Sabtu, Juli 12, 2008

Hutan Fantasi Milik Sahabat Sejati

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Animation
Musim liburan ini semarak dengan tiga film anak dan remaja. Tema petualangan berbalut fantasi mendominasi. Kisah-kisahnya berbalut pesan moral penting.

BRIDGE TO TERABITHIA
Pemain: Josh Hutcherson, Annashopia Robb, Zooey Deschanel, Robert Patrick

Sutradara: Gabor Csupa
Produksi: Walt Disney Pictures, 2007
Referensi usia: 8 tahun ke atas

Tiga puluh tahun lalu, seorang ibu muda bernama Katherine Paterson menulis buku untuk putra tercinta, David. Inilah cara Katherine menghibur David yang trauma karena seorang teman mainnya tewas akibat kecelakaan. Buku Bridge to Terabithia ini memenangkan Penghargaan Newberry, penghargaan tertinggi untuk buku anak di Amerika Serikat.

Saking terkesan pada kisah Bridge, si anak kecil yang kini sudah dewasa, David Paterson, pun mengadaptasi kisah itu menjadi skenario film. Judul, tokoh, dan temanya sama persis. Hanya ada beberapa adaptasi situasi lebih ke masa kini.

Kisah petualangan ini berpusat pada Jesse Aarons (Josh Hutcherson) yang kesepian. Padahal, ia tinggal bersama kedua orangtua dan tiga saudara perempuannya. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing dan tak ada yang peduli pada Jess, nama panggilan Jesse.

Lalu anak kelas V SD ini mengisi waktu dengan berlatih lari setiap hari. Ia ingin menjadi pelari paling cepat di kelas. Jess juga senang dan jago menggambar.

Suatu hari, di sekolah berlangsung lomba lari. Bukan Jess yang menang, melainkan Leslie Burke (AnnaSophia Robb) --murid perempuan yang baru masuk ke SD Jess. Tak ada dendam yang muncul dari Jess. Malah mereka menjalin persahabatan.

Jess dan Leslie yang berbeda latar belakang itu ternyata punya nasib sama: menjadi korban penindasan di sekolah. Bersama-sama mereka mencari cara ampuh untuk melawannya. Bakat menggambar Jess yang berpadu dengan imajinasi Leslie ternyata sanggup menciptakan sebuah hutan khayalan berjuluk Terabithia.

Jess dan Leslie menjadi ratu dan raja di kerajaan fantasi yang penuh tokoh menyeramkan tapi kerdil. Keduanya lalu berperang melawan para monster itu, yang diberi nama seperti teman-teman penindas di sekolah.

Tapi inti cerita film berdurasi satu jam 35 menit ini bukan pada perang di hutan fantasi. Kisah monster kerdil itu hanya menyita beberapa menit. Seperti bukunya, film ini pun hendak menyajikan kisah persahabatan yang indah. Bagaimana kedua sobat itu saling mengisi dan menguatkan ketika tertimpa masalah. Serta kesedihan yang harus dihadapi pada saat ditinggal pergi sahabat sejati.

Bridge to Terabithia ini bagus ditonton anak-anak. Banyak pesan moral yang tersirat. Sebagian besar sederhana dan ringkas. Bersikap baik pada saudara, jangan menjadi penindas, dan gunakan imajinasimu.

FANTASTIC FOUR 2: RISE OF THE SILVER SURFER
Pemain: Ioan Gruffudd, Jessica Alba, Chris Evans, Michael Chiklis, Julian McMahon
Sutradara: Tim Story
Produksi: 20th Century Fox, 2007
Referensi usia: 10 tahun ke atas

Film sekuel masih mewarnai musim liburan ini. Tak terkecuali kisah empat pahlawan Fantastic Four (FF). Tokoh-tokoh manusia super yang berasal dari komik Marvell ini muncul lagi dalam Fantastic Four 2: Rise of The Silver Surfer.

FF 2 tak lagi berkutat pada asal mula kekuatan super FF. Yap, penonton sudah paham bahwa sinar gamma-lah yang mengubah mereka. Akibatnya, tubuh Reed ''Mr Fantastic'' Richards (Ioan Gruffudd) sangat lentur, Sue ''The Invisible'' Storm (Jessica Alba) bisa menghilang, Johnny ''Human Torch'' Storm (Chris Evans) menjadi manusia api, dan Ben ''The Thing'' Grimm (Michael Chiklis) berubah jadi manusia batu superkuat.

Kisah dimulai dengan persiapan ''pernikahan abad ini'' antara Reed dan Sue. Setelah sempat tertunda tiga kali, mereka benar-benar berharap perhelatan suci ini bisa terlaksana. Reed pun sudah berjanji tak akan ada lagi yang bisa menghalangi.

Janji Reed tak terwujud. Pada saat itu, aksi makhluk asing Silver Surfer (disuarakan oleh Laurence Fishburne) sudah membuat bopeng di berbagai belahan bumi. Lubang-lubang besar menganga akibat serangan Silver Surfer yang berkuatan mahadahsyat.

Jenderal Hager (Andre Braugher) tak bisa tinggal diam. Ia langsung meminta Reed mencaritahu muara kekuatan Silver Surfer. Reed bersama tiga rekan lain di FF harus bisa mengalahkannya. Maka, ''pernikahan abad ini'' Reed pun terpaksa dinomorlimakan.

Reed yang ilmuwan akhirnya tahu, sumber kekuatan Silver Surfer adalah pada papan seluncurnya. Untuk bisa melepas papan itu, FF terpaksa berkolaborasi dengan musuh lama mereka, Victor von Doom (Julian McMahon).

Cerita FF memang agak beda dari kisah superhero lainnya. Musuh-musuh FF rata-rata punya kekuatan jauh lebih dahsyat. Selain itu, identitas semua personel FF tak dirahasiakan. Mereka hidup bersama dengan masyarakat biasa, meski mereka dikenal luas punya kekuatan super.

Sayang, banyak dialog di film ini yang terkesan kuno dan klise. Seperti kembali ke masa 1960-an (awal versi komik FF mulai dibuat). Misalnya ungkapan klise ''seperti yang kalian tahu, telah terjadi peristiwa tak biasa di seluruh dunia''. Atau ungkapan kekanak-kanakan Reed pada Doom bahwa dia akan menikahi gadis paling seksi sedunia. Pun humor garing The Thing, ''Mulutku akan terkunci, andai aku punya mulut.''

Harus diakui, kekuatan FF2 memang bukan pada dialog. Aksi pertempurannyalah yang keren dan menyenangkan ditonton. Misalnya ketika seluruh kekuatan FF bisa digabungkan dan hanya dilakukan satu personel demi mengalahkan Silver Surfer. Atau aksi kejar-kejaran Johnny dengan Silver. Jadi, nikmati saja aksi-aksi seru itu. Tak perlu mengerutkan kening.

SHREK THE THIRD
Pengisi suara: Mike Myers, Cameron Diaz, Eddy Murphy, Antonio Banderas, Justin Timberlake, Rupert Everett
Sutradara: Chris Miller dan Raman Hui
Produksi: DreamWorks, 2007
Referensi usia: 7 tahun ke atas

Putra-putri Anda pasti sangat mengenal tokoh ogre (gergasi) bertubuh hijau satu ini. Meski jauh dari gambaran pangeran tampan rupawan, Shrek ternyata sudah memikat hati jutaan penggemar sejak sekuel pertama, enam tahun silam. Pesona si pemilik rumah rawa di Kerajaan Far-Far Away ini pun masih sanggup memaku anak-anak menonton sekuel ketiga, Shrek The Third.

Masih ingat, kan, dengan akhir kisah Shrek 2? Ketika itu, pasangan suami-istri Shrek (disuarakan Mike Myers) dan Putri Fiona (Cameron Diaz) dikisahkan akan hidup bahagia selamanya. Karena Shrek bisa mempertahankan Fiona sekaligus tahta Kerajaan Far-Far Away dari renggutan Pangeran Charming (Rupert Everett).

Nah, dalam Shrek 3, kebahagiaan Shrek dan Fiona terusik. Bukan oleh Pangeran Charming, melainkan karena Raja Harold, ayah Fiona, sakit keras lalu meninggal. Shrek, sebagai suami Fiona, pun ketiban titah menjadi raja. Padahal, Shrek sama sekali tak suka tinggal di istana. Ia merasa lebih nyaman tinggal di rumah rawa meski jorok dan bau.

Untunglah, Fiona teringat, ia punya saudara sepupu yang bisa menggantikan Shrek jadi raja. Sayang, Arthur (Justin Timberlake), si sepupu, sudah lama pergi meninggalkan Kerajaan Far-Far Away. Maka, dimulai petualangan Shrek, yang akan menjadi seorang ayah itu, mencari Arthur. Sahabat setia Shrek, si keledai sok pintar Donkey (Eddie Murphy) dan kucing pesolek Puss in Boots (Antonio Banderas), tentu saja tak mau ditinggal.

Kepergian Shrek dimanfaatkan Pangeran Charming beserta sepasukan tokoh jahat legendaris untuk menguasai Kerajaan Far-Far Away. Pangeran jahat itu menyandera Fiona, sang ratu, dan para putri negeri dongeng seperti Putri Salju, Cinderella, Putri Tidur, dan Rapunzel. Mereka datang untuk mengikuti permandian bayi Fiona.

Film berdurasi satu jam 33 menit ini masih mempertahankan ciri khas, humor-humor segar. Ada percakapan konyol antara Donkey dan Puss, yang sempat bertukar tubuh. Plus aksi heroik para putri negeri dongeng menyelamatkan diri dari cengkeraman Pangeran Charming.

Animasi perubahan raut muka para tokoh juga kian memukau dan ekspresif. Terutama terlihat pada lesung pipit Arthur dan perubahan wajah Raja Harold ketika masih berwujud katak.

Meski masih menarik dan penuh humor, bagi sebagian penonton dewasa, kisah Shrek 3 ini tak begitu segar. Apalagi, karakter Arthur yang jadi pusat cerita tak begitu menarik. Sehingga mungkin saja Shrek 3 tak bisa mengulang sukses Shrek (sekuel pertama) yang meraih Oscar tahun 2002 sebagai film animasi terbaik.

Toh, Shrek 3 tetap mendulang keuntungan segudang. Hasil penjualan tiketnya hampir US$ 300 juta sejak diputar perdana 18 Mei lalu di Amerika Serikat. Jumlah ini belum ditambah hasil penjualan tiket di luar Amerika dan DVD/VCD-nya. Sebagai perbandingan, pendapatan Shrek mencapai US$ 479 juta dan Shrek 2 US$ 920 juta di seluruh dunia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar