Kamis, Juni 02, 2011

MENYELAMI BUDAYA BADUY DALAM

Warga Kampung Cibeo, Baduy Dalam tetap bertahan dengan adat istiadat warisan leluhur. Banyak wisatawan tertarik berkunjung untuk meresapi ketenangan dan menikmati kehidupan kembali ke alam.

Sengatan terik mentari menemani penjelajahan ke kampung suku Baduy Dalam, suatu siang di pertengahan Mei. Trekking ini bermula dari Kampung Ciboleger, pintu masuk kawasan perkampungan Baduy di Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Propinsi Banten.

Sebuah papan petunjuk arah terpampang di persimpangan jalan tanah setapak di ujung kampung Ciboleger. Dua bilah kayu berbentuk anak panah mengarah ke dua sisi berlawanan. Yang ke kiri tertulis Cibeo 12 km, yang ke kanan tertulis Gajebo 3 km. Cibeo, adalah nama salah satu kampung Baduy Dalam yang menjadi tujuan utama para wisatawan.

Kampung mungil yang terletak di pegunungan Kendeng ini terkenal dengan keaslian budaya dan adat istiadat kuno warisan nenek moyang suku Baduy.  Selain Cibeo, masih ada dua kampung Baduy Dalam lain: Cikertawana  dan Cikeusik. Tapi, lokasi keduanya lebih sulit dijangkau dan lebih terpencil.

*****

Meski Cibeo menjadi destinasi akhir, tapi saya berbelok ke kanan. Rute melewati Gajebo, sebuah kampung Baduy Luar, memang lebih populer bagi para trekker. Biasanya mereka memilih singgah semalam di Gajebo untuk melepaskan penat setelah berkendara tiga sampai lima jam dari Jakarta, plus satu jam berjalan kaki ke Gajebo.

Trek menuju Gajebo cukup menguras energi, apalagi  dilalui di tengah siang bolong. Nyaris tak ada trek mendatar. Tanjakan dan turunan dengan kemiringan hingga 45 derajat terbentang sepanjang jalan yang diapit sederetan ladang milik warga Baduy Luar.

Sekitar pukul 2 siang, saya tiba di Gajebo. Kampung yang tak begitu luas itu mendadak riuh. Sebab, saya pergi bersama rombongan karyawan dan direksi Indosat yang berjumlah sekitar 100 orang.

Saat itu, sebagian besar warga laki-laki sedang berada di ladang. Sementara para ibu terlihat tekun menenun di teras-teras rumah panggung beratap rumbia. Suara alat tenun mereka ditingkahi dengan celotehan anak-anak yang berlarian di lorong-lorong sempit pembatas antar rumah.

Selang sepuluh menit, saya bersama setengah dari rombongan bersiap melanjutkan perjalanan ke Cibeo .Sisanya akan bermalam di kampung Gazebo menemani Direktur Utama Indosat Johnny Swandi Sjam yang tak kuat lagi meneruskan perjalanan. "Maklum nafas perokok, dan kurang latihan," ujar Johnny.

Perjalanan ke Cibeo dimulai dengan menyusuri sisi sungai sekitar setengah kilo. Setelah itu trek yang kami lalui mulai menguras tenaga dan menghabiskan nafas. Dua hingga tiga bukit harus disusuri. Tiba-tiba titik-titik hujan jatuh menimpa dedaunan. Curahan hujan menjadi berkah mendinginkan suhu usai terpanggang matahari seharian. Tapi hujan membuat trek tanah lempung makin licin dan sulit dilalui.

Hujan mulai reda saat saya mencapai batas wilayah kawasan Baduy Luar dengan Baduy Dalam yang dipisahkan sungai dengan jembatan gantung bambu. Kelegaan menghampiri ketika melihat papan kayu bertuliskan Cibeo 4 km.

Tapi hanya sesaat. Tepat di seberang sungai, jalanan menanjak sepanjang sekilometer dengan kemiringan lebih dari nyaris 60 derajat sudah menanti. Dengan nafas ngos-ngosan, trek terberat ini berhasil dilalui.
 
******

Dari sela-sela kerimbunan pohon di depan, tampak jajaran lumbung-lumbung padi. Komposisi bangunan berwaran coklat dengan kehijauan dedaunan sangat menarik diabadikan. Namun,saya terpaksa menahan diri. Menurut Herman, warga kampung Cibeo yang menemani perjalanan sejak Ciboleger, semua alat elektronik harus dimatikan. "Dilarang memotret, merekam video,  dan memakai ponsel di kawasan Baduy Dalam," katanya.

Herman menuturkan, larangan ini adalah bagian dari ketentuan adat istiadat ( pikukuh) suku Baduy Dalam untuk menjaga nama baik dan kelestarian budaya mereka. Sebagai penganut aliran kepercayaan Sunda Wiwitan, warga Baduy Dalam  percaya dengan Sang Hyang Tunggal, memuja arwah nenek moyang, dan memegang erat pikukuh dalam keseharian.

Ada banyak sekali pikukuh yang harus diterapkan. Misalnya, tidak boleh memakai odol, sabun, dan shampo karena mencemari lingkungan. Orang Baduy juga tidak bersekolah. Mereka meyakini sekolah akan membuat perubahan, yang berarti  menodai pikukuh.

Nah, orang Baduy yang melanggar atau tak bisa menjalankan pikukuh adat, akan diusir dari kampungnya. Mereka yang dikenal dengan nama Baduy Luar ini tinggal di sekeliling kampung aslinya. Saat ini ada 58 kampung Baduy, hanya tiga yang didiami suku Baduy Dalam.

 ******

Akhirnya, kami sampai di Cibeo menjelang jam 5 sore. Di tengah cahaya mentari yang mulai termaram, terhampar kampung mungil yang tertata rapi dan bersih. Di tengah kampung ada jalan lebar berbatu. Rumah-rumah panggung beratap rumbia berderet apik di sepanjang sisi jalan itu. Sungai Ciujung yang jernih mengelilingi kampung yang dihuni 117 kepala keluarga ini. Suasana kampung ini terasa damai dan tenang.

Mereka menyambut dengan senyum ramah. Pakaian yang mereka kenakan berwarna serupa paduan hitam dan putih. Kaum lelaki dan perempuan sama-sama memakai rok lilit  hitam. Hanya panjangnya yang berbeda, laki-laki diatas lutut, perempuan sebetis. Baju mereka disebut jamang, berwarna hitam, putih, atau  kombinasi. Semua lelaki memakai ikat kepala putih, ciri khas pembeda suku Baduy Dalam dengan Baduy Luar.

Di pinggang setiap lelaki termasuk anak laki-laki terselip golok. Senjata ini menjadi senjata wajib  untuk dalam keseharian baik di ladang, di rumah, atau bepergian. Di sana sini, terlihat para bocah itu memainkan golok mereka dengan lincah.  Saya agak bergidik melihatnya.

Meski berpegang teguh pada adat istiadat, warga Cibeo  terbiasa menerima tamu. Menurut Herman setiap musim liburan, ada sekitar 800 orang per hari yang mengunjungi Cibeo. Sebagian besar menginap di rumah-rumah penduduk seperti rombongan kami.

*******

Saya bersama seluruh anggota perempuan yang jumlahnya kurang dari 10 orang menginap di rumah Pak Santa ( nama orang Baduy Dalam hanya terdiri dari satu kata). Rumah orang Baduy Dalam punya beberapa kekhasan. Seperti tidak berjendela, hanya ada dua ruangan, dan punya tungku di dalam rumah. Untuk menghindari kebakaran, lantai kayu disekitar tungku dilapisi tanah liat. Asap hasil pembakaran keluar melalui lubang angin di atap.

Karena tidak mengenal mata uang, mereka hanya memakan apa yang tersedia di alam dan hasil ladang seperti beras, sayuran, pisang, madu hutan, jambu, dan kelapa. Kami seperti lazimnya pengunjung lain, membawa bahan makanan cepat saji seperti mie, abon, dan sereal untuk dimasak, karena tak ingin membebani tuan rumah.

Sembari menunggu, makan malam siap, rombongan saya memutuskan untuk mandi di sungai. Berbekal sinar senter para lelaki berceburan ke sungai. Sementara yang perempuan memilih ke bilik mata air yang terletak masuk ke hutan. Tentu saja kami dilarang memakai sabun, odol, shampo dan sejenisnya.

*****

Usai mandi, meski hanya diterangi lampu minyak kelapa, kami menikmati makan malam sederhana dengan lahap. Lalu tertidur pulas diatas papan kayu tanpa selimut ditemani bunyi jangkrik dan serangga malam lain.

Perbincangan hangat dengan pemilik rumah, terjalin keesokan hari. Sembari ikut memasak makan pagi, kami mengorek banyak cerita tentang adat istiadat, kebiasaan, dan keseharian suku Baduy Dalam. Kegiatan ini diselingi dengan penawaran aneka barang kerajinan buatan mereka. Ada kain tenun lilit, baju jamang bersulam, syal, gantungan kunci, tas kulit pohon, dan madu hutan.

Menjelang siang, kami berpamitan pulang diiringi hujan deras yang menyiram Cibeo. Beberapa dari kami meninggalkan nomor telepon dan alamat untuk menjaga tali silaturahmi. Berbekal alamat itu, kelak Herman dan rekan-rekannya akan melakukan kunjungan balasan dengan berjalan kaki menempuh jarak ratusan kilometer.

Astari Yanuarti

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar