Sabtu, Juli 12, 2008

Ketika Harry Jatuh Cinta

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Science Fiction & Fantasy
Pengembangan karakter para tokoh serial Harry Potter makin kuat. Masa remaja membuat interaksi trio pelajar Hogwarts lebih berwarna. Ada bumbu cemburu dan adegan ciuman Harry. Sisi suram dan kejam ilmu sihir mendominasi serial kelima ini.

HARRY POTTER AND THE ORDER OF THE PHOENIX
Pemain: Daniel Radcliffe, Emma Watson, Rupert Grint, Robbie Coltrane, dan Ralph Fiennes
Sutradara: David Yates
Produksi: Warner Brothers Pictures, 2007

Jutaan penggemar fanatik serial Harry Potter sudah gundah sejak lima bulan lalu. Kabar kematian sang penyihir pujaan menyebar ke seluruh pelosok dunia. Seorang sahabat Harry pun akan tewas. Kini, waktu untuk mengetahui kebenarannya makin dekat. Ya, pada 21 Juli ini, buku pamungkas serial itu resmi meluncur.

Sang penulis, J.K. Rowling, memilih judul buku ketujuhnya: Harry Potter and The Deadly Hallows. Namun pengarang buku paling kaya di Inggris ini bungkam soal siapa saja tokoh yang mati di buku yang sudah dipesan belasan juta eksemplar itu. Nah, daripada terus menyimpan tanya tak berjawab, lebih baik sabar sembari menghibur diri menonton film kelima Harry Potter.

Film adaptasi dari buku kelima itu tayang sejak Rabu pekan lalu. Judul film sama persis dengan di buku, Harry Potter and The Order of The Phoenix. Wajah-wajah lama masih muncul di film berbiaya US$ 150 juta ini. Sebut saja trio Daniel Radcliffe, Emma Watson, dan Rupert Grint.

Mereka dipercaya memerankan karakter tiga sohib erat, yaitu Harry, Hermione Granger, dan Ron Weasley, sejak serial pertama yang rilis tahun 2001. Bedanya, mereka kini bukan lagi bocah ingusan. Melainkan sudah makin keren dan cantik memasuki usia remaja.

Kesegaran lain juga tampak dalam The Order of The Phoenix. Kursi sutradara kini diduduki muka baru, David Yates. Ia menjadi orang keempat setelah Chris Columbus, Alfonso Cuaron, dan Mike Newell yang menjadi sutradara serial film terlaris di dunia itu.

Selain Yates, pendatang baru muncul pada penulis skenario. Michael Goldenberg menggantikan pendahulunya, Steve Kloves, yang memutuskan langsung menggarap skenario film keenam, Harry Potter and The Half Blood Prince.

Adaptasi gubahan Goldenberg ternyata memuaskan. Ia sanggup memadatkan buku paling tebal dalam serial Harry Potter, 870 halaman, menjadi film sepanjang dua jam 18 menit. Bahkan durasi film ini terpendek di antara empat film Harry sebelumnya.

Hebatnya, semua plot utama tetap muncul. Jadi, pembaca setia buku Harry tak merasa kehilangan momen-momen penting. Di sisi lain, penonton umum tak perlu mengerutkan kening karena alur ceritanya jelas dan mengalir lancar.

Pun Goldenberg tetap memakai ramuan baku Rowling pada saat mengawali episode petualangan Harry. Adegan dibuka dengan suasana khas di keluarga Dursley, tempat Harry menghabiskan liburan musim panas. Seperti biasa, remaja tanggung berusia 15 tahun ini harus menghadapi ejekan sang sepupu, Dudley Dursley.

Memang kali ini bukan di Privet Drive, melainkan taman kecil di kawasan Little Whinging, London. Dudley tak sendirian mengejek Harry. Ia bersama teman-teman gengnya. Aksi mereka terhenti ketika tiba-tiba langit menghitam. Rupanya dua Dementor, iblis penjaga Penjara Azkaban, beraksi menyerang Harry.

Serbuan Dementor itu menandakan kebangkitan kembali raja penyihir jahat Lord Voldemort (Ralph Fiennes). Sayang, Paman Vernon dan Bibi Petunia sama sekali tak percaya ucapan Harry bahwa Voldemort akan muncul lagi. Sikap serupa ditunjukkan teman-temannya di Sekolah Sihir Hogwarts. Sang Kepala Sekolah Profesor Dumbledore (Michael Gambon) malah memilih menjaga jarak.

Maklum, Harry sudah melanggar peraturan dunia sihir, mengucapkan mantra di depan ''muggle'' (sebutan untuk manusia normal) ketika menghadapi Dementor. Alhasil, hanya Ron dan Hermione yang berada di sisi Harry, yang merasa terasing dan dikhianati.

Kesalahan Harry makin menumpuk pada saat memimpin teman-temannya berlatih sihir untuk menghadapi pasukan Pelahap Maut milik Voldemort. Inisiatif ini muncul karena Dolores Umbridge (Imelda Staunton) tak memberikan secuil pun pelajaran itu. Padahal, sebagai guru kelas pertahanan terhadap ilmu hitam yang baru, Umbridge wajib membekali muridnya segala trik menangkal serangan Voldemort.

Rupanya, ibu guru satu ini lebih banyak mengawasi gerak-gerik Harry dan Dumbledore. Maklum, Umbridge adalah mata-mata dari Kementerian Sihir untuk memantau isu kembalinya Voldemort di Hogwarts.

Suasana kelabu lebih banyak mewarnai serial kelima ini. Memang Voldemort hanya muncul dalam satu adegan. Namun aura jahatnya terasa menyelimuti sepanjang film. Penyihir kejam ini seolah ingin unjuk kekuatan dengan menghantui pikiran Harry, bahkan sampai ke masa depan.

Persepsi Yates tentang dunia Harry serupa dengan cara Newell menggarap serial keempat, The Goblet of Fire. Harry tinggal di dunia yang suram, di tengah ancaman ilmu sihir hitam nan mematikan. Situasi ini berpadu dengan perubahan karakter Harry, Ron, dan Hermione yang masuk dunia remaja.

Aneka rasa menyeruak dalam persahabatan mereka. Cemburu, iri, kesal, hingga cinta membuat hidup tiga pelajar Hogwarts itu tak lagi sibuk menghafal mantra berbahasa Latin. Sikap keras kepala Harry tak jarang menyinggung Ron dan Hermione. Kadang tanpa banyak kata, cukup dengan visualisasi Harry menyendiri di satu sisi dan dua sobatnya bergabung di sisi lain.

Untunglah, Harry tak melulu identik dengan kemuraman dan kekikukan. Remaja yatim piatu ini akhirnya berani mencium Cho Chang (Katie Leung), kakak kelas pujaan hatinya. Adegan ini, plus kerumitan kehidupan remaja, membuat The Order of The Phoenix sebaiknya tak dipirsa anak-anak.

Meski lebih ringkas, film ini punya momen elok dan menyegarkan. Jangan berharap melihat sepotong pun adegan pertandingan Quidditch yang seru dan mendebarkan itu. Sebagai gantinya, ada sebuah skena indah dan layak dilihat. Nikmatilah perjalanan Harry bersama sapu terbangnya melayang menyusuri Sungai Thames. Pendar kerlap-kerlip lampu kota London menambah cantik aksinya melewati jembatan-jembatan, kapal pesiar, dan gedung parlemen Inggris.

Keajaiban dunia Harry memang sanggup menggambarkan imajinasi tak terbatas tentang sihir. Tak mengherankan jika Universal Studio berencana membuat Taman Hiburan Harry Potter (semacam Disney Land), yang dibuka di Orlando dua tahun lagi. Semua jenis makhluk aneh nan unik, seperti raksasa, troll, dementor, hingga peri rumah, akan muncul. Lokasi Hogwarts beserta hutan terlarangnya pun akan menghiasi taman itu.

Secara umum, film ini memang bukan jenis film yang bakal mendapat Oscar sebagai film terbaik. Tapi The Order of The Phoenix bisa dibilang film paling menarik dari serial Harry Potter. Satu-satunya masalah, mungkin perasaan menggantung setelah keluar dari bioskop.

Penonton masih menyimpan segudang tanya, bagaimana nasib Harry selanjutnya. Sebab ending The Order of The Phoenix akan menjadi awal dua petualangan selanjutnya. Jadi, bersiaplah mengulur urat sabar hingga rilis film keenam pada 21 November 2008. Atau bisa juga sih ambil jalan pintas. Baca saja buku terakhirnya, The Deadly Hallows.

Astari Yanuarti

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar