Pulau mungil di ujung barat Pulau Jawa ini tak hanya punya pasir putih dan laut jernih. Desain vila-vilanya menyatu dengan alam. Makan malam bertabur bintang jadi pilihan.
Buih putih memercik mengiringi laju perahu kayu yang membawa kami. Deru mesin tempel berbaur desau angin menimpali percakapan segelintir penumpang. Sebagian lagi terlihat asyik menikmati keindahan laut biru yang terhampar, walau dengan mata terpicing karena menahan cahaya matahari.
Terik mentari itu membuat laut berkilau bak permata. Beberapa saat kemudian, tampak hamparan pasir putih. Perlahan-lahan, sosok pulau mungil itu makin jelas. Tiga bangunan beratap tinggi terlihat menyeruak di tengah selimut kehijauan aneka pohon.
Di sebelahnya ada beberapa gazebo beratap rumbia yang menjorok ke laut. Perahu berpenumpang 20-an orang ini berbelok ke kanan. Sebuah dermaga kecil telah menanti kami. Warna cokelat tua tiang-tiang kayu dermaga itu berpadu indah dengan gradasi putih, hijau, dan biru air laut di sekelilingnya.
Di bawah dermaga, sekelompok ikan dan kepiting berenang kian kemari. Ketika kami menjejak dermaga, kelegaan menghampiri. Akhir Mei lalu, kami menikmati sensasi eksotis Pulau Umang, setelah menempuh empat jam perjalanan darat dari Jakarta plus 10 menit naik kapal.
****
Ketika menebarkan pandangkan ke pulau seluas lima hektare itu, rasa penasaran muncul. Seasyik apa sih pulau yang terletak di sekitar Taman Nasional Ujungkulon, Kabupaten Pandeglang, Banten, ini?
Sejak 2004, PT Griya Sukses Mandiri (GSM) menyulap pulau ini menjadi resor berkonsep alam.
Kini sudah berdiri 60 bangunan vila tahan gempa dan air pasang. Ini terlihat dari bentuk rumah panggung seperti di Kalimantan.
Interiornya pun unik dan alami. Kayu, kaca, tanah liat, dengan bebatuan menjadi bahan utama yang menghias vila. Konsep open living room benar-benar membuat vila dengan dua kamar itu terlihat lapang dan nyaman. Dominasi dinding kaca di lantai atas juga membuat cahaya bisa masuk dengan bebas.
Presiden Direktur PT GSM Christian P.B. Halim menyebutkan, semua vila menghadap ke laut. Bangunan itu menempati dua kawasan: sunset dan sunrise. Jadi, setiap penghuni vila bisa menikmati matahari tenggelam dan matahari terbit.
Selain itu, ada banyak bangunan lain. Misalnya ada The Beach Club, Sunrise Cafe, Private Beach, Jacuzzy, Kids Pool, dan gazebo di pinggir pantai. Semua bangunan beratap tinggi dan berbahan utama kayu. ''Kami ingin membuat pengunjung sejenak lepas dari kepenatan kota,'' kata Christian, yang membeli Pulau Umang itu sejak1980.
****
Ribuan tanaman juga menghijaukan areal di sekeliling pulau. Menurut Christian, mereka punya program penghijauan untuk menjaga vegetasi alamiah Pulau Umang. Untuk itu, kerj asama dengan Ujungkulon Conservation Society pun terjalin. Bahkan tiap wisatawan diajak ikut menanam satu pohon tiap berkunjung.
Pengelola Pulau Umang bertekad memenuhi sendiri kebutuhan air bersih untuk seluruh wilayahnya. Itu bukan hal mudah, karena luas Pulau Umang tak seberapa dan sangat rentan abrasi. ''Lalu saya mulai membangun sumur-sumur serapan air supaya cadangan air tawar makin tinggi,'' tutur Christian.
Usahanya tak sia-sia. Kini air bersih bisa mengalir lancar di setiap vila. Malah, berkat penghijauan dan sumur serapan itu, luas pulau bertambah secara alami. Dulu, ketika dibeli, luas pulau itu kurang dari 4 hektare. Tingginya kandungan air tawar di pulau itu sedikit demi sedikit menarik pasir-pasir karang di sisi luar pantai. Semakin lama, pasir yang terikat kian banyak, sehingga menambah luas wilayah pulau.
****
Kini di Pulau Umang tersedia banyak fasilitas wisata air. Berenang sampai puas, baik di laut maupun di kolam, sudah pasti. Masih ada pula banana boat, memancing, dan jetski. Yang tak kalah asyik adalah snorkeling. Tapi ini bukan di Pulau Umang. Kita harus pergi dulu ke Pulau Oar, yang juga milik Christian Halim. Biasanya kunjungan dilakukan setelah jam makan siang.
Di pulau yang berjarak tempuh 15 menit dengan perahu motor itu, suasananya masih sangat alami. Vegetasi liar, seperti ilalang, ketapang, menyelimuti pulau seluas 4 hektare ini. Keindahan kehidupan bawah laut di sekitar Pulau Oar lumayan memukau. Selain karang, masih ada beberapa hewan laut dan tumbuhan yang hidup bebas di sana.
Sepulang dari Pulau Oar, santap malam di atas pasir putih sudah menanti. Sederet bangku dan meja sudah tertata rapi di sepanjang pantai dekat dermaga. Kelap-kelip puluhan lampu minyak membuat suasana temaram itu bernuansa romantis. Apalagi, langit malam pada saat itu cerah bertabur bintang.
Debur ombak sesekali menjilati bibir pantai tak jauh dari meja-meja kami. Aroma hidangan laut bakar membuat perut makin keroncongan. Setelah cukup lama menunggu, sederet menu lezat tersaji di meja. Ada udang bakar, tumisan cumi bakar, aneka ikan goreng, tumis kangkung, lalap, dan sambal dabu-dabu. Hmmm.... nikmat sekali rasanya.
******
Selain menikmati wisata laut, pengunjung Pulau Umang juga bisa mencoba beragam aksi seru dengan outbond dan kemping. Lokasinya memang bukan di Pulau Umang, melainkan di Tangkilsari. Kawasan ini ada di dekat lapangan parkir pengunjung pulau yang terletak di Sumur (Pulau Jawa). Terdapat aneka permainan khas outbond, seperti flying fox, wall climbing, dan high roop's.
Lalu ada juga elvi's (berjalan di atas seutas tali yang terbentang sekitar lima meter di atas permukaan tanah) dan bambu gila. Semuanya makin seru karena dilakukan di atas bukit yang langsung menghadap ke laut. Pulau Umang dan Oar pun bisa terlihat dari bukit setinggi 50 meter itu. ''Area kami memang khas karena meliputi sungai, bukit, dan laut,'' kata Christian.
Sayang, hingga kini masih banyak wisatawan yang alergi datang ke kawasan pantai. Mereka masih takut pada tsunami dan gelombang pasang. Menurut Christian, meski berada di laut, pulaunya tergolong aman dari ancaman tsunami dan gelombang pasang. Letak Pulau Umang terlindung karena berada di teluk. Ada Tanjung Lesung di sebelah utara dan Ujungkulon di sisi barat.
Akses menuju pulau yang terletak 183 kilometer di sebelah barat daya Jakarta itu pun tergolong mudah. Banyak angkutan umum yang sampai ke Sumur, meski harus beberapa kali berganti kendaraan. Kalau mau ringkas, bisa memakai angkutan travel atau kendaraan pribadi.
Astari Yanuarti
Blog ini berisi kumpulan artikel tentang Indonesia dari berbagai sisi seperti politik, ekonomi, budaya, sosial, teknologi dan militer. Selain itu, ada banyak cerita perjalanan ke banyak negara yang telah dikunjungi penulisnya. Setelah cukup lama 'mati suri', blog ini akan kembali aktif diisi mulai bulan November 2016.
Tampilkan postingan dengan label beach. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label beach. Tampilkan semua postingan
Kamis, Juni 02, 2011
Jumat, April 24, 2009
Kembang Api Anak Krakatau
Gunung Anak Krakatau makin seksi ketika berstatus waspada. Pola letusannya bak kembang api raksasa. Indah dan menakjubkan.
Semilir angin malam beraroma belerang bercampur abu vulkanik menerpa wajah. Sembari memicingkan mata dan menutup hidung, pandangan mata tetap lekat pada sosok hitam menjulang di samping perahu nelayan yang saya naiki. Selarik cahaya pucat bulan purnama di balik awal tebal tak sanggup menerangi kegelapan di perairan sekitar Pulau Anak Krakatau, Kalianda, Lampung.
Sesaat kemudian, pijaran lava merah menyala menyembur, diiringi suara gemuruh. Batuan cair panas berhamburan menyusuri lereng. Di pertengahan lereng, pijaran itu melemah, lalu padam. Dari pusat semburan, asap tebal bergulung-gulung mengangkasa, menutupi cahaya purnama.
Letusan menakjubkan itu membuat saya terpana. Sehingga momen itu terlewat dari jepretan kamera digital saku yang sedari tadi tergenggam. Selang 15 menit kemudian, dentuman seperti meriam terdengar mengalahkan deru mesin perahu kayu. Percikan-percikan api berlompatan. Tiba-tiba cincin api besar menyeruak. Hanya sekejap, sebelum cincin itu meledak membentuk kembang api.
Decak kagum dan pujian pada kebesaran karya Tuhan langsung terlontar. Kebahagiaan juga membuncah di dada karena bisa menyaksikan kembang api alami terindah dalam jarak begitu dekat. Ketika itu, perahu berada sekitar setengah kilometer di sisi barat daya bibir pantai Anak Krakatau
Namun intensitas letusan yang makin kerap di malam hari membuat perahu kami tak diizinkan berlabuh di pesisir gunung setinggi 305 meter itu. "Kalian hanya boleh mengelilingi Anak Krakatau. Kalau mau bersandar dan kemping, bisa di Pulau Rakata, Pulau Panjang, atau Pulau Sertung," ujar Ahyar, petugas Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Cagar Alam Kepulauan Krakatau, yang ikut serta dalam pelayaran.
Jadi, setelah mengelilingi separuh Anak Krakatau, perahu berbelok ke selatan menuju Rakata. Menjelang pukul 21.00 WIB, perahu mungil ini sampai di pantai Rakata. Karena tak ada dermaga, kami harus meloncat dari atas perahu. Ahyar mengingatkan untuk hati-hati agar tak terpeleset. Sebab perahu terus bergoyang disapu pasang naik, sehingga mengganggu keseimbangan pada saat akan meloncat.
Perahu nelayan tanpa atap itu saya sewa bersama tiga backpacker lain dari Pulau Sebesi, Lampung. Pulau ini berada 36 kilometer di sisi timur laut Anak Krakatau. Inilah pulau berpenghuni terdekat dari Kepulauan Krakatau.
Di Pantai Rakata, terlihat dua tenda dan sekelompok wisatawan asing. Alunan lagu-lagu pop Barat terdengar dari arah tenda yang diterangi lampu petromaks. Para turis tampak asyik mengabadikan letusan Anak Krakatau yang berlangsung dengan interval 10-15 menit.
Letusan Anak Krakatau terlihat jelas dari Rakata, karena posisi kepundan terletak di sisi selatan, beberapa puluh meter dari puncak gunung. Jarak empat kilometer antara Rakata dan Anak Krakatau membuat pengamatan tergolong aman.
Dua teman saya, Maruli dan Jhon, segera mencari posisi nyaman untuk memotret. Maklum, sejak berangkat, mereka bertekad untuk menangkap momen-momen indah letusan Anak Krakatau dengan kamera SLR. Niat ini belum bisa terlaksana ketika berperahu karena terkendala guncangan.
Saya dan Erwien memilih lesehan di pantai, menikmati letusan. Kegelapan malam membuat kamera digital saku kami tak berdaya untuk memotret keindahan kembang api Anak Krakatau. Tak lama kemudian, Maruli ikut bergabung. Kamera berlensa tele miliknya ternyata rusak karena terendam air ketika melompat turun tadi.
Semakin malam, letusan makin sering. Pola pijar letusan beraneka rupa. Dari pola mercon air mancur, bola api raksasa, hingga letupan kecil ritmik. Ketinggian letusan ada yang mencapai 300 meter. Setiap letusan diiringi suara menggelegar yang menimbulkan gema di Rakata.
Data di Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau menunjukkan peningkatan aktivitas sejak awal Maret lalu. Selama dua pertiga bulan Maret, gempa vulkanik tercatat dua kali hingga enam kali sehari. Lalu meningkat menjadi 68 kali gempa vulkanik per hari. Ditambah 175 kali letusan per hari selama lima hari di penghujung Maret.
Catatan serupa masih bertahan ketika saya berkunjung pada long weekend, dua pekan lalu. Sehingga Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi masih menetapkan status "waspada" untuk Anak Krakatau sepanjang April ini. Status ini berarti larangan mendekat hingga radius satu kilometer dari kawah Anak Krakatau.
Gunung yang muncul dari kaldera Krakatau yang meletus dahsyat pada 27 Agustus 1883 itu memang sudah lama menjadi perhatian vulkanolog dunia. Sejak muncul ke permukaan laut pada 1927, Anak Krakatau bertambah tinggi 5 meter per tahun.
Pada saat ini, panjang gunung itu mencapai 2 kilometer dan tinggi 305 meter. Sedangkan ketinggian sang ibu sebelum meletus adalah 813 meter. Pertumbuhan cepat sang anak ini, ditambah dengan peningkatan aktivitas, membuat beberapa vulkanolog memprediksi, Anak Krakatau bakal meletus hebat antara tahun 2015 dan 2083.
Bagi banyak turis asing dan lokal, status waspada itu membuat Anak Krakatau makin seksi, terutama sebagai objek foto. Selain wisata malam, banyak kegiatan yang bisa dilakukan di Kepulauan Krakatau. Mulai trekking, kemping, snorkeling, diving, memancing, hingga melihat lumba-lumba. Semua wisatawan yang datang ke Krakatau harus mendapat izin dari BKSDA.
Namun mencapai Cagar Alam Krakatau tidaklah semudah mencapai daerah wisata lain di daratan. Rute paling populer adalah lewat pesisir barat Banten, dari Anyer hingga Labuan. Hampir semua resor di kawasan ini punya paket wisata ke Krakatau. Harga paket per orang bervariasi, Rp 750.000 hingga Rp 2,5 juta, tergantung jenis kapal, durasi, dan jumlah peserta.
Rute lain, lewat Lampung. Meski lebih panjang (bila dihitung dari Jakarta), rute ini lebih ramah di kantong sehingga menjadi rute favorit kaum backpacker. Jika pergi berombongan 10 orang, total biaya bisa ditekan menjadi Rp 350.000 per orang untuk dua hari.
Caranya? Dari Pelabuhan Bakauheni naik angkot ke Pasar Kalianda seharga Rp 12.000. Lalu berganti dengan angkot ke Pelabuhan Canti bertarif Rp 5.000. Dari sini menyeberang ke Pulau Sebesi, naik kapal penumpang bertarif Rp 15.000 dengan waktu tempuh satu setengah jam.
Di Sebesi, Anda bisa mencari kapal nelayan untuk disewa seharian ke Krakatau. Harganya Rp 600.000-Rp 1,5 juta, tergantung kapasitas dan jenis kapal. Ada kapal jukung berkapasitas empat orang, kapal klotok (seperti yang kami sewa) berkapasitas enam orang, atau kapal kayu berkapasitas 40 orang. Hanya, tak tersedia pilihan kapal boat seperti di Banten.
Waktu tempuh kapal klotok ke Anak Krakatau sekitar dua jam bila cuaca bagus. Tapi, jika ombak tinggi, angin kencang, dan hujan, waktu tempuhnya bisa molor menjadi tiga setengah jam. Cuaca tak bersahabat inilah yang terjadi ketika kami pulang dari Krakatau. Untunglah, perahu mungil itu akhirnya berlabuh dengan selamat di dermaga Pulau Sebesi pada pukul 02.25 WIB.
Astari Yanuarti
Semilir angin malam beraroma belerang bercampur abu vulkanik menerpa wajah. Sembari memicingkan mata dan menutup hidung, pandangan mata tetap lekat pada sosok hitam menjulang di samping perahu nelayan yang saya naiki. Selarik cahaya pucat bulan purnama di balik awal tebal tak sanggup menerangi kegelapan di perairan sekitar Pulau Anak Krakatau, Kalianda, Lampung.
Sesaat kemudian, pijaran lava merah menyala menyembur, diiringi suara gemuruh. Batuan cair panas berhamburan menyusuri lereng. Di pertengahan lereng, pijaran itu melemah, lalu padam. Dari pusat semburan, asap tebal bergulung-gulung mengangkasa, menutupi cahaya purnama.
Letusan menakjubkan itu membuat saya terpana. Sehingga momen itu terlewat dari jepretan kamera digital saku yang sedari tadi tergenggam. Selang 15 menit kemudian, dentuman seperti meriam terdengar mengalahkan deru mesin perahu kayu. Percikan-percikan api berlompatan. Tiba-tiba cincin api besar menyeruak. Hanya sekejap, sebelum cincin itu meledak membentuk kembang api.
Decak kagum dan pujian pada kebesaran karya Tuhan langsung terlontar. Kebahagiaan juga membuncah di dada karena bisa menyaksikan kembang api alami terindah dalam jarak begitu dekat. Ketika itu, perahu berada sekitar setengah kilometer di sisi barat daya bibir pantai Anak Krakatau
Namun intensitas letusan yang makin kerap di malam hari membuat perahu kami tak diizinkan berlabuh di pesisir gunung setinggi 305 meter itu. "Kalian hanya boleh mengelilingi Anak Krakatau. Kalau mau bersandar dan kemping, bisa di Pulau Rakata, Pulau Panjang, atau Pulau Sertung," ujar Ahyar, petugas Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Cagar Alam Kepulauan Krakatau, yang ikut serta dalam pelayaran.
Jadi, setelah mengelilingi separuh Anak Krakatau, perahu berbelok ke selatan menuju Rakata. Menjelang pukul 21.00 WIB, perahu mungil ini sampai di pantai Rakata. Karena tak ada dermaga, kami harus meloncat dari atas perahu. Ahyar mengingatkan untuk hati-hati agar tak terpeleset. Sebab perahu terus bergoyang disapu pasang naik, sehingga mengganggu keseimbangan pada saat akan meloncat.
Perahu nelayan tanpa atap itu saya sewa bersama tiga backpacker lain dari Pulau Sebesi, Lampung. Pulau ini berada 36 kilometer di sisi timur laut Anak Krakatau. Inilah pulau berpenghuni terdekat dari Kepulauan Krakatau.
Di Pantai Rakata, terlihat dua tenda dan sekelompok wisatawan asing. Alunan lagu-lagu pop Barat terdengar dari arah tenda yang diterangi lampu petromaks. Para turis tampak asyik mengabadikan letusan Anak Krakatau yang berlangsung dengan interval 10-15 menit.
Letusan Anak Krakatau terlihat jelas dari Rakata, karena posisi kepundan terletak di sisi selatan, beberapa puluh meter dari puncak gunung. Jarak empat kilometer antara Rakata dan Anak Krakatau membuat pengamatan tergolong aman.
Dua teman saya, Maruli dan Jhon, segera mencari posisi nyaman untuk memotret. Maklum, sejak berangkat, mereka bertekad untuk menangkap momen-momen indah letusan Anak Krakatau dengan kamera SLR. Niat ini belum bisa terlaksana ketika berperahu karena terkendala guncangan.
Saya dan Erwien memilih lesehan di pantai, menikmati letusan. Kegelapan malam membuat kamera digital saku kami tak berdaya untuk memotret keindahan kembang api Anak Krakatau. Tak lama kemudian, Maruli ikut bergabung. Kamera berlensa tele miliknya ternyata rusak karena terendam air ketika melompat turun tadi.
Semakin malam, letusan makin sering. Pola pijar letusan beraneka rupa. Dari pola mercon air mancur, bola api raksasa, hingga letupan kecil ritmik. Ketinggian letusan ada yang mencapai 300 meter. Setiap letusan diiringi suara menggelegar yang menimbulkan gema di Rakata.
Data di Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau menunjukkan peningkatan aktivitas sejak awal Maret lalu. Selama dua pertiga bulan Maret, gempa vulkanik tercatat dua kali hingga enam kali sehari. Lalu meningkat menjadi 68 kali gempa vulkanik per hari. Ditambah 175 kali letusan per hari selama lima hari di penghujung Maret.
Catatan serupa masih bertahan ketika saya berkunjung pada long weekend, dua pekan lalu. Sehingga Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi masih menetapkan status "waspada" untuk Anak Krakatau sepanjang April ini. Status ini berarti larangan mendekat hingga radius satu kilometer dari kawah Anak Krakatau.
Gunung yang muncul dari kaldera Krakatau yang meletus dahsyat pada 27 Agustus 1883 itu memang sudah lama menjadi perhatian vulkanolog dunia. Sejak muncul ke permukaan laut pada 1927, Anak Krakatau bertambah tinggi 5 meter per tahun.
Pada saat ini, panjang gunung itu mencapai 2 kilometer dan tinggi 305 meter. Sedangkan ketinggian sang ibu sebelum meletus adalah 813 meter. Pertumbuhan cepat sang anak ini, ditambah dengan peningkatan aktivitas, membuat beberapa vulkanolog memprediksi, Anak Krakatau bakal meletus hebat antara tahun 2015 dan 2083.
Bagi banyak turis asing dan lokal, status waspada itu membuat Anak Krakatau makin seksi, terutama sebagai objek foto. Selain wisata malam, banyak kegiatan yang bisa dilakukan di Kepulauan Krakatau. Mulai trekking, kemping, snorkeling, diving, memancing, hingga melihat lumba-lumba. Semua wisatawan yang datang ke Krakatau harus mendapat izin dari BKSDA.
Namun mencapai Cagar Alam Krakatau tidaklah semudah mencapai daerah wisata lain di daratan. Rute paling populer adalah lewat pesisir barat Banten, dari Anyer hingga Labuan. Hampir semua resor di kawasan ini punya paket wisata ke Krakatau. Harga paket per orang bervariasi, Rp 750.000 hingga Rp 2,5 juta, tergantung jenis kapal, durasi, dan jumlah peserta.
Rute lain, lewat Lampung. Meski lebih panjang (bila dihitung dari Jakarta), rute ini lebih ramah di kantong sehingga menjadi rute favorit kaum backpacker. Jika pergi berombongan 10 orang, total biaya bisa ditekan menjadi Rp 350.000 per orang untuk dua hari.
Caranya? Dari Pelabuhan Bakauheni naik angkot ke Pasar Kalianda seharga Rp 12.000. Lalu berganti dengan angkot ke Pelabuhan Canti bertarif Rp 5.000. Dari sini menyeberang ke Pulau Sebesi, naik kapal penumpang bertarif Rp 15.000 dengan waktu tempuh satu setengah jam.
Di Sebesi, Anda bisa mencari kapal nelayan untuk disewa seharian ke Krakatau. Harganya Rp 600.000-Rp 1,5 juta, tergantung kapasitas dan jenis kapal. Ada kapal jukung berkapasitas empat orang, kapal klotok (seperti yang kami sewa) berkapasitas enam orang, atau kapal kayu berkapasitas 40 orang. Hanya, tak tersedia pilihan kapal boat seperti di Banten.
Waktu tempuh kapal klotok ke Anak Krakatau sekitar dua jam bila cuaca bagus. Tapi, jika ombak tinggi, angin kencang, dan hujan, waktu tempuhnya bisa molor menjadi tiga setengah jam. Cuaca tak bersahabat inilah yang terjadi ketika kami pulang dari Krakatau. Untunglah, perahu mungil itu akhirnya berlabuh dengan selamat di dermaga Pulau Sebesi pada pukul 02.25 WIB.
Astari Yanuarti
Jumat, April 17, 2009
JUMP! FLY LIKE BUTTERFLY, BELITONG ISLAND
Senin, Februari 23, 2009
PESONA MAGNET GRANIT RAKSASA
Kelegaan terlihat jelas di wajah puluhan penumpang Kapal Express Bahari ketika berlabuh dengan selamat di Pelabuhan Tanjung Pandan, ibukota Belitung. Dengan tertib, satu per satu penumpang antri keluar kapal melalui pintu di geladak teratas. Kami harus melalui pintu berukuran mini ini karena air di dermaga sedang surut.
Sore itu, kapal cepat yang kami naiki dari Pangkal Pinang, Bangka, menjadi satu-satunya kapal yang bersandar. Tak heran jika suasana pelabuhan mungil yang ada di sisi barat Pulau Belitung nyaris sepi. Hanya ada segelintir porter. Mereka pun terlihat tenang, tidak ribut menawarkan jasa seperti lazimnya di pelabuhan lain.
Sedikit keriuhan baru terasa saat berjalan menyusuri selasar keluar gedung pelabuhan. Beberapa tukang ojek datang menghampiri dan menanyakan tempat tujuan. Sembari tersenyum simpul, saya melambaikan tangan menolak tawaran mereka. Karena Hotel Martani yang saya tuju hanya berjarak 200 meter dari pintu gerbang pelabuhan.
Hotel dengan jumlah kamar terbanyak di Belitung ini saya pilih berdasar rekomendasi dari beberapa teman sesama backpacker. Lokasinya tak jauh dari pusat kota Tanjung Pandan. Harga sewa kamar per malam juga ramah di kantong. Hanya Rp 108 ribu untuk kamar standar single dan Rp 285 ribu untuk kamar VIP.
Dalam perjalanan menuju hotel, saya melewati sebuah klenteng cantik berhias puluhan lampion merah. Belasan orang tampak hilir mudik di halaman klenteng. Rupanya mereka tengah menyiapkan upacara perayaan Cap Go Meh ( hari kelima belas dalam bulan pertama kalender China). Seperti di Bangka, sekitar sepertiga warga Belitung adalah warga keturunan Tionghoa.
Niat ingin menonton perayaan nanti malam sudah terbersit saat melintasi klenteng. Sayang, terkalahkan oleh rasa kantuk dan lelah. Maklum, perlayaran empat jam dari Pangkal Pinang ke Tanjung Pandan tak berlangsung mulus. Tiupan angin kencang, hempasan ombak tinggi membuat kapal sering berguncang keras selama berada di laut lepas.
Alhasil sebagian besar penumpang mabuk laut berkali-kali. Untunglah saya tidak kena sindrom ini. "Anda juga beruntung karena kapal jadi berangkat dan berlabuh dengan selamat. Sebulan ini kapal lebih sering batal berangkat karena gelombang tinggi, " ujar resepsionis Hotel Martani saat menyerahkan kunci kamar.
Cuaca buruk memang lebih sering mewarnai hari-hari pada musim angin barat seperti di bulan Februari saat saya berkunjung ke Belitung. Jadi, hanya segelintir turis 'nekat' yang singgah untuk menikmati keindahan deretan batu-batu granit super besar di sepanjang pantai pulau penghasil timah ini.
Meski perjalanan diawali dengan kondisi laut yang tak bersahabat, namun keyakinan (tentu saja disertai doa ) bahwa cuaca akan cerah ceria selama berwisata di Belitung, tetap tertanam kuat. Ternyata, Tuhan mendengar doa ini. Pancaran terik sinar matahari dan langit biru menghiasi dua hari perjalanan di Belitung. Inilah dua syarat utama untuk menyerap keindahan kemilau air laut dan hamparan pasir putih di sela-sela serakan bebatuan granit raksasa berwarna terang.
Keesokan paginya, dengan semangat terpompa penuh, penjelajahan dimulai menggunakan paket sewa sepeda motor plus guide. Untuk pejalan tunggal pilihan ini lebih ekonomis daripada sewa mobil kijang plus sopir yang tarifnya Rp 420 ribu per hari. Sewa motor dengan pengemudi merangkap guide per hari hanya Rp 130 ribu.
Bisnis rental mobil/motor menjadi bagian tak terpisahkan dari wisata Belitung. Karena di pulau seluas 4.800 kilometer persegi ( tiga perempat luas pulau Bali) ini, belum ada angkutan umum yang memadai. Mobil/motor sewaan jadi andalan para turis untuk mengunjungi belasan pantai dan obyek wisata yang tersebar di pulau berpenduduk 300 ribu-an jiwa ini. Syukurlah, kondisi jalanan di Belitung, mulus. Sehingga semua tempat wisata tadi bisa dicapai paling lama dua jam dari Tanjung Pandan.
Perkampungan Nelayan Tanjung Binga menjadi tujuan pertama. Lokasi kampung yang dihuni 300 kepala keluarga ( rata-rata warga keturunan suku Bugis) ini terletak 20 kilometer di utara Tanjung Pandan. Semilir segar angin laut menerpa wajah saat berjalan menyusuri dermaga kayu sepanjang nyaris 100 meter.
Dermaga yang menjorok ke laut ini terlihat sepi. Hanya tampak satu perahu tertambat di sisi kanan dermaga. Belasan perahu tradisional ( beberapa diantara bercadik) tampak tertambat di depan rumah terapung para nelayan. Deretan rumah, perahu, dan para-para ( tempat penjemuran ikan) terlihat menghiasi pesisir pantai di sisi kanan-kiri dermaga.
Nun di ujung dermaga, tampak sekelompok bapak-bapak, ibu-ibu dan anak kecil, tengah asyik memancing. Setengah ember-ember hitam mereka sudah terisi ikan-ikan sebesar dua jari. Namanya ikan rinyok. Mereka biasa berenang bergerombol di permukaan laut. Gerombolan ikan rinyok ini terlihat jelas dari dermaga, menggugah minat untuk mencoba memancingnya.
Tapi, ikan-ikan ini sombong juga. Mereka tak sudi menyentuh umpan di ujung kail saya. Padahal, umpan kail anak kecil di samping saya sudah berkali-kali menggaet ikan mungil-mungil itu. Akhirnya saya menyerah. Setelah mengucapkan terimakasih karena dipinjami kail, saya bilang, �gBukankah lebih cepat diserok saja daripada dipancing. Lama dan cuma dapat sedikit.�h
Celetukan ini dijawab dengan ringan oleh seorang bapak pemancing. �gBuat kami mancing ini hobi untuk mengisi waktu luang di pagi hari.�h Ternyata meski hanya iseng, hasil pancingan mereka lumayan, sampai enam kilogram per orang. Dan dijual seharga Rp 6000/kilo. Hmm, cukuplah untuk membuat asap dapur mengebul.
**********
Perjalanan berlanjut ke Tanjung Kelayang, sekitar 15 menit dari Tanjung Binga. Wah, hamparan pasir putih langsung terhampar di depan mata. Berpadu dengan laut biru jernih tempat puluhan perahu nelayan tertambat tak jauh dari bibir pantai. Karena memang tak ada dermaga di sini.
Selain untuk melaut, nelayan di Tanjung Kelayang biasa menyewakan perahu untuk mengitari Pulau Lengkuas, Pulau Burung, dan Pulau Babi yang berada tak jauh dari pantai Tanjung Kelayang. Patokan harga sewa kapal dengan kapasitas enam penumpang itu, Rp 300 ribu.
Agar beban lebih ringan, harus dicari beberapa turis lain. Sayang, tak satu pun turis terlihat. Okelah, sepertinya memang harus menyewa perahu sendirian. Namun, setali tiga uang dengan pencarian pertama. Tak ada satu pun nelayan di pondok-pondok istirahat yang berjejer di pesisir pantai.
Duh, gagal sudah keinginan menaiki mercusuar buatan Belanda tahun 1882 di Pulau Lengkuas. Saya harus puas hanya memandangi mercusuar setinggi 50 meter yang ada di ujung pulau itu dari dermaga Tanjung Binga, tadi. �gKalau sepi begini, biasanya karena nelayan sudah tahu ombak di tengah laut sedang tinggi, meski dari sini terlihat tenang,�h ujar Agus Pahlevi, guide yang menemani saya.
Kekecewaan ini agak terobati saat berjalan-jalan menyusuri pantai berpasir putih yang terasa begitu lembut di kaki, menceburkan diri ke laut disela-sela bebatuan granit berwarna terang, serta memanjat deretan batu-batu granit yang berserak di tanjung (ujung daratan yang menjorok ke laut).
Dari atas batu-batu ini, pemandangannya luar biasa. Laut biru sebening kristal terhampar indah. Di kejauhan tampak gugusan batu berbentuk kepala burung Garuda, dikenal dengan Batu Garuda. Di sebelahnya terlihat Pulau Babi yang menghijau dipenuhi ribuan pohon nyiur. Dari sini, Pulau Lengkuas tak tampak karena terhalang Pulau Babi.
Kebeningan laut di bawah begitu menggoda untuk diterjuni. Namun, menurut Agus, lebih baik berenang dan bermain air di Pantai Tanjung Tinggi yang hanya berjarak 4 kilometer dari Tanjung Kelayang. Airnya lebih tenang dan dangkal. Ukuran batu-batu granitnya lebih spektakuler.
Ucapan Agus tidak berlebihan. Batu-batu granit super gede bertebaran di sepanjang pantai Tanjung Tinggi. Ada susunan batu yang tingginya menyamai pohon kelapa, sekitar 15 meter. Besarnya sama seperti rumah mewah berlantai tiga. Sebagian batu-batu itu berderet di pesisir. Sebagian lagi saling bertautan hingga jauh ke tengah laut.
Di beberapa sisi pantai batu-batu granit itu membentuk saling melingkar sehingga terbentuk semacam teluk yang teduh dan tenang. Di musim angin timur, ketika ombak di laut tak ganas, pantai Tanjung Tinggi berubah menjadi seperti danau raksasa. Sehingga pengunjung bisa sepuasnya berenang, menyelam, berendam, dan memancing, hingga puluhan meter ke dari pantai. Karena ketinggian air sampai di sejuah itu itu hanya setinggi dada orang dewasa.
Saat saya datang, ketenangan danau itu masih terlihat. Saya bisa berenang, berendam dan berjalan lumayan jauh ke tengah. Meski sesekali saya tersapu riak-riak ombak yang pecah.
Ombak di musim angin barat juga membawa aneka sampah dari tengah laut. Sehingga beberapa bagian pantai dipenuhi ceceran rumput laut kering, serpihan kayu mati, dan dedaunan. Padahal biasanya, ujar Agus, pantai berpasir putih ini bersih sekali.
Nah, yang tak boleh dilewatkan di pantai yang menjadi lokasi syuting film fenomenal Laskar Pelangi ini adalah, berjalan-jalan diantara celah sempit deretan batu-batu granit yang menjulang tinggi. Juga mendaki beberapa batu granit raksasa untuk mendapatkan pemandangan menakjubkan.
Tentu saja harus tetap berhati-hati karena bagian bawah batuan banyak ditumbuhi lumut. Selain itu beberapa batu punya kemiringan nyaris 90 derajat, jadi cukup sulit dipanjat. Celah-celah diantara bebatuan juga harus diwaspadai.
Batu-batu granit raksasa yang bersusun unik dan indah adalah ciri khas yang hanya dimiliki Belitung. Memang di Bangka terdapat beberapa pantai yang dihiasi bebatuan granit. Tapi ukurannya tak sebesar di Belitung, juga tak ada yang sampai bersusun di tengah laut.
Usia batu granit di Belitung sudah puluhan bahkan jutaan tahun silam. Batu granit termasuk jenis batuan beku dalam, sebab terbentuk dari magma yang mendingin di dalam perut bumi. Prosesnya pembentukannya lama, sehingga ukurannya bisa sangat spektakuler. Sedangkan warna cerah yang banyak dimiliki batu granit di Belitung karena mengandung silika. �gDiduga, dibawah pulau ini dulunya adalah gunung berapi kuno. Jadi pulau ini seperti kaldera,�h ujar Agus.
Kepuasan bermain di Tanjung Tinggi, sanggup menghapus kecewa karena tak bisa melaut ke Pulau Lengkuas. Kecewa kian hilang karena dalam perjalanan pulang, kami sempat mengujungi Kampung Bali di Sijuk, melihat-lihat lokasi penambangan timah, serta membelah perkebunan kelapa sawit.
Malah, kegagalan menaiki mercusuar di Pulau Lengkuas menjadi alasan untuk kembali. Apalagi untuk sampai ke pulau penghasil lada ini hanya butuh 50 menit terbang dari Jakarta.
Astari Yanuarti ( Belitung)
Kamis, Juli 10, 2008
Selasa, April 29, 2008
Petualangan Nekat Pemuda Pengelana
Pemain: Emile Hirsch, Jena Malone, Hal Holbrook, William Hurt, dan Marcia Gay Hayden
Sutradara: Sean Penn
Produksi: Paramount Vantage, 2007
Kisah tragis petualang muda Christopher McCandless. Mengokohkan kematangan Sean Penn sebagai sutradara. Sarat gambar pemandangan alam spektakuler. Menyampaikan pesan kehidupan tanpa kesan menggurui.
Mengadaptasi film dari sebuah kisah nyata adalah tantangan sulit nan rumit. Tebaran begitu banyak realitas saling menjalin membentuk kisah panjang dan komplek. Maka jika tak hati-hati pemampatan bisa berakhir pada film yang membingungkan.
Sean Penn sukses melewati tantangan ini. Sebagai sutradara sekaligus penulis skenario, Penn membuat Into The Wild menjadi film petualangan yang sulit dilupakan. Bahkan tampil lebih memikat daripada buku berjudul sama karangan John Krakauer, yang menjadi dasar adaptasi film Into The Wild.
Biografi pemuda bernama Christopher McCandless ini meraih bestseller sejak peluncuran tahun 1996. Butuh 10 tahun bagi Penn untuk mengangkatnya ke layar lebar, karena menunggu izin keluarga McCandless.
Film dimulai saat Chris (Emile Hirsch) sudah berada di keliaran alam bersalju Alaska, tujuan utama petualangannya. Langkah kaki Chris berakhir di depan sebuah bus rongsok yang terdampar di area terbuka di sela-sela kerimbunan hutan cemara. Setelah memeriksa dengan cermat, Chris pun memutuskan tinggal di bus yang dia namai Magic Bus itu.
Lalu adegan berputar balik ke masa dua tahun sebelumnya,1990, saat wisuda kelulusan Chris dari Emory University di Atlanta. Kedua orangtua Chris (diperankan sangat baik oleh William Hurt dan Marcia Gay Harden) sudah punya rencana masa depan bagi anak pertama mereka. Salah satunya dengan memberi Chris mobil baru dan tawaran pekerjaan.
Chris menolak semua rencana materialistik sang orangtua. Ia muak dengan segala tatanan sosial kelas menengah yang menyelubungi kehidupannya sejak kecil. Chris memilih minggat. Tanpa sepatah kata pamit, pun secarik surat. Ia ingin lepas dari ikatan kehidupan masyarakat dengan berpetualang menjelajahi alam bebas di seantero Amerika Serikat.
Sebelum memulai pengembaraan, Chris menyumbangkan seluruh tabungannya, US$ 24.000, ke lembaga sosial Oxfam. Ia juga menggunting semua kartu kredit dan membakar kartu identitas serta jaminan sosial. Nama Alexander Supertramp menjadi identitas baru selama berpetualang menuju ke wilayah barat Amerika.
Sepanjang jalan, Chris bertemu dan tinggal bersama beberapa orang yang kelak mengubah hidupnya. Ada pasangan hippie Jen (Catherine Keener) dan Rainey (Brian Dieker), petani gandum dan jagung Wayne (Vince Vaughn), hingga duda tua pengrajin kulit Ron Franz (Hal Holbrook). Pertemuan dengan mereka menunjukkan Chris pada sebuah kesadaran, dalam sebuah petualangan yang terpenting adalah perjalanan, bukan tempat yang dituju.
Pengambilan gambar film ini dilakukan langsung di lokasi asli yang pernah disinggahi Chris. Mulai Arizona, California, South Dacota, hingga Meksiko. Malah untuk Alaska, kru film sampai bolak-balik empat kali demi mendapat gambar sesuai dengan musim.
Tak mengherankan jika sajian pemandangan alam dalam Into The Wild tergolong spektakuler. Penn memilih pola pengambilan gambar laiknya film dokumenter dalam Discovery Channel atau National Geographic. Meski tanpa kemasan romantis, pemandangan seperti pegunungan batu, sungai, padang rumput, hamparan ladang gandum dan jagung, serta hutan belantara tampak begitu indah.
Lalu mengalirlah sederet pujian dari para kritikus ke film berdurasi 2 jam 25 menit ini. Berbagai penghargaan untuk beragam kategori dari Sao Paulo International Film Festival, Satellite Awards, hingga National Board of Review Amerika pun disabet. Lagu Guaranteed yang dinyanyikan oleh Eddie Vedder dan music score Into The Wild masuk nominasi Golden Globe 2008 untuk kategori original song dan original score.
Sebagian pujian mengarah pada kematangan Penn saat menyajikan sosok Chris. Meski secara personal kagum pada petualangan Chris, Penn tak terjebak menokohkan Chris sebagai sosok pahlawan tanpa cela.
Chris tampil sebagai pemuda cerdas sekaligus naif. Pemuda yang marah pada tatanan sosial lalu nekat berpetualang tanpa perhitungan matang. Hanya demi mendapatkan kebebasan dan kebahagiaan dalam kesendirian di alam bebas.
Pada akhirnya, penonton tak diarahkan untuk menyukai atau membenci Chris. Tak ada upaya menghakimi perilakunya. Saya pun tak yakin apakah menyukai sosok Chris. Namun yang pasti saya menaruh simpati padanya dan bisa mengerti mengapa Chris memilih nekat berpetualang.
Apalagi, di penghujung hayatnya yang singkat, akhirnya Chris menemukan makna hidup. Kalimat terakhir dalam jurnalnya adalah: happiness only real when shared. Kebahagiaan tiada berarti tanpa kehadiran orang lain untuk berbagi.
Astari Yanuarti
Rabu, Maret 26, 2008
Selasa, Maret 04, 2008
Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia
Langganan:
Postingan (Atom)
