Tampilkan postingan dengan label international. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label international. Tampilkan semua postingan

Senin, Agustus 11, 2008

Rekor Laba Juragan Minyak

GATRA NO 39 / XIV 13 Agu 2008

ExxonMobil mencetak laba bersih US$ 11,68 milyar (Rp 105 trilyun) hanya selama triwulan kedua 2008. Keuntungan terbesar dalam sejarah Amerika ini terjadi di tengah beban berat masyakarat akibat kenaikan harga minyak. Barack Obama menilai, kini saatnya membuat kebijakan energi baru Amerika.

Kabar mencengangkan bergulir di industri perminyakan Amerika. Raksasa minyak terbesar di negara itu, ExxonMobil, membuat sejarah sebagai perusahaan yang sanggup mengeruk laba bersih paling banyak selama satu triwulan. Dalam laporan ke publik akhir pekan lalu, ExxonMobil mengumumkan mendapat untung bersih US$ 11,68 milyar (Rp 105 trilyun) selama triwulan kedua 2008.

Pada periode yang sama, total pendapatan mereka US$ 138 milyar (Rp 1.242 trilyun). Angka ini naik 40% dibandingkan dengan periode yang sama tahun silam, yang ''hanya'' US$ 98 milyar. Dengan pendapatan sebesar itu, demikian harian Washington Post menulis, ExxonMobil menjadi ''negara'' terkaya ke-18 di dunia.

Keuntungan besar itu diperoleh di tengah penurunan produksi minyak, penurunan margin pengilangan minyak, dan peningkatan biaya operasional. Produksi minyak ExxonMobil menurun 8% dibandingkan dengan kuartal kedua tahun lalu. Produksi minyak dan gas ExxonMobil di seluruh dunia mencapai 2,4 juta barel per hari.

Meski produksi turun, harga minyak yang terus meroket menjadi berkah bagi ExxonMobil. Mereka menjual minyak rata-rata US$ 119 per barel, naik US$ 50 per barel dari tahun lalu.

Berkah minyak juga dirasakan perusahaaan minyak Big Oil (istilah untuk menyebut lima perusahaan minyak terbesar, yaitu ExxonMobil, BP, Royal Dutch Shell, Chevron and ConocoPhilips). Selama triwulan kedua, Shell mencatat keuntungan US$ 11,6 milyar dan ConocoPhilips mencetak keuntungan bersih US$ 4,5 milyar.

Keuntungan besar Big Oil itu tak hanya membetot perhatian kalangan bisnis, melainkan juga ikut memanaskan arena kampanye Presiden Amerika Serikat. Apalagi, sejak awal, Partai Demokrat dan Partai Republik berada pada posisi berlawanan menyangkut kebijakan energi nasional.

Kandidat dari Partai Demokrat Barack Obama menilai, prestasi ExxonMobil itu menyakitkan karena terjadi di atas kesulitan publik Amerika membayar harga bensin yang meroket. ''Lebih menyakitkan lagi fakta bahwa Senator McCain menawarkan mereka tambahan tax break (penundaan pengenaan pajak sementara) US$ 1,2 milyar,'' kata Obama, seperti dikutip The Guardian.

Penawaran itu juga berlaku untuk semua pemain di industri minyak dan gas di Amerika. Dengan fasilitas tax break, Amerika akan kehilangan potensi pendapatan hingga US$ 33 milyar selama lima tahun mendatang. Pemberian fasilitas ini makin menjadikan Amerika negara yang paling sedikit membebankan pajak pada perusahaan minyak.

Negara-negara pengekspor minyak lainnya menerapkan pajak yang makin tinggi seiring dengan kenaikan harga minyak mentah dunia. Contohnya Rusia yang memungut pajak US$ 28 dari tiap barel minyak mentah yang diproduksi.

Berkat keringanan pajak itu, Exxon bisa mendulang untung lebih besar, yaitu US$ 38,5 per barel minyak yang diproduksi di Amerika. Bandingkan dengan keuntungan yang mereka dapat untuk produksi minyak mentah di luar Amerika sebesar US$ 27,2 per barel.

Keuntungan kian besar karena ExxonMobil dan Big Oil menetapkan harga minyak domestik sama dengan harga minyak dunia. Meski, jelas-jelas biaya produksi dan biaya pajak minyak domestik lebih rendah dibandingkan dengan produksi minyak Big Oil di luar Amerika. Mereka memilih mengantongi sendiri selisih harga ini daripada membagikannya ke konsumen.

Tak mengherankan jika Obama menilai tawaran tax break dari John McCain makin mengukuhkan bukti kuatnya proteksi Partai Republik pada Big Oil di tengah kenaikan harga minyak dunia. Maklum, Partai Republik yang dipenuhi pengusaha minyak selalu berkeras bahwa minyak bumi adalah sumber energi utama bagi Amerika. Alhasil, kebijakan energi Amerika selama ini hanya menjadi daftar keinginan (wish list) Big Oil.

Menurut Obama, kini saat yang tepat untuk membuat kebijakan energi baru. "Demi kebaikan bersama, sudah saatnya mengakhiri tirani minyak dengan berinvestasi di energi alternatif, menciptakan jutaan lapangan kerja baru, dan menghemat bahan bakar,'' ujar Obama.

Partai Demokrat memang dikenal sebagai pendukung utama pembangunan sumber energi alternatif, seperti tenaga matahari dan tenaga angin. Beberapa anggota Kongres dari Partai Demokrat pun mendesak agar laba bersih Exxon dan anggota Big Oil lainnya digunakan untuk meningkatkan produksi minyak Amerika serta membangun sumber energi terbarukan.

Bukan dipakai untuk memperkaya para pemegang saham dengan aksi membeli kembali saham, seperti dilakukan ExxonMobil selama triwulan kedua ini. Perusahaan yang bermarkas di Texas itu mengeluarkan US$ 8,8 milyar untuk membeli kembali saham mereka dan hanya menyediakan US$ 7 milyar untuk biaya eksplorasi dan produksi migas.

Anggota Big Oil lainnya melakukan hal serupa. Sesuai dengan catatan anggota Kongres dari Partai Demokrat, Big Oil menggelontorkan dana hingga US$ 194 milyar untuk pembelian saham sejak tahun 2004 hingga kuartal pertama 2008.

Sementara itu, untuk eksplorasi dan produksi, para raksasa minyak itu hanya mengeluarkan 30% dari dana buy-back saham. Lebih miris lagi, anggaran riset dan pengembangan energi hanya 5% dari jumlah uang yang dipakai untuk membeli saham.

Pembelian kembali saham memang praktek umum di kalangan industri Amerika. Tujuannya, mengerek harga saham perusahaan dan membesarkan keuntungan per lembar saham. Bagi Exxon, cara ini menjadi solusi untuk menjaga agar harga saham mereka tak terus turun. Selama semester pertama ini, harga saham mereka turun 14%.

Selain itu, Exxon juga menolak anggapan bahwa mereka tak serius meningkatkan produksi minyak. ''Kami terus menambah investasi untuk meningkatkan suplai ke pasar,'' kata Henry Hubble, Vice President Investor Relations Exxon, dalam konferensi pers. Sebaliknya, Exxon meminta Kongres membuka lebih banyak lapangan minyak offshore (lepas pantai). Sebab lapangan-lapangan ini punya cadangan minyak besar, yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan domestik Amerika.

Astari Yanuarti

Mengukur Keuntungan ExxonMobil

Tanggukan laba ExxonMobil sebesar US$ 11,68 milyar selama tiga bulan kedua tahun ini membelalakkan mata banyak orang. Apalagi jika Anda membaca data berikut yang menyetarakan laba ratusan trilyun rupiah itu dalam beragam ukuran lain.

* Laba bersih Exxon itu setara dengan perolehan laba US$ 128 juta (Rp 1,15 trilyun) per hari atau hampir US$ 1,5 (Rp 13.500) per detik selama kuartal kedua 2008.

* Laba tiga bulan Exxon bahkan lebih besar dari pendapatan domestik bruto tahunan Afghanistan yang US$ 11,63 milyar (sesuai dengan data Bank Dunia tahun 2007).

* Hanya dengan laba triwulanan itu, Exxon bisa membeli banyak perusahaan besar lain di Amerika, seperti Gap Inc, Ford, bahkan Starbucks, yang masing-masing punya kapitalisasi pasar US$ 11,67 milyar, US$ 10,76 milyar, dan US$ 10,69 milyar.

* Bila laba Exxon itu dibagi rata ke setiap penduduk Amerika, masing-masing akan mendapat US$ 38,33 (Rp 345.000).

* Laba Exxon itu juga bisa dipakai untuk membeli 2,95 milyar galon bensin di Amerika atau 179.692 mobil Cadillac Escalades atau 15,57 milyar permen cokelat Snickers.

Astari Yanuarti

Rabu, Agustus 06, 2008

Ambisi Saudi Mencakar Langit

Gatra No 37 / XIV 30 Jul 2008

Saudi berpacu mengejar ketertinggalan pembangunan dari negara-negara Teluk lain. Belasan gedung pencakar langit siap menghias langit Saudi. Mile-High Tower bakal menjadi gedung tertinggi sedunia.

Gedung-gedung pencakar langit tak lama lagi akan mewarnai langit Arab Saudi. Setidaknya ada 14 bangunan pencakar langit yang sedang dalam proses pembangunan di Riyadh, Jeddah, dan Mekah. Sebagian sudah bakal menjulang di angkasa Saudi, tahun depan. Sebagian lagi baru kelar dalam jangka 5 tahun mendatang.

Pembangunan menara-menara ini adalah salah satu cara Arab Saudi mengejar ketertinggalan pembangunan infrastruktur dari negara-negara Arab pesisir Teluk Persia. Meski sama-sama negeri super kaya berkat emas hitam, namun Saudi kalah bersolek dibanding Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, dan Qatar.

Negeri-negeri itu punya ratusan gedung pencakar langit di ibukota masing-masing. Desainnya pun unik dan cantik. Bandingkan dengan Saudi yang hanya punya tiga pencakar langit. Kingdom Tower (300 meter) dan Al Faisaliah (267 meter) di ibukota Riyadh serta Zam-Zam Tower (260 meter ) di depan Masjidil Haram, kota Mekah.

Menurut Joseph Daher, direktur proyek perusahaan kontraktor Al-Mabani, menegaskan tren yang tengah berlangsung sekarang ini adalah pembangunan besar-besaran ke arah barat dari Dubai, Uni Emirat Arab. “Pemerintah Saudi membuat kebijakan yang mendukung pembangunan gedung pencakar langit dengan merevisi aturan penghambat,” kata Joseph seperti dikutip dari MEED.com.

Salah satu terobosan peraturan diberlakukan di kota Jeddah. Keberadaan bandara internasional King Abdul Aziz, membuat ada pembatasan jumlah lantai bangunan. Rata-rata tinggi bangunan di kota ini dibawah 100 meter. Kini, pembatasan itu kian longgar. Gedung-gedung baru boleh berlantai hingga 60 tingkat setara dengan ketinggian di atas 200 meter.

Tak heran bila ada enam gedung baru yang sedang dan akan dibangun di Jeddah. Mile-High Tower tercatat sebagai gedung paling fenomenal. Sesuai namanya, gedung ini dirancang setinggi satu mil (1600 meter). Dan akan menjadi gedung tertinggi di dunia.

Tender proyek Mile-High Tower akan dibuka akhir bulan ini. Memang menurut berita terbaru dari MEED.com, ada beberapa penyesuaian terkait dengan ketinggian gedung. Kemungkinan akan dipangkas menjadi “hanya” 1100 meter saja. Alasannya terkait dengan penghitungan tingkat keuntungan dan masalah teknis pengangkutan material ke ketinggian di atas 1000 meter.
Desain menara ini yang terletak di utara Jeddah ini ditangani oleh kantor arsitek lokal Omrania & Associates yang berkolaborasi dengan Pickard Chilton dari Amerika Serikat. Sedangkan urusan kontruksi bangunan dipegang oleh Bechtel, juga dari Amerika. Kontraktor global Samsung Corporation ( yang sedang membangun Burj Dubai setinggai 630 meter) juga tertarik ikut tender pembangunan menara yang dibangun di lokasi seluas 5,3 kilometer persegi itu.

Keterlibatan banyak konstruktor asing dalam proyek-proyek infrastruktur di Saudi tak terhindarkan. Sebab, sampai kini Saudi baru punya tiga perusahaaan kelas kakap yang sanggup menangani megaproyek yaitu Saudi Bin Ladin, Saudi Oger dan Al-Mabani. Ratusan lainnya baru sanggup menangani proyek skala menengah.

Dari ketiga kontraktor dan pengembang itu, Saudi Bin Ladin tercatat paling sukses. Perusahaan milik ayah Usamah Bin Ladin ini banyak memenangkan tender megaproyek di Arab Saudi. Mereka sedang membangun komplek Abraj al-Bait di Mekah. Komplek ini terdiri dari tujuh menara pencakar langit.
Hotel Tower ( 577 meter) adalah yang tertinggi, disusul dengan Hajar Tower dan Zam-Zam Tower ( masing-masing 260 meter). Serta empat menara lain berketinggian 240 meter yaitu Maqam, Sarah, Marwah dan Shafa. Sampai Juli, baru Zam-Zam Tower yang sudah selesai dibangun. Enam menara sisanya selesai secara bertahap sampai akhir tahun 2009.

Abraj al-Bait yang terletak di sebelah selatan Masjidil Haram ini memang spektakuler dan menjadi landmark baru di Mekah. Kawasan ini memiliki hotel bintang lima, dua heliport, sebuah ruangan konferensi, restoran, dan pusat belanja.

Jika digabungkan, tujuh menara itu punya luas lantai 1.450.000 meter persegi. Paling luas sedunia, mengalahkan Aalsmeer Flower Auction di Belanda yang berluas 1,1 juta meter persegi. Selain itu empat jam dinding akan dipasang di empat sisi Tower Hotel. Jam-jam yang dipasang di ketinggian 380 meter ini bakal tercatat sebagai jam dinding tertinggi di dunia.

Tak jauh dari lokasi Abraj Al Bait, Saudi Bin Ladin melalui anak usahanya Jiwar Real Estate, tengah membangun kompleks Rawabi Abraj Al Bait. Proyek ini terdiri dari 21 menara apartemen seluas 2,8 juta meter persegi untuk para jemaah haji dan umroh. Desainer dua megaproyek ini adalah arsitek-arsitek lokal yang tergabung dalam Dar- Al Handasah Architect.

Proyek Saudi Bin Ladin ketiga adalah Jabal Omar, masih di sekitar Masjidil Haram. Mereka berduet dengan Saudi Oger membangun tujuh menara 35 lantai dan lima hotel bintang lima di atas lahan seluas 1 juta meter persegi. Bangunan-bangunan ini bisa menampung hingga 40 ribu orang.

Laju pembangunan gedung-gedung pencakar langit itu menandai babak baru kontruksi di Saudi. Kelak, bangunan setinggi 30 lantai akan lebih banyak terlihat di sana. Menggantikan bangunan dua lantai yang saat ini mendominasi landskap perkotaan di Saudi.

Yang patut disyukuri, Saudi tak hanya berlomba membangun gedung-gedung pencakar langit. Tapi juga membangun infrastruktur pendukung seperti jalan raya, jalan kereta api, hingga lahan parkir. Rupanya, Saudi belajar dari kesalahan kota Dubai yang mengabaikan pembangunan infrastuktur pendukung di tengah pertambahan populasi penduduk yang pesat.

Astari Yanuarti

PENCAKAR LANGIT ARAB SAUDI*
Nama
Tinggi ( meter)
Pengembang
Status
Nilai Proyek (US $)
Mile-High Tower, Jeddah
1,150 sampai 1,600
Kingdom Holding
Tender dibuka Juli 2008
13,6 miliar
Abraj al-Bait (terdiri dari tujuh menara), Mekah
577 ( Hotel Tower)
Saudi Binladin
Sedang dibangun, selesai 2009
2,7 miliar
Jabal Omar, Mekah
150
Jabal Omar Development Company
Kontrak EPC** dimenangkan Saudi Binladin dan Saudi Oger
2,7 miliar
Rawabi Abraj al-Bait, Mekah
300
Jiwar Real Estate
Sedang dibangun
2,5 miliar
Lamar Towers, Jeddah
310
Cayan Investment and Development Company
Pengumpulan dokumen penawaran EPC
500 juta
Al-Rahji Tower, Riyadh
352
Saleh bin Abdulaziz al-Rajhi Business Council
Penentuan pemenang tender EPC awal 2009
500 juta
Dubai Towers, Jeddah
448
Sama Dubai
Pembuatan desain gedung
500 juta
Corniche Tower, Jeddah
270
Emaar
Pengumpulan penawaran EPC
240 juta
Headquarters Business Park, Jeddah
250
Aldar al-Khasa for Urban Development
Penentuan pemenang tender EPC
214 juta
Diamond Tower, Jeddah
388
Al-Masarat Company
Tahap akhir pendesainan gedung
133 juta
*Sumber: MEED, 2008
**EPC=engineering, procurement and construction



Renovasi Besar Masjid Tersakral

Gatra No 37 / XIV 30 Jul 2008

Renovasi dan perluasan tahap keempat Masjidil Haram bisa menghilangkan lanskap Mekkah kuno. Wilayah sekeliling masjid terbesar dan tersuci sedunia ini menjadi kawasan real estate termahal sejagat. Harga tanah mencapai Rp 625 juta per meter persegi.


Suara klakson truk-truk pengangkut material bangunan membelah ratusan jamaah yang bergegas menuju Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi, suatu siang di penghujung Juni lalu. Di tengah sengatan matahari gurun sepanas 44 derajat celsius, para jamaah menepi sembari menutup hidung. Mereka terkepung kepulan debu pekat dari roda truk yang menjejak tanah tak rata akibat reruntuhan gedung.

Mobil pemadam kebakaran terlihat beberapa kali menyemprotkan air untuk mengurangi debu. Tapi upaya itu malah membuat sebagian jamaah yang berasal dari Indonesia ekstra hati-hati. ''Awas kubangan, lompat sedikit, ya, Bu,'' seru seorang jamaah perempuan sambil memegang erat lengan sang bunda yang sudah berusia lanjut. Selamat dari kubangan, mereka masih berusaha agar tak tersandung pada bongkahan besar-kecil rongsokan bangunan.

Belasan ribu bangunan hotel, rumah, toko, dan kantor, yang dulu memenuhi sisi barat daya hingga utara Masjidil Haram, kini nyaris rata dengan tanah. Suasana di lokasi seluas 230.000 meter persegi itu awut-awutan. Persis seperti zona perang. Bukit-bukit reruntuhan bangunan menyembul sepanjang tebaran mata. Beberapa gedung masih tegak berdiri, tapi nyaris tanpa dinding.

Ratusan truk, buldozer, dan crane milik kontraktor Saudi bin Laden terlihat hilir mudik. Sedangkan mesin-mesin pengungkit raksasa menjulang di angkasa, di sekeliling bangunan dan menara Masjidil Haram yang terbungkus kerangka besi. Semua ini membuat tampilan anggun masjid terluas di dunia itu seperti dalam kartu pos sama sekali tak terlihat.

Renovasi besar-besaran itu mulai berderap Mei lalu atas perintah Abdullah, selaku Penjaga Dua Kota Suci (Khadimul Haramain). Raja Abdullah ingin menambah 35% kapasitas Masjidil Haram. Pada saat ini, masjid seluas 356.000 meter persegi itu mampu menampung hingga 2 juta jamaah di dalam dan di halaman.

Proyek pengembangan keempat itu bisa dibilang yang terbesar. Menurut data dari Kementerian Urusan Kota dan Desa, yang dipublikasikan kantor berita KPA, Pemerintah Arab Saudi akan memperluas halaman masjid, membangun tempat parkir, dan memperluas lokasi sa'i antara Bukit Shafa dan Marwah menjadi tiga tingkat.

Pembangunan intensif juga terjadi di Mina, Musdalifah, dan Arafah, yang menjadi rangkaian tempat pelaksanaan ibadah haji. Tempat pelemparan jumrah ditata ulang demi keamanan jamaah. Jaringan transportasi subway juga akan dibangun mulai seputar Masjidil Haram hingga Arafah.

Proyek yang diperkirakan baru tuntas tahun 2020 itu bakal menyerap dana hingga US$ 100 milyar (Rp 920 trilyun). Gelontoran dana superbanyak ini mencakup pembangunan gedung pencakar langit, pusat perbelanjaan, apartemen, dan hotel-hotel baru di Mekkah.

Sumber pendanaannya beragam, dari asing hingga dana internal Saudi yang tengah menikmati berkah melambungnya harga minyak dunia, yang nyaris menyentuh US$ 150 per barel. Meski proyek itu tergolong amat besar, para investor sama sekali tak ragu menanamkan modalnya. ''Bagi mereka, tempat ini adalah safe haven yang menjanjikan keuntungan besar. Musim haji dan umrah rutin berjalan tiap tahun, dengan jumlah muslim dunia yang terus bertambah,'' kata Imad Awad, Head of Equity Capital Markets NBD Investment Bank.

Setiap tahun, jumlah jamaah haji mencapai 4 juta orang, plus belasan juta jamaah umrah. Selama lima tahun mendatang, jumlahnya meningkat hingga 10% setiap tahun. Data Kadin Mekkah menyebutkan, tahun lalu, belanja para jamaah haji dan umrah mencapai 10 milyar riyal (Rp 25 trilyun) di Mekkah saja.

Kehadiran 15-an juta jamaah itu tentu saja membutuhkan akomodasi tempat tinggal serta kesempatan beribadah yang nyaman dan memadai. Inilah salah satu landasan utama Raja Abdullah menggelar renovasi dan perluasan Masjidil Haram dan seluruh lokasi ibadah haji lainnya. Menurut Fahas bin Al-Jarboa, Wakil Sekretaris Jenderal Supreme Commission for Tourism in Saudi Arabia, megaproyek itu bakal mengubah seluruh kawasan seputar Masjidil Haram. ''Kami berharap, ini juga akan mengubah Mekkah secara dramatis,'' kata Fahas.

Dramatis, karena pembersihan kawasan sekitar Masjidil Haram tak segan meruntuhkan bangunan megah hotel bintang lima dan empat sekalipun. Mulai Hotel Sheraton, Hotel Sofitel, Hotel Qurtuba, Hotel Zahret, Hotel Darkum, Hotel Talal, Hotel Firdaus Umrah, hingga Hotel Firdaus Mekkah, semuanya akan diratakan dengan tanah. Hotel-hotel ini, bersama bangunan perumahan lainnya, masuk areal seluas 587.250 meter persegi di seluruh Mekkah yang harus ditata ulang.

Jika ditotal, renovasi Masjidil Haram dan kota Mekkah dijalankan lewat 973 proyek baru. Terbagi menjadi beberapa wilayah, seperti 85 proyek di wilayah Syamiyah yang terletak di sisi barat laut hingga utara Masjidil Haram. Kawasan ini akan dipenuhi hotel bintang lima, pertokoan, pusat perbelanjaan, dan restoran.

Di sisi barat Masjidil Haram yang meliputi kawasan Jabal Umar dan Jabal Ka'bah dibangun hal serupa. Plus stasiun kereta api induk, areal parkir yang mampu memuat 12.000 mobil, pasar, dan fasilitas umum lainnya. Sebuah terowongan sepanjang 1.000 meter akan dibangun menembus Jabal Umar dan menyambung ke Jalan Ummul Qura.

Di sisi tenggara dan selatan, yang mencakup kawasan Jabal Khandama, dibangun hunian untuk menampung 240.000 orang. Salah satu proyek terbesar di kawasan ini adalah Abraj al-Bait. Proyek pembangunan tujuh menara pencakar langit ini selesai tahun depan dan sanggup menampung 65.000 orang. Di kawasan ini juga dibuat jalur pejalan kaki menuju Masjidil Haram, yang terhubung dengan dua jalan utama.

Meski perombakan besar-besaran kali ini diiringi dengan pembangunan fasilitas angkutan massal dan pelayanan publik lainnya, bagi sebagian ahli sejarah dan tata kota, perubahannya terlalu besar. Salah satu pihak yang keberatan adalah Sami Angawi, arsitek dan pendiri Centre for the Custodian of the two Holy Mosques Institute for Hajj Research. Sami menilai, mereka tengah menyaksikan detik-detik terakhir Mekkah tampak seperti pada saat diciptakan Tuhan dengan lanskap dan gunung-gunungnya.

Pemerintah Saudi ingin meratakan gunung-gunung di Mekkah supaya lebih banyak lahan datar. ''Mestinya lanskap kota Mekkah tradisional tetap dipertahankan. Jangan hanya memikirkan bagaimana menampung sebanyak mungkin orang dan seberapa banyak uang yang bisa diperoleh,'' ujar Sami.

Beberapa pihak lain menyayangkan pembangunan gedung pencakar langit di sekitar Masjidil Haram itu. Sebab gedung pencakar langit itu akan menutupi pandangan dari Ka'bah dan landmark di sekelilingnya. Kondisi ini akan menghilangkan keseimbangan letak Masjidil Haram, yang secara filosofis dipandang sebagai contoh pusat keseimbangan dunia. ''Alasan mereka bisa dipahami. Tapi, di sisi lain, kita butuh tempat untuk menampung jamaah,'' kata Lahem al-Nasser, seorang ahli perbankan Islam yang mendukung megaproyek perluasan Masjidil Haram itu.

Megaproyek ini juga memicu kenaikan harga properti di Mekkah. Kini harga tanah mencapai 250.000 riyal (Rp 625 juta) per meter persegi di kawasan sekitar Masjidil Haram. Nyaris dua kali lipat dari harga tanah di Monako, negara yang selama ini memiliki kawasan real estate paling mahal menurut data Global Property Guide. "Malah para pengembang mengira, harga tanah akan naik empat kali lipat hingga 1 juta riyal (Rp 2,5 milyar) per meter,'' ujar Imad Awad. Harga tanah yang paling mahal ini terletak di area yang bisa melihat langsung pemandangan Ka'bah.

Astari Yanuarti

Sabtu, April 05, 2008

Nasib Citi di Pundak Pandit

8 / XIV 9 Jan 2008

Citigroup mengalami kerugian terbesar dalam 17 tahun terakhir. Vikram Pandit terpilih sebagai CEO Citigroup yang baru. Ia orang India kedua yang menjadi pucuk pimpinan perusahaan keuangan Amerika Serikat. Diragukan berhasil, karena krisis kredit macet KPR di Amerika belum teratasi.

Masalah masih enggan meninggalkan Citigroup. Kerugian bank beraset terbesar di Amerika Serikat ini bakal membengkak pada kuartal keempat 2007. Kabar itu keluar dari trio analis Goldman Sachs & Co, yaitu William F. Tanona, Betsy Miller, dan Neil C. Sanyal, Jumat pekan lalu.

Mereka memprediksi, total penghapusan utang Citigroup mencapai US$ 18,7 milyar (Rp 175 trilyun) sepanjang tahun ini. Angka itu jauh lebih besar dari perkiraan resmi pihak Citigroup, yang menyebutkan US$ 11 milyar (Rp 103 trilyun). Versi Citigroup ini diumumkan pada awal November lalu.

Biang masalah yang melilit Citigroup adalah krisis kredit pemilikan rumah alias KPR (subprime mortgage). Dana Citigroup yang tertanam di sana US$ 55 milyar. Sekitar US$ 43 milyar di antaranya berpotensi macet. Sejalan dengan krisis subprime mortgage yang masih terus berjalan, kerugian Citigroup pun makin membengkak. ''Kami yakin, butuh beberapa kuartal lagi sebelum krisis KPR ini bisa ditangani pasar,'' tulis analis Goldman Sachs, seperti dikutip kantor berita AP.

Angka kerugian penurunan nilai aset, baik versi Citigroup maupun Goldman Sachs, tercatat sebagai kerugian terbesar selama 17 tahun terakhir. Sebelumnya, pada pengumuman kinerja kuartal ketiga, Citigroup mencatat kerugian sebesar US$ 6,4 milyar terkait subprime mortgage. Ini belum termasuk kerugian dari bisnis kartu kredit dan lainnya.

Pendapatan perusahaan beraset US$ 2,35 trilyun itu hanya US$ 22,4 milyar, dengan keuntungan bersih US$ 2,21 milyar. Pendapatan mereka turun 60% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2006. Akibatnya, saham Citigroup terus menurun. Saham perusahaan yang berdiri tahun 1812 ini hanya bernilai US$ 29,6 per lembar, turun 45% dibandingkan dengan awal 2007. Nilai kapitalisasi pasar juga anjlok lebih dari US$ 50 milyar.

Kerugian itulah yang memicu pengunduran diri Chairman dan CEO Citigroup, Charles O Prince, awal November lalu. Untuk sementara, posisi chairman diisi oleh Robert Rubin, mantan sekretaris US Treasury. Sedangkan pejabat sementara CEO adalah Win Bischoff, yang sebelumnya mengepalai Citigroup Eropa.

Lima pekan kemudian, barulah Dewan Komisaris Citigroup menunjuk Vikram Pandit sebagai CEO yang baru. Pandit tercatat sebagai CEO keturunan India kedua di institusi keuangan Amerika setelah Ramani Ayer, CEO Hartford Financial Services Group. Ia mengalahkan kandidat lain, CEO Deutsche Bank Josef Ackermann atau CEO Royal Bank of Scotland Frederick Goodwin.

Pilihan ini mengejutkan banyak kalangan. Maklum, Pandit baru bergabung enam bulan di Citigroup. Yakni sebagai direktur unit perbankan dan pemasaran. Selain itu, pria yang sebelumnya berkarier 20 tahun di Morgan Stanley ini dinilai tak cukup punya pengalaman untuk menyelesaikan masalah Citigroup yang rumit.

Toh, Pandit jalan terus. Ia langsung melakukan pendekatan ke banyak analis dan lembaga pemeringkat demi memperbaiki citra Citigroup. Ia juga menyiapkan langkah berani. Yakni melakukan pemangkasan karyawan serta penutupan dan penjualan unit bisnis Citigroup. ''Saya segera melakukan review menyeluruh supaya kami bisa mengambil posisi paling tepat di masa depan,'' ujarnya.

Pandit menyatakan akan merumahkan sekitar 20.000 karyawannya pada 2008. Langkah ini menyusul pemecatan 17.000 karyawannya, April lalu. Pada saat ini, jumlah karyawan Citigroup mencapai 320.000 yang tersebar di 100 negara. Klien mereka berjumlah 220 juta di seluruh dunia.

Selain itu, menurut laporan Wall Street Journal, efisiensi Citigroup di beberapa unit bisnis berukuran menengah diperkirakan bernilai US$ 12 milyar. Unit-unit bisnis yang menjadi sasaran adalah Student Loan Corp, yang 80% sahamnya dimiliki Citigroup. Lalu unit peminjaman di wilayah Amerika Utara. Juga perusahaan kartu kredit Brasil, Redecard SA, yang 24% sahamnya dimiliki Citigroup, dan unit Citigroup di bisnis finansial konsumen di Jepang.

Tugas lain yang harus pula diselesaikan oleh Pandit adalah antisipasi penurunan dividen. Menurut Goldman Sachs, tahun ini dividen akan terpangkas sebanyak 40%. Angka ini masih bisa ditekan jika Pandit bisa menaikkan modal perusahaan US$ 30 milyar dan menjual aset senilai US$ 100 milyar.

Meski tengah dirundung kerugian, Citigroup nyatanya masih bisa mendapat dana segar. Beberapa hari sebelum Pandit menjabat, Abu Dhabi Investment Authority, lembaga pendanaan milik Uni Emirat Arab, membeli 4,9% saham Citigroup senilai US$ 7,5 milyar. Namun dana segar ini belum cukup untuk menutupi kerugian. Citigroup masih harus mencari dana tunai tambahan hingga US$ 10 milyar.

Kinerja Pandit yang baru belasan hari masih terlalu dini untuk dinilai. Apalagi, seperti disampaikan para analis Goldman Sachs, krisis kredit macet ini masih akan berlangsung hingga melewati pertengahan 2008.

Astari Yanuarti



Pria Santun dari Maharastha


''Baba (bahasa India, ayah --Red.), Vikram terpilih menjadi CEO Citigroup.'' Kalimat pendek inilah yang membangunkan Shankar B. Pandit, 85 tahun, dari tidur nyenyak di salah satu kamar sederhana Apartemen Navi, Mumbai, India, Rabu pertengahan Desember lalu. Sang pemberi kabar tak ada di sampingnya, melainkan ribuan kilometer dari Mumbai. Vikram Pandit, sang anak yang memberi kabar, berada di kantor pusat Citigroup yang terletak di kawasan super-elite Park Avenue, New York, Amerika Serikat.

Kabar itu disampaikan lewat telepon, karena kebetulan Shankar sedang menghabiskan waktu di Mumbai. Biasanya, selama sembilan bulan dalam setahun, Shankar tinggal bersama putra kesayangannya itu di apartemen mewah dengan 10 kamar di kompleks Apartemen Beresford, New York. Untuk tiga bulan sisanya, Shankar memilih tinggal di negeri kelahirannya, India.

Meski Shankar sudah mengira sebelumnya, tetap saja kabar itu membahagiakannya. ''Ketika namanya masuk dalam shorlisted, aku yakin, dia yang terpilih,'' kata Shankar kepada rediff.com. Sayang, Shankar yang juga seorang pengusaha ini tak bisa berbagi kebahagiaan dengan Shailaja, ibunda Vikram, yang meninggal setahun lalu.

Menurut Shankar, walau sukses meraih posisi puncak di Citigroup, karakter Vikram tak berubah. Dia tetap rendah hati, santun dalam bertutur, dan terus menjaga hubungan dengan keluarga besar Pandit yang tinggal di India.

Shailaja melahirkan Vikram 50 tahun lalu di Nagpur, Negara Bagian Maharashtra, India. Vikram tinggal dan bersekolah di kota terbesar di kawasan India bagian tengah itu. Pada saat masuk sekolah menengah atas, Vikram pindah ke Mumbai. Ia bersekolah di Dadar Parsee Youths Assembly High School.

Seperti umumnya anak pengusaha sukses lainnya, Vikram melanjutkan kuliah ke negeri impian banyak orang India, Amerika Serikat. Dengan bekal otak cerdas, ia diterima di Columbia University, salah satu universitas ternama di Amerika. Vikram mengambil jurusan teknik elektro. Ia meraih gelar sarjana dan master pada 1977. Ketika belajar di tingkat doktoral, Vikram memilih bidang finansial dan sukses menyandang gelar PhD pada 1986 dari universitas yang sama.

Setelah sempat menjadi dosen di Indiana University Bloomington, Vikram akhirnya terjun ke dunia bisnis. Morgan Stanley, bank investasi bergengsi di Amerika, menjadi pelabuhan pertamanya. Hanya berselang empat tahun, ia sudah memegang jabatan penting, Direktur US Equity Syndicate, salah satu divisi di Morgan Stanley.

Vikram dipercaya menjadi Direktur Worlwide Institutional Equities Division sejak 1994 hingga tahun 2000. Terobosan penting yang ia lakukan adalah menguatkan sistem perdagangan elektronik dan membangun layanan prime brokerage. Kini Morgan Stanley dikenal sebagai prime brokerage paling inovatif.

Kariernya terus menanjak. Mulai tahun 2000 hingga 2005, suami Swati ini dipercaya mengepalai seluruh bisnis sekuritas dan investasi Morgan Stanley. Ia menjadi president merangkap chief operating officer, jabatan yang hanya satu tingkat di bawah chairman.

Tapi jalan tak selalu mulus. Pada Maret 2005, Vikram meninggalkan Morgan Stanley karena terlibat konflik dengan Phillip Purcell, yang kemudian menjadi CEO. Setahun kemudian, Vikram bersama mantan Direktur Morgan Stanley, John Havens, mendirikan perusahaan hedge fund, Old Lane Partners.

Bermodal US$ 2 milyar dan 120 karyawan di New York, London, Mumbai, dan Chennai, Vikram sukses melambungkan Old Lane Partners. Hanya dalam waktu setahun, asetnya mencapai US$ 4,5 milyar, sebelum akhirnya dibeli Citigroup dengan nilai US$ 800 juta.

Astari Yanuarti

Rahasia Percaya Diri Chandran

10 / XIV 23 Jan 2008

Kematian tragis milyarder Robert Chandran mengejutkan keluarga dan kolega bisnisnya. Sosok pria ramah ini dikenal ambisius dan pantang menyerah. Mulai meniti usaha dengan modal US$ 150.

Sebuah komputer Apple dan printer Epson menjadi modal awal Robert Chandran mendirikan Chemoil Energy di California, Amerika Serikat. Dua puluh enam tahun silam, ia memulai segalanya. ''Di sanalah aku mulai menuliskan rencana bisnisku,'' ujar Chandran kepada majalah Forbes, tahun lalu.

Langkah pemuda yang pada saat itu berusia 31 tahun ini tergolong nekat. Bayangkan saja, hanya ada dua karyawan ketika perusahaan pengisian bahan bakar untuk kapal dagang itu berdiri. Chandran yang percaya diri dan seorang sekretaris.

Pemegang gelar master bidang kimia itu jeli memanfaatkan peluang. Di tengah persaingan ketat dengan perusahaan besar lainnya, Chemoil sanggup mengambil sepotong kue bisnis SPBU kapal dagang. Berbeda dari para pesaingnya yang memilih bahan bakar minyak light, Chemoil memakai minyak mentah heavy. Chandran juga hanya mengambil sedikit margin.

Paduan dua pilihan itu ternyata menjadi ramuan ampuh. Chemoil terbukti bisa bersaing dengan perusahaan yang telah mapan. Chemoil berkembang dan dinobatkan menjadi salah satu perusahaan yang tumbuh paling cepat di Amerika Serikat. Status dari majalah Forbes ini disandang hanya dalam waktu satu dekade sejak Chemoil resmi berdiri.

Namun layar biduk Chemoil tak selamanya berkembang mulus dari terpaan badai. Kelesuan bisnis perkapalan dunia membuat Chemoil terjerat utang sangat besar. Demi kelangsungan usaha, Chemoil terpaksa mengambil langkah tidak populer. Yakni melakukan restrukturisasi besar-besaran.

Kantor-kantor cabang di berbagai belahan dunia terpaksa ditutup. Sepersepuluh jumlah pekerjanya harus menjadi pengangguran. Sedangkan karyawan yang tersisa mesti rela dipotong gaji.

Mimpi buruk ini tidak membuat Chandran patah arang. Ia putar otak dan mengambil langkah berani: memindahkan fokus bisnis ke Asia. Chemoil Energy menggandeng mitra baru perusahaan trading asal Jepang, Itochu. Sang mitra membeli 50% saham Chemoil pada 2005.

Keputusan mengejutkan juga dia lakukan dalam urusan personal. Chandran memboyong istri tercinta, Vivian, beserta dua putri mereka, Sharon dan Ashley, ke Singapura. Mereka melepas kewarnegaraan Amerika Serikat dan melamar menjadi warga negara ''negeri singa'' itu.

Chandran akhirnya berhasil mendapat status sebagai warga Singapura pada 2005. Entah kebetulan atau tidak, status ini diperoleh tak lama setelah Chandran menonton acara pidato dalam sebuah pawai National Day di televisi. ''Aku terkesan dengan negara ini yang menyatakan sebagai pemegang nilai-nilai Asia dengan kenyamanan Barat,'' ujarnya ketika diwawancara koran bisnis The Edge Singapore.

Kepindahan Chandran ke Singapura mendapat apresiasi tinggi dari pemerintah. Salah satu buktinya tercermin pada pernyataan Menteri Keuangan Tharman Shanmugaratnam. Dalam pidato anggaran tahunan, Tharman menyebut Chandran sebagai pemain global yang memilih menancapkan akar di Singapura.

Apresiasi itu memang layak diterima Chandran. Sebab ia juga memberi sumbangan tak sedikit pada perekonomian Singapura dengan memindahkan pusat bisnis Chemoil Energy ke Singapura. Chemoil menawarkan saham publik perdana (IPO) di Bursa Efek Singapura pada penghujung 2005.

IPO ini juga punya kisah tersendiri. Pada saat pertama didaftarkan di Bursa Efek Singapura, harga sahamnya jatuh. Sebab permintaan lebih sedikit dari yang diharapkan. Lagi-lagi Chandran pantang menyerah. Ia mulai merilis ulang IPO dengan harga saham lebih murah pada 2006. Cara ini manjur. Saham Chemoil mendapat gain 30% dalam debut perdananya.

Kini perusahaan yang semula hanya bernilai US$ 120.000 itu menjelma menjadi raksasa SPBU kapal dagang, dengan kapitalisasi pasar US$ 700 juta. Bahkan pendapatan Chemoil mencapai US$ 4,4 milyar pada 2006.

Keberhasilan Chandran memimpin Chemoil Energy membuat Forbes memasukkan namanya dalam daftar orang terkaya di Singapura. Ia berada di posisi ke-14 dalam peringkat orang terkaya di Singapura tahun 2007, dengan kekayaan pribadi mencapai US$ 490 juta.

Sepanjang karier sebagai CEO Chemoil, Chandran dikenal sebagai sosok yang ambisius, berpandangan ke depan, pantang menyerah, sekaligus ramah dan mudah bergaul dengan siapa pun. ''Dia selalu berpikir tak hanya tiga atau lima langkah ke depan, tapi 13 langkah ke depan,'' kata Ricardo Lim, dekan salah satu fakultas di Asian Institute of Management (AIM), Filipina.

Direktur Keuangan Chemoil, Jerome Lorenzo, menambahkan bahwa Chandran memiliki semua karakter orang yang sanggup meraih sukses dengan cepat. ''Karena ia tidak menerima 'tidak' sebagai sebuah jawaban,'' kata Lorenzo, seperti dikutip The Straits Times.

Pernyataan Lorenzo ini memang tepat menggambarkan pria kelahiran Mumbai, India, 31 Mei 1950, itu. Selesai sekolah menengah atas, Chandran ingin sekali diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Madras, India. Tapi, apa boleh buat, dia gagal karena persaingan yang begitu ketat.

Maka, Chandran muda berpindah haluan mengambil jurusan kimia di tempat yang sama. Di jurusan ini, ia sukses meraih gelar master. Ketika ibunya meninggal pada 1972, Chandran memutuskan mengambil beasiswa sekolah bisnis di AIM.

Sebagai pelajar beasiswa, tentu saja dia harus hidup hemat. ''Aku tetap harus kerja paruh waktu demi mencukupi kehidupanku di sini,'' katanya. Itu pun hanya bisa memberinya minuman kopi di saat rekan-rekannya sanggup membeli bir.

Menurut Chandran, suatu saat ia pernah mendapat cemoohan dari seluruh teman sekelasnya. Penyebabnya, Chandran mengumumkan akan menjadi jutawan sebelum berusia 30 tahun. Ucapan ini dianggap mustahil bisa dicapai seorang mahasiswa miskin seperti dia.

Tapi Chandran tak main-main dengan ambisi itu. Setelah menikahi Vivian, gadis Filipina, ia memilih mengadu nasib ke Amerika pada 1976. Bekal di kantongnya hanya US$ 120, plus istri yang tengah hamil tujuh bulan.

Di ''negeri Paman Sam'' itu, Chandran memulai karier sebagai karyawan sebuah perusahaan kimia di San Francisco, California. Namun gajinya tak cukup untuk membeli rumah. Maka, ia meminjam uang US$ 10.000 dari ibu mertuanya untuk membayar uang muka rumah.

Selama proses pembelian rumah itulah, Chandran mencium peluang investasi di sektor real estate. Pekerjaan ganda pun dilakoninya. Setiap akhir pekan, ia mencari rumah dan properti yang bisa dijualbelikan. Kerja keras Chandran membuahkan hasil. Tahun 1981, ia sukses mengelola lebih dari 740 apartemen.

Tahun itu juga menjadi tonggak bersejarah bagi Chandran, karena pria India ini resmi mendapat kewarganegaraan Amerika Serikat. Selain itu, ia pun memutuskan keluar dari pekerjaannya sebagai karyawan di perusahaan kimia, dan memutuskan membangun perusahaan sendiri bernama Chemoil Energy.

Namun kisah sukses Chandran harus terhenti di Kampung Lubuk Agung, Pelalawan, tak jauh dari kota Pekanbaru, Indonesia. Nyawanya melayang ketika helikopter sewaan militer Indonesia yang dinaikinya jatuh akibat cuaca buruk. ''Kepergiannya menjadi sebuah kehilangan besar bagi keluarga, Chemoil, dan Singapura,'' ujar Direktur Utama Bursa Efek Singapura, Hsieh Fu Hua.

Astari Yanuarti

Gerakan Memboikot Ponsel Nokia

12 / XIV 6 Peb 2008

Serikat Buruh Jerman menolak penutupan pabrik ponsel Nokia di Bochum, Jerman. Para politisi menyerukan gerakan boikot ponsel Nokia. Gaji pekerja Jerman terlalu mahal sehingga membuat pabrik ponsel tak kompetitif.

Lima belas ribu demonstran memenuhi pusat kota Bochum, Negara Bagian North Rhine-Westphalia, Jerman, Selasa pekan lalu. Demo selama dua jam itu berlangsung tertib. Meski, para pendemo menyampaikan pesan keras: menolak penutupan pabrik telepon seluler (ponsel) Nokia. Keputusan menutup pabrik itu sendiri disampaikan manajemen pada pertengahan bulan ini.

Putusan mengejutkan itu sontak menjadi isu nasional, bahkan merembet hingga kawasan Uni Eropa. Gerakan yang muncul dengan motor Serikat Buruh Metal dan Baja Jerman pun tercatat sebagai demo terbesar selama 20 tahun terakhir di negara bagian yang terletak di sisi barat Jerman itu. Penutupan pabrik ponsel asal Finlandia itu membuat 2.300 pekerja dan 1.700 distributor menganggur. Ini belum termasuk kerugian ekonomi bagi iklim industri Jerman.

Nokia secara resmi menutup pabrik di Bochum sekitar Juni mendatang. Manajemen memindahkan pabriknya ke Cluj, Rumania. Mereka menyatakan, biaya operasional pabrik di Bochum terlalu tinggi sehingga tidak lagi efisien. Gaji pekerja menjadi komponen utama penyumbang biaya tinggi. ''Pabrik Bochum menyumbang produksi ponsel sebanyak 6%, dengan biaya gaji mencapai 23% dari total biaya operasi pabrik,'' ujar Presiden dan CEO Nokia, Olli-Pekka Kallasvuo, seperti dikutip AFP.

Alasan itu tak bisa diterima aktivis Serikat Buruh Metal dan Baja Jerman, Harald Strehlau. Ia menyatakan, Nokia tak dapat seenaknya angkat kaki hanya berdasarkan alasan peningkatan efisiensi. Apalagi, Nokia sudah menerima banyak keuntungan dari subsidi yang diberikan Pemerintah Jerman sejak beroperasi sekitar 13 tahun lalu. Total subsidinya mencapai 88 juta euro (Rp 1,2 trilyun). ''Lagi pula, Nokia sudah mendapat banyak selama beroperasi di Bochum,'' katanya.

Mereka berencana menuntut Nokia atas hal itu. Toh, Strehlau dan rekan-rekannya dalam pernyataan pada koran Helsingin Sanomat mengakui bahwa gerakan mereka mungkin tak akan bisa mengubah keputusan Nokia.

Untunglah, mereka tak berjuang sendirian. Dukungan dari kalangan politisi Jerman mengalir deras. Menteri Pertanian Horst Seehofer mengajak warga Jerman mengganti ponsel Nokia. Ia menyatakan tak sreg dengan putusan Nokia. ''Saya mulai dengan tak lagi memakai Nokia. Saya juga berencana menerapkan di Departemen Pertanian,'' kata Seehofer.

Senada dengan Seehofer, Ketua Partai Sosial Demokrat Peter Struck juga mengganti ponsel Nokia-nya. Gerakan boikot mereka mendapat dukungan dari beragam kalangan, terutama serikat-serikat pekerja yang tersebar di seluruh Jerman.

Toh, putusan Nokia sudah bulat. Bahkan lobi Kanselir Angela Merkel yang berbicara langsung melalui telepon dengan Kallasvuo tak membawa perubahan apa pun. Menurut Kallasvuo, pembicaraan mereka memang konstruktif. Merkel berupaya mencari solusi terbaik bagi ekonomi Jerman. Sedangkan dirinya mencari yang terbaik baik bisnis Nokia dalam jangka panjang.

Jadi, meski selang tiga hari kemudian Kallasvuo secara resmi minta maaf atas keputusan penutupan pabrik itu, Nokia bergeming. ''Tetap tak ada alasan yang bisa mengubah keputusan kami,'' kata Kallasvuo, mantap.

Ia menambahkan, Nokia memang menganut budaya tanggung jawab sosial dan kepedulian. Tapi, dalam kompetisi ekonomi terbuka, tak ada satu pun perusahaan yang bisa menggaransi pemberian lapangan kerja sepanjang masa. Kallasvuo hanya berjanji, Nokia akan memberikan solusi terbaik bagi para mantan pegawainya di Bochum, tanpa bersedia menyebutkan detailnya.

Memang belum ada pernyataan resmi soal kerugian ekonomi yang dialami Jerman. Yang pasti, penutupan pabrik Nokia itu menambah panjang daftar perusahaan ponsel yang tutup buku di Jerman. Sejak tahun 2006, Motorola dan Benq-Siemens menghentikan produksinya di Jerman. Lebih dari 6.000 pekerjanya menganggur.

Gaji pekerja yang membebani biaya produksi selalu menjadi salah satu alasan utama penutupan pabrik. Gaji pekerja di Jerman mencapai 32 euro per jam, termasuk paling mahal di Eropa. Bandingkan dengan gaji pekerja di Rumania yang hanya 2,45 euro per jam. Sekitar 10 kali lebih murah dari Jerman.

Pabrik baru Nokia di Cluj, sekitar 400 kilometer sebelah barat daya Bukares, mulai berproduksi pada 11 Februari. Pengumuman pembangunan pabrik ke-10 Nokia di seluruh dunia itu dilakukan sejak akhir Maret setahun silam. Pabrik di negeri asal legenda Drakula itu mempekerjakan 3.500 orang plus 100 pekerja kontrak per pekan. Produksi ponselnya akan disebar untuk pasar Asia dan Afrika.

Menurut majalah Rumania, Ziarul Financiar, pemerintah mereka sukses menerapkan kebijakan menarik investasi dengan perbaikan jalan dan infrastruktur lain. Misalnya memperluas bandar udara terdekat dari Cluj demi keperluan kargo ekspor-impor.

Astari Yanuarti



Tetap Paling Perkasa

Ketangguhan Nokia di pasar ponsel dunia masih belum tergoyahkan, malah makin menguat. Sampai akhir tahun lalu, pangsa pasar Nokia mencapai 40%, naik dari sekitar 36% di awal tahun. Total penjualan ponsel dunia tahun 2007 mencapai 1,15 milyar unit.

Dominasi Nokia ini tak lepas dari kinerja kinclong-nya selama kuartal keempat tahun 2007. Penjualan ponsel selama periode ini sebanyak 133,5 juta unit. Keuntungan bersih yang diraih selama kuartal terakhir mencapai 1,8 milyar euro (Rp 24,6 trilyun), dengan pendapatan bersih 15,7 milyar euro (Rp 215 trilyun). Sedangkan pendapatan bersih sepanjang tahun lalu mencapai 51,1 milyar euro (Rp 699 trilyun).

Menurut Presiden dan CEO Nokia, Olli-Pekka Kallasvuo, pada saat pengumuman kinerja keuangan kuartal keempat 2007, Kamis lalu, mereka yakin bisa mempertahankan dominasi tahun ini di tengah tren penurunan harga ponsel. Ia memprediksi, pasar ponsel tahun ini naik 10% dari tahun lalu alias sebesar 1,265 milyar unit.

Demi mencapai target itu, Nokia mengambil ancang-ancang untuk kembali merajai pasar Amerika Serikat. Selama beberapa tahun ini, Motorola lebih dominan di ''negeri Paman Sam'' itu. Sehingga kontribusi pasar Amerika hanya sekitar 5% dari total pendapatan Nokia. Untuk memenangkan pasar, Nokia akan lebih banyak meluncurkan ponsel yang sesuai dengan pasar Amerika.

Selain itu, manajemen Nokia juga menargetkan Jepang sebagai sasaran untuk menguatkan penetrasi pasar. Tidak ketinggalan, mempertahankan posisi dominan di India dan Cina, yang tercatat sebagai penyumbang penyerapan ponsel Nokia terbesar beberapa tahun ini.

Ketangguhan Nokia itu membuat kompetitor lain, seperti Samsung dan Sony Ericsson, masih harus bekerja ekstra keras untuk mengejar ketertinggalan. Samsung, penguasa pasar nomor dua dengan 14%, memang menunjukkan kinerja bagus sepanjang tahun lalu.

Pabrikan asal ''negeri ginseng'' itu berhasil menjual 161 juta unit ponsel, dengan nilai penjualan sebesar 13,2 milyar euro. Mereka menetapkan target bisa menjual 200 juta unit ponsel pada tahun ini. Karena itu, Samsung akan mulai masuk ke pasar ponsel murah berharga di bawah Rp 400.000.

Sementara itu, Sony Ericsson, yang menguasai 9% pasar ponsel dunia dan berada di posisi keempat, mencatat kinerja kurang menggembirakan. Keuntungan Sony Ericsson turun 17% sepanjang kuartal keempat karena tingginya beban biaya dan pajak.

Nasib buruk dialami Motorola, penguasa pasar ponsel nomor tiga. Keuntungan bersih mereka anjlok hingga 84% selama kuartal keempat, dan penjualan ponselnya turun 38%. Penguasaan pasar Motorola pun tergerus menjadi hanya 12%.

Astari Yanuarti

Duet Microsoft-Yahoo! Menghadang Google

13 / XIV 13 Peb 2008

Raksasa peranti lunak Microsoft mengajukan penawaran akuisisi Yahoo! senilai US$ 44,6 milyar. Kolaborasi mereka diharapkan sanggup mengikis kue pasar Google, sang raja iklan online dan mesin pencari. Masih harus menunggu lampu hijau Komisi Anti-Monopoli Amerika.

Sepucuk surat terbuka mengguncang jagat bisnis teknologi informasi di Silicon Valley, California, Amerika Serikat, Jumat pagi pekan lalu. Bukan hanya karena pengirim dan penerima surat sama-sama beken, melainkan juga isi suratnya mengagetkan.

Pembukaan surat yang dikirim Chief of Executive Officer (CEO) Microsoft, Steve A. Ballmer, itu mungkin terlihat sangat biasa. ''Salam untuk seluruh anggota dewan direksi,'' tulis Ballmer. Tapi simaklah dua kalimat berikutnya. ''Saya mewakili Dewan Direksi Microsoft mengajukan proposal bisnis kolaborasi Microsoft dan Yahoo!. Microsoft ingin mengakuisisi semua saham Yahoo! seharga US$ 31 (Rp 285.000) per lembar atau setara dengan 0,95 harga saham Microsoft pada saat penutupan pasar 31 Januari 2007.''

Isi surat ke Dewan Direksi Yahoo! itu jelas tidak main-main. Microsoft menawarkan harga premium, 62% di atas harga saham Yahoo! Ketika penutupan pada hari yang sama, yaitu US$ 19,18 (Rp 176.000) per lembar. Total nilai akuisisi itu mencapai US$ 44,6 milyar (Rp 410 trilyun).

Sebuah angka fantastis di tengah bayang-bayang resesi perekonomian Amerika Serikat. Tak mengherankan, para analis pasar di Amerika menjuluki surat Microsoft itu sebagai bear-hug letter (bear-hug berarti pelukan sangat erat sehingga bisa menyakitkan). Harian New York Times menulis, surat jenis ini termasuk seni menawar dengan menunjukkan betapa tak amannya posisi perusahaan yang menjadi target.

Surat Microsoft itu memang berisi kalimat santun yang tersebar hampir di seluruh paragraf sebagai gambaran kehangatan pelukan (hug). Tapi kalimat peringatan agar hati-hati atas kehadiran beruang (bear) tak lupa mereka cantumkan pada alinea penutup. ''Tergantung respons Anda, Microsoft tetap berhak melakukan semua langkah yang diperlukan agar semua pemegang saham Yahoo! menyadari betapa berharganya proposal kami,'' tulis Ballmer.

Ancaman halus itu terkait dengan kebijakan hak pemegang saham Yahoo! yang dikenal dengan istilah pil beracun. Kebijakan ini menyatakan, setiap pembelian saham di atas 15% harus mendapat persetujuan Dewan Direksi Yahoo!. Jika mereka tak menyetujui proposal itu, Microsoft bisa saja menempuh langkah yang tak jamak dalam bisnis teknologi informasi, yaitu hostile bid (pencaplokan).

Maklum, ambisi raksasa peranti lunak itu mengakuisisi Yahoo! tergolong sudah lama, sejak akhir tahun 2006. Menurut Ballmer, pada saat itu mereka mengajukan aneka alternatif kepada Yahoo!, dari kemitraan komersial hingga merger. Sayang, pada Februari 2007, Chairman dan CEO Yahoo!, Terry Semel, menolak permintaan itu. Semel beralasan, manajemen Yahoo! masih melihat peluang untuk kembali berjaya di pasar portal web dan mesin pencari.

Menurut Semel, seluruh manajemen Yahoo! tengah berupaya keras melakukan restrukturisasi dan terobosan teknologi, seperti Proyek Panama, demi mengembalikan performa keuangan Yahoo!. ''Tapi, setahun sudah berlalu, dan tak terjadi perbaikan,'' Ballmer menyanggah.

Tampaknya resep manajemen Yahoo! tak manjur mengangkat pamor perusahaan yang berdiri pada 1994 itu. Padahal, mereka sampai melengserkan Semel sebagai CEO pada Juni 2007. Semel yang menjadi CEO sejak tahun 2001 dinilai gagal mengambil langkah menguasai pasar iklan online. Jerry Yang, salah satu pendiri Yahoo!, terpilih menggantikannya.

Namun performa Yahoo! masih jeblok. Awal tahun ini, kapitalisasi pasar raksasa portal web itu terjun bebas menjadi hanya US$ 25,6 milyar (Rp 235 trilyun) dari sekitar US$ 48 milyar (Rp 441 trilyun) pada penghujung tahun 2004.

Yahoo! kalah bersaing dari Google, yang sekarang merajai pasar mesin pencari sekaligus pelahap terbesar pasar iklan online. Kapitalisasi pasar Google pada saat ini mencapai US$ 175 milyar (Rp 1.600 trilyun).

Berdasarkan laporan keuangan kuartal keempat 2007 yang baru dirilis akhir Januari, pendapatan total Yahoo! selama tahun lalu adalah US$ 6,7 milyar. Angka ini 8% lebih baik dari capaian tahun 2006. Namun pendapatan bersih mereka merosot dari US$ 751 juta pada 2006 menjadi US$ 660 juta tahun lalu.

Bandingkan dengan Google yang sanggup mengeruk pendapatan total sampai US$ 16,6 milyar sepanjang tahun lalu. Naik 56% dari angka tahun sebelumnya, US$ 10,6 milyar. Pendapatan bersih perusahaan yang berdiri pada 1998 ini juga meningkat 37% menjadi US$ 4,2 milyar dari US$ 3,08 milyar tahun 2006.

Perusahaan yang berbasis di Mountain View, California, itu juga melibas Yahoo! dari sisi penguasaan pasar mesin pencari. Berdasarkan data Nielsen, selama Desember lalu, jumlah pengunjung Google sebanyak 274 juta, disusul oleh MSN (situs milik Microsoft) 262 juta, dan Yahoo! dengan 190 juta pengunjung.

Dominasi Google makin terlihat pada data statistik sepanjang tahun lalu. Mereka menguasai 77% pasar mesin pencari. Yahoo hanya sanggup mengikis 16%. Sedangkan Microsoft masih tertinggal jauh, hanya 3,7%.

Rapor buruk Yahoo itu mendorong Jerry Yang mengumumkan pemangkasan 1.000 karyawannya dari total 14.600 orang, pekan terakhir bulan lalu. Selang beberapa hari, Semel resmi mundur sebagai chairman. Roy Bostock terpilih sebagai chairman baru.

Atas tawaran Microsoft itu, belum ada pernyataan resmi dari Yahoo!. Namun Clayton Moran, analis dari Stanford Group, menilai bahwa dalam kondisi terpuruk seperti sekarang, Yahoo! tak punya banyak pilihan selain menerima pinangan Microsoft. Sebab nyaris tak ada perusahaan lain yang sanggup memberi tawaran lebih tinggi dari raksasa peranti lunak yang didirikan Bill Gate itu. ''Di sisi lain, Microsoft butuh Yahoo! untuk menguatkan posisi di pasar internet,'' kata Moran, seperti dikutip Dow Jones.

Microsoft yang punya kapitalisasi pasar US$ 300 milyar memang tergiur oleh pasar iklan online. Menurut analisis mereka, pasar iklan online akan tumbuh pesat dalam tiga tahun mendatang. Nilainya naik mencapai US$ 80 milyar dari hanya US$ 40 milyar pada tahun lalu.

Ballmer berharap bisa menggabungkan kekuatan Yahoo! sebagai penyedia layanan online, pemilik insinyur-insinyur kreatif, dan platform iklan yang mapan, untuk menggoyang dominasi Google. Mereka juga akan fokus pada peluang pasar baru dalam iklan online, yaitu layanan mobile, blog, situs jejaring sosial, dan video. ''Kami harus bergerak cepat karena Google juga terus meluaskan jaringan dengan rajin berekspansi,'' kata Ballmer, sebagaimana dikutip The Washington Post.

Waktu memang menjadi salah satu kunci untuk memenangkan persaingan. Dan inilah yang menjadi pekerjaan rumah besar bagi duet Microsoft-Yahoo!. Bagaimana mereka harus menggabungkan platform iklan yang berbeda, mereorganisasi struktur perusahaan, hingga mengembangkan fitur teknologi yang paling tepat. Untuk mengatasi masalah serumit itu, mereka harus bisa menemukan pemimpin sekaliber dan sekarismatik Bill Gate atau Steve Jobs, CEO Apple Inc.

Kendala lain yang bisa menghambat adalah keharusan menunggu lampu hijau dari Komisi Anti-Monopoli Amerika Serikat. Sebab penggabungan Yahoo! dan Microsoft bisa mengancam kepentingan pelanggan maupun tingkat kompetisi karena pemainnya tinggal dua. Dampak yang paling mungkin terlihat adalah kenaikan harga layanan dan menciutnya pilihan pelanggan.

''Kami peduli pada masalah itu,'' kata Thomas Barnett, wakil jaksa agung di Komisi Anti-Monopoli Departemen Kehakiman Amerika. Pihak-pihak yang terkait juga akan melakukan dengar pendapat jika Yahoo! menerima tawaran akuisisi Microsoft.

Astari Yanuarti

Kamis, April 03, 2008

Denda Komisi Eropa untuk Microsoft

Sengketa 10 tahun Komisi Eropa-Microsoft berujung sanksi denda senilai total US$ 2,3 milyar. Angka terbesar dalam sejarah denda dari Komisi Eropa. Microsoft belum menyerah dengan mempertimbangkan banding.

CEO Microsoft, Steve Balmer, tak seceria biasanya. Nyaris tak tampak senyum di wajah pemimpin karismatik perusahaan peranti lunak terbesar di dunia itu, Rabu pekan lalu. Sikapnya menimbulkan tanya. Sebab, selama 20 tahun bergabung dengan Microsoft, Balmer identik dengan keceriaan dan optimisme. Bahkan, pada saat memberikan keynote speech peluncuran produk server terbaru Microsoft di Los Angeles (LA), Amerika Serikat, Balmer absen menebar senyum. Gaya bicaranya tampak lebih formal dan kaku.

Perubahan pembawaan Balmer kali ini rupanya dipicu kejadian di Brussels, Belgia. Di kota yang berjarak 9.000-an kilometer dari LA itu, Komisi Eropa (European Commission) mengeluarkan putusan mengejutkan. Komisi Eropa mendenda Microsoft sebesar US$ 1,35 milyar (Rp 12,2 trilyun, kurs US$ 1=Rp 9.050) terkait kasus anti-trust (persaingan sehat) di Benua Eropa.

Mereka memutuskan Microsoft bersalah memberikan harga paten lisensi lebih mahal kepada pihak ketiga selama hampir satu setengah tahun. Yaitu sepanjang Juni 2006 hingga Oktober 2007. ''Tindakan Microsoft ini tak hanya merugikan segelintir individu atau perusahaan besar, melainkan juga berdampak negatif pada jutaan perusahaan dan kantor pemerintahaan di seluruh dunia,'' ujar Neelie Kroes, anggota Komisi Eropa, seperti dikutip Washington Post.

Denda sebesar itu di luar dugaan semua pihak, termasuk Microsoft. Maklum, mereka sudah melakukan berbagai upaya untuk menghindari denda. Misalnya, memangkas harga paten lisensinya sejak November silam. Yang terbaru, tepat sepekan sebelum putusan Komisi Eropa keluar, para petinggi Microsoft mengumumkan bahwa mereka akan membuat platform peranti lunak yang lebih terbuka.

Tujuannya, mempermudah interoperabilitas produk peranti lunak buatan para kompetitornya dengan sistem operasi Windows dan paket Office lainnya, seperti Word, Powerpoint, dan e-mail Outlook. Toh, semua itu masih belum mampu meyakinkan Komisi Eropa. ''Bicara itu gampang. Yang sulit adalah membuktikannya. Kami tak butuh janji,'' kata Kroes.

Putusan final Komisi Eropa itu melengkapi dua denda yang sudah mereka berikan selama kurun waktu 10 tahun sengketa anti-trust dengan Microsoft. Denda pertama mendera Microsoft pada Maret 2004 senilai US$ 613 juta (Rp 5,5 trilyun). Dua tahun berselang, Komisi Eropa kembali mendenda perusahaan milik Bill Gates itu sebanyak US$ 357 juta (Rp 3,2 trilyun).

Jadi, total denda Komisi Eropa pada Microsoft sampai saat ini mencapai US$ 2,3 milyar ( Rp 20,9 trilyun). Angka ini mencatat rekor denda terbesar yang pernah dikeluarkan Komisi Eropa pada sebuah perusahaan. Kroes menyatakan, Microsoft juga tercatat sebagai perusahaan pertama yang menolak putusan Komisi Eropa sepanjang sejarah 50 tahun kebijakan anti-trust Uni Eropa. ''Kami berharap, putusan denda kali ini bisa menjadi penutup babak gelap 'kebengalan' Microsoft selama ini pada keputusan komisi,'' ujarnya.

Sikap tegas Komisi Eropa itu sekaligus penjadi peringatan dini bagi perusahaan teknologi informasi asal Amerika Serikat lain, seperti Google, Qualcomm, dan Intel. Perusahaan-perusahaan ini juga tengah menghadapi aneka tudingan anti-persaingan sehat dalam praktek bisnis mereka di Eropa (lihat Gatra edisi 46/XIII, 3 Oktober 2007).

Menurut Iain Begg, profesor di London School of Economics, denda itu makin mengukuhkan kedigdayaan Komisi Eropa yang sanggup menerapkan sanksi. Jauh berbeda dari sikap Komisi Persaingan Sehat Departemen Kehakiman Amerika Serikat yang tak sanggup memberikan sanksi. Padahal, mereka menggelar kasus anti-trust serupa sejak 1990-an. ''Dengan putusan denda ini, Komisi Eropa menunjukkan bahwa mereka tak bisa dianggap remeh. Jika ada perusahaan yang tetap nekat melawan, komisi malah akan memperbesar denda yang bisa memusingkan para pemegang saham,'' kata Begg.

Kasus anti-trust Microsoft bermula dari laporan Sun Microsystems Inc, kompetitor Microsoft yang juga berasal dari Amerika. Pengaduan Sun terkait dengan penolakan Microsoft menyediakan informasi interoperabilitas agar peranti lunak server Sun bisa digunakan pada sistem operasi Microsoft Windows.

Berbekal laporan Sun, Komisi Eropa memulai penyelidikan panjang terkait dugaan penyalahgunaan posisi monopoli Microsoft di pasar sistem operasi untuk menghalangi produsen server dan peranti lunak lain. Dalam perjalanannya, materi yang diselidiki bertambah dengan kasus bundling Windows Media Player dengan Windows. Penyelidikan mereka berujung pada dua putusan denda tahun 2004 dan 2006.

Microsoft mengajukan banding atas dua putusan itu ke European Court of First Instance (ECFI). Namun pil pahit yang didapat. September 2007, ECFI malah menegaskan bahwa Microsoft wajib membayar semua denda yang ditetapkan Komisi Eropa.

Pengalaman pahit itu tampaknya membuat Microsoft lebih hati-hati mengambil sikap atas putusan final Komisi Eropa. Mereka tak terburu-buru menyatakan banding. Perusahaan yang berbasis di Redmond, Amerika Serikat, itu memilih mempelajari lebih dulu putusan tersebut.

Namun tetap terlihat indikasi bahwa mereka akan mengajukan banding. Ini tampak pada pertanyaan resmi perusahaan itu yang dirilis ke media. Mereka merasa sudah memenuhi semua putusan Komisi Eropa terdahulu. ''Oktober 2007, Komisi Eropa menetapkan Microsoft sudah memenuhi putusan denda komisi tahun 2004. Jadi, denda kali ini untuk kasus yang diputuskan sebelumnya,'' kata juru bicara Microsoft dalam pernyataan tertulis.

Sebagian analis pun menduga, Microsoft akan mengajukan banding. Tom McQuail, Kepala Divisi Anti-Trust Kantor Hukum Howrey LLP di London, menyebutkan bahwa alasan utama banding Microsoft adalah soal nilai denda. ''Angka itu sangat besar, bahkan untuk perusahaan sekaliber Microsoft sekalipun,'' kata Tom kepada InternetNews.com.

Namun sebagian analis lain menilai, Microsoft ada baiknya menerima putusan Komisi Eropa itu. Mengingat, kekalahan Microsoft dalam kasus-kasus anti-trust di Eropa beberapa tahun terakhir. ''Sikap keras akan manjur jika terkait sengketa dengan perusahaan lain, tapi bukan untuk berhadapan dengan lembaga pemerintah seperti Uni Eropa,'' ujar Rob Enderle, ketua analis lembaga riset Enderle Group.

Dari sisi bisnis, sebenarnya menerima putusan itu jauh lebih menguntungkan bagi Microsoft. Sebab, jika banding, akan menyita lebih banyak energi, waktu, dan dana. Maka, Enderle menyarankan Microsoft bersikap lunak dan lebih fokus pada upaya pengembangan bisnis peranti lunak Microsoft, yang dijanjikan memiliki platform lebih terbuka.

Astari Yanuarti

OPEC Menolak Permintaan Bush

18 / XIV 19 Mar 2008

Harga minyak mentah dunia makin menggila, nyaris menyentuh US$ 110 per barel. OPEC menolak permintaan Presiden George W. Bush agar menambah produksi minyak. Perekonomian Amerika Serikat makin mendekati lampu merah. Indonesia harus mengambil sikap apa?

Misi berat terpanggul di pundak Wakil Presiden Amerika Serikat, Dick Cheney. Di usianya yang uzur, 67 tahun, ia harus merayu Emir Arab Saudi, Raja Abdullah, untuk meningkatkan produksi minyak bumi. Tujuannya, supaya harga minyak mentah dunia turun.

Satu pekan terakhir ini, harga si emas hitam itu terus meroket. Malah mencetak rekor baru. Pada penutupan perdagangan Selasa petang di New York Merchantile Exchange, minyak mentah light sweet diperjualbelikan seharga US$ 109,72 per barel. Meningkat dari sehari sebelumnya, US$ 108,84 per barel.

Kenaikan harga minyak yang makin menggila ini tentu tak menguntungkan Amerika Serikat sebagai negara konsumen minyak terbesar dunia. Apalagi, perekonomian Amerika tengah didera inflasi yang mengarah ke resesi. Maka, keberhasilan misi Cheney yang akan dimulai Ahad nanti itu amat penting.

Masalahnya, Arab Saudi yang notabene sekutu paling dekat Amerika di Timur Tengah lebih memilih berpihak pada sekutu lainnya, OPEC. Saudi sebagai produsen minyak terbesar di dunia masih kukuh berpendapat bahwa pasokan minyak dunia cukup. Ini sejalan dengan keputusan pertemuan anggota-anggota OPEC di Wina, Austria, pekan lalu.

Indonesia sepaham dengan putusan itu, meski kenaikan harga minyak tak urung menyulitkan ekonomi dalam negeri. Terbukti, pemerintah mesti merevisi asumsi harga minyak dari US$ 83 per barel menjadi US$ 85. Seiring dengan itu, pemerintah pun diminta melakukan penghematan belanja negara dan menyiapkan energi alternatif.

Melihat kukuhnya pendirian OPEC, diperkirakan akan sangat tipis peluang sukses misi Cheney. Hal ini juga sejalan dengan kegagalan Presiden Amerika Serikat, George W. Bush, ''memaksa'' OPEC agar menambah produksi minyak. Pekan lalu, orang nomor satu di Amerika itu menilai, harga minyak mentah dunia akan melorot jika OPEC menggelontorkan lebih banyak minyak ke pasaran.

Bush menuding, OPEC sengaja membiarkan harga minyak mentah melambung tak terkendali. ''Adalah sebuah kesalahan besar membiarkan perekonomian kami sebagai pelanggan OPEC terbesar melambat karena tingginya harga minyak bumi,'' ujar Bush.

Tentu saja para anggota OPEC tak terima mendapat tudingan Bush. Menurut Presiden OPEC, Chakib Khelil, penyebab peningkatan harga minyak dunia tahun ini di luar kendali OPEC. ''Penyebabnya, antara lain, ulah spekulan di pasar komoditas dan mismanajemen pengelolaan perekonomian Amerika,'' kata Khelil.

Khelil, yang juga menjabat sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Aljazair, menegaskan bahwa OPEC tak akan menambah produksi minyak. Apalagi, sesuai dengan perhitungan OPEC, akan terjadi penurunan kebutuhan minyak mentah dunia pada semester kedua tahun ini, sebesar 1,4 juta barel per hari. Ini bersamaan dengan musim panas di negara-negara maju di belahan bumi utara.

Jika OPEC menambah produksi, ia melanjutkan, malah bisa menjadi bumerang. Sebab bisa terjadi kelebihan pasokan, sehingga harga minyak anjlok. Dan bisa mengganggu pertumbuhan ekonomi global.

Menurut Khelil, Amerika punya peluang menurunkan harga minyak dunia sekaligus perekonomian global. ''Kehadiran presiden baru Amerika yang membawa kebijakan ekonomi baru bisa mendorong penguatan mata uang dolar Amerika,'' katanya.

Pelemahan mata uang dolar terhadap euro selama setahun terakhir ini menjadi pemicu utama investasi spekulatif barang komoditas dan minyak bumi. Bagi investor, keduanya bisa menawarkan hegde untuk melawan pelemahan dolar Amerika. Ulah spekulan juga dipicu inflasi dan memburuknya perekonomian Amerika akibat krisis kredit perumahan (sub-prime mortgage).

Di sisi lain, harga minyak yang makin menggila membuat defisit perdagangan Amerika memburuk. Selasa lalu, Departemen Perdagangan melaporkan, defisit neraca impor-ekspor Amerika pada Januari 2008 meningkat menjadi US$ 58,2 milyar dari US$ 57,9 milyar sebulan sebelumnya.

Nilai impor barang dan jasa Amerika selama Januari tercatat paling tinggi, yaitu US$ 206,4 milyar. Sekitar US$ 27,1 milyar berasal dari impor minyak mentah, yang pada saat itu dijual dengan harga rata-rata US$ 84 per barel. Sedangkan ekspor mereka hanya senilai US$ 148,2 milyar.

Tingginya impor minyak memicu defisit perdagangan Amerika dengan negara-negara penghasil minyak, seperti Arab Saudi, Venezuela, dan Nigeria. Nilainya meningkat menjadi US$ 15,5 milyar dari US$ 12,6 milyar pada Desember. Ini masih diperparah dengan defisit Amerika pada Cina yang makin lebar, dari US$ 18,8 milyar menjadi US$ 20,3 milyar.

Laporan Departemen Perdagangan itu makin menguatkan kritik Partai Demokrat atas kebijakan perdagangan bebas pemerintahan Bush. Mereka menilai, kebijakan Bush malah memperburuk defisit perdagangan. Juga meningkatkan jumlah pengangguran, karena perusahaan Amerika memilih membangun pabrik di negara lain yang punya ongkos produksi lebih rendah.

Partai Demokrat pun menggunakan peningkatan harga minyak mentah untuk menghantam Bush yang berniat memveto Rancangan Undang-Undang Pajak Energi. Peraturan ini menghapuskan tax break bagi lima perusahan minyak kelas kakap (sering disebut dengan istilah big oil). Sebaliknya, memberikan tambahan tax break bagi proyek energi matahari dan angin. ''Berapa banyak rekor harga minyak yang masih harus dilampaui sebelum Presiden Bush mau berdiri di belakang keluarga pekerja keras Amerika dan berhenti memberikan hadiah tax break pada big oil?'' ujar Nancy Pelosi, juru bicara Kongres.

Astari Yanuarti

============================

Ramai-ramai Mengandangkan Mobil

Imunitas publik Amerika Serikat pada gejolak minyak dunia makin tergerus. Gaya hidup bermobil yang selama ini melekat di kalangan masyarakat ''negeri Paman Sam'' itu mulai ditinggalkan. Mereka beralih menggunakan transportasi massal, bus, dan kereta api bawah tanah (subway).

Tak pelak, pengguna dua moda kendaraan umum itu melonjak. Menurut data American Public Transit Association (APTA), jumlah pengguna angkutan umum di seluruh Amerika mencapai angka tertinggi dalam setengah abad terakhir. Penggunaan kendaraan umum penduduk Amerika mencapai 10 milyar perjalanan setahun. Jumlah ini naik 2% dari tahun 2006.

Moda LRT (light rail transit) dan bus mencatat pertumbuhan tertinggi, 6%. Disusul dengan kereta api komuter sebanyak 5,5% dan subway sebesar 3,1%. Selain itu, di kota-kota dengan penduduk kurang dari 100.000, pengguna transportasi umum meningkat hingga 6,4%.

Presiden APTA William Millar menyebutkan, tren peningkatan itu berawal sejak harga bahan bakar minyak (BBM) mulai melambung pada 2005. Ketika itu, harga bensin menembus angka US$ 3 per galon (setara dengan 3,78 liter). ''Ini membebani masyarakat pengguna mobil. Mereka lalu beralih memakai angkutan umum sebagai salah satu cara mengurangi beban hidup,'' kata Millar, seperti dikutip kantor berita Reuters.

Sejak empat tahun silam, harga bensin di Amerika memang bertahan di atas US$ 3. Senin lalu, ketika harga minyak mentah US$ 108 per barel, harga bensin tercatat US$ 3,22 per galon (sekitar Rp 7.800 per liter, kurs 1 US$=Rp 9.200). Bahkan harga minyak diesel, yang biasanya lebih murah dari bensin, melonjak jadi US$ 3,82 per galon.

Para pelaku industri di Amerika memperkirakan, harga bensin bisa menembus US$ 4 per galon (Rp 9.700 per liter) jika harga minyak mentah makin tak terkendali. Perkiraan ini bakal membuat lebih banyak keluarga Amerika kalang kabut. Sebab, berdasar hasil survei Pew Research Center for People and the Press pada awal Februari, 60% penduduk Amerika kesulitan membeli bensin karena harganya makin mahal.

Tak hanya itu. Pengusaha pompa bensin di seluruh Amerika juga mulai menjerit. Banyak pompa bensin kecil mengalami masalah keuangan. ''Kami sangat terpukul oleh kondisi ini. Parahnya, belum ada titik terang atas masalah harga minyak ini,'' kata Ralph Bombardiere, Direktur Utama New York State Association of Service Stations and Repair Shops, kepada koran Washington Post.

Di sisi lain, kenaikan harga BBM itu juga bisa menjadi pelajaran bagi penduduk Amerila agar lebih hemat. Selama ini, mereka memegang gelar negeri paling rakus memakai BBM. Tahun lalu, mereka melahap 20 juta barel minyak per hari atau sekitar seperempat konsumsi global.

Sumbangan konsumsi terbesar berasal dari pemakaian mobil yang didominasi oleh aneka model mobil superboros. Misalnya jenis sport utility vehicles yang butuh 1 galon bensin untuk melaju sejauh 6,44 kilometer. Tak mengherankan jika catatan efisiensi bahan bakar rata-rata mobil di Amerika amat rendah, hanya 39,3 kilometer per galon pada 2001.

Astari Yanuarti

Moral Bisnis Esek-esek Ala Amerika

18 / XIV 19 Mar 2008

Cercaan hingga tuntutan hukum mendera Eliot Spitzer, mantan Gubernur New York. Sebaliknya, Ashley Alexandra Dupre, pelacur yang disewa Spitzer, mendadak kebanjiran tawaran bernilai jutaan dolar. Masyarakat Amerika lagi-lagi terjebak menerapkan standar ganda moralitas.

Sorot lampu ketenaran ala bintang Hollywood tengah mengarah pada paras cantik berambut cokelat Ashley Alexandra Dupre. Pemilik tubuh seksi setinggi 1,68 meter dan berat 54 kilogram itu bak magnet di dunia maya dan dunia bisnis esek-esek. Popularitas Ashley melonjak ketika identitasnya sebagai pelacur kelas atas yang melayani Eliot Spitzer (pada saat itu masih Gubernur New York) terungkap.

Sebagai saksi kasus jaringan prostitusi Emperor Club VIP di depan pengadilan federal di New York, ia mengaku memakai nama samaran Kristen ketika melayani klien nomor 9 di Hotel MayFlower Washington. Klien nomor 9 itu tak lain adalah Spitzer.

Perempuan asal kota kecil Beachwood, New Jersey, itu hanya sekali melayani Spitzer, yaitu pada 13 Februari 2008. Tapi bayarannya lumayan, US$ 1.200 per jam. Memang masih di bawah tarif pelacur senior lainnya di Emperor yang bisa US$ 4.000 per jam. Maklum, Ashley baru bergabung dengan Emperor dua tahun silam.

Meski ia tak mendapat banyak uang dari klien nomor 9, Spitzer ternyata membawa ''berkah'' berlimpah. Kini ia jadi bintang baru yang menyedot perhatian puluhan juta orang Amerika. Blog pribadinya di situs jaringan pertemanan sosial MySpace mendapat kunjungan hingga 5 juta klik selama beberapa hari saja. Pencarian dan pengunduhan foto-foto tak senonoh Ashley pun jutaan kali dilakukan.

Nama Ashley juga meroket di Facebook, situs pertemanan sosial lainnya yang sama-sama berada di puncak popularitas. Grup-grup pendukung Ashley Dupre bermunculan di Facebook. Meski profesi pelacur jelas amoral di mata publik, tetap saja dukungan kepadanya mengalir. Ia dipandang sebagai korban dan seorang gadis baik yang berubah menjadi nakal karena berasal dari keluarga berantakan.

Ashley sadar betul bisa memanfaatkan situasi ini. Segera saja ia membuat halaman fans di Facebook. Di sini ia mempromosikan dua lagu single berjudul Move Ya Body dan What We Want. Ia menyebutkan sudah lama memendam hasrat dan bakat bermusik. Selang sejam, sudah 600 orang yang mendaftar sebagai fans-nya.

Dua lagu itu juga terpampang di situs penjual musik populer lainnya, yaitu AmieStreet.com. Sambutan publik amat antusias. Situs AmieStreet.com diserbu tiga juta pengunjung, yang hanya bertujuan mengunduh lagu What We Want. Single Move Ya Body juga laris manis. Namun belum ada angka pasti penjualannya.

Maklum, model penjualan lagu di AmieStreet tergolong unik. Gratis untuk lagu-lagu yang belum populer. Semakin populer suatu lagu, harganya makin mahal. Hingga batas termahal, yaitu US$ 0,98 per lagu sekali unduh. Data yang tersedia hanya untuk lagu Move Ya Body. Pada saat dijual seharga US$ 0,98, jumlah pengunduhnya pernah mencapai titik maksimum situs selama lima jam berturutan.

Keuntungan Ashley dari bisnis musik dadakan pun belum bisa dihitung. Ada yang menghitung, dengan tren seperti itu, ia bakal mengeruk uang hingga US$ 1,4 juta dari penjualan lagu-lagu tersebut. Sebagian lagi mengira, pendapatannya pada saat ini baru US$ 14.000 dari musik.

Yang pasti, kantong Ashley tetap bakal menebal. Sederet tawaran bernilai total jutaan dolar mendatanginya. Mulai tawaran membintangi iklan Vodka senilai US$ 100.000 hingga tawaran berpose bugil di majalah Hussler senilai US$ 1 juta. Tawaran persis sama mengemuka dari Joe Francis, pemilik situs porno Girls Gone Wild, sebelum dia tahu bahwa Ashley sudah ada dalam database-nya (lihat: Selera Tinggi Gadis Nakal).

Banjir tawaran dan ketenaran Ashley sangat kontras dengan Spitzer. Klien nomor 9 ini tak hanya mendapat cercaan di seantero negeri, melainkan juga harus mundur dari jabatan gubernur yang baru didudukinya pada 1 Januari 2007. Istri dan ketiga anak perempuannya harus pula menanggung malu.

Jeratan hukum pun tengah mengancam Spitzer. Biro Investigasi Federal (FBI) sudah lama mengintai gerak-gerik Spitzer sebagai pelanggan pelacur jetset. Selama enam bulan terakhir, FBI menengarai, Spitzer berhubungan dengan delapan orang agen klub pelacur dan merogoh kantong US$ 15.000. Bahkan uang yang dikeluarkannya untuk ''jajan'' bisa mencapai US$ 80.000 jika dihitung sejak dia menjabat sebagai Jaksa Penuntut Umum Negara Bagian New York.

Belum diketahui dari mana sumber uang itu. Dugaan sementara FBI, uang itu terkait dengan kasus penyuapan jaringan prostitusi di New York.

Kemunafikan publik atas kasus Spitzer dan Ashley mengundang keprihatinan banyak kolomnis media massa Amerika. Salah satunya dari Mitch Albom, penulis buku laris Five People You Meet in Heaven, yang juga kolomnis di Detroit Free Press. Albom menyebutkan, jika prostitusi dinyatakan ilegal, maka itu menyangkut dua pihak, pelanggan dan pelacurnya. Jadi, kalau ada proses hukum, kedua pihak harus kena jeratan setara.

Ia pun menyayangkan dukungan publik Amerika pada Ashley. ''Spitzer bertindak bodoh dengan membayar Ashley untuk seks. Tapi, jika kita membayar untuk membuat Ashley terkenal, betapa menyedihkannya itu,'' kata Albom.

Astari Yanuarti


--------------------------------------------------------------------------------

Selera Tinggi Gadis Nakal

Selera mahal pada barang-barang bermerek sudah melekat pada Ashley Alexandra Dupre. Perempuan yang menginjak usia 23 tahun pada 30 April nanti itu adalah penggemar Cartier dan Louis Vuitton. Ia pun suka berlibur ke tempat-tempat pelesir jetset, seperti Saint-Tropez di Prancis. Sebelum identitasnya sebagai pelacur kelas atas terungkap, semua percaya pada pengakuan Ashley bahwa uang berlimpah itu dari orangtuanya yang kaya raya.

Padahal, Ashley yang punya nama asli Ashley R. Youmans juga mengaku berasal dari keluarga broken home. Dalam blog personal di MySpace, ia menulis, pada usia 17 tahun minggat dari rumah sang ayah, William Youmans, di Kill Devil Hills, North Carolina, karena merasa diabaikan. Pada saat itu, kedua orangtua Ashley sudah bercerai. Si ibu, Carolyn Capalbo, tinggal di New Jersey bersama suami barunya, Mike DiPietro, yang berprofesi sebagai dokter bedah mulut.

Dalam pelarian, Ashley memutuskan mencari uang dengan cara paling mudah, menjual kemolekan tubuh. Ashley remaja menerima tawaran pembuatan video telanjang dari Girls Gone Wild, sebuah situs porno tenar di Amerika Serikat. Dua tahun kemudian, ia menetap di New York demi mengejar karier bermusik.

Untuk mengumpulkan modal, Ashley merangkap beragam pekerjaan, mulai pelayan hotel, pelayan di klub tari Viscaya, kelab malam Pink Elephant, hingga Retox. Tak cukup dengan itu. Ashley pun tergiur oleh tawaran menjadi pelacur melalui jasa layanan perempuan pendamping (escort) kelas atas yang banyak bertebaran di New York.

Dengan nama alias Victoria, ia bergabung dengan klub NY Confidential yang dikelola Jason Itzler. Namun tak bertahan lama. Tahun 2005, klub ini ditutup, dan Itzler dijebloskan ke penjara oleh Eliot Spitzer, yang ketika itu menjabat sebagai Jaksa Penuntut Umum Negara Bagian New York.

Toh, ini tak mematahkan ''karier'' Ashley sebagai pelacur. Ia lalu masuk klub serupa, Velvet Traces di Brooklyn. Setahun kemudian, ia pindah ke klub Emperors Club VIP, dengan nama sandi Kristen. Pada tahun itu pula, ia resmi mengubah namanya menjadi Ashley Rae Maika DiPietro di Monmouth County Superior Court. ''Karena DiPietro adalah satu-satunya ayah yang kukenal,'' tulisnya dalam blog. Tapi di blog itu pula Ashley malah memakai nama lain, yaitu Ashley Alexandra Dupre. Nama inilah yang kemudian lebih banyak dipakai untuk menyebut sosoknya.

Kisah hidup Ashley yang diungkap media sebagian besar bersumber dari blog pribadinya. Dan sebagian besar media mengemas cerita Ashley sebagai gadis korban kehancuran keluarga yang terjebak dalam jaringan prostitusi.

Padahal, faktanya tak demikian. Beberapa media lain bisa mewawancarai orang-orang dekat Ashley, seperti bibinya, Barbara Youmans. Menurut Barbara, masa kecil dan remaja Ashley penuh kebahagiaan dan tercukupi dari sisi materi. ''Dia selalu mendapatkan apa yang dia mau, mulai sepeda, baju-baju bagus, hingga papan surf bermerek,'' ungkap Barbara. Bahkan si ibu kandung, Carolyn, mengakui bahwa semasa remaja, Ashley tergolong gadis pemberontak.

Astari Yanuarti