Kamis, Desember 18, 2008

OSTRITZ DARI SEGITIGA HITAM MENJADI KOTA HIJAU

Ostritz berhasil mengubah citra kota penuh polusi menjadi kota hijau hanya satu dekade. Kini, seluruh kebutuhan energi warga dipenuhi dari sumber energi terbarukan. Sektor perekonomian ikut terangkat.

Gunungan-gunungan setinggi empat meter memenuhi halaman Pembangkit Energi Biomassa Heizkraftwerkes, di kota Ostritz, Jerman. Gunungan serupa juga terlihat di gudang penyimpanan tak berpintu yang ada di sisi kiri pintu gerbang masuk. Sekilas, tumpukan ini tampak serupa, semuanya berwarna coklat. Setelah diamati, ternyata tiap tumpukan tersusun dari bahan berbeda.

Satu gunungan terdiri dari campuran sisa-sisa ranting pohon dan daun yang masih agak basah. Di sebelahnya ada tumpukan serutan-serutan kayu. Di seberang, menjulang gunungan bubuk kayu kering. Tak jauh dari situ, tampak tumpukan coklat kehitaman limbah bulir-bulir gandum.

Gudang dan halaman Heizkraftwerkes sanggup menampung limbah biomassa hingga 15 ribu meter kubik. Setiap hari sekitar 200 meter kubik diolah untuk bahan baku dua tangki pembakar berkapasitas masing-masing 2 megaWatts (mW). Hasilnya disalurkan untuk pemanas di 270 bangunan melalui jaringan pipa sepanjang 14 kilometer.

Pembangkit yang mulai beroperasi sejak 1998 ini sanggup memenuhi kebutuhan pemanas hingga 80% bangunan di kota yang terletak tepat di perbatasan Jerman, Polandia, dan Ceko itu. Selain itu pembangkit ini bisa menghasilkan energi listrik 650 kW dari bahan baku minyak tanaman. Meski tak digunakan untuk suplai listrik rumah tangga.

Karena, suplai listrik warga dipenuhi dari Pembangkit Listrik Tenaga Angin berkapasitas 14 MW. Sembilan turbin angin yang sudah dibangun sanggup mencukupi kebutuhan listrik di 2200 rumah ( dengan 4 orang per rumah). Jumlah ini tentu saja melebihi kebutuhan penduduk kota yang berjumlah 3000 orang. Sehingga sisanya disalurkan ke kota-kota tetangga dalam satu negara bagian Saxony, Jerman.

Keberhasilan Ostritz memenuhi kebutuhan listrik seluruhnya dari sumber energi terbarukan memang layak diacungi jempol. Apalagi selama tergabung di Jerman Timur, kota mungil ini ( luasnya hanya 23 kilometer persegi) punya citra buruk terkait pengelolaan lingkungan. Sungai Neisse, satu-satunya sungai yang melintas, berbau tak sedap dan keruh akibat limbah pabrik tekstil. Asap beracun mengandung sulfur dari cerobong pembangkit listrik batubara Hagenwender memenuhi angkasa. Hutan di perbukitan nyaris gundul.

Ketika tembok Berlin runtuh tahun 1989, dan Jerman kembali bersatu, perubahan datang. Sistem ekonomi terbuka membuat industri tekstil mereka kolaps. Selain karena krisis, alasan pencemaran memaksa pembangkit listrik batu bara Hagenwender tutup secara bertahap sejak 1992. Lebih dari 8000 ribu orang kehilangan pekerjaan.Sebagian dari mereka memilih meninggalkan Ostritz untuk mencari pekerjaan.

Tak ingin terus terpuruk, warga yang bertahan dan pemerintah kota Ostritz bersama-sama mencari solusi. Mereka sadar, yang harus dilakukan adalah membangun kembali kota dengan paradigma baru yaitu pembangunan berwawasan lingkungan.

Maka dibentuklah International Centre for Encounters (IBZ) St Marienthal. Yayasan ini didukung oleh pemerintah kota, biara St Marienthal ( yang sudah berusia 8 abad), pemerintah Federal Jerman, dan pemerintah negara bagian Saxony. Proyek pembangunan kembali ini mereka namakan Energy-Ecological Model City Ostritz-St Marienthal/EMOS.

Menurut Mathias Piwko, kepala Pontes Agency ( salah satu jaringan pendukung yang tergabung di IBZ), pembangunan EMOS dimulai sejak 1996, dengan pemakaian panel surya di gedung -gedung pemerintah seperti kantor polisi dan pemadam kebakaran. Awalnya hanya dengan enam kolektor dengan masing-masing seluas 13 meter persegi dan hanya digunakan untuk memanaskan air. Lalu dikembangkan untuk energi listrik dengan daya sampai 75 watts tiap modul PV ( photovoltaic).

Selain itu, untuk mengatasi limbah cair rumah tangga dibangun Sewage Treatment Plant. Pusat pengolahan limbah ini terletak di sebelah selatan kota, di antara lahan pertanian dan hutan. Lahan sepanjang 700 meter dan lebar 90 meter dibuat berjenjang sesuai dengan enam proses penetralan limbah cair. Selain tiga tabung penampung, ada dua kolam yang diatasnya ditanami alang-alang yang akarnya dipenuhi mikro bakteri untuk mengurangi tingkat polusi air.

Air yang sudah melalui proses penghilangan polutan lalu disalurkan ke hutan. Pusat pengolahan limbah ini menangani 70 rumah tangga dengan kemampuan pengolahan limbah cair sebanyak 100 liter/rumah/ hari.

Proyek selanjutnya adalah pembangunan pembangkit energi tenaga biomassa dan pembangkit energi tenaga angin mulai tahun 1997. Dua proyek ini selesai dalam waktu dua tahun. “Selain itu ada pembangunan kembali pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang selama ini dikelola Biara St Marienthal,” kata Mathias.

St Marienthal sudah memanfaatkan tenaga air berdaya 3,2 MW sejak tahun sejak 1914 untuk mengoperasikan pabrik pengolahan kayu dan memenuhi kebutuhan listrik di dalam kawasan biara. Saat jaringan listrik lokal masuk tahun 1967, PLTA ini berhenti beroperasi.

PLTA ini direnovasi dan kembali digunakan pada tahun 2000. Sebuah turbin Kaplan yang menghasilkan tenaga output 104 kW ( dengan kecepatan 145 rpm) dipasang. Kecepatan arus airnya 6,5 meter/detik dari ketinggian 2 meter. Kaplan melengkapi keberadaan turbin lama, Francis. Yang menghasilkan tenaga 14,7 kW dengan suplai air 1,2 meter/detik di ketinggian 2,17 meter.

Pengoperasian kembali PLTA St Marienthal ini menandai berakhirnya fase pertama EMOS. Menurut Mathias dana yang sudah dikeluarkan selama fase pembangunan teknik ini mencapai 30 juta Euro (Rp 450 miliar, dengan kurs saat ini 1 Euro=Rp 15.000). Pemerintah Federal Jerman menanggung nyaris setengah dari total dana, pemerintah Saxony menanggung sekitar seperempatnya. Sisa seperempat bagian ditanggung pemerintah kota Ostritz dan pihak-pihak lain.

Program EMOS ini, lanjut Mathias, membuat nama Ostritz terkenal di seluruh Jerman. Sebab, EMOS membuat Ostritz menerima banyak penghargaan. Salah satunya mendapat gelar kota pertama di dunia yang berhasil memenuhi seluruh kebutuhan energinya dari paduan sumber energi terbarukan.

Toh, peraihan gelar ini tak berarti EMOS berhenti. Sebaliknya, pada tahun 2004, muncul inisiatif dari warga Ostritz, untuk mengembangkan EMOS. Mereka ingin EMOS tak hanya fokus pada proyek teknis tapi juga bisa mengatasi masalah sosial, ekonomi, dan budaya.

Maklum, meski banyak proyek energi baru di Ostritz, namun tak banyak menyerap tenaga kerja. Misalnya pembangkit energi biomassa Heizkraftwerkes hanya dioperasikan oleh lima orang. Total pekerja yang bisa diserap hanya sekitar 150 orang. Alhasil tak banyak berpengaruh mengurangi tingkat pengangguran yang mencapai 20% di Ostritz.

Inisiatif ini akhirnya berujung pada pelaksanaan EMOS tahap kedua, dimulai tahun 2006. Kali ini tiga bidang diatas yang jadi fokus. Targetnya dalam waktu dua tahun, 9 program untuk mengatasi masalah bisa terlaksana.

Di fase kedua ini St Marienthal memegang peran krusial. Para biarawati St Marienthal mulai membuka diri dengan menjadikan St Marienthal sebagai lokasi eco-tourism. Ada sederet daya tarik yang mereka promosikan ke para wisatawan. Mulai dari kompleks biara yang dipenuhi bangunan bersejarah berusia 8 abad, peninjauan pembangkit listrik tenaga air warisan seabad silam, hingga wisata bersepeda menjelajahi kebun anggur dan daerah pertanian milik biara.

St Marienthal juga membuat aneka program untuk menarik wisatawan yang dikaitkan dengan penjagaan lingkungan. Seperti membuat restoran dengan menu khusus yang diolah dari hasil panen tanaman organik milik Biara, membuka tempat penginapan di lingkungan biara, hingga membuat bazar produk dan makanan lokal.

Hasilnya mulai tampak. Ostritz dan St Marienthal dikunjungi lebih dari 30 ribu orang tahun lalu. Meningkat nyaris dua kali lipat dari setahun sebelumnya. Peningkatan turis ini menambah lapangan kerja baru dan menggerakkan perekonomian Ostritz. “Kami berharap kondisi ini bisa membuat warga Ostritz yang dulu berimigrasi, kembali ke sini,” kata Mathias.

Astari Yanuarti (Ostritz)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar