang sama. Ya sudah, batal deh niatku mendukung Italia lewat tulisan. Tapi genderang perang tak berimbang ini sudah ditabuh. Dan hanya berbunyi keras menjelang dan sesudah pertandingan di Grup C, yang kami tonton bersama di kantor.

Meski hanya sorangan wae ( karena PTH, wakil pemred sedang cuti), aku pantang menyerah dengan psy war para gibol. Tangkisanku selalu berisi kalimat dan seruan dukungan untuk Italia. Bahkan saat Italia kalah memalukan 0-3 dari Tim Oranye pun, aku tetap keukeuh dengan pembelaan buat Italia.

Argumentasi klasik fans berat Italia juga selalu kuungkap: "Yang namanya calon juara itu selalu berdarah-darah dulu di awal. Lihat saja, Italia bakal lolos sampai final."  Tak ayal serangan makin gencar mengarah padaku. Malah, rekan gibol di lantai 1 juga tahu soal ini. Sehingga saat mereka lewat di lantai 2, tak lupa ikut 'menyapaku' .

Seperti ketika DHN sang wakil dirut mendatangi kubikalku dengan muka serius. Ternyata hanya untuk bilang:"Katanya kamu sedang sensitif dengan angka tiga,". Gubraks, aku hanya bisa nyengir kuda. Maklumlah, hari itu angka tiga dengan aneka plesetannya menjadi topik hangat di lantai dua.

 "Buatkan kopi tiga cangkir. Tolong dong belikan mie tiga bungkus. Bonus tiga kali lipat niy," menjadi contoh kecil seruan-seruan jahil setiap kali ada aku di ruangan. Sepertinya ledekan buat Italia selama pertandingan belum cukup bagi mereka. Dan ledekan tiga ini biasanya kubalas dengan teriakan singkat: Hidup Italia.

Kupingku makin tebal saat peluang Italia nyaris tertutup karena hanya mampu seri 1-1 dengan Rumania yang bukan tim unggulan. Analisa kematian Italia berdengung keras di sekitar kubikalku ( sengaja dilakukan biar aku ikut mendengar). Dengan santai aku ikut komentar, "Hehehehe, puas-puasin saja menertawakan Italia, sebelum nanti kalian semua bakal menangis melihat Italia mengulang sejarah final Piala Dunia 2006 mengandaskan Prancis. Mereka bakal lolos ke perempat final." Sudah pasti komentarku ini hanya menambah semangat mereka menistakan Italia. hahahaha.

Apalagi saat kubilang, Italia memang seringkali tidak tampil bagus di babak awal sehingga acap terseok-seok. Tapi paduan semangat bertanding dan Dewi Fortuna, biasanya menolong Gli Azzurri. Dan jika sudah lolos, mereka bisa terus melaju hingga final. Makanya tropi Euro kali ini milik Italia, setelah 40 tahun berlalu. Para gibol hanya bisa geleng kepala melihat kepedean-ku itu.

Toh, mereka akhirnya harus mengakui kalo Italia memang begitu. Kemenangan 2-0 atas Prancis menjadi bukti karakter khas Italia. Masih ada tiga pertandingan yang harus dituntaskan untuk menggenggam tropi. Spanyol harus dikandaskan lebih dulu. Kemudian Belanda ( jika Orange menang dari tim Beruang Merah). Jika ini terjadi, saatnya revenge!!!
Dan di final, Gli Azzurri mungkin akan ketemu dengan Portugal ( jika menang dari Jerman) atau Turki ( jika menang dari Kroasia).
 
Sayang, aku harus meninggalkan arena psy war Euro 2008. Mulai Sabtu nanti hingga penghujung Euro, aku cuti untuk sebuah perjalanan spiritual. Lupakan Euro 2008, fokus fokus fokus.




Selasa, Juni 17, 2008

Never-say-die spirit of Turkey

I'm a die hard fans of Italy. But so far in Euro 2008, my fave game is Turkey vs Czech Rep. I do think it was one of the most dramatic finales ever witnessed in a UEFA European Championship match.

I almost turned off my TV when Czech lead with 2 goals in minutes 62. The Jaroslav Plasil's goal banishing my hope for Turkey victory. But I keep telling to myself, c'mon give some minutes for Turkey. They have show the never say die spirit, it might get reward later.

My patience was paid off in 75th minutes. Arda Turan's strike, from a deflected Hamit Altıntop cross, set off the frantic finale.Turkey 1, Czech 2. My hope sparked again. I watch the game deliriously.

Then, the two minutes drama begins. Nihat Kahveci (the captain's team) score the equaliser goal in 87th minutes. His goal happened because of Petr Cech's blunder whose mishandling of Hamit's cross handed. In the 89th minutes, Nihat made second goal and punished Čech again with a glorious winner.

Just to heighten the late drama, during 4 minutes added time, Tuncay Şanlı, a forward who had more shots on goal than any other player, take a part as goalkeeper following the dismissal of Volkan Demirel who punch a Czech player ( i can't see the player name). In the 94th minutes final whistle was blown. Turkey beat the Czechs 3-2 and qualify for a quarter-final in Vienna against Croatia.

Though The Czech's supporter might think to have had victory stolen from their team, the final analysis and statistics showed opposite side. After all, Turkey finished up with more ball possession (57 to 43 per cent), more corners (six against two), more shots (on and off target – 8/5 and 16/14) and the best runners and passers. Arda covered the most ground - 11,34 km - and was also the best passer (86 per cent completed).

Still, the most astonishing performance of Turkey is a team's never-say-die spirit. Sadly, I dont see it in Italy's team this year. Hiks..hiks.

Senin, Maret 24, 2008