Jumat, Februari 09, 2007

Nomor Pribadi Bisa Abadi

Pemerintah tengah mengkaji ENUM sebagai solusi penomoran baru agar sejalan dengan next generation network. Pelanggan telepon bisa punya nomor pribadi permanen.

Kehadiran next generation network (NGN) memicu Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi (Postel), Departemen Komunikasi dan Informatika, mengkaji pola penomoran telepon. ''Kami sedang mengkaji ENUM (electronic number mapping), yaitu teknologi yang menggabungkan penomoran lama dengan nomor yang berbasis IP,'' kata Dirjen Postel, Basuki Yusuf Iskandar.

NGN adalah konsep teknologi jaringan masa depan yang menggabungkan beragam tipe jaringan menjadi satu platform saja. Misalnya, bagaimana teknologi 3G berpadu dengan Wimax ataupun telepon tetap kabel (public switch telephone network --PSTN) berpadu dengan VoIP (voice over internet protocol). NGN memungkinkan akses ke penyedia layanan berbeda, tanpa terikat pada teknologi akses dan transpor.

Nah, perpaduan ini tentu berpengaruh pada penomoran telepon di Indonesia. Selama ini, nomor telepon tetap dan nirkabel dibuat berdasarkan kode area wilayah dan blok nomor operator telepon. Telkomsel memakai blok nomor berawalan 0811, 0812, dan 0813. Beda dengan XL, yang memakai 0817, 0818, dan 0819. Sedangkan telepon VoIP biasanya memakai prefiks lima angka.

Basuki menuturkan, penggunaan ENUM ini terkait dengan penjajakan penerapan mobile number portability (MNP). Konsep MNP memungkinkan kepemilikan nomor telepon permanen, meski berganti operator telepon. Jadi, dalam MNP, blok nomor operator tak lagi bisa dijadikan patokan. Karena bisa jadi pelanggan bernomor 0815xxxxxx bukan lagi pelanggan Indosat, melainkan pelanggan XL.

Pakar teknologi informasi Onno W. Purbo menyebutkan, penerapan ENUM tak rumit. Pada dasarnya, ENUM hanya melakukan pemetaan nomor telepon yang berbasis E.164 ke alamat IP melalui domain name system (DNS). Teknologi yang digunakan mirip dengan pemetaan nama mesin ke alamat IP. Seperti memetakan www.yahoo.com ke alamat IP agar dikenali komputer. Bedanya, di Enum, yang dipetakan adalah nomor telepon.

Saat ini, ada dua ENUM server besar di dunia yang menjadi acuan, yaitu operator VoIP, NGN, dan 4G (generasi keempat), yaitu e164.org dan e164.arpa. Beberapa negara sudah menerapkan ENUM, seperti Jepang, Korea, Austria, Cina, dan Belanda. Bahkan Taiwan sudah membuat server ENUM sendiri dengan menggunakan e164.tw. ''Ditjen Postel, APJII, para operator, dan VoIP Rakyat sedang dalam proses uji coba ENUM server Indonesia berdomain e164.id,'' kata salah satu pejuang VoIP Rakyat itu.

Onno menyatakan, ENUM akan sangat menguntungkan pelanggan telepon. Seorang pelanggan yang punya nomor misalnya +627771781945 tetap akan memiliki nomor itu, meski berganti operator dari GSM ke CDMA ataupun dari PSTN ke VoIP. Pun tak tergantung lokasi. ''Karena alokasi nomor ENUM tak tergantung geografi, melainkan entitas,'' katanya.

Sesuai standar Internet Engineering Task Force (IETF), ENUM bisa membuat pemilik nomor telepon mendapatkan akses record tentang universal resource identifier (URI) yang dimiliki oleh nomor itu. Ini membuat aneka layanan telekomunikasi seperti e-mail, faksimili, VoIP, dan telepon seluler bisa diakses cukup dengan satu nomor. Jadi, ENUM memetakan satu nomor E.164 kepada banyak layanan (alamat) dengan satu nama ENUM yang tersimpan dalam database DNS.Agar pemilik nomor ENUM bisa selalu dikontak dengan nomor sama, diperlukan sebuah database terpusat yang mampu mengelola detail kontak tersebut. Nomor ENUM yang sudah terdapat dalam database harus bersifat unik dan universal.

Menurut Onno, nomor ENUM perorangan sebaiknya ditangani oleh registrar yang ditunjuk top level ENUM, sama seperti proses registrasi domain. Registrar harus memverifikasi data personal yang bersangkutan, misalnya dengan menelepon orang tersebut.

Sedangkan pengaturan nomor ENUM bagi operator existing bisa berubah atau tetap sama. Operator masih bisa mendapat blok nomor yang selama ini sudah dimiliki. Atau bisa juga pemerintah merombak ulang penomoran dengan memberikan prefiks tambahan seperti +62555ooooxxxxx (555 adalah kode area ENUM, empat digit ''o'' adalah kode operator).

Onno menuturkan, ENUM juga memungkinkan perusahaan besar dengan banyak cabang bisa punya blok nomor tersendiri. Mereka dapat mengintegrasikan PBX-nya menjadi satu kesatuan dan dikenali di jaringan telepon dalam sebuah kode area saja. Sebuah perusahaan bisa minta blok nomor +62555oooonnnn, dengan kemungkinan memberikan nomor ke 10.000 pesawat telepon.

Namun Indra Lestiadi, Division Head Bundling and Corporate Solutions Indosat, menyatakan bahwa Indonesia masih belum siap menjalankan MNP. Perlu kajian lebih lama dan mendalam agar bisa berjalan dengan baik. ''Tak mudah karena menyangkut regulasi, teknis, kemauan operator sendiri, dan keuntungan atau kerugiannya,'' katanya.Basuki pun menegaskan, pemerintah memang belum memutuskan kapan waktu penerapan ENUM dan MNP. ''Semua tergantung kebutuhan publik," ujar Basuki.

Astari Yanuarti

Satu Voucher untuk Semua

Sebuah bingkisan istimewa menanti belasan juta pelanggan telepon prabayar, baik Mentari, IM3, maupun StarOne. Mulai paruh kedua tahun ini, pelanggan telepon yang memakai dua teknologi berbeda, yakni GSM dan CDMA, tidak perlu kerepotan saat mengisi ulang pulsa. Cukup dengan satu voucher bisa digunakan untuk mengisi pulsa ketiga layanan milik PT Indosat Tbk itu. Menurut Indra Lestiadi, Division Head Bundling and Corporate Solutions Indosat, pihaknya tengah menyiapkan mekanisme teknis pembuatan single voucher. ''Butuh waktu tiga hingga enam bulan,'' ujarnya.

Untuk menerapkan sistem voucher tunggal, Indosat harus memasang alat baru, yaitu interface VMS (voucher management system) yang bisa menggabungkan sistem intelligent network (IN) GSM dan IN-CDMA. VMS adalah peranti yang digunakan untuk men-generate HRN (hidden random number) yang tertera di voucher.

Saat pelanggan me-reload pulsa, VMS akan memverifikasi nomor HRN yang diketik pelanggan.Selama ini, pengisian voucher pelanggan seluler Mentari dan IM3 dilayani dengan IN-GSM terpisah dari pengisian voucher pelanggan FWA (fixed wireless access) StarOne yang melalui IN-CDMA. ''Nah, dengan interface VMS, pembuatan HRN hanya satu yang berlaku untuk CDMA dan GSM,'' Indra menambahkan.

Menurut Indra pula, penerapan voucher tunggal tak hanya menguntungkan pelanggan, melainkan juga dealer dan meningkatkan efisiensi kinerja Indosat. Mereka tak lagi dibedakan berdasarkan jenis layanannya. Sedangkan di sisi perusahaan, bisa menghemat biaya pembuatan voucher non-elektronik.

Meski tak secara detail menyebutkan berapa penghematan yang bisa didapat, Indra menuturkan, jumlah voucher yang harus disediakan Indosat mencapai 384 juta per tahun, dengan jumlah pelanggan prabayar 16 juta. Jika target tambahan 5 juta pelanggan bisa tercapai akhir tahun ini, maka dibutuhkan 500 juta voucher isi ulang. Biaya cetak voucher non-elektronik berkisar US$ 0,051 (Rp 463,00). ''Jadi, total biaya cetak voucher tahun ini mencapai US$ 22,674 juta, dengan asumsi semua voucher dicetak dalam bentuk fisik,'' katanya. Biaya cetak ini akan berkurang jika penggunaan voucher elektronik meningkat.

Astari Yanuarti

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar