Rabu, Oktober 15, 2008

Era Baru Perang Browser

Gatra No 46 / XIV 1 Okt 2008

Kehadiran Google Chrome yang membawa beberapa terobosan teknologi yang sanggup mengusik pasar browser internet. Mozilla Firefox dan Microsoft Internet Explorer meresponsnya dengan merilis versi teranyar.

Apa jadinya kalau komputer yang kita miliki tak dilengkapi dengan aplikasi browser internet? ''Alamak, tak ada guna tuh komputer,'' begitu yang barangkali jadi jawaban mayoritas pengguna komputer. Browser internet, bagi mereka, adalah program terpenting, mengalahkan program pengetikan dan aplikasi perkantoran lainnya. Apalagi, pada saat ini, teknologi internet sudah masuk generasi kedua (web 2.0), yang bisa secara simultan menampilkan e-mail, video, musik, hingga aplikasi pengetikan.

Meski dianggap penting, selama hampir satu dasawarsa, pengguna komputer hanya punya pilihan tunggal Microsoft Internet Explorer (IE). Aplikasi itu masuk dalam paket sistem operasi Windows. Memang ada browser Safari yang lebih bagus dari IE. Tapi, seperti halnya IE, Safari termasuk program berlisensi (proprietary) dan hanya bisa dipakai pemilik komputer bersistem operasi Apple Macintosh.

Namun puasa panjang itu berakhir empat tahun lalu. Yakni lewat kehadiran Firefox. Browser buatan Mozilla ini gratis diunduh siapa pun karena menganut konsep open source. Firefox langsung merebut hati para pengguna komputer. Hingga kuartal pertama 2008, pengguna Firefox mencapai 125 juta di seluruh dunia. Meski masih kalah jauh dari pengguna IE (lihat tabel: Pangsa Pasar Lima Besar Browser Internet), pertumbuhan Firefox (kini sudah versi 3) paling cepat, terutama di Eropa dan Asia.

Pilihan browser internet pun bertambah, 3 September lalu. Kali ini, yang masuk daftar pengusik IE adalah Google Chrome. Browser buatan raja mesin pencari dan iklan online ini mengulang sukses rilis perdana Firefox. Berdasarkan data StatCounter, sehari setelah rilis, jumlah pemakai Chrome mencapai 1,1% dari 450 juta peselancar internet pada hari itu.

Chrome yang dikembangkan sejak dua tahun lalu memang punya beberapa terobosan teknologi dibandingkan dengan Firefox 3.0 dan IE 7. Chrome versi beta ini menggabungkan address bar dengan search bar. Hanya ada satu bar bernama Omnibar yang bisa berperan ganda sebagai tempat penulisan alamat situs sekaligus mesin pencari.

Omnibar browser open source ini juga cerdas sehingga bisa membedakan kata yang diketikkan pengguna mengacu ke alamat situs atau hanya sebagai kata kunci pencarian. Lalu ada fitur Incognito, yang memberi keleluasaan untuk berselancar tanpa terekam jejaknya. Ketika kita menutup browser Chrome, alamat IP (internet protocol) dan cookies dari situs-situs yang kita kunjungi tak akan direkam memori komputer.

Tapi, harap diingat, dengan fitur ini, bukan berarti identitas peselancar tak dikenali situs-situs yang dikunjungi. Alamat IP dan cookies peselancar yang muncul pada saat membuka suatu situs bisa saja tetap terekam di data situs bersangkutan. Sebelumnya, fitur serupa Incognito tersedia di Safari 3, dengan nama Private Browsing.

Terobosan lain adalah dari sisi kesederhanaan tampilan dan kecepatan. Seperti induknya, tampilan antar-muka (user interface) Chrome sederhana sehingga menimbulkan kesan lapang. Tak ada deretan bar yang biasa tampil di browser lain. Malah bar yang berisi menu pun absen.

Sebagai gantinya, Chrome memaksimalkan fungsi tab (yang terletak di sisi paling atas, bukan di bawah address bar seperti browser lain). Halaman tab baru berisi aneka informasi, seperti situs yang paling sering dikunjungi, tab yang baru ditutup, alamat situs yang baru di-bookmark, search engine yang sering dipakai, hingga daftar bookmark. Ketika pengunduhan suatu file, Chrome tak menampilkan jendela baru. Status pengunduhan terlihat di jendela yang sama bagian bawah.

Kecepatan Chrome menjelajah internet juga paling bagus. Pada saat membuka belasan tab dalam satu jendela, semua tab bisa terbuka dengan lancar dan stabil. Bahkan untuk situs yang ''berat'' karena memasang file video atau streaming radio.

Tak sekadar cepat, fitur tab Chrome berjalan dengan sistem blok kode (sandbox) terpisah. Jadi, bila satu tab yang kita buka ternyata hang atau freeze, tab-tab lain tetap akan berjalan normal. Pemisahan ini belum dipakai di IE 7, Firefox 3, dan Safari 3, sehingga bila satu tab hang, seluruh jendela browser ikut hang.

Bagi pemain lama di pasar browser, kehadiran Chrome dengan segala fitur uniknya akan memperketat kompetisi. Namun, menurut CEO Mozilla Corp, John Lilly, Chrome bukan ancaman bagi Firefox. Sebab Google masih terlibat dalam pendanaan Mozilla sampai November 2011. Di sisi lain, Firefox versi terbaru juga makin bagus. Misalnya, Firefox 3.1 yang akan keluar pada tahun ini juga sudah dilengkapi dengan mode privasi seperti di Incognito. ''Jadi, kehadiran Chrome adalah sinyal kompetisi untuk Microsoft IE,'' katanya.

Sang penguasa pasar Microsoft memang tak tinggal diam. Kini mereka menyediakan IE 8 versi beta yang punya beberapa fitur Chrome, seperti pemisahan sandbox dan mode privacy. Walau relatif lebih baik dari IE 7 yang dirilis pada 2006, IE 8 masih lebih lelet dan makan memori lebih banyak dari Firefox. Apalagi bila dibandingkan dengan Chrome.

Untunglah, skema bisnis bundling dengan sistem operasi Windows membuat IE sulit tergeser dari posisi puncak. Hal ini membuat para kompetitor yang sudah unggul dari sisi kualitas produk harus mempergencar kampanye dan edukasinya ke publik untuk mengejar IE.
Astari Yanuarti




Pangsa Pasar Lima Besar Browser Internet
Internet Explorer 72,2%
Firefox 19,7%
Safari 6,4%
Opera 0,74%
Netscape 0,72%

Sumber: Net Applications Inc




Topeng Penjaga Rahasia Peselancar

Isu privasi kembali mengemuka seiring dengan peluncuran Chrome. Para pemerhati keamanan internet di Eropa mempertanyakan kemungkinan penyalahgunaan data untuk kepentingan bisnis Google. ''Kekhawatiran kami adalah kemampuan Google Chrome menyimpan setiap alamat web yang dikunjungi peselancar internet,'' kata Peter Schaar, anggota Komisi Perlindungan Data Jerman.

Schaar curiga, Google akan menggunakan data itu untuk mendukung bisnis iklan online-nya. Jejak yang ditinggalkan para peselancar dunia maya memang bisa menggambarkan kepribadian, aktivitas, hingga orientasi seksual mereka. ''Karena internet adalah kehidupan kedua yang mencerminkan profil seseorang,'' ujar Schaar.

Berbeda dengan di Amerika Serikat, Uni Eropa menerapkan aturan yang menyatakan bahwa alamat IP (internet protocol) adalah hal personal. Sehingga data ini harus dihapus dari server para ISP dalam kurun waktu tertentu dan tak boleh disalahgunakan untuk kepentingan apa pun.

Google Chrome dari awal diset untuk mengumpulkan 2% dari seluruh kata kunci yang diketikkan di Omnibox. Data ini dikumpulkan dari setiap pengguna komputer yang terpilih secara acak setiap hari. Secara teknologi, Google bisa menyimpan data ini selamanya demi kemudahan pengguna internet ketika melakukan pencarian informasi.

Menurut penasihat senior Google bidang privasi, Jane Horvard, pihaknya memahami kecurigaan kalangan pelindung keamanan data internet di Eropa itu. Karena itu, Google akan memasang ''topeng'' pada setiap pengguna Chrome setelah sembilan bulan. ''Alamat IP dan cookies --kode berupa serangkaian nomor yang bisa digunakan untuk melacak jejak pengguna internet-- akan kami anonimkan, sehingga menutup jalan pelacakan jejak tiap individu,'' kata Horvard, seperti dikutip Washington Post.

Namun penegasan Google itu tak berhasil menyakinkan para pengkritiknya. Alissa Cooper, kepala ilmuwan komputer di Center for Democracy and Technology, meragukan keseriusan Google melindungi data para pengguna Chrome. Apalagi, Google belum bisa menyebutkan pola anonim seperti apa yang akan dipakai. ''Bagaimana bila yang mereka lakukan hanya menghapus sebagian alamat IP, sehingga tetap ada celah untuk melihat rekam jejak individu,'' kata Cooper dengan nada skeptis.

Astari Yanuarti

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar